
Pria baruh baya itu mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan pria muda di hadapannya. Dia sangat bangga atas pencapaian yang pria muda itu dapatkan. Tidak salah jika dia mempercayakan perusahaan ini kepada anaknya tersebut.
"Bagaimana perkembangan proyek di Medan?" Paruh baya itu bertanya masih sambil mengamati grafik perkembangan perusahaan beberapa tahun terakhir ini.
"Sudah delapan puluh persen, sekitar empat atau lima bulan lagi kita bisa launching produk, Marta sedang analisis pasar," jawab Nathan kepada ayahnya -Robert-.
Anggukan paham diberikan oleh Robert.
"Usahakan tepat waktu, jangan sampai molor, tekankan Marta untuk analisis pasar dengan teliti, Papa gak mau ada kegagalan!" Dengan tegas tuan Robert menekankan tidak boleh ada kegagalan.
Nathan hanya mengangguk malas, dia sudah paham dengan tabiat pria yang merupakan ayahnya ini. Pria ambisius yang tidak pernah puas. Pria yang tidak mau mendengar kegagalan. Dan pria inilah yang sudah menjadikannya menjadi seorang mesin pencetak uang dikeluarganya. Hidupnya sedari kecil sudah ditentukan oleh
ayahnya bahwa dia yang akan menjadi penerus perusahaan.
"Kamu anak paling besar. Laki-laki pula. Apa yang papa miliki sekarang, akan menjadi tanggung jawabmu untuk melanjutkannya. Kamu hanya perlu belajar dari sekarang. Apapun cita-cita kamu itu, itu tidak akan berguna selama kamu bisa menggantikan papa nanti." Itulah kata-kata tuan Robert sejak Nathan kecil. Bahkan saat usianya masih sangat belia, Dia sudah di privatkan tentang ilmu bisnis. Sedikit demi sedikit dia di cekoki dengan ilmu perusahaan, bagaimana menjadi penguasa.
Sejujurnya Nathan tidak terlalu berambisi dengan perusahaan ayahnya ini, namun tidak bisa menolak. Kendati sesekali di waktu luangnya dia menyempatkan diri untuk mengembangkan bakatnya.
Terlebih saat dia kuliah di luar negeri, dia tidak harus berada di perusahaan ayahnya. Saat-saat itulah dia curi-curi waktu bersama temannya untuk melakukan hal yangdia suka. Hal yang dia cita-citakan tetapi di tolak mentah-mentah oleh orang tuanya. Dia sangat menyukai desain, dia bercita-cita menjadi arsitektur tetapi ayahnya tidak memberi izin.
Saat ini, walau dia menjadi pimpinan di perusahaan ayahnya, menangani banyak proyek dan sejauh ini minim kesalahan. Dia tetap membangun perusahaannya sendiri bersama temannya yang juga menyukai desain. Perusahaan itu dia percayakan di pimpin oleh temannya Markus. Dan sudah mulai berkembang dengan
beberapa proyek yang sedang berjalan.
Bahkan sebenarnya beberapa proyek diperusahaan ayahnya ada yang dia tangani di perusahaan sendiri. Tidak peduli jika dia memanfaatkan perusahaan ayahnya ini, Nathan ingin membuat batu loncatan untuk usaha pribadinya. Dan saat ada pertemuan dengan Markus, mereka seolah-olah teman yang hanya kenal karena menggeluti bisnis yang berkesinambungan. Sungguh sangat profesional.
Orang tuanya mungkin tidak tau mengenai hal itu karena sejak awal mendirikan usahanya dia sudah mewanti-wanti temannya agar tidak mencatumkan namanya sebagai pemilik. Dia tidak ingin ayahnya mencampuri usahanya dikemudian hari.
"Aku akan membiayai semuanya, asal kamu mau menjalankannya. Modal awal, bisa aku berikan. Hanya saja. Jangan ada namaku dalam dokumen apapun. Aku tidak mau orang-orang papaku mengendus usaha ini. Bagimana? Kamu mau?" tawar Nathan waktu itu pada temannya -Markus-. Yang di setujui oleh Markus dan akhirnya mereka membuat kesepakatan hitam di atas putih sebagai bukti sah bahwa sebenarnya perusahaan itu milik Nathan.
"Sabtu ini datanglah kerumah bersama Delia!" titah sang ayah sambil berdiri dan berlalu. Tidak perlu mendengar jawaban Nathan, karena sudah pasti pria itu akan menurut. Tuan Robert tidak melihat perubahan di wajah anaknya. Dan walaupun seandainya dia melihat itu, dia tidak akan pernah peduli. Yang dia mau hanya apa yang diminta harus dituruti.
__ADS_1
-------------------
Di lain tempat.
Paruh baya yang bernama Anwar sedang duduk mengamati tabel perkembangan perusahaan.
Dua bawahan yang sangat di banggakannya itu berdiri di hadapannya sesekali menjawab pertanyaannya. Sementara pemimpin perusahaan yang merupakan anaknya -Langit- hanya duduk acuh tak acuh terhadap apa yang sedang terjadi di hadapannya. Langit hanya duduk bersandar sambil memainkan dasinya, sesekali dia
akan merespon ucapan ayahnya walau dia harus minta jawaban terlebih dahulu kepada dua insan yang berdiri di hadapannya juga -Nara dan Andy-.
"Bagus, saya bangga dengan kalian, tetap solid dan kerjasama tim," ucapnya kepada dua bawahannya lalu menginstruksikan mereka untuk keluar ruangan. Tuan Anwar perlu sedikit waktu untuk menatar anak sulungnya yang duduk santai seolah - olah pencapaian ini adalah usahanya seorang diri.
Dua insan itu hanya mengangguk hormat sebelum meninggalkan ruangan.
"Papa bangga dengan kamu, Lang. Berusahalah lebih giat lagi. Papa percaya kamu pasti akan lebih hebat dari Papa dalam memimpin perusahaan ini." Tuan Anwar memuji anaknya dengan bangga. Jelas dia merasa bangga,
anaknya yang pernah memberontak itu ternyata bisa dengan cepat memahami laju perusahaan walau dia yakin bantuan Andy dan Nara harus di perhitungkan juga.
jadi apa, tapi tidak pernah sampai saat ini, dan dia tidak akan berharap lagi.
Sejak dia bersedia duduk dikursi ini, dia sudah tau akhir dari dirinya akan kemana, dan karena itu dia sudah bertekad bahwa dia akan menjadi seperti yang ayahnya minta. Menjadi pemimpin yang baik dan mumpuni, pemimpin yang bisa mengembangkan perusahaan, yang bisa menaikkan laju perkembangan dan tentunya bisa memperkaya orang tuanya.
Jika memilih untuk menjadi diri sendiri dan tidak menurut, dia sendiri yang akan rugi. Yang dia perlukan sekarang adalah semoga dua orang bawahan yang mungkin sudah lelah mendampinginya itu tetap bertahan disampingnya .
"Sabtu ini Asa ke rumah, datanglah kerumah, mamamu juga ingin kamu menginap di rumah, sudah sangat lama kamu tidak menempati kamarmu, kasian dikit sama mamamu, tiap hari kekamarmu untuk bersih-bersih, berharap kamu datang dan tidur disana," lanjut tuan Anwar dan Langit kembali menganggukkan kepala tanda setuju. Benar kata papanya, sejak dia memilih untuk memberontak, dia sudah sangat jarang tidur dikamarnya. Hanya sesekali
jika dirinya dulu diseret pulang.
"Nara dan Andy ajak juga, mamamu mau berterimakasih karena mereka tetap setia,"lanjut tuan Anwar.
"Dan sabar!" timpal Langit datar. "Makanya itu, Papa bisa kasih bonus double ke mereka," lanjut Langit iseng memberi saran.
__ADS_1
"Nanti Papa pertimbangkan. Setelah melihat grafik, sepertinya ide kamu ada benarnya juga. Biar mereka berdua semangat bantu kamu." Jawaban dari saran iseng yang terlontar. Tadinya Langit hanya mengejek papanya, karena sadar atau tidak sadar, selalu memuji kinerja kedua orang itu.
"Karena kami kerja sama tim kayak yang papa bilang tadi, berarti Langit juga di kasih bonus, kan?" Langit bertanya dengan raut wajah secerah matahari pagi.
"Kamu masih dalam masa training. Tidak ada bonus!" jawab tuan Anwar datar.
"Training apanya? Udah tujuh bulan. Lagian masa training Lang kan waktu itu. Waktu papa masih aktif. Lang nggak mau tau, Lang juga mau dikasih bonus." Langit tidak terima dirinya di singkirkan dari daftar penerima bonus tambahan dari papanya.
"Ck, kamu ini. Kamu belum sadar juga ternyata. Emang selama ini yang kamu terima itu apa? Biar pun kamu nggak disini, papa sama mama kamu kan tetap transferin kamu. Masa bonus Nara sama Andny aja mau kamu rebutin juga. Lagian yang suruh papa kan kamu?" Tuan Anwar berdiri usai mengomel.
"Udah, papa pulang. Kamu kerja baik-baik. Jangan lupa Sabtu ini, ajak mereka juga!" lanjutnya.
"Papa atau mama aja yang undang langsung, Papa seperti tidak tahu wataknya si Nara aja," jawab Langit seolah mengingatkan ayahnya bagaimana sifat gadis satu itu setiap kali diajak makan malam bersama di luar. Langit sudah pernah mencobanya dan dia ditolak dengan alasan yang tidak jelas. Padahal tidak ada maksud lain, murni hanya makan bersama dan Andy pun ikut bersama mereka. Tapi sepertinya gadis itu memang sangat kaku dan sangat membatasi diri.
"Ya sudah, Papa yang undang saja, mudah-mudahan dia bersedia," jawab tuan Anwar.
Dia juga heran pada Nara yang selalu menolak ajakannya dulu untuk menghadiri berbagai acara atau undangan makan malam dari para rekan atau vendor lain jika ada Andy yang bisa mendampinginya. Alasan-alasan
tak masuk akal selalu di lontarkannya. Hanya jika bersama istrinya, Nara menurut bahkan sering ikut arisan.
Tuan Anwar mulai melangkahkan kakinya bersiap meninggalkan tempat yang sudah di tempatinya ini selama puluhan tahun dan kini di tempati oleh anak sulungnya.
Dalam hati dia berdoa, semoga tempat ini semakin maju ditangan anaknya. Dia sadar bahwa anaknya ini punya kemampuan mumpuni dalam berbisnis, jauh berbeda dengan anaknya Angkasa. Namun karena ego dan darah muda yang bergejolak, dia berusaha menghindar dari jalan yang sudah diarahkan dengan memilih menjadi
berandalan.
Anwar sudah tua dan sangat ingin bersantai dengan istrinya di sisa hidupnya. Menikmati hari tua bersama tanpa ada gangguan panggilan darurat dari perusahaan dan tanpa kegiatan harian yang berulang-ulang, berangkat
pagi dan pulang sore hari. Dia ingin melihat banyak tempat bersama istrinya dimoment-moment masa tua ini. Oleh karena itu, dia menghukum anaknya Langit dengan menghentikan aliran dana. Cara ini adalah satu-satunya cara yang bisa mengembalikan Langit ke jalan yang lurus.
Dan itu terbukti belum genap satu tahun menjadi pemimpin, Langit sudah menunjukkan kemampuannya. Grafik perkembangan perusahaan menaik. Dia yakin tidak lama lagi, kemampuan anaknya yang sudah pernah dilihatnya sedari kecil akan semakin tajam.
__ADS_1