
"No Ynara, do not do it to me, please!"
"Aku tidak akan keluar dari rumah ini sebelum
kamu memaafkan aku dan berjanji akan menepati janjimu," lanjut Nathan
sambil menggeleng dan tidak melangkahkan kakinya barang seinci pun walau Ynara
sudah berteriak kencang hingga urat di
lehernya hampir putus.
"Aku tahu aku salah karena sudah berbohong soal status ku padamu. Tapi juga sedang berusaha menyelesaikannya dalam diam. Jika kamu tidak percaya, aku bisa mengajak Delia untuk bertemu denganmu dan
menjelaskan padamu mengenai pernikahan kami." Sungguh pria yang sangat
keras kepala. Mengenalkan Delia? Apa dia serius?
Melihat wajah datar Ynara yang seperti bertahan pada keputusannya, Nathan mendekat dan membawa Ynara untuk duduk di anak tangga.
Anehnya Nara bahkan mengikuti mau pria itu.
"Jangan suruh aku pulang untuk memperbaiki
hubunganku dengan istr- Delia. Aku tidak akan mau. Jika kamu suruh aku pulang
untuk bicara dengan orang tua ku mengenai kita, aku mau tapi aku mohon, kamu
harus janji untuk tetap menjadi supporter ku. To be honest Ynara, selama dua tahun ini, walau kita jarang bertemu, walau kita tidak bebas mengekspresikan cinta kita, tapi aku merasa hidupku lebih baik dari sebelumnya. Aku tahu kamu pasti menyadarinya, you can feel it, bahwa aku sangat menyukaimu, sangat mencintaimu dan aku sudah membayangkan masa depan kita seperti apa,
Ynara." Nathan mengambil kesempatan untuk meraih tangan Nara dan menggenggamnya kembali. Si pemilik diam saja tetapi pikirannya sudah tidak karuan sekarang.
"Nathan, jujur padaku, .... huuufff" Nathan
mengangguk dan menunggu Nara yang sedang menarik napas dalam-dalam.
"Where did you lived" Nathan terkesiap dengan pertanyaan kekasihnya. Apa
sekarang semua kebohongannya akan terungkap lagi?
"Kamu selalu membawaku ke apartemen kamu dan disana aku bisa melihat bahwa unit itu hidup. Semua barang-barang disana
mencerminkan dirimu. Maksudku, itu sangat maskulin tidak ada selera wanita
kecuali vas bunga yang aku letakkan di sudut. Apa itu tempat tinggal tetap atau ..." Nara tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Sungguh dia tidak ingin menanyakan itu, tapi dia penasaran.
"Sorry!"
Jawaban pelan dari Nathan sudah menjawab semuanya.
"Aku tinggal disana sesekali jika aku malas
pulang. Sepulang kantor aku akan berada disana hingga larut. Tengah malam aku
pulang ke rumah." Nathan menunduk saat menjawab jujur.
__ADS_1
"Kamu sangat profesional! Pasti kamu
menertawakan aku kan karena aku bisa di bodohi sama kamu."
"Aku tidak bermaksud, Yang."
Nathan menunduk, menyangkal semuanya, tapi dia sadar Nara bukan gadis yang bisa di bodohi apalagi sekarang dosa terbesarnya sudah ketahuan.
"Aku membelinya sudah lama, sebelum menikah papa nggak ijinin aku tinggal di luar rumah karena kami sering kerja bareng."
"...."
"Sebelum kenal kamu, aku membeli apartemen tanpa sepengetahuan papa. Itu atas nama Arthur. Setiap kali aku butuh waktu menyendiri, aku kesana. Hingga aku kenal kamu dan kita pacaran."
"...."
"Sayang, maaf. Aku tidak ingin lebih menyakiti hatimu. Aku akan jujur lagi.
Saat kami menikah, papa kasih rumah. Dan aku pulang kesana karena aku tidak mau ada laporan ke papa. Aku dan Delia berusaha menutupi keadaan rumah tangga kami."
Mendengar itu, Nara bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya hubungan dua orang ini seperti apa? Apakah mereka saling tahu bahwa pasangan mereka punya pasangan lain di luar?
"Apa kamu pernah cerita tentang kita pada istrimu?"
Ada perasaan yang sulit di ungkapkan oleh Nara ketika sia menanyakan itu. Jika Nathan menceritakannya, dan Delia adalah Sisca. Apa selama ini Delia tahu siapa Nara?
"Siapa nama lengkap istrimu?" Nara bertanya sebelum Nathan menjawab pertanyaannya tadi.
"Adelia Fransisca" jawab Nathan lalu teringat gelagat Delia tadi saat di cafe.
Nara menatap Nathan dan bergumam dalam hati, Haruskah aku menceritakannya?
Nara menggeleng, "Tidak. Hanya pernah berpapasan beberapa kali."
Nathan mengangguk saja walau dia tengah berpikir Nara seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Dari gumaman Delia di cafe tadi yang memuji suara Nara dan juga Nara barusan yang menanyakan nama lengkap Delia. Sepertinya dua orang ini bukan hanya sekedar pernah berpapasan.
Sementara itu Nara sedang memikirkan, jika Nathan tidak pernah menceritakan apapun soal dirinya pada Sisca, berarti kemungkinan besar Sisca belum tahu siapa dirinya dan apa perannya dalam rumah tangga mereka. Apakah nanti Sisca akan menyalahkannya karena sudah menjadi orang ketiga?
Saat tengah memikirkannya, tiba-tiba ada satu pemikiran lain yang hinggap di kepala Nara. Mungkinkah Delia mengetahui Nara dan Nathan? Apa mungkin Delia nekat berbuat senonoh dengan Langit hanya untuk membalas Nara?
"Sudah larut malam, pulanglah! Bukankah aku sudah mengusir kamu tadi?" Nara bangkit berdiri dari duduknya dan menatap datar pada Nathan. Kenapa pula aku tadi duduk dan berbicara lagi dengan orang ini? batinnya.
Nathan sedikit kaget karena perubahan Nara.
"Sayang?"
"Stop Nathan. Jangan panggil aku seperti itu lagi. Itu sangat menyakitkan ketika aku sadar bahwa aku tidak seharusnya mendapat panggilan itu dari kamu. Someone is missing you to call her like that."
Nara berucap datar.
"No Ynara. Aku tidak mau. Kamu adalah sayangku. Aku akan tetap memanggilmu seperti itu. Please do not push me so hard to go away from you. Selama dua tahun kenal kamu, aku hidup Ynara. Hidupku lebih berwarna. I felt so deep in you Ynara. I can not live without you. Please trust me!"
Nara menggeleng. Ini salah, ini salah gumamnya pelan.
__ADS_1
"Tolong pergi dari rumahku dan jangan kembali lagi." Nara berbalik dan berlari ke kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Dia membanting pintu kamarnya dang langsung merosot di dinding pintu. Dia menangis sesenggukan walau suaranya tertahan. bahunya bergetar. Dia menangisi cintanya yang akan kandas lagi dan permasalahan tidak jauh berbeda dengan yang lalu.
******
Rindu menggelengkan kepala melihat dua orang yang saling mencintai tapi menderita karena ulah si pria. Rasanya dia ingin sekali mendekat dan memberikan hadiah bogem di wajah pria yang sudah membuat temannya menangis.
"Gadis malang! Sepertinya keberuntunganmu dalam percintaan tidak sebagus pekerjaanmu," gumamnya pelan seraya mengikuti langkah Nara yang menaiki tangga dengan setengah berlari. Rindu tau Nara sedang menangis. Dia bisa melihat tangan Nara yang menghapus pipinya.
Sedari tadi dia sudah tiba di rumah karena khawatir temannya itu menangis dan stress sendirian. Begitu dia tiba, dia bisa melihat ada mobil di halaman rumah dan dia bisa menebak itu milik Nathan.
Benar saja, pasangan itu duduk di anak tangga dan sedang berbicara dengan serius. Rindu menunggu mereka sambil bersandar di daun pintu. Hingga akhirnya dia melihat Nara berdiri dan berlari.
Rindu berbalik, berjalan menuju mobilnya. Sebaiknya dia tidak ikut campur dulu. Hal yang bisa berikan saat ini adalah waktu menyendiri untuk Nara.
"Ynara, aku minta maaf karena aku juga ikut mendorongmu untuk bersama pria itu."
Rindu pergi dan bersiap untuk mencari penginapan malam ini.
Sementara itu di kamar,
Nara menatap kosong ke depan. Ini sudah tengah malam tapi matanya tidak mengantuk walau tubuhnya terasa lelah seperti tidak bertenaga. Sungguh permasalahan malam ini mengambil semua tenaganya.
Tiba-tiba dia sadar, sedari tadi belum mendengar suara mobil Rindu. Apa dia tidak pulang? Apa cafe masih sangat ramai?
Dengan mengumpulkan tenaganya, Nara berdiri dan keluar dari kamar. Karena teringat Nathan yang sudah pergi, pastilah rumah belum di kunci dan juga lampu menyala.
Nara melangkah pelan dan terkesiap kala mendapati Nathan yang masih duduk di posisi yang sama.
"Kenapa belum pulang? Apa alasanmu kali ini pulang terlambat pada istrimu?"
Dia bertanya dengan datar pun dengan ekspresinya yang datar. Nathan menoleh dan mendapati Nara berdiri di dua anak tangga darinya.
"Sayang, ak---"
"Kamu sepertinya tidak mengerti. Aku bukan orang yang pantas kamu panggil begitu."
"Sayang, sayang, sayang. Aku sayang kamu Ynara, aku cinta kamu Ynara. Hidupku hanya kamu Ynara. " Nathan berbicara cepat dan sedikit menaikkan suaranya. Dia berdiri dan menghadap Ynara.
"Ynara, aku tahu kamu marah karena aku berbohong. Maaf. Tolong maafkan aku. Jika sedari awal aku bicara jujur, aku yakin kamu tidak akan mau berhubungan dekat denganku bahkan mengenalku saja kamu tidak akan mau. Aku jujur Ynara, sejak aku dengan kamu. Semangat hidupku semakin baik."
Nathan melangkah satu kali. Dia meraih tangan Ynara dan berbicara,
"I do love you. More than everything i loved. Kamu cinta sama aku, kan?"
Nara mengangguk refleks menjawab Nathan.
"Sayang, tolong bilang kamu akan tetap mendukungku dan menungguku. Aku janji akan segera menyelesaikan ini. Soon, kita akan bersama tanpa halangan. Can you?"
Nara bimbang. Masalah Nathan ini bukan masalah sepele. Bukan seperti permasalahan seorang pria yang bisa menceraikan istri hanya dengan kata-kata. Nathan tidak bisa karena Delia adalah pilihan orang tua dan juga sumber kekuatan perusahaan mereka.
"Sayang?" Nathan ingin mendengar jawaban Nara.
"Aku harus apa?" tanya Nara dengan suara serak. " Aku sedang marah sama kamu, aku kecewa, aku ingin kamu menjauh dari aku, tapi..." Nara tidak melanjutkan kalimatnya karena tidak tau harus mengatakan apa. Orang pasif memang seperti itu. Tidak ada ekspresi, tidak ada kata-kata menggebu-gebu. Cenderung lebih menyukai memendam sendiri.
"Just trus in me, Bebi" jawab Nathan mendekat dan menangkup wajah kekasihnya.
__ADS_1
"Percaya padaku dan tunggu aku sebentar lagi!"