
Seharian ini moodku tidak bagus, tapi aku berusaha untuk profesional dalam bekerja. Masalah pribadi jangan sampai di campur adukkan dengan pekerjaan. Itulah mottoku dalam bekerja ini dan yes it's working. Aku bekerja dengan baik dan mengesampingkan
masalah pribadiku .
Bossku yang mulia ratu mbak Nana, memuji kinerjaku lagi, dan hal itu bisa mengembalikan moodku sejenak.
"Ada masalah," tanya mbak Nana saat
kami makan siang bersama di kantin
perusahaan.
"Tidak ada mbak," jawabku singkat setelah menelan habis nasi di
mulutku. Aku tak mungkin ceritakan?
"Benar?" katanya lagi tak percaya.
"Iya, Mbak, benar!" tegasku
Aku mendengar mbak Nana menghela napas pelan, why? Aku menatapnya bingung.
"Mbak tahu kamu ada masalah, tapi mbak senang
karna kamu bisa kerja profesional, ini yang mbak harapkan," katanya
"..." Aku hanya menunduk mengaduk-aduk makanan di depanku tanpa
berniat memakannya lagi, selera makanku tiba-tiba hilang karena mengingat apa
yang kulihat tadi malam di sosial media.
"Kenapa?" tanyanya ingin tahu. "Kali ini kamu bisa cerita tanpa embel-embel bos atau yang mulia ratu, gelar kehormatan yang kamu berikan padaku," lanjutnya terkekeh dan aku semakin kikuk, ternyata dia tau gelar
kehormatan yang kuberikan padanya.
"Tidak apa-apa, Mbak. Beneran. Ini hanya masalah kecil. I can handle it," kataku mantap. "Everything oke!" lanjutku lagi.
Bagiku masalah pribadi tetaplah pribadiku, orang lain apalagi yang belum terlalu akrab tidak perlu tau.
Lagian, aku akan di tertawakan jika aku cerita, mantan pacarku akan menikah. Pasti yang mendengar akan bertanya, "So what? Belum move on?"
Mereka akan mengira aku yang belum move on karena bersedih dan galau mantan menikah.
Kalau aku katakan pacarku akan menikah dengan orang lain, mereka akan kasihan padaku. Padahal, aku yang sering lupa, bahwa itu sudah mantan.
Jika kukatakan cerita selengkapnya, wah, mereka pasti akan lebih kasihan lagi padaku. Hal yang sangat tidak ku sukai, dikasihani.
"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita mbak nggak akan paksa, lanjut makanmu, habis ini kamu saya romusa lagi," candanya sambil
mengarahkan matanya ke piring yang hanya ku aduk-aduk saja.
Aku hanya terkekeh dan memaksakan menghabiskan makananku walau tidak berselera lagi. Sejak tadi malam, selera makan ku hilang, semangatku seperti turun lima puluh persen. Tapi, aku masih ingat nasehat orang tuaku. Tidak baik membuang-buang makanan sebab diluar sana masih banyak yang gak bisa makan seperti ini.
Dan benar saja pemirsah, aku diromusa oleh yang mulia ratu. Tak tanggung-tanggung, sepertinya dia tidak senang melihat aku bernapas dengan teratur. Berkat dokumen-dokumen ini aku bisa lupa sejenak dengan apa yang
kulihat tadi malam. Aku bekerja di depan komputer ku sampai-sampai aku tidak
sadar ternyata ada seseorang yang masuk ke ruangan Pak Anwar tadi dan kini keluar
dan berbincang dengan Pak Anwar.
"Apa Nana berubah jadi hitler lagi?" Kudengar dia bertanya ke Pak Anwar
__ADS_1
dan tiba-tiba aku mendongak, sempat terdiam sejenak karena aku melihat ada dua
Pak Anwar, satu versi muda dan satunya lagi
versi tua, sama-sama hensem oiii.
Jika pak Anwar seganteng ini pada waktu mudanya, fix, beliau pasti rebutan dan idaman para wanita.
Pak Anwar hanya terkekeh saja, "Dia sedang berusaha mendidik titisannya, supaya dia tenang pas keluar nanti."
"Memangnya dia serius mau resign?" tanyanya penasaran.
"Apa dia tidak cinta uang lagi," lanjutnya.
"Iya, mau istirahat bentar katanya, nanti kalo sudah puas keliling dunia sampai uangnya habis, dia datang lagi.
Anwar muda hanya mengangguk-angguk mengerti lalu berkata,
"Nana hebat! Akhirnya kegilaannya pada uang sembuh juga."
"Sudahlah, biarkan dia melakukan apa yang dia suka. Nanti kalau sudah bosan, paling juga datang sendiri dan minta kerjaan lagi," jawab pak Anwar. Apa mbak Nana sespecial itu? Masih di kasih kerjaan walau sudah resign?
"Langsung pulang kerumah, Mamamu sudah kangen sampai mau nyusul kamu kemarin,"
kata Pak Anwar lagi.
"Iya iya, memangnya mau kemana lagi," jawab si Anwar Muda.
Oooo anak Pak Anwar toh, pantas mirip, sebelas dua belas,
aku menyimpulkan setelah mendengar pak Anwar mengatakan 'Mamamu'.
"Oh, Nara, ini anak saya Angkasa, anak kedua, baru pulang
"Halo Pak Angkasa," sapaku santun sambil berdiri dan sedikit menunduk.
Dan dia hanya mengangguk, lalu mereka berjalan ke arah lift sambil membicarakan
sesuatu yang tidak jelas aku dengar. Mereka benar-benar akur.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam lift Pak Angkasa menoleh lagi.
"Jangan pulang kemalaman, lanjutkan besok saja," katanya sambil
mengendikkan sebelah mata ke arah dokumen yang masih bertengger cantik di
mejaku.
"Baik pak," jawabku santun.
Selepas lift tertutup aku celingukan mencari
keberadaan jam, astaga mbak Nana!!!
Aku buru-buru keruangan mbak Nana, ketok pintu sekali, dua kali, tiga kali
tidak ada sahutan, aku buka pintunya dan ternyata kosong. Dasar mak lampir. Apa dia pulang diam-diam lagi? Tega sekali.
Aku merapikan mejaku dan menyimpan semua file di komputerku dengan baik
dan bersiap pulang.
----------------
__ADS_1
Sovia:
[ sending pict]
[ Mohon doanya yah]
Akhirnya poto ini mampir juga di hp ku, aku kira hanya akan mampir di sosial media saja.
Dari cara dia kirim pesan, aku tahu dia sedang mengejekku.
Me:
[ Selamat yah, semoga langgeng dan lancar acaranya besok.]
Sovia:
[ Tq]
....
....
Aku pikir tidak akan ada pesan yang masuk lagi karena aku menunggu beberapa saat tapi tidak kunjung ada. Hanya beberapa detik setelah itu, ponselku berbunyi bib tanda ada pesan masuk.
Sovia:
[Jangan menangis]
Dia menambahkan beberapa emotikon tertawa terbahak-bahak.
Dasar gadis tak berperasaan, udah jelas tau aku bakal menangis malah ngomong begitu.
Baiklah, aku tidak akan menangis. Dan benar saja pemirsah aku tidak menangis
malam itu. Aku menegarkan hatiku, mensugesti bahwa kami benar-benar tidak cocok dan akan mendapat kebahagiaan masing-masing walau tidak bersama.
Me:
[Pasti, lagian tidak baik menangisi laki orang]
Tidak ada balasan lagi, dan aku merebahkan tubuhku bersiap menjelajah ke alam mimpi.
-----------------
Tik ... Tik ... Tik ...
Detak jam di dinding kamarku, aku menoleh dan ini sudah pukul dua pagi dan aku tidak bisa tidur. Pikiranku melayang jauh ke
gambar yang mampir tadi di ponsel, aku membuka ponselku lagi dan melihat poto
itu lagi. Benar-benar serasi, cantik-ganteng, kaya-kaya, sekolah tinggi.
Abang hensemku, selamat atas pernikahanmu besok, semoga kamu bahagia.
Aku bangkit berdiri, mengemas beberapa barang yang kubawa dari kampungku, aku masukkan kedalam kardus kecil, aku melihat sekali lagi isi kardusnya, ada ponsel jadul, ada gantungan kunci ratu, ada gantungan
kunci merpati, ada bross mahkota dan beberapa mainan lainnya.
Aku juga mengambil jaket couple dari lemariku ada tulisan L&Y dan juga boneka kecil dengan simbol yang sama, semua aku masukkan kedalam kardus dan aku lakban
berulang - ulang kali.
Aku simpan di sudut paling tersembunyi di kamar ini, agar aku tidak ingat - ingat lagi kenangan bersama Leonard.
__ADS_1
Selamat tinggal Leonard semoga kamu berbahagia.