KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
47. LOVE YOU


__ADS_3

Tidak ada yang janggal atau berbeda dari wanita itu. Tatapannya seperti biasa aja seolah-olah dia lupa bahwa Nara sudah mengetahui siapa dia sekarang ini. Tiba-tiba Nara teringat ucapan Nathan bahwa kedua


pasangan ini sama-sama menolak. Apa begini cara mereka berdua memberontak?


batin Nara.


Ah sial, melihat wanita itu membuat Nara jadi


teringat dengan Nathan, pria brengsek itu yang sayangnya sangat di cintainya


sampai setengah mampus.


Setelah malam itu, tepatnya setelah ciuman itu berakhir dan Nara mengusir Nathan dengan teriakan untuk yang kedua kalinya malam itu. Nathan dengan tidak rela nya melangkah ke arah pintu. Begitu tiba di pintu


pria itu menoleh pada kekasih hatinya,


"Aku tidak akan menyerah, Ynara. Tunggu


saja!" Kemudian dia menghilang di telan kegelapan di luar.  Nara berjalan cepat dan   mengunci pintu lalu memadamkan semua lampu.


Tidak langsung naik ke kamarnya, dia malah duduk di dalam kegelapan di sofa


kemudian merosot ke lantai. Cahaya remang dari luar membantunya untuk dapat


melihat apa yang ada di meja. Itu adalah amplop coklat yang berisi pemberian


Nathan. Nathan tidak membawanya, bahkan cincin di dalam kotak yang di gunakan


melamar Nara di paris juga ada disana.


Krek


Suara pintu terbuka dan tertutup kembali


mengembalikan ingatan Nara pada situasi saat ini. Sepasang kekasih itu, baru saja keluar dari ruangan dengan saling merangkul.


Nara tersenyum seperti biasa menanggapi bosnya. Matanya sekilas melirik wanita di samping bosnya itu. Sungguh wanita yang sangat bermuka tebal. Walau statusnya sudah jelas di ketahui oleh Nara, masih sanggup pula dia menunjukkan batang hidungnya.


"Nar, apa aku boleh pulang sekarang?" tanya Langit seraya melihat jam di pergelangan tangan.


"Silahkan, Pak. Kenapa harus bertanya? Pada saya pula itu."


Wajahnya sangat datar walau bibirnya memberikan senyum tipis. Tapi itu jelas, senyum yang terlalu di paksakan.


"Ya harus tanya dong, Nar. Siapa tau ada meeting atau agenda ku yang lain."


Langit berusaha bercanda untuk membuat situasi sedikit rilex. Tapi semuanya tampaknya sia-sia.


"Jadwal anda saya susun setiap hari jumat sore atau sabtu pagi. Itu jadwal mingguan dan saya kirimkan seminggu sekali. Namun, kadang ada perubahan maka setiap hari saya harus membacakan jadwal anda."


Yang di katakan Nara memang benar, tapi bisakah dia tidak menjelekkan Langit di depan wanitanya?


"Hehehe Nar, kamu tau kan otakku seperti apa. Kapasitasnya sangat sedikit. Jadi aku sering lupa. Itulah kenapa aku selalu bertanya padamu atau mengikuti apa yang kamu bilang padaku," jujur Langit pada Nara.


"Baiklah, sore ini tidak ada janji temu. Kalau

__ADS_1


mau pulang lama atau mungkin tidak akan kembali ke kantor sore nanti juga tidak apa-apa," jawab Nara masih dengan wajah mengetat.


Sebenarnya Langit sangat ingin bertanya. Tapi di takut di jawab dengan ketus. Apalagi jika sudah mengatakan "Own your bisnis please" kita langsung KO. Lain lagi tatapan mata tajam, as sudahlah, sungguh sulit untuk untuk di jelaskan.


Setelah Langit mengangguk, keduanya berjalan menjauhi meja Nara dan berjalan ke arah lift.


"Dia kenapa, Bebi?" tanya Sisca pada Langit setelah mereka ada di dalam lift.


"Tidak tahu, mungkin ada masalah pribadi. Sudah beberapa hari ini seperti itu, ketus dan sialnya dia selalu benar," jawab Langit.


"Apa masalah waktu itu lagi?" tanya Sisca mengingat kejadian waktu itu ketika dia sedang bersenang-senang di ruangan Langit.


Sambil menunggu respon Langit, Sisca berkata dalam hati, "kira-kira bagaimana tanggapan dia sekarang padaku? Jelas-jelas dia melihatku di cafe."


"Itu sudah selesai. Tapi sejak hari itu. dia jadi sedikit berubah." jawab Langit apa adanya.


"Walau aku berusaha untuk terlihat santai saja dan mengajaknya bercanda sebelum membicarakan tentang pekerjaanku. Tapi semua tetap gagal!" Langit bercerita dengan mimik sedih. Sungguh, dia ingin sekali kembali seperti dulu lagi, saat Nara tidak terlalu membatasi dirinya. Dengan begitu Langit bisa menjadikan Nara sebagai tempat curhat.


Sisca hanya mengangguk saja sebagai respon untuk perkataan Langit.


*****


"Wanita itu, kenapa dia harus datang kemari?" gumam Nara di kursinya.


"Apa dia benar-benar tidak tahu aku dan Nathan?Ataukah dia sedang berakting?" lanjut Nara lagi.


Nara melihat jam di sudut bawah komputernya. Hanya tersisa satu jam lebih.


Dia lalu melihat tumpukan dokumen di atas meja. Dengan sangat fokus dia mengecek dokumen tersebut hingga lupa waktu pulang.


"Belum, padahal bosnya sudah pulang sedari tadi."


"Ada yang salah pada Ynara kalau menurutku Jane. Tapi dia tidak mau cerita. Gimana cara kita untuk menghiburnya?"


"Serba salah, Sar. Kita mau membantunya tapi kita yang kena batunya. Masih ingat kejadian siang tadi, kan?" Dina datang dan menjawab pertanyaan yang sedang di bahas.


"Chatting aku hanya di read," curhat Jane dengan wajah sedihnya.


"Ayo kita tunggu beberapa hari ini. Kita beri ruang dan waktu untuknya."


Sahabat Ynara kompak mendukung dirinya walau tanpa di ketahui olehnya.


****


Pagi ini pesan Nathan datang lagi. Kata-katanya tidak lain tidak bukan adalah pesan untuk menunggunya dengan sabar dan juga permintaan maaf di akhir dengan kata cinta.


Karena sudah merasa sangat terganggu,


Nara akhirnya memblokir nomor Nathan. Dia benar-benar ingin melepaskan yang bukan miliknya.  Cukup sudah selama tujuh belas bulan ini Nara menikmati semua kemewahan yang di berikan Nathan walau tanpa


sengaja dan tanpa tahu bahwa yang dinikmati itu adalah kepunyaan orang lain.


"Kamu sangat keras kepala!" gumamnya saat memandangi ponselnya. Disana terpampang nyata nama Nathan.


Nara bergegas ke garasi, disana dia diam sejenak melihat mobil yang terparkir itu. Pemberian Nathan secara paksa dan mendadak.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus menjual mu. Karena ketika aku melihatmu, aku akan teringat wanita itu. Apakah punya mobil pemberian dari suaminya?"


Nara berjalan melewati mobil itu dan masuk ke mobilnya lalu berangkat ke kantor.


******


Selama dua minggu ini, Rindu sering di rumah. Dia tidak mengatakan apapun.


Walau dia diam, tapi Nara tau bahwa dia peduli pada Nara walau tanpa berucap.


Setiap malam dia akan masuk ke kamar Nara - tempat yang tidak bisa di masuki oleh


siapa pun- Saat Rindu membuka pintu maka Nara akan langsung memejamkan mata. Rindu menghampiri Nara, memperbaiki selimutnya dan mencium kepala Nara.


"Tidur yang nyenyak temanku sayang. Everything has a solution. Kamu harus berkepala dingin dulu baru bisa menemukan yang terbaik untukmu."


Perlakuan Rindu itu sudah seperti balita saja. Diam-diam Nara tersenyum dan menyukai cara temannya peduli.


Kini, di masa-masa sulit yang ada di hati Nara, dia merasa seperti ada ibunya yang lain yang menjaga Nara disini.


Sesekali Rindu akan menghela napasnya melihat  apa yang ada di kamar itu.


*****


Hari ini ada rapat evaluasi kerjasama dengan PT. Sagara. Nara berdoa dan berharap Arthur atau yang lain saja yang mewakili. Namun sayang, apa yang dia inginkan belum terkabul. Pria itu yang datang dan langsung  masuk ke ruang meeting saat Nara dan  dua orang karyawan mempersiapkan  ruangan dan


dokumen-dokumen yang akan di gunakan.  Nathan menatap Nara lamat-lamat. Sungguh dia sudah sangat rindu. Dan pagi ini sedikit kecewa karena mengetahui nomor ponselnya sudah di blokir. Nara mempersilahkan Nathan duduk seperti biasa dan memintanya untuk menunggu.


"Apa dia datang sendirian? Dimana Arthur?" batin Nara seraya melihat terus ke arah pintu masuk.


Nathan masih saja menatap Nara. Sama seperti dulu saat semuanya baik-baik saja. Mata itu masih memancarkan cinta untuk Nara.


"Lihat aku, lihat aku!" gumam Nathan pelan.


Namun sepertinya suara hatinya sudah tidak di dengar oleh Nara lagi.


*****


Selama meeting berlangsung, pria itu tetap fokus dan sesekali memandangi Nara. Nara tidak peduli karena sekali dia ikrarkan berpisah, yah harus


berpisah. Nara tidak mau oleng-oleng lagi bahkan sampai terpengaruh oleh kata-kata manis pri itu seperti pertama kali.


"Nona, asisten saya sedang berhalangan, bisa tolong copy kan point-point rapat kita tadi? Saya ingin berdiskusi dengan  team saya untuk kontrak selanjutnya." Nathan mencari celah. Untuk apa memintanya, kan ada draft kerja samanya.


"Baik Sir, mohon di tunggu," balas Nara dengan senyum seperti biasa. "Dasar


licik, aku tau kau hanya beralasan untuk menyapaku," batin Nara


"Saya terburu-buru, tolong kirimkan ke kontak


saya, yah!" jawab Nathan seraya menyodorkan kartu nama.


"Baik Sir," jawab Nara lagi seraya mengambil


kartu nama itu. Nara tetap bersikap seperti biasa karena tak ingin orang lain curiga.

__ADS_1


Saat memberikan kartu namanya Nathan sempat-sempatnya berucap tanpa suara, "love you" seraya mengedipkan sebelah matanya. Apa ada yang melihat?


__ADS_2