KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
69. OTW JANDA


__ADS_3

Perasaan cinta yang ada di dalam hati seseorang terhadap orang lain bukan kehendak kita untuk memilih orang yang kita cintai, kan? Perasaan itu ada sebagai anugerah. Kita melihat seseorang sangat cocok dengan kriteria kita dan cinta yang ada di hati kita memilih orang itu. Lalu apakah kita akan menyalahkan cinta jika orang yang kita cintai itu tidak selevel dengan kita? Pendidikannya tidak setinggi kita. Keluarganya tidak sekaya keluarga kita. Rumah tidak sebesar rumah kita.


Itulah tantangannya. Apakah kita bisa menghargai orang yang di pilih oleh cinta kita itu.


Jatuh cinta lalu  menikah jika dirasa sudah cocok. Begitulah seharusnya, kan?


Tapi, yang kita lihat sekarang ini. Banyak terjadi di luar itu. Tidak ada namanya yang jatuh cinta. Hanya merasa cocok lalu menikah. Dan yang terjadi adalah rumah tangga yang terasa dingin. Karena tidak ada kehangatan yang dari cinta itu.


******


"Ntar malem kamu kesini lagi ka, Yang?" tanya Nathan ketika melihat Nara sedang beberes hendak ke kantor.


Tangan Nara yang sedang memasukkan laptop ke tas berhenti. Dia bertanya dalam hati, benarkan dia bisa kesini lagi nanti malam? Jika ada orang tua Nathan, sudah pasti dia tidak di ijinkan.


"Nanti aku kabari. Kayaknya kami sangat sibuk hari ini. Kalau aku tidak lelah, aku akan datang." Nara menjawab seraya melanjutkan kegiatannya. Kondisi Nathan belum pulih total maka dari itu Nara tidak ingin membuat Nathan down jika menjawab tidak.


"Kesini aja. Kan bisa tidur disini kayak tadi malam. Nanti aku bantu pijit kalau kamu lelah."


"Buaaaakkkk," terdengar suara muntahan pura-pura dari arah ranjang sebelah. Orang yang sedang muntah angin itu adalah Sarah.


"Jijai bangat sama kalian berdua. Mau bantu pijitin? Hellowww, situ yang di rawat sekarang, sadar!" ucapnya menyindir Nathan.


Nara hanya terkekeh melihat tingkah Sarah yang masih baringan di ranjang. Nara berdiri seraya menyampirkan tas nya lalu meraih meraih tas laptopnya. Dia berjalan mendekat ke arah Nathan yang sudah duduk dengan kaki menjuntai di ranjang pasiennya.


"Iya, nanti aku usahain datang. Ingat janji kamu ini ya," ucapnya lalu mengecup singkat bibir Nathan.


"Sekali lagi, masa cuma segitu. Nggak berasa," pinta Nathan memajukan bibirnya.


Dengan bola mata memutar, Nara membungkuk dan melabuhkan satu ciuman lagi.


"Udah, kamu jangan ngelunjak. Syukur-syukur aku kasih dua," ucapnya menutup mulut Nathan yang hendak protes.


"Bye-bye, Sar," ucapnya melambaikan tangan dua kali lalu menekan tuas pintu dan menariknya.


Di luar beberapa dokter sedang berjalan di ikuti oleh beberapa perawat. Mungkin mau visit pagi.

__ADS_1


Nara hanya mengangguk saja saat menyapa mereka. Salah satu dokter membalas dengan anggukan dan senyuman. Dokter itu menatap Nara yang sudah rapi. Saat pandangan mereka bertemu, sekilas bisa Nara lihat bahwa dokter itu tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya. Nara meneruskan langkah pura-pura tidak melihat apa yang dokter itu lakukan.


****


Usai pemeriksaan kesehatan Nathan. Dokter menyimpulkan nanti sore atau besok sudah bisa pulang. Untuk luka - luka di tubuh Nathan, nanti akan di buatkan resep oleh dokter untuk pemakaian di rumah.


"Terima kasih dokter," jawab Sarah mengantarkan kelompok itu keluar dari ruang rawat Nathan.


"Tuh, nanti sore udah bisa pulang. Mau pijit Nara dimana?" tawanya dengan jenaka.


Nathan hanya bisa mendengus. Jika bisa, dia ingin berada disini untuk waktu yang kama hingga dia pulih dan Nara bisa datang dan menemaninya sepanjang malam seperti tiga malam terakhir ini.


Nathan sadar, saat dia sudah keluar dari rumah sakit ini. Maka dia akan butuh waktu lama untuk bisa bertemu kekasihnya. Mungkin sampai dia pulih. Karena Nathan sadar bahwa Nara tidak akan pernah mau dan tidak akan pernah bisa ke rumah orang tuanya.


"Nanti kalau kakak pulang. Kakak ke Apartemen aja.  Kamu ikut aja untuk beberapa hari sampai aku pulih ya, Sar."


"Nggak bakalan di kasih sama papa kalau kakak mau pulang ke apartemen. Jangan harap, deh."


Sejujurnya Sarah tahu di balik keinginan itu. Tapi dia tidak ingin membahas sesuatu yang bisa membuat kakaknya


down lagi.


Sarah tidak membela siapapun. Dua orang itu -ayahnya dan Nathan- sama-sama keras. Jika dulu, Nathan akan selalu menurut walau dia tidak suka, beda dengan sekarang. Dia memberontak sampai-samapi membuat ayahnya berang dan berniat jahat pada Nara.


"Aku harap papa nyesel dengan apa yang dia lakuin," gumam Sarah pelan. Walau papanya bilang Sarah salah paham, Sarah tidak percaya.


Untuk apa Dito kesana jika bukan untuk suatu hal yang menakutkan? Mau menyampaikan pesan pada Nara? Tidak mungkin. Karena orang tuanya sudah bertemu dua kali dengan Nara. Dan juga, setiap kali Dito bergerak, Sarah tahu bahwa itu sudah hal yang serius.


"Aku masih penasaran, apa benar yang kamu bilang waktu itu di telepon?"


Sarah menatap kakaknya. Lalu dia menceritakan apa yang terjadi padanya di rumah setelah dia menelepon Nathan. Bagaimana kerasnya papanya membantah tuduhan dia.


"Papa bilang aku salah paham. Mungkin Papa masih mengira aku anak yang tidak tahu apa-apa tentang orang tuanya. Bukannya aku  senang kamu kecelakaan kak, tapi aku bersyukur bahwa yang di inginkan oleh papa malah kebalikannya."


"Apa pak Dito masih pernah ke rumah setelah aku kecelakaan? Seingatku, aku mengejarnya saat mobilnya keluar dari dekat rumah Nara. Aku masih ingat aku menyenggol mobilnya tapi karena aku tidak hati-hati aku tidak melihat mobil truk dari depan. Dan inilah hasilnya," ucap Nathan dengan bahu mengendik.

__ADS_1


"Pak Dito yang membawamu ke rumah sakit. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Yang menjadi supir papa sekarang adalah pak Hendra."


"Aku harus mencari tahu setelah ini. Kira-kira apa rencana yang dia punya lagi untuk menghancurkan aku dan Nara." Nathan meminta ponselnya pada Sarah. Sarah mengambilnya dari laci nakas dan memberikan pada kakaknya. Layarnya sedikit retak tapi masih bisa menyala.


"Ponsel kakak masih bisa menyala. Aku sudah charge selama kakak sakit"


"Thanks," ucap Nathan singkat lalu melakukan panggilan.


Tidak terlalu lama menunggu, panggilan itu langsung di jawab pada dering kedua.


"Hallo, Jo."


"Del, bisakah kamu ke rumah sakit? Apa kamu punya waktu luang? Aku ingin membahas sesuatu."


"Kamu sudah sadar dari amnesia?" tanya Delia dengan raut terkejut. Papanya yang sedang duduk di dekatnya menatap Delia seraya menegakkan punggung.


"Ya,"


"Baiklah, aku kesana. Syukur deh kamu udah sadar. Aku juga perlu tanda tangan kamu."


"Untuk?"


"Sertifikat perceraian. Kamu belum tanda tangan. Untung kamu masih hidup. Kalau lewat, sudah pasti aku jadi janda di tinggal mokad."


"Delia....." seru Darius dan itu bisa di dengar oleh Nathan.


"Ya sudah, aku tutup yah, Jo. Aku datang segera."


Klik


Delia berdiri usai menutup panggilan dari calon mantan suaminya. Dia bersiul berjalan menuju kamarnya. Karena dia akan ke rumah sakit. Dia mengenakan pakaian yang sedikit sopan.


"Pa, mana sert---" Delia berhenti bicara karena melihat papanya sudah berdiri dan melangkah mendekat padanya dengan satu map di tangannya.


"Ayo, papa akan jadi saksi perceraian kalian. Papa udah telepon pengacara kita dan juga pengacara Jojo."

__ADS_1


Pasangan ayah dan anak itu melangkah dengan ringan menuju mobil. Mereka akan di supiri oleh supir papanya karena Delia berencana ke tempat Langit setelah dari sana. Dia akan memberitahukan kejelasan statusnya.


"Yuhuuu, otw janda kembang!"


__ADS_2