KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
26. SETAHUN SUDAH


__ADS_3

"Happy anniversary, Yank!" Nara yang baru masuk mobil di sambut dengan buket


bunga yang lumayan besar dan juga pria yang senyumnya sampai ke mata.


"Anniversary untuk yang udah nikah kali," jawab Nara tapi tetap menerima buket, menciumnya terlebih dahulu sebelum


meletakkannya di kursi belakang.


"Ayo! Aku lapar bangat" kata Nara pelan sambil bersiap memasang seat belt tanpa


melihat mimik nelangsa Nathan yang tetep menghadap ke arahnya.


"Yank, peluk ato kasih ciuman gitu, udah setahun loh kita ini," rengeknya tak  sadar diri sudah tua.


"Kamu udah kayak abg tau gak, sih!" rungut Nara tanpa menuruti apa maunya Nathan.


"Udah "setahun, Yank," rengeknya lagi, wajahnya dibuat sesedih mungkin untuk


menarik perhatian gadisnya yang sangat bebal dan anti romantis itu.


 Ckk ckk ckk, decakan pelan dari Nara sambil


menggulirkan bola mata malas namun tetap memajukan kepala ke arah Nathan dan


memberi kecupan pada kekasihnya yang berlagak layaknya anak SMA.


"Thanks untuk satu tahunnya, thanks udah ngertiin aku selama setahun, gak banyak nuntut harus ini itu, thanks udah terima aku apa adanya," ucap Nara seraya


menatap Nathan. Lalu memberi ciuman  yang


di damba pria itu sedari tadi. Bukan kecupan seperti biasa. Hari ini Nara


menunjukkan  cintanya pada pria itu dengan


menciumnya terlebih dahulu.


Tentu saja itu membuat senyum Nathan semakin lebar dan juga hatinya berbunga-bunga bahkan lebih mekar dan lebih indah dari buket yang di bawa hari ini.


"Thanks untuk setahunnya and a year counting to come, my love," jawab Nathan dengan penuh cinta  dan melabuhkan ciuman dalam yang singkat.


Demi apapun, gadis yang sedang di ciumnya ini adalah kebahagiannya. Rumah yang


selama ini di cari-carinya. Pencarian yang lama ini dan kenyamanan yang sudah


di dapatkannya dengan susah payah ini tidak akan di biarkannya lepas lagi. Apapun rintangannya, inilah gadis yang akan mendampinginya selama hidupnya. Gadisnya yang cantik, lemah lembut dan pengertian ini, Nara kekasih hatinya yang di pilih oleh


hatinya sejak pertama kali melihat gadis itu. Senyum ramah khas sekretaris itu


sungguh memikatnya  saat pertemuan


pertama.


Sejak meeting hari itu, dia selalu terbayang wajah Nara dan memberanikan diri untuk berkenalan secara pribadi. Di tolak secara langsung dan tidak langsung tidak serta merta meruntuhkan keinginannya terhadap gadis ini.

__ADS_1


"Mau hadiah apa, Yang?" tanya Nathan seraya merapikan rambut gadis itu lalu menggantikan Nara memasangkan seat belt  Nara yang tadi tertunda karena rengekannya. Tatapannya tetap mengarah ke wajah cantik Nara.


"Hmmm... Bunga Bank, boleh? " canda Nara sambil terkekeh. "Masa bunga mawar


terus, bunga bank dong sekali-sekali," lanjutnya lagi  dan kini kekehannya berganti dengan senyum


memikat. Matanya di kedip - kedipkan dan mimiknya dibuat seimut mungkin. Ini


persis seperti sugar baby yang sedang merayu sugar daddynya.


Tanpa pikir panjang, Nathan merogoh dompet dan membukanya, menarik satu kartu


hitamnya dan memberikannya ke gadis itu tanpa pikir-pikir.


Akhirnya, kekasihnya itu meminta sesuatu juga darinya. Sudah setahun bersama, gadis itu tak pernah meminta sesuatu darinya dan dia merasa sedih karena tidak bisa bersikap royal pada kekasihnya layaknya pria mapan diluaran sana.


"Hmm?" Nampak jelas kebingungan di wajah Nara. Matanya menatap wajah sumringah Nathan dan juga kartu yang terulur di depan wajahnya.


"Katanya bunga Bank, ya udah ini, ambil, beli apa yang kamu suka!" jawabnya sambil


menyodorkan kartu itu lagi karena tak kunjung di ambil oleh Nara.


"Nih ambil, aku serius, Yank!" Nathan mendesak gadis yang melongo itu.


"Aku bercanda aja tadi, simpan aja, kalo aku pengen sesuatu ntar aku kasih tau kamu,"


jawab Nara menolak sambil menggeser tangan Nathan yang terulur kearahnya.


Jika ditolak, gak enak  bangat lihat muka


Nathan yang seperti kecewa, kalau diterima takut bablas nanti tiba-tiba lupa daratan, Hahahha


Nathan hanya menghela berat, sebenarnya dia paham  permintaan Nara ini hanya candaan saja.  Ini bukan sekali dua kali Nara menolak pemberiannya. Harus di paksa


seperti terakhir kali saat Nathan membelikan mobil untuk Nara. Gadis itu


menolak dengan segala cara,udah punya mobil dari kantor lah, garasi gak cukup


lah, nanti di kira jadi simpanan om-om lah. Keesokan harinya langsung mendiami


Nathan dan memasang wajah jutek campur kesel karena Nathan langsung memasukkan


mobil tersebut ke garasi yang ternyata bisa muat  dua mobil.


"Sampe setahun kita sama, kamu gak pernah minta apa-apa seingat aku, Yank, " ujar


Nathan apa adanya.


"Aku sedih tau gak sih, berasa gak guna aja sama kamu, aku kerja terus cari uang banyak


tapi gak ada yang habisin, semangat kerjaku bisa jadi berkurang loh ini, Yank"


Wajahnya di dramatisir sesedih mungkin.

__ADS_1


"Drama!" balas Nara singkat, lalu membuat ekspresi ingin muntah saat melihat raut Nathan.


"Itu mobil yang di garasi siapa yang beli? Kamu, kan? Satu barang aja udah habis


ratusan juta kamu. Udahlah, simpan aja. Ayo jalan, aku udah kelaparan dari tadi!" lanjut


Nara lagi.


"Serius, Yank, aku gak lagi ngedrama, aku pengen diporotin sama kamu, Yank,"


ujarnya sungguh-sungguh.


"Serius, nih?"


"Mmm"  gumam Nathan sambil mengangguk.


"Beli apartemen, boleh?" tanya Nara menahan senyumnya.


"Boleh!" jawab Nathan cepat. Dan itu membuat Nara mengerjabkan mata tidak percaya, dia sengaja bilang apartemen dan berharap Nathan memberi alasan karena pasti nominal besar. Tak disangka jawabannya malah membuat Nara kelabakan.


"Heheheh, aku bercanda aja, gak deh, aku udah ada rumah dan lagi gak butuh yang


lain-lain, simpan aja, nanti kalo aku pengen belanja, aku minta sama kamu, serius!"


ujar Nara seraya mengembalikan kartu itu ke tangan Nathan yang sebelumnya membuat dua jari tanda swear yang biasa di lakukan kebanyakan orang saat berjanji.


"Padahal Aku pengen juga kayak teman - temanku, Yank, di peras ceweknya, di minta bayarin belanjaan, di minta beliin ini itu, aku udah nunggu-nunggu moment itu, Yank. Tapi  gak ada sampe sekarang. Aku tawarin kamu juga jawabnya masih punya, gak terlalu butuh. Sedih aku jadi pacar kamu tapi gak


bisa belanjain kamu, jadi ini simpan aja belanjain sesuka hati!" ujar


Nathan seraya menyelipkan kartu itu di tangan Nara.


Nara membuang napas pelan, dan menerima kartu itu pada akhirnya. Walau tidak berniat


menggunakannya tapi dia ingin melihat Nathan tersenyum sekarang. Atau nanti


belikan saja sesuatu biar dia tambah senang uangnya dibelanjakan, batin Nara.


"Udah ah, buruan, laper aku!" ujar Nara selepas menyimpan kartu itu didalam tas.


Seperti biasa, inilah dunia sepasang insan


ini, mereka bebas bergandengan tangan, bicara apa saja, hanya di dalam mobil,


ketika berduaan.


Makan malam, drive-in cinema, berkeliling tanpa tujuan, dan itu mereka nikmati selama


setahun ini, minim percekcokan karena minim pertemuan. Minim cemburu karena


profesionalisme. Selama setahun menjalin hubungan, tidak banyak yang tau bahkan


teman-teman masing-masing. Hanya ada Rindu dan Arthur dan seseorang.

__ADS_1


__ADS_2