
NARA POV
Sebelum pulang dari cafe, Rindu bertanya apakah aku baik-baik saja menyetir sendiri atau perlu diantar. Aku bilang aku oke lalu
segera pergi. Aku ingin segera meninggalkan tempat yang begitu menyesakkan ini.
Awalnya aku datang untuk bersenang-senang tapi aku malah menangis.
Aku berjalan ke parkiran menuju mobilku dan segera masuk. Sudah bersiap berangkat aku tiba-tiba teringat teman-temanku didalam,
aku mengambil ponsel dan mengetikkan pesan pada Melda, bahwa aku pulang duluan,
ada urusan mendesak.
Me:
[Sorry ya Mel, ada urusan mendesak. Aku balik duluan. Tolong bilang Jane ya]
[Soalnya aku tadi janji antar dia pulang]
Melda:
[Ok. Aman.]
[Apa mendesak bangat, ya? Need Help?]
Nara:
[Nggak, aku hanya teringat ada janji dengan pak Langit, kirim dokumen yang nggak sengaja tertinggal tadi pagi]
[Barusan dia text, jadi aku buru-buru pulang]
Melda:
[Oke deh kalo gitu. ttdj sayang]
Sepanjang jalan pulang, otakku memutar memori selama dua tahun ini, sejak ajakan perkenalan hingga malam ini. Aku benar-benar tidak menyangka pria yang ku percayai bisa menipuku. Dasar bajingan brengsek.
"Brengsek! Penipu!" Aku berteriak di dalam
mobil sambil berkendara. Air mataku sudah mulai menetes tanpa aba-aba.
Aku tidak dapat menahan sesak di dadaku lagi, aku menangis, sekali lagi menangisi pria brengsek itu. Mataku rasanya mengabur
dipenuhi air. Aku menepi, aku menangis sejadi-jadinya, memukul-mukul dadaku
yang terasa sesak.
Penyesalan kini datang, andai saja aku tidak
termakan rayuannya, tidak termakan kata-kata manisnya, andai saja aku tidak
merobohkan benteng pertahananku dulu. Banyak andai yang jadi penyesalanku.
"Jangan Menangis!" Aku berteriak pada
diriku sendiri karena masih saja menangis.
Aku menenangkan diriku setelah puas menangis, aku kembali menjalankan mobilku. Aku harus mendengar alasan pria itu menipuku. Aku ingin tau apa tujuannya. Apa mereka sekongkol? Pasangan yang sangat serasi kalau begitu.
Setiba di rumah, aku menenangkan diriku sebentar, sambil terlentang di kasurku, aku mengingat-ingat kembali kenangan bersamanya. Sungguh, pria itu sangat pandai menutupi semuanya selama ini, aku tiba-tiba
teringat setiap kencan kami, apa karena ini dia selalu membawaku makan di
ruangan tertutup? Kencan hanya di dalam mobil keliling tanpa arah? Atau drive-in cinema?
"Kau benar-benar bodoh Ynara. Bisa-bisanya kau tertipu. Otakmu sepertinya perlu di jernihkan." Aku bicara pada diriku sendiri.
"Aku kira ini benar-benar karena kerja sama perusahaan. Benar-benar bajingan brengsek."
__ADS_1
Sudah hampir tengah malam, aku menghidupkan semua lampu yang ada di rumah, sambil membawa amplop coklat ditangan aku berjalan ke arah kamar tamu yang biasa di tempati Nathan jika menginap disini. Aku membaringkan tubuhku di ranjang dan aku seolah-olah bisa mencium baunya. Air mataku menetes lagi kala mengingat status pria itu.
"Kamu memang luar biasa Nathan, bisa membodohi dua perempuan sekaligus."
Apa alasan yang dia berikan pada istrinya ketika menginap disini? Atau ketika terlambat pulang karena kami kencan? Lalu
apartemen yang sering aku kunjungi itu
milik siapa? Pribadi? Hanya untuk bisa kencan denganku. Oh my God, brilian sekali otaknya.
Karena kesal yang bercampur sedih, aku gegas bangun dan berdiri dari kasur, aku menarik sprei dan selimut, melepas sarung bantal kemudian menyeretnya ke ruang cuci.
Apa di buang saja sekalian? Ya benar, dibuang saja. Tapi, ini kan udah dicuci
setelah di pake lagian sayang uangnya belik mahal-mahal masa karena pria itu
aku buang-buang duit. Aku seret kembali ke kamar tamu dan hanya meletakkannya
di atas kasur.
Aku mendengar deru mesin mobil di luar dan aku tahu itu pasti Nathan. Bagus, akhirnya dia datang, aku sudah menunggunya. Ternyata
dia gentle juga. Aku gegas keluar dari kamar itu dan berjalan cepat ke ruang
tamu, duduk manis di sofa sambil menunggu bel rumahku berbunyi. Aku berencana
pura-pura tuli saat mendengar bel atau saat dia mengetuk pintuku. Aku ingin tau
sebesar apa tekatnya untuk menemuiku malam ini.
"Ayo kita dengar penjelasan dari mulut manismu itu, brengsek!" Lagi-lagi aku mengumpat.
Lama menunggu bel tak kunjung berbunyi, apa aku salah mengenali suara mobil? Hah mobil seperti itu bukan hanya milik Nathan saja, kan?
Tapi, jarak rumah di perumahan ini tidak
Dengan kekesalanku yang sudah mencapai ubun-ubun, aku hampir beranjak ke jendela dan memastikan tapi aku gengsi. "Hah, dia
bisa besar kepala, kalau sampai tahu di tungguin," ucapku pelan.
"Baiklah, kita tunggu sebentar lagi, jika dalam
sepuluh menit dia tidak datang, jangan harap bisa datang lagi nanti-nanti." Lagi-lagi aku bicara sendiri.
Aku menahan mataku agar tak tertidur hanya untuk menunggu pria brengsek yang sudah menipuku selama hampir dua tahun ini.
Hubungan kami hampir dua tahun, kurang lebih tujuh belas bulan, sementara pernikahannya sudah berjalan dua tahun. Apa-apaan ini?
Apa dia langsung selingkuh setelah menikah? Amit-amit.
"Oo Tuhan, aku tidak pernah bercita-cita
menjadi pelakor, tapi kok gini amat nasibku, jadi pelakor selama dua tahun."
Pandai benar dia menutupi statusnya, apalagi di apartemennya seperti tidak ada bau-bau
perempuan, dekorasinya pun semua selera pria.
Bel berbunyi, aku sengaja abaikan beberapa detik. Aku melihat jam ponselku. Oh, baru dua menit.
Aku beranjak saat bunyi bel terdengar lagi. Aku membuka pintu dan aku melihat pria itu berdiri dengan mimik penuh dengan rasa
bersalah. Halah, tampangmu tampang baik-baik rupanya kau penipu, batinku
mencibir.
"Come in!" Aku persilahkan dia masuk dan
aku menutup pintu kembali.
__ADS_1
Dia duduk disofa di ruang tamuku dan aku langsung mengarah ke dapur. Aku kembali dengan dua botol air mineral dan dua kaleng
soda -terserah dia mau minum yang mana-.
Dia duduk sambil menopang tubuhnya di kedua pahanya, tangannya sesekali memijit-mijit pelipisnya. Tidak ada yang bersuara untuk beberapa saat, aku dengan sikap santai membuka kaleng soda dan menikmatinya.
Hal yang sungguh jarang kulakukan. Soda tidak baik untuk kesehatanku menurutku.
"Kamu kenal Delia?" tanyanya pelan memecah
keheningan di antara kami.
Aku mengarahkan mataku padanya hanya mengerutkan alisku, "Delia siapa?"
"Istriku," katanya terlalu pelan. Anjirr, aku
tertawa miris saat mendengar kata 'istriku' keluar dari mulutnya.
"Nggak, tapi beberapa kali pernah papasan,"
jawabku datar. Aku tak berniat menjelaskan siapa itu Delia atau Sisca, kali aja
memang orang berbeda, kan? Kembar mungkin?
Hening lagi,
"Ynara, listen! Delia istri pilihan orang tuaku,
kami tidak saling suka dan sama-sama menolak pernikahan ini, aku bahkan tak
menganggapnya istriku, dia seperti adik bagiku karena memang orang tua kami
sudah lama saling kenal." Jujur atau bohong.
"Sayang, aku--"
"Ini, aku tak pantas memilikinya!" Aku
langsung menyodorkan amplop coklat yang sudah kusiapkan sedari tadi sebelum dia
datang. Aku sengaja memotong perkataannya karena aku sedih dipanggil sayang
padahal punya sayang yang lain.
"Ini rejeki istrimu, seharusnya berikan ke
istrimu, bukan padaku!" lanjutku dengan suara setenang mungkin, padahal
dalam hati sebenarnya aku ingin sekali mencakar-cakarnya.
"Sampaikan maafku padanya karena sudah
menikmati kesenangan yang seharusnya miliknya, maaf aku tak bisa mengembalikan
yang lainnya, karena sudah terlanjur kupakai. Kita selesai sampai disini"
Aku mengucapkan kata-kataku tanpa menatapnya, tatapanku datar ke arah tv yang padam. Moodku tiba-tiba makin buruk saat mendengar kata 'Istriku' terucap dari mulutnya lalu kemudian memanggilku 'sayang'. Definisi pria bajingan ya ini.
Aku ingin menangis, tapi kutahankan, makin
rendah harga diriku jika menangis didepannya. Aku tidak mau dia melihatku
sangat terpuruk karena dirinya. Aku ingin terlihat menjadi seorang gadis yang
tegar, tidak cengeng dan bucin. Aku harus terlihat seperti gadis mandiri dengan
keteguhan hati dan prinsip. 'No men no cry'. Dia harus melihat bahwa dia bukan
nomor satuku.
__ADS_1