KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
39. TERNYATA, DIA SUDAH MENIKAH!


__ADS_3

NARA POV


Aku mengedipkan mataku kala pemandangan di depan sana berlangsung, benarkah itu dia? Sempat aku meragukan penglihatanku. Tapi mataku belum rabun dan otakku masih waras, ya itu dia, aku tidak salah. Lalu apa


hubungan keduanya?


Salahku karena selama ini kami menjalin hubungan, aku tidak pernah bertanya mengenai keluarga intinya. Berapa bersaudara dan siapa aja nama saudara-saudarinya.


Apakah mereka kakak beradik? Tidak mungkin. Tidak ada kemiripan. Lalu sepupu? Bisa jadi. Tapi kenapa mereka datang bersamaan dan juga duduk berdampingan?


"Pasti ada yang salah. Mereka bukan saudara apalagi sepupu." Walau aku berdiri dengan yang lainnya dan menemani sang ratu yang sedang berulang tahun, tapi aku sudah tidak menikmatinya lagi. Mataku tetap tertuju pada dua orang itu.


"Apa mereka pasangan kekasih?" Aku tiba-tiba duduk karena kemungkinan itu melintas di pikiranku. Jika mereka


pasangan kekasih, bukankah mereka sangat licik dengan mengencani aku dan Langit yang notabene berhubungan di pekerjaan? Apa mereka punya semacam misi?


"Tidak...Tidak... Tidak." Aku menggeleng sendiri. Selama ini aku tidak pernah membicarakan bisnis dengan Nathan jika sedang berdua.


"Hahh" Aku menutup mulut dan membolakan mataku kala satu kalimat terlintas di pikiranku.


"Nathan balas dendam selingkuh karena kekasihnya selingkuh dengan bosku? Bisa jadikan?" Aku seperti orang gila. Saat semua orang heppi aku malah duduk bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan itu.


Aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke arah dua orang itu tepat saat itu Sisca juga melihatku. Dia mengangguk sedikit sementara Nathan di sampingnya sibuk berbicara dengan Arthur yang menunduk. Mereka seperti sedang bisik-bisik. Aku membalas anggukan Sisca dengan sedikit senyum.


Aku mengalihkan pandanganku pada keramaian di cafe ini. Rindu pasti kaya dalam sekejab mata, batinku sambil terkekeh melihat pelayan cafe yang tidak henti-hentinya mondar mandir dengan baki di tangannya.


Keriuhan yang terjadi di tengah cafe tepat di depan panggung dan juga di meja-meja pelanggan tidak membuat aku bersemangat lagi. Pikiranku sekarang ada tepat di antara Nathan dan Sisca.


"Nar, loe kenapa? Sakit?" Jane yang pertama menyadari aku sudah duduk bertanya dengan suara keras supaya aku bisa mendengarnya. Aku menggeleng serta mengangkat jariku membentuk  simbol oke.


Karena sudah tua, kemungkinan tenaga si nenek sudah habis. Dia berjalan sambil di papah oleh beberapa orang muda kembali ke kursinya. Nathan dan Sisca berdiri dan menghampiri si nenek, kemudian mencium pipi sang nenek. Tindakan yang semakin membuatku curiga. Tiba-tiba aku teringat pernyataan Nathan saat kami liburan waktu itu. 'Aku akan membereskan beberapa hal, lalu mengenalkanmu pada keluargaku.' Aku hampir menangis setelah mengambil kesimpulan sendiri.


Seseorang dari rombongan itu berdiri dan memukul gelasnya meminta atensi pengunjung pun para waiters yang hilir mudik sejak tadi. Aksinya membuat band di panggung berhenti pun beberapa orang yang berdiri segera mengambil posisi duduk kembali.

__ADS_1


"Hallo semuanya, gue Larry dan ini semua keluarga besar gue." Tunjuknya merentangkan tangan pada rombongan yang menguasai hampir seluruh cafe.


"Beliau ini, nenek gadis kami yang cantik jelita,  saat ini sedang berulang tahun yang ke sembilan puluh," ucapnya seraya memeluk seorang nenek di sampingnya kemudian para pengunjung untuk bertepuk tangan.


"Mewakili semua cucu nenek, malam ini kami ucapkan Selamat ulang tahun nenek, semoga panjang umur dan makin sehat," ucapnya lalu mencium pipi neneknya. Dia menjelaskan sang nenek ingin merasakan euforia muda-mudi pada ulang tahun kali ini maka dia dan yang lain sepakat memilih tempat ini.


"Thanks buat owner. Semoga cafenya makin mantap!" Dia mengacungkan jempol ke arah belakang yang kurasa ada Rindu atau staffnya disana.


"Nenek, apa ada permintaan sebelum tiup lilin?" tanya pria bernama Larry itu.


Sang nenek merentangkan tangan lalu dengan bantuan Larry beliau berdiri walau tidak berpindah tempat.


"Terimakasih untuk anak dan cucuku yang sudah mengabulkan permintaanku. Sudah mendokan yang terbaik untukku. Mendoakanku supaya panjang umur sementara nenek tua ini sudah minta segera di jemput Tuhan


agar bisa bertemu kakek kalian." Sang nenek berucap dengan rasa haru dan seperti menitikkan air mata.


Ada sedikit pidato singkat dari beliau tapi aku tidak terlalu fokus. Aku ingin sekali pergi dari cafe ini sebelum apa yang aku simpulkan menjadi kenyataan dan terungkap di depan mataku sendiri.


"Santai aja kali, Nar. Si nenek juga barusan undang kita dan larang kita pulang," jawab Melda.


"Untuk cucuku tersayang," ucap si nenek dan kami kembali fokus padanya.


"Selamat juga untuk dua tahun pernikahanmu!" Si nenek berucap sambil menunjuk dua orang yang sedari tadi di pikiranku.


Duarrr! Berita yang sangat mengejutkanku. Melebihi kesimpulanku tadi. Napasku ngos-ngosan, dadaku sesak, mataku memanas.


Dua tahun? Pernikahan? Ternyata bukan pertunangan seperti yang ku pikirkan tadi.


Lalu aku? Bukankah priaku itu mengaku masih single saat mengungkapkan niatnya padaku? Bukankah wanita itu pacar bosku?


Apa aku dan bosku benar-benar sedang dipermainkan oleh kedua orang ini?


Prang....

__ADS_1


Tanpa sengaja aku menjatuhkan botol air minum di tanganku. Tadinya aku berniat minum untuk mengembalikan aliran darahku. Nyatanya jadi mengundang ratusan mata ke arahku.


Pidato sang nenek juga terpaksa berhenti dan beliau menoleh ke arahku.


"Apa-apaan sih loe, Nar?"


"Loe kenapa?"


Jane dan Sari bertanya padaku. Aku hanya menggeleng dan bilang aku nggak sengaja.


Aku berdiri dan membungkuk pada semua orang seraya mengatupkan tangan meminta maaf.


Saat aku berdiri tegak. Mata yang baru beberapa hari lalu ku usap dan ku cium itu membola ke arahku. Mata kami bertemu. Raut terkejut juga terpancar dari wajah Arthur yang duduk di sebelahnya dan seorang gadis pirang yang tidak ku kenal. Sementara Sisca, dia melihatku sejenak lalu memalingkan wajah dariku.


"Ma--Ma--Maaf, aku tidak sengaja," ucapku terbata.


Setelah aku duduk, aku mendapat beberapa hadiah dari temanku. Ada yang menyenggolku dengan sikunya dan juga mengataiku perusak suasana.


"Ck, Dasar perusak suasana!" Celetuk Melda.


"Aku nggak sengaja, Mel," jawabku.


"Iyalah, iyalah, nggak usah nangis!" balasnya mengibaskan tangan.


"Tapi Nar, itu cewek bosmu, kan?" tanya Jane berbisik. "Kamu kaget pas dengar nenek tadi, ya?"


Aku mengangguk saja, untung Jane mengingatnya, jadi aku punya alasan kaget tadi. "Sssstt, diamkan saja. Bukan urusan kita," jawabku berusaha menguatkan hatiku.


Aku merasakan usapan di pundakku, aku menoleh dan melihat Rindu yang berdiri di belakangku. Aku tau dia sedang bersimpati padaku atas apa yang baru saja kami ketahui malam ini. Dia menguatkan aku dengan


tatapannya. Aku mengangguk dan menundukkan kepala, menghapus air mataku.


"Jangan menangis, pria itu tidak pantas di tangisi" bisikku pada diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2