
Darius dan Delia tiba di rumah sakit. Mereka langsung berlari ke arah ICU.
Saat berita kecelakaan Jonathan sampai ke tuan Robert, Darius sedang ada di rumah itu karena janji makan malam bersama dan saat itu sedang bermain catur setelah acara makan malam. Namun tuan Darius tidak ikut langsung ke rumah sakit karena ada hal urgent yang akan dia urus terlebih dahulu. Saat perjalanan ke rumah, tuan Darius menelepon putrinya dan mengabarkan keadaan Jonathan.
"Daddy tau dari mana? Belum ada yang call Del," jawab Delia melalui telepon.
"Daddy tadi di rumah mertuamu tapi Daddy pulang dulu karena lupa bawa obat Daddy tadi. Habis ini ke RS. Kamu dimana?"
Hening sejenak. Delia seperti enggan menjawab.
"Kamu sedang bersama Langit?" tebak tuan Darius yang tepat sasaran.
"Stop it now! Dan ke rumah sakit sekarang!" titahnya karena sudah mengetahui jawaban Delia walau tidak ada suara dari putrinya itu.
Setelah panggilan di tutup, tuan Darius memijat keningnya pelan.
"Jojo, kamu harus sadar secepatnya, kamu harus segera menandatangani berkas perceraian kamu. Jika tidak, dosa ku akan semakin banyak karena ulah putriku itu," ucapnya pelan.
Tuan Darius lalu melakukan panggilan lagi, pada orang yang berbeda.
"Sakti, surat perjanjian cerai Delia sudah ready?"
"...."
"Hmm, bagus kalau begitu. Tolong antarkan besok yah, sekalian hubungi pengacara Jonathan. Besok sudah harus tuntas lah itu."
"...."
"Biasalah, anak muda! tapi bikin saya pening! Sudahlah, saya tutup."
Seusai melakukan rutinitas demi kesehatannya, tuan Darius langsung menuju rumah sakit dan kebetulan sekali, saat tiba di parkiran rumah sakit, dia melihat putrinya keluar dari sebuah mobil mewah yang dia tebak itu mobil Langit.
Sebenarnya tuan Darius sangat penasaran dengan Langit, walau sudah melihat dari video dan beberapa foto, tapi mungkin akan lebih puas jika melihat secara langsung apalagi bisa berbicara langsung. Tapi keadaan sekarang kurang tepat. Makanya, tuan Darius membiarkan langit pergi setelah Delia melangkahkan kaki ke pelataran rumah sakit.
*****
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dia bisa kecelakaan?" tanya Darius memutus pandangan tajam menerawang Robert ke arah ruang ICU.
Delia tidak penasaran dengan jawaban mertuanya, dia memilih mendekat ke dinding kaca dan penasaran seperti apa penampakan di dalam sana sehingga beberapa sepupu Jonathan berkumpul dan berbisik-bisik.
__ADS_1
Ada Sarah juga disana yang senantiasa melihat ke dalam dan juga pak Tito, orang kepercayaan tuan Robert.
Delia melihat ke dalam melalui dinding kaca dan melihat pemandangan yang membuatnya mengangguk paham. Ternyata ada bidadari berpiyama milik Jonathan disana. Delia dengan jelas melihat Nara yang mengelus tangan Nathan lalu bersiap untuk keluar.
"Wah, ada Delia istri sah dan disana ada pacar sah Jojo, kira-kira apa yang akan terjadi jika mereka bertemu?" bisik seorang sepupu ketika melihat Ynara sudah keluar dari ruang ICU.
"Stt, pelankan suaramu. Nanti mereka dengar!" tegur salah satu dari mereka.
Semua mata mengarah pada Ynara yang mendekat ke arah Sarah dan Delia.
Ynara tersenyum pada Delia lalu mengulurkan tangan pada Sarah seraya berkata, "Thanks" Lalu menyampirkan tas kecil di bahunya.
"Tolong kabari aku jika ada perkembangan yah, Mbak!" pinta Ynara pada Sarah. Dia tidak tahu siapa nama adik dari Jonathan ini. Di sekitarnya ini, hanya Delia lah yang dia kenal selain orang tua Nathan yang di jumpainya beberapa hari lalu.
Ynara melangkah menjauhi mereka semua tanpa menyapa siapapun.
"Ynara!"
Ynara berbalik kala suara bariton memanggil namanya. Dia menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang pria paruh baya berdiri dari duduknya di samping tuan Robert.
"Kamu lupa siapa saya?" tanya tuan Darius pada Ynara.
"Maaf Tuan, sepertinya kita tidak pernah bertemu."
Darius tersenyum, Ini pertama kalinya dia melihat Ynara secara langsung. Ternyata dia sangat cantik dan pantas saja Jojo tergila-gila padanya.
"Saya Darius, papanya Delia."
"...!!!" Nara terkejut kemudian menunduk lagi dan berkata, " Maaf, saya sungguh tak mengenali. Ini pertama kali saya bertemu Anda, Tuan."
Darius tersenyum dan mengusap kepala Nara."Jangan menunduk seperti itu. Jangan terlalu formal, bukankah aku sudah bilang akan mengangkat kamu menjadi putriku juga?"
"...!!!" semua orang disana terkejut mendengar pernyataan Darius.
"Terimakasih, tapi sa--"
"Saya tahu itu, saya juga tidak bilang kamu akan seutuhnya putri saya. Anggaplah kamu punya dua orang tua. Bukankah itu sebuah anugrah?"
Nara terdiam. Benar, bagi dia orang perantauan, punya orang tua di kota perantauan suatu anugrah. Artinya ada tempat untuk berkeluh kesah dan juga ada tempat pengaduan, tapi, menjadi putri dari orang tua Delia sungguh tidak pernah terpikir olehnya. Apakah tuan Darius ini tidak marah saat tahu bahwa Ynara sudah menjadi orang ketiga di antara anak dan menantunya?
__ADS_1
"Sudah! Jangan terlalu di pikirkan. Kamu mau kemana?" Darius memutus pikiran Nara yang sudah kemana-mana. Terlihat jelas dahinya mengerut seperti sedang memikirkan hal yang sangat berat.
"Mau pulang, Tuan."
"Ck, Papa! Kenapa pulang? Emangnya Jojo sudah siuman?"
Nara menggeleng. Pandangannya ke arah tuan Robert.
"Ck! Ayo, kita minum dulu!" Darius melihat arah pandangan Nara dan mendapati wajah masak karibnya Robert.
"Bert, kami mau ke kafetaria dulu. Kalian sebaiknya istirahat juga, pulang atau sewa hotel di sekitar sini. Biarkan yang muda-muda yang berjaga disini."
Keduanya berjalan, terlihat Darius merangkul Nara yang berusaha menghindar. Ini sungguh tidak nyaman. Siapa pula yang setuju menjadi putrinya, batin Nara.
Apa tanggapan orang-orang, putri angkatnya menjadi orang ketiga di rumah tangga putri kandungnya. Pastilah orang-orang yang tau judul besarnya akan mencibir Nara. Nara akan selalu menjadi orang yang negatif di kalangan mereka dan juga di sekitar kenalan mereka.
"Jangan terlalu banyak berfikir. Nanti kamu cepat tua seperti saya!" tuan Darius mencoba berseloroh untuk mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Siapa yang memberitahukanmu?"
Nara mengangkat wajahnya, memberitahukan apa?
"Soal Jonathan!"
"Arthur," jawabnya usai mengangguk paham. Arthur bilang, Nathan di RS di ruang ICU, karena kecelakaan. Saya langsung berlari kesini. Padahal dia baru pulang dari rumah saya." Ada air mata menetes saat bicara seperti itu.
Sudah Nara bilang kan tadi, tidak ada firasat buruk apapun selama beberapa hari ini.
"Kemungkinan dia kembali ke rumahmu karena Sarah menelponnya."
"Sarah?" Siapa Sarah? batin Nara.
"Adik Jojo, gadis yang di dekat Delia tadi, yang pegang tas kamu. Jangan bilang kamu titip tas tapi tidak tau itu siapa? tuan Darius pura-pura kaget saat mengatakannya. Padahal dia sudah tau jelas, tak seorangpun dari keluarga Jonathan yang di kenal oleh gadis ini karena Jojo menutupi semuanya demi kebohongannya berjalan lancar.
"Dia adik Jonathan satu-satunya. Tadi ada salah paham. Saat Robert dan saya berbicara mengenai kalian, Robert bilang sudah terlambat karena sudah terlanjur menjumpai kamu dan menyuruh seseorang untuk mengawasi kamu. Tapi Sarah salah paham, sepertinya dia salah dengar. Dia pikir ayahnya ingin melakukan sesuatu sama kamu jadi nyuruh orang ke rumahmu. Dia langsung menelpon Jojo. Kemungkinan Jojo panik, ya.. seperti inilah hasilnya." Saat mendengar vas terjatuh tadi di rumah Robert. Robert dan Darius mendekat ke asal suara dan mendapati Sarah yang berbisik-bisik menelpon Nathan. Sebenarnya salah paham itu sudah di selesaikan tapi saat menghubungi Nathan, panggilan tidak di jawab lagi. Beberapa saat kemudian, Tito ajudan Robert yang sedang di suruh ke rumah Ynara menelpon bahwa Nathan kecelakaan.
Nara teringat jejak sepatu di teras dan juga jejak di dekat gerbang yang sampai merusak tanaman di pinggir tiang gerbang. Ternyata memang benar ada orang ke rumahnya.
"Untuk apa menyuruh orang ke rumah saya?"
__ADS_1
"Kurang tau, tapi Robert ingin memastikan ada Nathan atau tidak disana, karena sejak beberapa hari tidak pernah pulang ke rumahnya."