
Saat Langit sibuk memikirkan kata apa yang akan dia ucapkan pertama kali untuk meminta maaf. Saat itu juga Nara berdiri dan segera meninggalkan ruangannya. Nara melangkah dengan santai menuju lift sambil sesekali melihat ponselnya apakah taksi pesananannya sudah datang atau belum.
Ada satu pesan Nathan.
Nathan:
[Pengen kepiting saos padang :)]
Nara tersenyum simpul lalu mengangguk tanpa sadar.
Nara:
[Siap komandan]
Tujuan di ubah, sebelum ke apartemen, sepertinya harus singgah dulu di super market atau ke pasar untuk membeli kepiting dan juga bahan lainnya.
"Woi, mau kemana loe?" Jane memanggil dengan suara berbisik.
Karena Nara mengacuhkannya, Jane akhirnya berlari cepat dan mengagetkan Nara dengan cara menepuk kedua pundaknya dengan keras.
"Setan kau!" teriak Nara mengundang mata orang-orang disana untuk melihatnya.
"Ihhhh, Janeeee. Aku bisa mati mendadak kalau sekali lagi kamu kagetin gitu.
"Habisnya kamu budek. Aku udah panggil dari tadi tapi kamu nggak dengar. Sibuk lihat hp terus. Chattingan sama siapa, sih?" Kepala Jane maju ingin melihat dengan siapa Nara berkirim pesan.
"Kepo!" Nara menjauhkan ponselnya takut ketahuan chattingan dengan siapa. Padahal layar ponselnya saja sudah menghitam.
"Mau kemana?" tanya Jane.
"Mau pulang!" jawab Nara singkat.
"Tumben! Biasanya loe penghuni paling akhir kantor ini."
"Lagi nggak mood"
Detik itu juga, Jane mengumpat tanpa suara. Demi apa? Ynara pulang hanya karena nggak mood? Emangnya dia siapa? Semua orang juga kadang-kadang bahkan sering nggak mood tapi nggak pulang cepat tuh. Apa nggak
ada jawaban lain yang nggak bikin sakit hati?
"Gue kesel sama loe. Nyesel gue nanya loe mau kemana." Jane meninggalkan Nara yang mengerutkan kening karena bingung akan tingkah gadis itu. Moodnya cepat bangat berubah.
Sementara Nara sedang menunggu taksi yang hampir tiba. Langit yang sudah menemukan kata dan sudah menebalkan muka keluar dengan segera.
"Nar, Maaf---"
"Kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri karena tidak menemukan Nara di meja kerjanya.
Langit menoleh ke arah toilet, tidak ada tanda-tanda orang disana. Lalu dia berjalan ke arah pintu ruangan Andy. Bisa saja, saat ini Nara di ruangan Andy karena membahas meeting yang baru saja selesai.
__ADS_1
"Mas!" Langit memanggil Andy seraya mengetuk pintu.
"Masuk!" terdengar sahutan samar dari dalam.
Langit menekan hendle pintu dan melihat ke dalam ruangan. Matanya melihat ke sekeliling. Tidak ada Nara.
"Apa?" tanya Andy dengan ketus. Sebenarnya dia masih sangat kesal dengan sepupunya yang notabene adalah bosnya di kantor ini.
"Hmm... I-itu. Nara mana?" tanya Langit terbata dan matanya tidak fokus pada Andy. Ternyata dia masih sadar bahwa Andy masih kesal padanya. Dan dia juga sebenarnya malu karena sudah ketahuan sedang berbuat tidak senonoh di kantor.
"Sudah pulang!"
"Pulang? Bukannya kalian baru selesai meeting?"
"Ya! Tapi dia langsung pulang habis meeting. Kenapa? Untuk apa cari Nara?"
Langit akhirnya masuk dan duduk di kursi behadapan dengan Andy. Dia menunduk sejenak lalu menatap Andy dengan tatapan bersalah.
"Maaf ya, Mas. Aku tadi kelepasan!"
"Kenapa minta maaf padaku? Minta maaf saja pada Nara."
"Tadinya mau gitu, tapi dia udah pulang. Besok aku pasti akan minta maaf!"
Andy melepaskan kaca matanya dan menaruhnya di atas meja. Dia menatap Langit dengan tajam seraya berkata,
Langit menunduk, tak tau harus menjawab apa.
"Perusahaan ini bukan milik keluargamu seutuhnya walaupun om Anwar yang mendirikannya. Ada beberapa orang pemilik saham disini termasuk aku." Andy menekankan kata 'aku'.
"Jika kami menilai kamu tidak cocok, maka kamu bisa di lengserkan dari posisimu. So, aku harap kamu berhati-hati dalam bertindak Langit. Tolong jangan sia-siakan perjuangan ayahmu yang berusaha meyakinkan para pemilik saham itu untuk menaikkanmu. Jangan sia-siakan pengorbananku yang merelakan posisi ini untukmu. Jangan sia-siakan bagaimana Nara mendampingimu. Sabar pada kinerjamu yang banyak salah dan kurang teliti."
Sejenak, memori beberapa bulan lalu berputar di kepala Langit. Dia yang berpikir enteng dan langsung menanda tangani dokumen tanpa memeriksanya. Akhirnya Nara dan Andy juga yang membereskan kekacauan.
"Apa kamu tidak pernah bertanya pada ayahmu apa-apa saja yang di katakan Nara tentang dirimu?"
Langit mengangguk, tebakannya ternyata benar. Nara selalu melapor pada ayahnya.
"Dia tidak pernah menjelakkan namamu. Dia selalu berusaha meyakinkan ayahmu kalau kamu pantas disini. Kekacauan yang sering terjadi karena keteledoranmu, dia tak pernah laporkan itu. Apalagi mengenai kekasihmu."
"Kau harusnya berterima kasih padanya, bukan malah marah. Apa pikirmu yang kau lakukan tadi pantas di lakukan di kantor? Apa kau sudah sangat kepanasan makanya harus melakukannya di jam kerja?Ckckck..."
Andy berdecak. Tak ada kata sanggahan dari Langit. Yang ada, rasa bersalahnya semakin besar.
*****
Nara menekan sandi pintu yang merupakan ulang tahunnya. Di tangannya ada beberapa kantong belanjaan.
Dia berjalan santai ke dalam tanpa memperhatikan ada seseorang yang menatapnya dengan mata membulat tepat di depan pintu yang saling berhadapan. Gadis pirang yang tadinya membantu temannya yang baru pindahan tak
__ADS_1
menyangka akan melihat Nara di dalam gedung yang sama.
"Bukankah dia?" Gadis itu bergumam. Dia tidak salah. Yang barusan masuk itu adalah orang yang pernah dia lihat di Singapore dan juga Paris sedang bersama dengan orang terkasihnya.
Nara langsung sibuk membereskan barang belanjaan di dapur apartemen itu.
"Hm, masih terlalu cepat untuk memasak makan malam, lagian Nathan juga belum tentu bisa pulang cepat." Nara berbicara sendiri.
Usai mengisi kulkas dan membersihkan kepiting dan juga menyiapkan bahan-bahan yang akan di gunakan, Nara bergegas ke kamar Nathan dan memilih pakaian Nathan yang bisa dia pinjam.
"Pinjam kaosmu ya, Yang. Iya. Hihihi" Nara terkikik sendiri karena dia yang bertanya dia pula yang menjawab.
Lima belas menit kemudian, Nara keluar dari kamar mandi dengan tampilan segar dan hanya mengenakan kaos Nathan.
"Kayaknya aku harus simpan satu dua pasang baju disini," ucapnya seraya meraih ponsel yang dia letakkan di atas nakas. Ada bingkai kecil disana. Bingkai berisikan poto mereka berdua ketika liburan bulan lalu.
Nathan:
[Yang, Aku pulang cepat. Nggak sabar pengen makan kamu. Ups.. masakan kamu]
"Dasar!" gumam Nara seraya menggeleng dan lalu mengetikkan balasan singkat yang ambigu.
Nara:
[Hmm... cepatlah pulang kalau sudah tidak sabar lagi]
Gadis dengan handuk di kepalanya itu bergegas ke dapur dan mulai mengolah masakan khusus untuk kekasihnya.
*****
"Aku kayaknya kenal yang di depan unit kamu, Glo." Gadis pirang itu berucap pada temannya.
"Emang ada orangnya?"
"Tadi pas aku keluar, penghuninya masuk!"
"Cowok cewek?"
"Cewek!"
"Teman kamu atau kenalan begitu saja?"
"Tidak dua-duanya."
Gadis yang di panggil Glo itu melongo atas jawaban temannya. Bukankah katanya tadi ' kayaknya aku kenal' tapi kok sekarang bilang bukan teman bukan juga kenalan.
"Dia kekasihnya Jojo, aku pernah melihat mereka dua kali sedang liburan bersama."
Gadis bernama Glo itu tentunya kaget setelah mendengar kata 'Kekasihnya Jojo'.
__ADS_1