KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
51. SIDAK


__ADS_3

Langit menatap Nara dengan tatapan yang berbeda. Semenjak dia mengetahui fakta mengenai Nara, Langit sering memperhatikan Nara dan juga mulutnya sering gatal ingin menanyakan kebenaran nya.


"Jangan, Beb! Mereka sangat tertutup sebelumnya, biarkan seperti itu terus."


Itu larangan Sisca waktu itu. Jika bukan karena larangan itu, sudah pasti Langit akan menanyakannya.


"Aku masih penasaran, tapi nggak bisa bertanya. Huff... Ynara Ynara." Gumam Langit.


"Aku yakin si Jonathan itu pasti nipu Nara, pasti ngakunya lajang. Kalau ngaku udah menikah, Nara pasti tidak akan mau." Langit bersandar dan ada kerutan di keningnya. Apa dia sebegitu memikirkan percintaan Nara?


"Dia marah dan mutusin pacarnya terus berubah jadi dingin gitu pasti karena melihat sendiri fakta terkuak di depan matanya." Langit mengangguk-angguk karena kesimpulannya. "Ya, pasti seperti itu. Sisca bilang ada Nara pas perayaan ulang tahun nenek Jonathan waktu itu."


Bagai mendapat bintang kehidupan, Langit mengepalkan tangannya karena berhasil menganalisa.


"Sialan si Jonathan. Pengen bangat kasih hadiah bogeman karena udah nipu kesayanganku. Kan kalo Nara murung gitu terus, aku yang kena imbasnya juga sesekali," Langit masih menggerutu apalagi kalau ingat raut datar Nara dan emosinya yang tak terkontrol akhir-akhir ini sampai-sampai Langit sudah mendengar beberapa manager mengatai Nara kejam padahal bukan dia bos di perusahaan.


"Seandainya kamu mau cerita, Nar. Aku pasti menjadi pendengar setia keluh kesahmu seperti kamu yang mau mendengarkan aku dan mendukung aku. Aku ingin kamu menganggap aku temanmu bukan hanya sebagai atasanmu." Mata Langit tetap terarah pada Nara dari dinding kaca yang tirainya di buka. Nampak jelas Nara sedang sibuk memeriksa dokumen di tangannya. Sesekali tangannya terangkat membenarkan letak kacamata bacanya.


Langit meraih ponsel di atas meja dan menempelkannya di telinga. Bunyi tut kedua panggilan sudah langsung di jawab.


"Kenapa, Beb?" Suaranya di seberang sedang berbisik. Apa kekasihnya sedang sibuk atau sedang bersama seseorang?


"Kita makan siang bareng nggak? Kalau nggak aku mau ajak Nara. Hitung-hitung menghibur dia."


"Nggak, Mamanya Jonathan tiba-tiba datang ke rumah. Aku lagi di rumah ini. Sudah ya, nanti mama curiga. Ajak Nara aja!"


Sambungan di putuskan oleh Sisca.


"Mamanya Jonathan berkunjung? Bukankah katanya nggak pernah sebelum ini?"


Sebenarnya Langit was-was juga dengan hubungannya ini. Sangat riskan memang memacari istri orang. Biarpun saling cinta tapi status resmi bisa mengalahkannya.


Langit menggeleng lalu menatap ke arah Nara.


"Mudah-mudahan dia mau" gumamnya.


Langit sudah mantap akan mengajak Nara dan dia bergegas keluar dari ruangannya.


"Ka Ita, tolong kirimkan list data penjualan maret."


"...."


"Gak papa tebal, di email saja, Ka!"


"...."


"Gak papa, aku cuma mau cek sedikit, Ka."


Nadanya memang sangat santai, tapi wajahnya sudah mau makan orang saja.  Langit yang berdiri di pintu aja tau kalau sebenarnya Nara sudah sangat kesal. Mungkin banyak pertanyaan atau alasan dari seberang.


"Oke, Nara tunggu ya, Ka. Siang!"


"Itu aja banyak alasan, udah tugasnya pun." Nara merepet dan rautnya sudah sangat jelek.


Langit sampai berpikir, apakah mengajak makan siang waktu yang tepat?


"Nar," Panggil Langit.

__ADS_1


Nara mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Langit.


"Makan siang bareng, yuk!"


"Tumben, nggak bareng ayang emangnya?"


"Nggak, hari ini aku mau sama kamu. Mau, kan?"


"Sorry, Aku makan siangku udah otw. Lagian Pak Langit, Anda tidak perlu-perlu lagi mengajak saya makan siang atau makan malam dalam acara apapun selain acara kantor. Kejadian malam itu akan menjadi patokan untukku."


"Kamu masih marah?"


"Ya Jelas lah. Siapa yang nggak marah kalau di tipu? Seenaknya aja, nggak mikirin perasaan aku."


Jawaban yang sebenarnya mencerminkan suasana hati. Langit diam saja karena tadi sudah menyimpulkan  bahwa Jonathan berbohong pada Nara. Mungkin jawaban Nara barusan termasuk itu juga.


"Jadi gimana? Mau kan? Yang dekat kantor aja."


"Sorry boss, sepupu iparmu masak, jadi aku di titipin. Bentar lagi mas Andy sampe kayaknya."


"Risa nitip makan siang buat kamu?"


Nara mengangguk dengan senyum tipis. Seolah-olah dia mau memamerkan bahwa Risa lebih perhatian padanya dari pada kepada Langit.


"Wah, siapa yang sepupunya sekarang?"


Langit bereaksi heboh, entah kenapa sedari dulu Risa seperti menganggapnya musuh saja.


"Cuma satu porsi?"


"Iya!"


"Semua tergantung kelakuan pak bos."


*****


Sementara di rumah Jonathan dan Delia


Delia dengan perasaan tak nyamannya mengikuti langkah mama mertuanya kemana saja.


Sudah dua tahun dia dan Jonathan tinggal di rumah ini, ini kedua kalinya mertuanya datang. Dua tahun lalu saat mengantar mereka dan sekarang.


"Disini bisa di jadikan taman, Del. Coba kamu bicarakan sama Jojo dan panggil tukang kebun untuk mengerjakannya. Rumah kalian bagus begini tapi kayak kurang terawat."


Delia hanya bisa mengangguk dan berkata akan membicarakannya dengan Nathan.


"Di sebelah sana kalian bikinkan saja gazebo, jadi kalo weekend, kalian bisa santai disana. Atau kalau habis berenang. Bisa ngobrol disana. Pokoknya ciptain yang bisa bikin kalian makin intim."


"Iya, Ma."


Delia mengikuti mertuanya yang duduk di kursi teras belakang. Di depan mereka ada kolam renang yang sebenarnya sangat jarang di gunakan.


"Del," panggil mama Marta pelan.


Delia menoleh sebagai respon dan mendapati mertuanya itu memandang jauh ke depan.


"Jujur sama Mama, Kalian baik-baik saja, kan? Maksud Mama, tidak ada masalah kesehatan, kan?"

__ADS_1


Awalnya Delia sudah sangat gugup kalau pertanyaan ini seputar keadaan rumah tangganya. Tapi, akhirnya bisa bernapas lega berkat pertanyaan terakhir.


"Delia rasa, iya Ma. Emangnya kenapa?"


"Kalau kalian sehat, seharusnya udah ada dong bayi di rumah ini. Atau kalian sepakat menunda?"


"Nggak, Ma. Mungkin belum rejeki aja."


"Mama takut kejadian puluhan tahun lalu terulang, Delia."


Delia bingung, kejadian puluhan tahun lalu? Kejadian apa?


"Maksud Mama?"


"Tidak apa-apa. Mama cuma ngelantur. Apa biasanya Jojo pulang makan siang, Del?" nyonya Marta mengubah topik pembicaraan.


"Nggak, Ma. Delia juga lebih seringnya makan di luar sih Ma. Biasanya Del sama Jojo cuma sarapan bareng aja. Makan malam juga sesekali."


"Hmmm, Siang ini ayo makan di luar. Mama akan telepon Jojo." Nyonya Marta mengutak atik ponsel yang sedari tadi di genggamnya kemudian melakukan panggilan dengan Nathan.


*****


"Gimana? Enak?" Suara cempreng dari seberang menemani Nara makan siang siang. Orang baik yang mengirimkan makan siang untuk Nara meminta Nara untuk langsung mereview makanan itu.


"Aku suka sapi lada hitamnya, Mbak. Panasnya terasa. Sayang aja, nasiku udah dingin. Aku rasa kalau nasinya panas, lebih sedap lagi. Mbak pintar masak."


"Huh, bagus lah. Berarti aku udah bisa nambahin menu ini, Nar?"


"Menurut Nara udah, Mbak. Tapi mbak, ..."


"Apa?" Risa langsung hebos karena mendengar kata tapi.


"Minumnya kurang okay buat Nara. Tambahin gula dikit. Biar nggak kecut. Atau lebih beik di kasih air gula terpisah aja deh. Siapa tau ada yang suka kecut asem-asem gini."


"Siaaap!"


Risa membuat tanda hormat pada Nara.


"Nar, minggu depan aku soft opening. Datang, ya!"


Nara mengangguk dan mengangkat dua jempolnya. Sementara pria di depannya sibuk mengomel tanpa suara seraya menyuapkan makan siangnya. Dengan isengnya Nara mengubah settingan kamera ponselnya. Dan ponselnya menampilkan Langit yang lahap dengan makan siangnya.


"Kamu kenapa kasih dia makan, Nar? Aku kirim dua porsi bukan buat dia. Tapi buat kamu. Makan siang dan makan malam kamu." Risa pura-pura marah karena Langit ikut makan siang. Padahal sebenarnya memang di kirim dua porsi untuk Nara dan Langit.


"Gue heran sama loe, Ris. Sepupu loe siapa sih sebenarnya? Aku atau Nara?"


"Loe lah, tapi gue nggak suka sama loe. Mending loe gua skip aja dan angkat Nara jadi sepupu gue."


"Loe kenapa sih selalu aja sentimen sama gue? Perasaan dari dulu loe mojokin gue terus deh, Ris."


Sementara dua orang itu berdebat tak berguna, Nara menikmati makan siangnya tanpa melanjutkan review. Andy juga begitu. Membiarkan istrinya mengomel pada Langit.


"Mas, Mbak Risa buka usaha cafe, emang dedek bayi siapa yang jaga?" bisik Nara.


"Cuma sebagai owner, Nar. Bukan dia yang masak. Dia emang bisa masak, tapi cukuplah hanya aku yang cicipin. Jangan ada orang lain lagi," jawab Andy berbisik juga.


"Tapi ini enak loh, Mas."

__ADS_1


"Iya, ada tangan ajaib mama mertuaku disana makanya enak."


Hampir saja Nara tertawa kencang. Rupanya kokinya bukan mbak Risa sendiri. Jadi kenapa heboh minta review?


__ADS_2