KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
31. WHO IS ADELIA FRANSISCA?


__ADS_3

Hanya satu kalimat saja, sudah bisa membuat  wajah wanita itu pucat pasi. Matanya melotot karena kaget begitu kata 'Adelia Fransisca' terucap dari mulut Andy. Gadis yang bernama Sisca itu menoleh ke arah Langit, ingin bertanya apakah Langit pernah mengatakan tentangnya pada Andy. Tapi melihat raut kacau Langit, akhirnya dia


mengurungkan niat.


Bukankah aku sudah sangat berhati-hati? Kenapa bisa sampai kecolongan? batinnya.


Takut? tentu saja dia takut ketahuan atau informasi mengenai dirinya bocor, atau lebih tepatnya identitasnya.


Keduanya terdiam, sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Jika Sisca sedang memikirkan ucapan Andy, Langit juga sama. Tapi ucapan yang berbeda. 'Nara bekerja untuk ayahmu.'


Kalimat Andy itu berputar terus di dalam kepalanya. Kenapa dia bisa lupa soal yang satu ini? Apa selama ini Nara melaporkan apapun kegiatannya? Apakah setelah ini dia akan menerima amukan ayahnya jika Nara melapor?


"Jadi, apakah dugaanku benar, Nara melaporkan apapun yang ku kerjakan? Tapi, papa tidak pernah menyinggung soal Sisca. Padahal udah sering kemari dan selalu bertemu dengan Nara. Apa papa pura-pura tidak tahu atau Nara melewatkan laporan mengenai privasiku?" batin langit.


Jika seandainya selama ini Nara mengabaikan Sisca, apakah kali ini akan melapor? Aku sudah membuatnya sangat marah dan sakit hati. Aku bahkan berlagak ingin memecatnya. Dasar Langit bodoh, tak tau diri, batin Langit lagi.


Langit tiba-tiba memukul kepalanya sendiri dan hal itu membuat Sisca kaget.


"Aku memang bodoh! Harusnya aku diam saja, aku malah menyulut emosinya dan membentaknya. Dasar Langit bodoh, tidak tau terima kasih!" ucap Langit pada diri sendiri.


Sisca jadi tidak berani berkata-kata. Takut terkena amukan Langit.


Awalnya dia sudah bertekad mengatakan kecurigaannya atas ucapan Andy. Bisa saja Langit tidak memperhatikannya tadi karena masih fokus masalah sekretarisnya. Dan Sisca yakin, Langit tidak akan pernah mengungkapkan identitasnya pada siapapun. Ini berarti dia sudah di mata-mata i dan di selidiki.


Apakah tuan Anwar sudah tahu? Satu beban pikiran baru yang menganggu kinerja otak Sisca.


Sementara itu di ruang meeting. Nara yang baru masuk menyapa mereka dengan senyum ramahnya. Utusan dari Salim Jaya itu  sudah pernah dia temui saat dia ikut di meeting sebelumnya.


"Maaf sudah menunggu ya, Pak," ujarnya dengan gestur sopan.


"Santai saja, Bu. Kita juga baru sampai."


Nara memulai meeting dan sekali lagi minta maaf mengatakan bosnya tidak bisa karena tiba-tiba saja kurang enak badan dan pulang.


"Maaf sekali lagi ya, Pak. Meetingnya nanti akan di hadiri sama pak Andy. Kita tunggu sebentar ya, Pak."


Dengan cekatan Nara mengirim pesan pada Andy untuk datang ke ruang meeting.

__ADS_1


Tak berselang lama, Andy datang dan menyapa dengan senyum dan ucapan permohonan maaf karena terlambat.


Dua orang itu jangan di tanya lagi. Andy adalah orang yang berpengalaman dan Nara sudah lama mengikutinya, tentunya Nara bisa paham dengan mudah. Berkat kepiawaian Andy, meeting selesai dengan cepat dan


kesepakatan tercapai. Kesepakan yang menguntungkan bagi dua belah pihak jika kerja sama ini berjalan lancar.


"Tas Nara dibawa kemana tadi, Mas?" tanya Nara  saat keluar dari ruang meeting. Tamu mereka sudah di antarkan terlebih dulu hingga ke lobi perusahaan. Jika ada yang mendengar ini, pasti berpikiran lain. Masa Nara bertanya dimana tasnya sama Andy yang notabene adalah atasannya? Pasti akan ada kecurigaan yang muncul. Nara ada apa nih sama pak Andy? Bukankah pak Andy sudah menikah? Apa Nara memiliki bibit-bibit pelakor?


"Di meja kamu! Surat pengunduran dirimu sudah aku robek juga. Tidak ada pengunduran diri, tidak ada pemecatan. Sana balik kerja!"


Dalam hati Nara berteriak, antara balik kerja atau tetap mundur. Langit dan kekasihnya sungguh sudah keterlaluan. Tapi tiba-tiba Nara berpikir, 'jika aku mundur, cari kerja baru lagi? Nganggur lagi sebelum dapat?'


Membayangkan akan menjadi pengangguran yang sibuk kirim lamaran membuat bulu kuduknya berdiri. Apalagi di jaman sekarang ini, cari kerja susah. Bahkan yang ada lebih banyak pengurangan dari pada penerimaan.


"Mikir apa lagi? Sana naik!" usir Andy yang melihat kegamangan di wajah Nara.


Satu hal yang di yakini, Nara pasti tidak serius ingin mundur dari pekerjaannya. Bagaimana tidak. Kerjaan udah katam, bonus banyak, gaji tinggi. Apa lagi?


"Hari ini, aku boleh pulang cepat nggak, Mas? Malas bangat liat muka orang itu. Jijai gua!" ujar Nara seraya bergidik.


"Pulang gimana maksud kamu? Itu hasil rapat gimana?" tanya Andy. Keduanya berdiri di depan lift menuju lantai kantormereka.


Melihat wajah Nara yang di buat sangat memelas, akhirnya membuat Andy luluh dan memberi ijin.


"Ya sudah, tapi sebelum jam tujuh malam, itu udah harus ada. Kirim ke aku!"


Wajah Nara berubah cemerlang sesaat sebelum tiba-tiba berubah kesal lagi karena kemunculan seseorang dari lift yang baru saja terbuka.


Orang itu menunduk sopan dengan senyum tipis di bibirnya. Terlihat sekali sangat terpaksa.


Beberapa menit lalu.


Usai keheningan yang cukup lama, akhirnya Sisca berdiri dan meraih blezer yang dia gantungkan di sandaran sofa. Dia memakainya dan segera meraih tas nya lalu berjalan ke arah Langit yang masih duduk tertunduk.


"Aku pulang. Hubungi aku nanti, love you!" ujarnya pada Langit dan mencium kepala langit.


Tidak ada sahutan dari Langit kecuali anggukan kepala sekali.


Saat Sisca turun di lantai satu dan keluar dari lift, dia bertemu dengan Nara dan Andy yang hendak naik lift.

__ADS_1


"Gitu kan lebih sopan, masa datang tadi hampir telanjang," sungut Nara pelan setelah Sisca berlalu.


Saat datang, Sisca melepas blezernya sehingga menampakkan pakaian serba mininya. Saat keluar, dia mengenakan blezer yang panjangnya mencapai ujung roknya. Mendengar sungut-sungut Nara, Andy hanya menggeleng.


*****


Nara:


[Sayang, aku boleh ke apart kamu?]


Nathan:


[Boleh, emang kamu dimana? Nggak kerja?]


Nara:


[Kerja, tapi mau ijin pulang cepat. Sakit kepala.]


Nathan:


[Tumben, biasanya, kamu harus pingsan atau di infus dulu baru ijin kerja.]


Nara:


[Capek]


Nathan:


[Ya sudah, kesana aja. Nanti aku usahakan cepat pulang]


Di ujung sana, Nathan tau, pasti ada yang tidak beres. Gadisnya bukan orang lemah yang dikit-dikit ijin nggak masuk kerja hanya karena flu, batuk atau pusing.


Tidak perlu memburunya, jika sudah mendingan, Nara pasti akan cerita. Jika tidak cerita sekalipun, berarti itu privasinya. Nathan hanya akan memberikan ruang untuk menenangkan pikirannya.


Karena kunci mobil sudah di serahkan pada tuannya. Akhirnya Nara memesan taksi online ke alamat apartemen Nathan. Nara duduk sambil sibuk mengotak-atik ponsel. Tas dan dokumen meeting sudah di mejanya, siap dibawa pulang.


Pria di ruangan itu mondar-mandir sambil sesekali menjambak rambutnya. Pakaiannya yang tadi pagi rapi kini tidak tau bentukannya. Rambutnya juga sudah aut-autan. Langit tahu bahwa Nara sedang duduk di kursinya. Dia sempat melihatnya tadi saat dia hendak keluar. Namun di urungkannya karena belum punya muka melihat Nara.


"Aku harus minta maaf, harus. Nara nggak boleh resign. Gawat kalau dia resign. Aku nggak yakin bisa dapat orang seperti dia lagi. Lagian pasti papa akan murka dan cari tau alasan sebenarnya. Ih, bodohnya aku tadi udah ngomong gitu." Langit berbicara sendiri di ruangannya.

__ADS_1


"Minta maaf, ya, minta maaf. Aku harus minta maaf."


__ADS_2