KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
60. MURKA JONATHAN


__ADS_3

Ges, like dan komen yah!


Pls dukung author.


*****


Mobil yang dikendarai Nathan segera menerobos masuk ke halaman rumah mewah itu setelah dibukakan oleh satpam. Dipenuhi amarah, dia langsung masuk dan mendapati papanya sedang duduk santai di ruang keluarga dengan papan catur di hadapannya. Tuan Robert sedang bermain catur seorang diri.


Dada Nathan naik turun karena emosi yang meluap-luap.


"Tuan Sagara!" teriaknya mengejutkan seisi rumah. Termasuk nenek yang sedang bersantai dengan tontonan drama india di televisi.


"Hahahahaha"


Nathan tertawa terbahak-bahak sambil berjalan ke arah ruang keluarga. Dia tertawa seperti orang gila sampai matanya berair. Nathan berhenti sejenak dan memegangi perutnya yang terasa ngilu karena tawanya. Tapi siapa pun bisa melihat


tidak ada raut bahagia di wajahnya meskipun tawanya membahana.


Sarah dan nyonya Marta berlari ke dalam rumah. Khawatir Nathan sampai nekat pada tuan Robert karena salah paham.


"Ma, cepetan. Nanti papa bisa kambuh," Sarah berlari sambil menggandeng tangan mamanya. Seolah-olah sedang menyeret mamanya yang lebih lambat berlari darinya.


"Lepas tangan Mama. Kamu cepetan jaga papa!" Nyonya melinda menarik tangannya dari genggaman Sarah.


Sarah berhenti di ambang pintu saat melihat kakaknya tertawa di tengah ruangan dan menjadi pusat perhatian semua orang termasuk para asisten rumah tangga. Nyonya Marta juga sempat berhenti sambil ngos- ngosan meraup udara.


"Pergi ke arah Papa. Mama nyusul sebentar lagi. Kaki mama pegel dan dada mama sesek. Pegangin papa, jangan sampai kambuh dan jatuh!" Nyonya Marta mendorong putrinya. Sebenarnya dia membutuhkan waktu sedikit untuk menguatkan diri dari amukan yang akan segera terjadi.


"Pah!" panggil Sarah dan segera berdiri di samping papanya.


Jonathan sudah berhenti tertawa dan sedang menatap ke arah langit-langit rumah.


"Dua ratus juta, ternyata nilaiku hanya dua ratus juta," katanya setelah dapat menguasai diri. Kemudian dia berjongkok lalu duduk dilantai, bersandar pada sofa.


"Sejak kecil, aku tidak pernah menolak apapun yang kalian inginkan bahkan aku rela tidak menemui ibuku walau aku sangat rindu hingga ingin mati rasanya. Karena aku sibuk mengikuti apa mau kalian aku bahkan melupakan apa kesukaanku, apa cita-citaku, aku ingin kemana, aku mau beli apa, aku mau makan apa. All of its depends of the rule in this f*ucking family," mengumpat tak


sopan di depan orang tua bahkan neneknya.


Kakinya di tekuk satu dan pandangannya mengarah ke atas. Wajahnya memerah antara menahan sedih karena mengingat masa kecilnya dan sedang emosi sejak dia menerima panggilan dari Nara.


"Aku bahkan tak memiliki teman seperti anak-anak lainnya. Hingga aku dewasa, aku juga tidak bebas memilih sendiri arah mana yang akan ku tuju. Kalian tidak tahu, aturan yang kalian terapkan padaku membuatku tak punya teman untuk sekedar bercerita."


Terlihat Nathan mengusap air matanya, dan semua orang tidak ada yang memotong ucapannya. Satu per satu asisten rumah tangga undur diri karena sadar bukan ranah mereka. Walau begitu, mereka juga memasang telinga tajam bahkan ada yang sengaja bersandar di dinding dekat ruang keluarga.

__ADS_1


"Sumpah, aku penasaran, bik!" ucap salah seorang yang terlihat lebih muda.


"Sama. Bibi juga!" ungkap yang lain.


Mereka meninggalkan pekerjaan sejenak demi pertengkaran yang akhir-akhir ini terjadi di rumah besar itu.


"Kalian tidak pernah bertanya perasaanku ketika kalian menyodorkan diriku sebagai imbalan uang yang di gelontorkan oleh Om Darius demi kelancaran bisnis keluarga ini."


"....."


"Aku ikuti, mencoba yang terbaik yang kalian mau, bahkan menerima wanita yang kalian pilihkan untukku walau rasa cinta bahkan rasa sayang dan ingin memilikinya tidak pernah ada hingga saat ini. Aku menjalani semua itu walau aku tidak senang and swear to hell, kalian juga pasti tau bahwa aku tidak bahagia. Hidupku menderita, tapi kalian menutup mata. Yang penting, kalian mendapatkan apa yang kalian mau dan kekayaan keluarga ini tetap ada bahkan harus semakin banyak."


Semua yang di ungkapkan itu adalah kebenaran.


"Tapi Ma, Pa, dua tahun ini aku sangat bahagia, aku seperti hidup di dunia yang ku inginkan." Nathan menatap orang tuanya yang hanya terdiam juga neneknya yang sesekali mengusap wajah karena air mata yang datang tanpa di perintah.


"Dia tau apa yang aku suka, dia dukung apa yang ingin aku kerjakan, dia memperlakukanku seperti manusia, dia tau kapan aku lelah dan apa yang aku butuhkan. "


"Ma, sebagai ibu yang sudah merawat aku selama tiga puluh tahun. Apa makanan kesukaanku?"


Yang di tanya menggeleng samar karena memang tidak tau.


"Pa, Sebagai orang tua yang sangat bangga padaku seperti yang selalu papa ucapkan pada orang- orang bisnis papa. Apa olahraga yang aku gemari?" Tuan Robert terdiam. Dia tidak butuh informasi itu. Yang dia butuhkan adalah ketangkasan Jonathan dalam berbisnis.


Nathan menanyakan hal-hal yang tidak penting tapi baginya ini sangat penting .


"Hehehe"


Nathan terkekeh hambar karena tidak ada yang tahu jawaban dari semua pertanyaan yang baru saja dia tanyakan.


"Kalian semua pasti tidak tau, selain tidak pernah bertanya, kalian bahkan tidak pernah memperhatikanku."


"....."


"Tapi, dia tau semua ma, pa. Semua hal yang barusan aku tanyakan itu, dia tau jawabannya apa. Satu-satunya hal yang dia tidak tau


adalah bahwa aku sudah menikah dan aku adalah putra dari seorang ibu yang di rawat menahun di rsj."


Nathan terkekeh lagi. Mengingat ketika dia tergila-gila pada gadis itu membuatnya nekat menyampingkan statusnya sebagai suami.


"Dia tidak punya koneksi atau kekuasaan untuk menyelidiki ku, I bet, bahkan jika dia punya, dia tidak akan melakukan itu karena dia percaya padaku."


Tawa mengejek, mengejek dirinya sendiri.

__ADS_1


Karena kepercayaan Nara padanya, kebohongannya bis tersimpan selama dua tahun.


"Aku menghancurkan kepercayaannya dengan sebuah lilin angka dua di atas kue,"


Nenek yang berdiri tidak jauh dari ruang keluarga seketika


terkesiap dengan ucapan cucunya. Nenek tau maksud Nathan mengenai lilin di atas


kue, itu pasti perayaan malam itu.


"Kalian semua bersukacita ,memintaku meniup lilin ulang tahun pernikahanku didepan mata kekasihku. Kalian bahkan tidak bisa melihat bagaimana aku menahan kesakitan didalam diriku saat itu."


Nathan menangi bahkan tak tagu untuk terisak.


"Sejak malam itu, dia juga membuangku jauh-jauh dari hidupnya. Sekali lagi, aku di tinggalkan oleh orang yang ku cintai karena harus memenuhi peraturan di rumah ini."


Nenek menangis dan hampir terjatuh mendengar keluh kesah


cucunya, Sarah datang di waktu yang tepat dan membantu nenek mencapai sofa dan


duduk. Memandang Nathan yang berurai airmata bersandar di kaki sofa.


Apakah permintaanku menjadi awal neraka nagi cucuku ini? batin sang nenek.


"Aku berjuang mendapatkannya kembali walau sulit, aku berjuang mendapatkan kepercayaannya lagi dengan membeberkan semua fakta-fakta tentangku, tentang pernikahanku. Bahkan Delia, menantu yang kalian pilihkan juga mendukung ku. Tapi, kalian malah dengan sombongnya menyodorkan cek untuknya. Sekali lagi kalian sudah menghancurkan hatiku, menghancurkan hidupku. Terimakasih" ucapnya sambil berdiri.


Siapapun bisa melihat bahwa pria ini sungguh sangat kacau saat ini, berdiri seperti orang tak berdaya dan putus asa. Dia berjalan


meninggalkan keluarganya yang hanya bisa terdiam mendengar semua keluhannya.


Berjalan gontai beberapa langkah lalu berhenti, tanpa berbalik bahkan menoleh


dia berkata,


"Dia memang tidak berasal dari keluarga kaya seperti kalian. Uang dua ratus juta sangat banyak untuknya. Bahkan jika dia bekerja selama sepuluh tahun belum tentu bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Terima kasih atas kemurahan kalian. Seharusnya cek lima ratus juta saja yang kalian berikan."


Melangkah cepat meninggalkan rumah yang selalu memberinya tekanan. Tanpa mendengar satu patah katapun dari keluarga yang membesarkannya.


Semua orang bungkam, tidak ada yang bersuara, semua menahan


kata-kata di dalam hati masing-masing.


"Mama, jelaskan apa maksud dari cek dua ratus juta!" ujar tuan Robert datar.

__ADS_1


__ADS_2