
Inhale exhale
Berulang-ulang kulakukan tetap saja aku deg-degan. Dua jam lagi Nathan akan datang dan jawabanku masih belum bisa ku pastika. Aku tidak setuju dengan ucapan Rindu semalam. Aku rasa itu terlalu santai.
Aku menelpon Ibuku, curhat sambil minta pendapat. Sebenarnya malu sih, diumur yang sudah termasuk matang ini masih harus galau dan minta pendapat. Seolah-olah udah mau sah aja.
"Kamu ada cerita.tentang keluargamu padanya?" tanya ibu.
"Iyah, udah pernah," jawabku jujur. Karena memang aku tidak menutupi apapun dari Nathan tentang keluargaku.
"Tanggapannya apa?" tanya ibu lagi.
"Dia bilang orang tuaku orang hebat karena berhasil sekolahin anaknya biarpun ekonomi kurang." Ya, Nathan pernah memuji keluargaku karena tetap mengutamakan pendidikan anak-anak walau dalam keadaan sulit.
"Trus habis itu dia bilang suka ke Nara,dia bilang mau serius ke Nara," lanjutku lagi.
"Berarti dia terima kamu apa adanya Nar, masih raguin apa lagi?" tanya ibu lagi. Apa ibu amnesia?
"Ibu, dia bilang oke belum tentu keluarganya oke kayak yang lalu, Buuuu." Aku mengingatkan ibuku barang kali lupa.
"Tiap orang gak sama Nar, coba aja dulu, kalau kamu berpatokan sama yang lalu, sampai kapanpun kamu nggak akan punya pasangan, Nak. Kamu harus ingat umur kamu sekarang!" Ucapan ibu membuat aku
semakin galau. Galau karena Nathan dan galau karena umur yang sudah masuk kategori perawan tua di kampungku.
"Orang-orang yang pikirannya udah terbuka lebar, orang yang pergaulannya luas biasanya lebih legowo dari mereka-mereka yang masih berada di lingkungan sempit yang tidak punya saingan berat dalam segala hal, lagian Nar, kalau kamu gak coba sekarang, kapan lagi? Gak mungkin kan setiap ada orang 'kaya' yang
deketin kamu, kamu samain semua sama Leo. Atau gini aja, pulang aja sini, ada
Tommy di kampung, ibunya kan suka sama kamu, pasti direstuin," ujar ibu dan
kalimat terakhirnya bikin aku makin meradang. Astaga ibu, Tommy udah duda dua
kali lho.
"Ibuuuu," aku hanya bisa merengek saja dan aku mendengar ibuku terkekeh.
"Emang ibu mau punya mantu duda dua kali? Kalau anakmu di cerai karena alasan tak jelas seperti yang lalu-lalu mau?" tanyaku menggebu dengan nada merengek.
"Siapa tau kalau udah sama kamu, sakitnya sembuh," Ibu Aneh, malah seperti mendukung anaknya sama laki yang kurang jelas.
"Udah ah, jangan bahas si Tommy!" kataku.
"Ya sudah, dari.pada si Tommy ya yang barusan kamu bilang lah, Nar. Kan kata kamu udah mapan, apa lagi coba yang kurang?"
Bukannya apa pemirsah, Nathan itu pasti dari keluarga sultan ya, buktinya aja perusahaan keluarga ada dan dia punya usaha sendiri juga.
Jadi apalah aku yang hanya babu di perusahaan orang? Dan biasanya orang-orang
seperti mereka ini jodohnya udah di tentuin bahkan sebelum lahir, kan? Kayak di
__ADS_1
drama-drama itu loh, masih bunting aja udah di lobi biar jadi mantunya nanti.
Biar bisa gabungan perusahaan dua keluarga . Lah aku piye? Apa yang mau di
gabungin?
"Pikir positif Nar, semua pasti baik-baik aja. Kamu itu harus belajar lagi, Nar, ubah pola
pikir kamu. Benar, yang lalu kamu seperti itu, tapi jangan samakan semua orang
akan seperti itu. Cuci otak kamu dulu, biar banyak yang positifnya,"
sambung ibu lagi memberi keyakinan padaku untuk menerima Nathan. Lalu kemudian bicara hal sepele tentang apa-apa yang ada di kampung sebelum menutup panggilan.
Andai aku tidak punya pengalaman seperti itu bu, aku gak akan berpikir dua kali seperti sekarang ini.
Andai mencuci otak segampang itu aku juga mau ibu. Aku juga pengen kayak
teman-temanku. Enjoy dalam berkencan.
Ucapku pelan seraya menatap ponsel yang layarnya baru saja redup karena panggilan di putus oleh ibu.
------------------------
Nathan
[ Aku d depan ]
Sumpah! Wajahku ini kaku bangat pemirsah.
Aku melihat Nathan
bersandar di mobilnya. Aku tau dia pasti deg-degan juga walau berusaha untuk
tetap terlihat tenang dan cool.
Penampilannya memukau, walau hanya mengenakan kaos polos, tapi dia terlihat maskulin dan karismatik.
"Kamu cantik," pujinya begitu aku mendekat.
Dasar, nanti udah dengar jawabanku kira-kira kamu masih mau bilang aku begitu?
Dan anehnya aku tersipu say, haduh kamu ini bukan cen-cen lagi loh, Nar. Pake tersipu lagi.
"Thanks!" balasku berusaha tenang.
Dan seperti biasa,
sikap gentlemennya yang lama-lama bikin meleleh. Gawat ini.
__ADS_1
"Silahkan tuan putri!" ucapnya memparodikan seorang pengawal ratu istana.
Dia gak lagi pencitraan biar dapat jawaban bagus, kan?
Tidak ada pembahasan
mengenai lover-lover ini selama
perjalanan, dia bahkan lebih santai menceritakan tentang pekerjaannya di Surabaya dan sesekali
menanyaiku tentang kerjaan juga.
"Gimana kabar kamu dua minggu ini?"
"Kerjaan kamu lancar?"
Aku jawab seadanya dan cerita juga bahwa akhir - akhir ini anak Pak
Anwar yang bernama Langit itu udah makin sering ke kantor, sepertinya bersiap-siap
menggantikan Pak Anwar. Eh,, aku udah cerita belum mengenai itu? Nanti aja yah
kalo masih belum. Aku kencan dulu. Intinya Pak Anwar katanya udah mau istirahat menikmati masa
tua jadi urusan kerja dan cari uang di serahkan ke anak-anaknya. Dan kantor
tempatku bekerja jatuh ke tangan anaknya yang pernah aku bilang urakan itu.
Back to situation right now.
Tanpa ada rasa canggung dan sepertinya yakin sekali dia dapat jawaban baik dari aku. Dia tenang sekali. Hehh anak muda, semakin kamu tenang semakin aku dilema.
------------------
"So?" Dia gak sabaran, bentar dulu bambang, dagingnya barusan assalamualaikum di mulut masih belum sampe lambungku. Tunggu anteng dulu.
"Hmm?" pura-pura gak ngerti dulu pemirsah, sambil aku melap bibirku sambil goyang goyang lidah, cek dan ricek tidak ada yang nyangkut di gigi.
"Your answer. Belum lupa tujuan kita hari ini, kan?" tanyanya seraya menaikkan alisnya. Gak sabaran banget sih. Waktu masih panjang, kasih jeda sedikit lagi.
"Nggak sabar lagi airmara
Basa-basi udah, dinner
udah, drinking wine juga udah walau aku cuma coba dikit pemirsah, mulutku gak
tahan, maklum mulut orang kampung. Belum pernah minum minuman mahal seperti
itu. Enakan juga pake air mineral yah, ada manis-manisnya. Gak heran sih
__ADS_1
human satu ini mau langsung ke intinya, apa otaknya sudah mulai bercampur alkohol sekarang?
"Aku... Sebaiknya--- kita--- "