
"Pacar Jojo?"
Para sepupu Jojo menatap lamat pada Sarah yang barusan mengatakan kabar terbaru.
Bukankah Jojo sudah menikah? Kenapa ada pacar lagi? Jojo selingkuh?
"Astaga!" Salah seorang sepupu Jojo langsung menutup mulut usai menyimpulkan cerita cinta Jojo.
"Apa karena itu Kak Delia tidak ada disini?"
"Iya ya, kak Delia kemana?"
"Wah, nggak nyangka aja Jojo bisa selingkuh!"
"Itu pacarnya sebelum dia menikah. Kalian tidak usah terlalu memikirkan itu, itu biar cerita Jojo sendiri." Sarah berucap pelan dengan pandangan tetap mengarah ke depan. Ke arah dua orang itu. Orang yang saling mencintai tapi akan sangat sulit untuk bersatu.
Di kursi yang ada di koridor, sepasang paruh baya memperhatikan sekumpulan orang muda yang sedang berbisik-bisik di depan rung ICU. Apa yang menjadi topik pembicaraan mereka tentu saja pasangan itu tau. Itu pasti seputaran gadis yang masuk ke ruangan Jojo.
"Berani sekali dia datang kesini, apa dia tidak mengerti kata-kataku tempo hari?" katanya pelan. Istrinya yang duduk di sampingnya hanya terdiam dalam sedih.
"Sepertinya, dia memang harus di usir dari kota ini. Lihat saja! Aku akan membuatmu menyesal karena sudah melawanku!" lanjut tuan Robert seraya menatap tajam ke arah ruangan ICU seolah tatapannya bisa menembus dinding dan tepat mengarah pada Ynara.
Tempo hari saat dia dan istrinya mengajak perempuan itu bertemu, Robert sudah mengatakan apa yang harus dia katakan pada gadis muda itu.
Dua hari lalu di sebuah restoran,
Pria paruh baya itu berjalan santai dan di sampingnya, istrinya berjalan mengimbangi langkahnya. Setelah lama menunggu dan memikirkan masalah anaknya yang semakin menjauh dari keluarga, pasangan paruh baya itu memutuskan untuk menemui gadis itu. Gadis yang di anggap sebagai pemicu pemberontakan Jojo, gadis yang menjadi biang kerok rumah tangga anaknya.
Tidak ada penolakan dari gadis itu ketika diajak bertemu. Gadis pemberani batin tuan Robert.
Disinilah mereka berada, di sebuah restoran dan gadis itu sudah ada disana menunggu kedatangan mereka. Pakaiannya sopan dan pembawaannya elegan, seperti putri-putri
dari keluarga terpandang. Gadis itu langsung berdiri begitu pasangan orang tua itu mendekat ke mejanya, dan duduk kembali setelah keduanya duduk.
Gadis itu adalah Nara. Nara bukan gadis penjilat yang sok ramah atau sok akrab. Dia
menunggu pasangan itu berbicara duluan.
"Langsung saja yah," ujar tuan Robert setelah hening beberapa menit. Hidangan yang mereka pesan bahkan belum tersaji.
"... Hah" tuan Robert menghela napas kuat, lalu bertanya, "Apa hubunganmu dengan Jonathan?"
__ADS_1
Pertanyaan yang kelewat basi, batin Nara.
Bukankah beberapa hari lalu dia baru saja di bayar oleh wanita di hadapannya ini demi untuk meninggalkan Jonathan? Lalu kenapa bertanya hubungan apa yang mereka punya?
"Kami sepasang kekasih dan saya sudah di lamar," jawab Nara tenang. Dengan sengaja dia meletakkan tangannya di atas meja. Tangan kiri menindih tangan kanan dengan tujuan untuk memperlihatkan cincin yang di sematkan oleh Nathan beberapa bulan lalu sebagai cincin pengikat.
Cincin yang sebenarnya sudah di lepas dan di kembalikan pada Nathan. Tapi di tolak.
Sekarang, Nara sengaja memakainya kembali saat orang tua Nathan memintanya untuk bertemu.
"Hahaha, anak muda sekarang memang miskin moral. Lihat, dengan bangganya kau mengakui itu padaku sementara anakku sudah mempunyai istri. Apa kau tidak malu karena secara tidak langsung sudah mengakui sebagai orang ketiga di rumah tangga anak saya?" Tuan Robert sangat geram melihat Nara menjawab dengan santai.
Jika dulu di jamannya, menjadi selingkuhan itu adalah aib yang sangat besar dan hal yang sangat memalukan. Tapi lihat gadis ini, dia bahkan dengan gamblangnya mengakui hubungannya dengan seorang pria yang sudah menikah.
"Bukan orang ketiga, Pak. Tapi orang ke empat!" balas Nara.
"Apa maksudmu?" nyonya Marta bertanya dengan geram.
"Anda bisa memperjelasnya dengan anak-anak kalian, Nyonya." ucap Nara. Lalu tangan kanannya mengelus dan memutar-mutar cincin di jari tengahnya.
"Saya meminta berpisah darinya tepat di hari kebohongannya terbongkar. Bahkan cincin ini saya kembalikan. Tapi, beberapa hari yang lalu, saya memutuskan untuk memakai cincin ini lagi karena orang yang memberikannya hampir memilih bunuh diri karena kehilangan cinta saya."
"Omong kosong! Berpisah apanya, baru tadi pagi dia kembali dari rumahmu."
"Benar, hampir tiap hari dia datang ke rumah saya setelah dia terancam dibuang oleh papanya sendiri. Kadang bahkan saya mengusirnya tapi dia enggan pulang."
"Maksudmu anakku yang mengemis-ngemis cinta padamu?"
"Kenyataannya begitu, Pak. Dan pada akhirnya dengan suka rela saya berikan padanya."
Sikap santai Nara menjawab semua apa yang di ucapkan tuan Robert membuat pria tua itu semakin geram. Tangannya terkepal menahan emosi. Nyonya Marta di sampingnya mengelus punggung suaminya dan berbisik untuk jaga emosi.
"Jangan besar kepala karena dia datang padamu, dia hanya kehilangan arah dan belum menyadari kelebihan istrinya," ucap tuan Robert seperti mengejek Nara.
"Anda berbicara seolah-olah dia sangat mencintai istrinya," dengus Nara.
"Sebelum saya tahu bahwa dia menikah, saya sudah mengenal istrinya sebagai orang lain,
mungkin anda tidak tau atau pura-pura tidak tau bahwa hubungan mereka sejak
awal memang tidak baik." lanjut Nara.
__ADS_1
"Anda terlalu memaksanya, Tuan!" ucap Nara pelan.
"Kurang ajar!" Tuan Robert berdiri dan hendak memberikan hadiah lima jari buat Nara.
"Papa!" teriak nyonya Marta dengan suara tertahan.
"Calm down, Pa. Ingat jantung!" hardik nyonya Marta.
"Dengar gadis naif! Jojo dan Delia tidak akan bercerai. Jadi sebaiknya jauhi Jojo. Pergilah dari kota ini, kan kamu sudah terima cek dua ratus juta dari saya?" nyonya Marta mengambil alih pembicaraan.
"Maaf, Nyonya. Kenapa harus saya yang pergi? Katakan pada Nathan nanti seperti itu. Aku tidak memintanya kembali, dia yang datang walau aku sudah mengusirnya. Dia bahkan mabuk setiap dia ke rumah dan berbicara banyak mengenai dirinya yang malang."
Pasangan itu sebenarnya bertanya -tanya akan satu fakta yang baru saja diketahui, gadis ini ternyata kenal dengan Delia, bagaimana bisa? Apakah Delia juga memberitahunya mengenai perceraian? Apa selama ini ketiganya sudah saling mengetahui?
Bukankah gadis ini baru tau semuanya ketika perayaan ulang tahun di cafe? Seperti cerita dari Sarah. Lalu apa selama ini Delia tahu gadis ini berhubungan dengan suaminya?
Kedua pasangan itu larut untuk sementara dalam pikiran masing-masing.
"Pindah dan tinggalkan kota ini, saya berikan dua kali lipat dari yang di berikan istri saya tempo hari." Tuan Robert melipat tangan di dada dan suaranya datar tapi penuh penekanan.
"Anda sangat bermurah hati, Pak. Hanya untuk meninggalkan Jonathan saya bisa mendapatkan lebih dari setengah M. Luar biasa. Tapi...." Nara menggantung kalimatnya membuat dua orang itu seperti menahan napas ketika menunggu.
"...Saya menolak, Pak. Saya tidak akan pergi jika bukan Nathan yang meminta saya pergi."
"Lihat! Saya memberi solusi tapi kamu tidak mau, itu artinya kamu yang menginginkannya selalu datang, kan?"
Gadis itu mendengus tak habis pikir. Apa aku harus pindah hanya untuk menghindar dari Nathan? batinnya.
"Saya beli rumahmu sepuluh kali lipat dari saat kamu membelinya , atau apa Jojo yang membelikannya?" tanya tuan Robert penuh selidik.
"Anda punya kuasa, bisa anda cek saja apa saja yang di belikan oleh putra anda," jawab Nara santai.
"Mengenai rumah, itu memang tidak mahal, tapi saya tidak menjualnya walau anda bayar dua puluh kali lipat, jika anda tidak suka anak anda ke rumah saya, bukan rumah saya solusinya tapi anak anda. Ikat kaki dan tangannya dan letakkan dia bawah kaki anda."
"Sombong sekali, aku bahkan bisa mengambilnya tanpa membayarnya, bahkan seluruh tanah di kampungmu bisa saya miliki." Ucapan sombong dari tuan Robert. Bukankah Nathan bercerita perusahaan papanya bisa bertahan karena bantuan orang tua Delia? Lalu kenapa sekarang sangat sombong setelah Nathan bisa menstabilkan perusahaan?
"Luar biasa! Bahkan sampai kampung halaman saya juga sudah anda selidiki. Ternyata saya seberharga itu," ucapnya sedikit sombong dan itu berhasil membuat tuan Robert meradang.
Gadis itu tetap tenang , tidak termakan intimidasi dari paruh baya di hadapannya.
Sejujurnya Nara sedikit gugup saat berhadapan dengan pasangan di hadapannya itu. Dari gesture saja mereka sudah terlihat berkuasa. Tapi Nara berusaha sesantai mungkin. Walau sempat merasa takut saat mereka menyinggung kampung halaman, dimana orang-orang terkasihnya berada. Nara memikirkan keluarganya akan menjadi bulan-bulanan warga desa kalau sampai tuan Robert merealisasikan ucapannya.
__ADS_1
"Terima kasih!" ucap Nara seraya mengembangkan senyum pada seorang waiters yang mengantarkan berbagai hidangan. Ini mungkin sudah di pesan terlebih dahulu oleh pasangan itu karena Nara tidak pernah menyebutkan apa yang dia mau sejak tiba disini kecuali segelas jus jeruk.
"Nikmatilah! Saya harap kau memikirkan kata-kata saya. Jauhi Jonathan!"