
AUTHOR POV
Beberapa jam lalu di Cafe :
Dunia Nathan seperti di jatuhi bom dan meledak tepat di hadapannya saat matanya menoleh ke arah sumber suara di seberang sana. Nathan membolakan matanya saat melihat gadis itu dengan wajah memerah berdiri dan membungkuk sambil mengucapkan maaf karena sudah mengganggu.
"Ynara?" bisiknya pelan.
Pun dengan pria di sampingnya, sama terkesiapnya dengan dirinya. Namun lain dengan Delia, istrinya yang terlihat santai dengan gerutuannya yang bisa di dengar dengan jelas oleh Nathan.
"Dasar ceroboh! Dimana-mana jadi perusak suasana."
Sebenarnya Nathaningin menanyakan maksud dari kalimat Delia. Itu terdengan seperti Deli sudah mengenal lama Nara dan sudah pernah mengalami hal kurang menyenangkan oleh gadis itu. Tapi saat mulutnya hendak berbicara, Sepupunya datang dan mengajak mereka ke meja neneknya.
Nathan dan Delia berdiri dan berjalan mendekat ke arah neneknya. Disana sudah ada dua buah kue ulang tahun. Nathan dan Delia meniup lilin bersama-sama di iringi tepuk tangan meriah kemudian di lanjutkan dengan acara tiup lilin ulang tahun sang nenek.
Sepanjang acara, pikiran Nathan sudah tidak berada di tempat itu lagi. Bahkan sesekali Arthur yang duduk di sampingnya menyikut Nathan agar tidak melamun dan tidak menatap Nara terus menerus.
"Fokus! yang lain bisa curiga kalau kau menatapnya seperti itu."
"Aku harus gimana, bro?" Nathan sekarang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Rahasia yang selama ini di simpannya rapat-rapat kini terbongkar di keramaian. Tidak masalah jika orang di cafe ini mengetahuinya, mereka tidak ada pengaruhnya karena tidak saling kenal. Yang jadi masalah adalah, gadisnya yang duduk bersama teman-teman kantornya.
"Sudah saatnya kamu jujur, Jo!"
Jujur apa lagi? Jujur sudah menikah? Tidak perlu, karena orang yang selama ini di bohonginya ada tepat di hadapannya. Sesekali mata mereka bertemu. Tapi Nara yang di pandang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa lagi. Nara sama seperti yang lainnya. Seperti tidak kenal Nathan. Tapi jelas, di mata itu ada kesedihan yang berusaha di tutupi dengan keramaian dan keriuhan suasana cafe ini.
"Rindu?" gumam Nathan saat melihat Rindu datang dari arah belakang panggung dan mendekati gadis itu. Nathan melihat Rindu menepuk pundak Nara. Mereka saling tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Nathan mengedarkan pandangannya dan melihat nama cafe ini, 'Rindu Cafe'
Seketika, dia hendak mengumpat kesal karena mengabaikan cafe yang di pilih neneknya, dia hanya meminta Arthur membawanya kemari tadi. Padahal seingatnya, Nara sudah pernah mengatakan bahwa teman serumahnya itu itu adalah pemilik cafe yang lagi hits di kalangan muda-mudi.
"Kenapa?" Arthur salah satunya yang mengetahui kegalauan Nathan hari ini sangat peka. Setiap Nathan bergumam, telinganya bekerja sepuluh kali lebih baik dari biasanya.
"Hm?" Nathan menoleh kemudian menggeleng. Dia tidak ingin terlalu membicarakan ini karena dia berada di antara keluarga besarnya. Pun adiknya Sarah saat ini duduk di samping Arthur dan sedang menatap ke arah mereka.
Tapi, ada apa dengan raut Sarah? Ada apa dengan tatapan mata itu?
Sejenak Nathan kembali ke acara di cafe, saat sepupu-sepupunya menyuapi neneknya dan menemani neneknya bernyanyi mengikuti segerombolan anak muda di panggung.Delia meraih tangan Nathan dan membawanya ke
arah sang nenek. Lalu keduanya menyuapi neneknya dan mencium pipi mereka. Nara tersenyum tipis menyaksikan pemandangan itu.
Sesekali terlihat dia menghembuskan napas beratnya. Mulutnya terbuka lalu tertutup lagi. Kadang dia juga meladeni bisikan teman-teman di mejanya dan tersenyum sambil mengangguk tapi tanpa ekspresi. Semua tindakan Nara di amati oleh gadis pirang di samping Arthur.
"Kamu bicara denganku?" tanya Arthur.
"Seharusnya kamu ingatkan Jojo, Kak. Supaya dia tidak terlalu jauh melangkah. Jika sudah begini, siapa yang menderita? Dia hampir pingsan tadi saat mengetahui kebenaran yang kalian tutupi." Sarah berbicara pelan dengan tatapan tetap mengarah ke lima gadis yang sesekali bercengkrama di meja seberang tapi tampak satu gadis sungguh tidak menikmatinya. Senyumnya sangat terpaksa ketika teman-temannya tertawa riang.
Arthur mengikuti arah pandangan Sarah. Dan seketika itu dia membolakan mata walau dengan secepat kilat mengembalikan ekspresinya.
"Sejak kapan kamu tahu, Sar?" Athur bertanya dengan nada pelan nyaris berbisik. Matanya mengedar untuk memastikan tidak ada anggota keluarga Sagara yang mendengar.
Untung saja para orang tua sudah pindah duduk lebih dekat dengan nenek. Pun Nathan dan Delia masih disana, mungkin mendengar nasihat-nasihat ataupun keinginan para orang tua.
"Beberapa bulan lalu, saat mereka ke Singapore."
"Singapore? Kapan?"
__ADS_1
"Kakak tidak tahu?" Kini gadis pirang bernama Sarah itu menoleh ke arah Arthur.
"Aku tidak tahu," jawab Arhur sambil menggelengkan kepala. "Tapi, ke Paris, aku tahu," lanjutnya seraya
menatap Sarah untuk memastikan apa Sarah juga tahu itu.
"Sebelum ke Paris, mereka ke Singapore. Aku melihat mereka sedang belanja dan kebetulan aku beradadi toko yang sama." Arthur nyaris berteriak karena kesal pada Nathan yang tidak memberitahukan kepergiannya ke Singapore.
"Sejak aku melihat mereka di Singapore. Pelan-pelan aku mengecek jadwal Jojo. Akhirnya aku tahu dia akan ke Paris. Aku mengikuti mereka. Aku bahkan menginap di hotel yang sama dangan mereka. Dan baru-baru ini, aku tahu bahwa Jojo punya apartemen. Aku melihat gadis itu datang kesana."
Arthur terdiam, tidak menyangka bahwa Sarah sudah mengetahui sejauh itu.
Kemudian terdengar Sarah mendengus pelan seraya berkata, "Padahal, setiap malam Nathan pulang ke rumah kata ka Delia. Artinya, dia menjadikan apartemen itu tempat tinggal sementara jika sewaktu-waktu gadis itu bersamanya. Sungguh sudah sangat di niat, kan."
Arthur membenarkan apa yang barusan di ucapkan oleh Sarah, tapi dia tidak menyuarakannya.
"Dari gelagatnya saja, aku bisa tahu bahwa gadis itu sudah tertipu," lanjut Sarah memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.
Saat Nathan dan Delia kembali ke kursi mereka pembicaraan berhenti. Dan mereka di kejutkan dengan sebuah panggilan kepada Nara dari atas panggung.
"Ynara... nama yang bagus!" gumam Sarah. Nathan menoleh ke arah Sarah adiknya begitu juga Arthur.
"Aku rasa itu nama yang bagus. Sama seperti orangnya, cantik! Aku paham kenapa kamu tergila-gila padanya, Jo!" lanjut Sarah dengan pelan dan tetap menatap Nara yang sudah berdiri dengan wajah masam.
Nathan menatap Arthur. Seolah mengerti. Arthur mengangguk.
Seperti biasa, Nara yang sudah di atas panggung bisa menghipnotis mereka dengan suaranya yang benar-benar memukau. Walaupun saat di awal tadi, dia sedikit sedih bahkan menitikkan air mata tapi Nara beralasan
sedang merindukan orang tuanya. Nathan, Arthur, Rindu dan juga Sarah jelas mengetahui kenapa air mata itu keluar.
__ADS_1