KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
68. JANGAN GANGGU GADIS ITU LAGI


__ADS_3

"Enough!" Nara mendorong bahu Nathan.


"Aku masih kangen tapi, Yang." Nathan merengek dan menjatuhkan kepalanya di bahu kekasihnya.


"Kamu koma cuma dua hari, sadar dan pura-pura amnesia tiga hari. Kangen apanya?"


Nara sebenarnya masih kesel karena tingkah konyol Nathan yang sampai pura-pura amnesia.


"Buktinya saat aku amnesia, kamu bisa tiap hari ada disini, kan?"


"Jadi menurut kamu, kalo kamu nggak amnesia, aku ngga bakal ada disini?"


"Iya,"


"Asal ngomong. Udahlah kamu istirahat gih. Orang sakit nggak baik begadang," Nara menurunkan bed Nathan. Menarik selimut pria itu hingga dada. Kemudian dia menunduk dan mencium kening Nathan.


"Good night. Get well soon, Sayang."


Dia berdiri tegak setelah itu. Lalu merapikan nakas di samping kasur Nathan. Meletakkan botol minum ke arah pinggir agar memudahkan Nathan mengambilnya jika tengah malam mereka tuli karena tertidur dengan begitu pulas.


"Yang ini belum, Yang. Ini obatnya nomor satu dan terampuh," ujar pria itu seraya mengetuk bibirnya.


"Untung kamu sedang saki. Kalau nggak, udah aku cubit," ujar Nara tapi tak menolak apa yang Nathan mau. Dia mengecup pria itu dua kali.


"Udah aku kasih bonus. Kamu harus cepat sembuh kalau mau dapat bonus lagi." Nara tersenyum usai mengatakannya. Dia melangkah ke arah kasur satunya dan duduk di atas sambil menunggu Sarah kembali dari kafetaria.


Tak lama berselang sarah kembali dengan dua cangkir kopi panas yang hampir dingin. Dia melirik Nathan yang sudah berbaring dan sudah menutup mata, sementara Nara sudah kembali sibuk dengan laptopnya.


"Sudah ternyata," gumam Sarah seraya berjalan ke arah Nara. Menyerahkan satu cup kopi hangat itu pada Nara.


"Thanks," ucap Nara pelan. Dia menyeruput sedikit saat cup itu ada di tangannya. Kemudian kembali sibuk.


*****


Pria paruh baya itu tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya masih terganggu dengan kecelakaan Nathan yang di sebabkan oleh ambisinya.


Dia menyesal dan merasa bersalah. Namun masih kesal karena tidak bisa menyingkirkan perempuan itu.


Hatinya belum bisa terima jika anaknya Nathan bercerai demi gadis itu. Pria tua itu tak habis pikir dengan sahabat yang sekaligus besannya. Bagaimana mungkin menyetujui perceraian dan bahkan mengangkat gadis itu menjadi anaknya.

__ADS_1


Tuan Robert berputar menghadap kanan lalu terlentang lagi. Sebentar kemudian dia berputar ke kiri. Terlihat istrinya sudah lelap. Suara dengkuran halus membuktikannya.


"Kita harus bagaimana, Sayang? Kemana kita harus mengirimkan Nathan agar menjauh dari perempuan itu. Aku belum bisa terima jika dia bersama gadis itu." Tuan Robert berbicara pada istrinya yang tertidur.


Mereka butuh perjuangan untuk mendapatkan Nathan, bahkan hingga mengabaikan perasaan Hannah ibu kandung Nathan. Robert sudah susah payah mendidik Nathan. Bagaimana bisa anaknya itu berakhir dengan gadis yang biasa-biasa saja.


Robert memejamkan matanya. Berusaha untuk terlelap menyusul istrinya.


Saat matanya terpejam, bayangan wajah Nara yang menantangnya lewat sekilas. Dia menghela berat seperti punya beban berat.


Robert bergeser dan memeluk istrinya. Belahan jiwanya, cinta sejatinya. Wanita yang menemaninya dari nol hingga sekarang. Wanita yang selalu memberinya saran dan nasehat demi kebaikan.


"Tidurlah, jangan banyak berpikir. Kita sudah tua. Tidak punya stamina untuk begadang lagi hanya untuk hal yang sia-sia," ucap istrinya saat merasa suaminya itu gelisah. Dia berada di pelukan suaminya yang jantungnya berdebar kencang. Pasti ada sesuatu di pikirannya.


****


"Kenapa?" tanya tuan Robert pada istrinya.


Mereka hanya sarapan berdua karena anak mereka Sarah masih ada di rumah sakit menjaga Nathan.


Robert menatap istrinya dan menghentikan suapan sarapannya. Tatapan itu tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang sedang di pikirkan dan pasti ingin di ucapkan.


"Tidak ada. Hanya tidak bisa tidur saja. Mungkin karena kita ngopi kemarin sore," jawab Robert berbohong.


Nyonya sagara meletakkan sendoknya dan menatap suaminya itu dengan intens.


"Pa, mama takut," ucapnya dengan mata mulai memerah.


"Jojo diam selama ini dan membiarkan kita melakukan apa saja padanya. Memaksakan kehendak kita padanya. Tapi sebenarnya, dia menyimpan kesakitan karena terpaksa. Mama takut, dia akan menguarkan semua emosi dan kemarahannya selama ini pada kita. Apalagi jika dia tahu niat papa pada gadis itu."


"Jangan terlalu di pikirkan. Papa nggak berbuat apa-apa pada gadis itu selain memintanya untuk menjauh dari Nathan. Kan Mama ikut juga waktu itu. Mama dengar sendiri apa yang papa bilang. Memang sedikit keras dan mengancam, tapi kan dia juga sanggup mengimbangi."


Nyonya Sagara menatap suaminya yang mulai melanjutkan sarapannya kembali. Suaminya itu mengatakan kalimat panjang padanya tanpa menatapnya. Pastilah ada kebohongan disana.


"Mama sudah hidup puluhan tahun dengan papa, papa ngerti maksud mama, kan?"


"Hmm," jawab pria itu berusaha cuek. Dalam hati dia sudah tahu maksud istrinya. Dia sudah ketahuan sekarang.


"Please, papa hentikan rencana papa itu. Jangan mengganggu gadis itu lagi jika tidak ingin Jojo berubah semakin jauh dan membalas kita. Mama bisa melihat kedua orang itu sudah sangat terikat."

__ADS_1


Sendok makan tuan Robert berhenti. Dia menatap istrinya. Mulutnya mengunyah pelan sarapan yang sudah terlanjur masuk.


"Apa mama mendukung Jojo dan gadis itu sekarang? Bukankah mama yang bilang sangat menyukai Delia?"


Nyonya Sagara mengangguk. Siapa yang tidak menyukai Delia? Bibit bebetnya jelas. Tapi apa yang mereka suka tidak harus di sukai anak-anaknya, kan?


"Tapi Jojo nggak suka. Delia juga sepertinya tidak suka. Jika dia suka, tidak mungkin juga di berpacaran dengan pria lain saat dia sudah menjadi istri dari seorang pria, kan?"


*****


"Papa benar-benar tidak habis pikir dengan calon mantan mertua kamu itu," Darius bicara dengan putrinya yang sedang sarapan bersama.


Sejak dua minggu lalu, saat rencana perceraian sudah di sepakati oleh Delia dan Nathan. Delia pulang ke rumah ayahnya. Menurutnya, tidak baik lagi tinggal di rumah itu walau kepemilikan jatuh ke tangannya.


Tidak apa-apa jika itu menjadi milik Nathan dan dengan suka rela dia akan menandatangani pengalihan Nama.


Tanpa dia tahu, sebenarnya Nathan juga punya pemikiran yang sama. Pergi dari rumah karena tidak cocok lagi satu rumah dengan calon mantan istri.


"Kenapa emang?" tanya Delia.


Tantenya yang ikut sarapan bersama juga menatap Darius. Dia juga kepo soal Robert si tukang ngotot itu.


"Nggak setuju kalian bercerai."


"Akh, nyusahin bangat sih. Ngomong dong Dad. Kan sahabat Daddy."


"Sudah, tapi dasar otaknya keras seperti batu."


"Ya udah, habis ini kita ke rumah sakit. Suruh Jojo tanda tangan surat cerai ini. Trus kasih liat sama papa Robert."


"Ya nggak bisa dong, Sayang. Itu menyalahi hukum. Orang Amnesia gitu di suruh tanda tangan bisa jadi di anggap penipuan."


Delia berdecak. Itu si Nathan kenapa musti amnesia, sih. Bikin susah semua orang.


Darius melihat putrinya yang sedang manyun karena kesal. Dia tersenyum. Anak manja ini kenapa bisa menjadi nakal? Kenapa bisa selingkuh saat sudah punya suami? Harusnya, seorang istri bisa mengadu ke mertua jika suaminya tidak becus jadi suami. Ini malah mencari kesenangan di luar.


"Del," panggil Darius dengan suara yang dalam.


"Hm?" Delia menatap Daddynya sambil menyuapkan sarapan.

__ADS_1


"Jangan terlena dengan hubunganmu sekarang. Ingat, Langit juga punya orang tua dan keluarga besar."


__ADS_2