
"Gimana keadaan kamu?"
"Udah baikan, Pa. Nanti sore juga katanya udah bisa pulang."
Ada raut tak senang ketika Nathan mengatakan nanti sore sudah bisa pulang. Padahal ini seharusnya berita yang menggembirakan bagi keluarga dan kerabatnya tapi bukan baginya.
"Baguslah. Nggak bagus juga lama-lama di rumah sakit. Bikin kita makin stres."
Nathan menanggapi ucapan Darius itu dengan kekehan hambar.
Emang sih, mencium bau obat terus-menerus itu membuat kita kadang sakit kepala. Melihat dokter yang lari-lari tergesa kesana kemari membuat kita takut juga karena memikirkan apa yang tengah terjadi disana. Melihat pasien yang di dorong sambil berlari dan juga keluarga yang menangis-nangis membuat kita merasa kasihan dan langsung membayangkan bagaimana jika itu adalah kita.
Kadang saat kita menjadi seorang pasien di rumah sakit, ada kalanya kita di bawa keluar dari kamar karena stres dan ingin mencari udara segar di taman. Tapi yang kita jumpai di sepanjang jalan ke taman malah kepanikan membuat kita merasa tidak ingin mencari udara segar lagi. Malah membuat deg-degan.
"Ahh, Nara sudah di kasih tahu belum?" Darius teringat pada calon putri angkatnya itu.
"Sudah, Pa. Tadi Jojo kirim pesan."
"Bagaimana?"
Nathan menoleh tidak mengerti kemana arah pertanyaan ini. Darius yang melihat itu terkekeh sambil menepuk bahu Nathan.
"Apa dia cerita bahwa Papa ingin mengangkat dia jadi anak papa?"
Nathan menggeleng. Benarkah itu? Kenapa?
"Anak itu, tsk," Darius berdecak pelan.
"Papa bilang, Papa akan angkat dia jadi anak papa, otomatis jadi adiknya Delia. Tapi, ditolak mentah-mentah. Padahal apa ruginya jika dia menerima itu? Punya orang tua disini yang bisa memperhatikan dia karena jauh dari orang tua kandungnya. Punya kakak seperti Delia walaupun kelakuannya tidak bener. Tapi kan dia bisa sharing masalah apapun tentang perempuan. Bisa dengan mudah menjadi menantu di keluarga Sagara."
Nara tidak pernah menceritakan ini pada Nathan. Bahkan menyinggung Delia juga tidak pernah. Apa benar-benar dia tidak bersedia?
"Papa mau angkat dia jadi anak, Delia emang setuju? Papa menikah lagi aja dia tidak setuju. Masa menambah anak setuju."
"Justru dia yang usul, Jo. Papa sebenarnya nggak kepikiran."
Nathan menoleh pada Delia yang duduk di sofa sambil menyilangkan kaki. Wanita itu sedang membaca majalah bacaan Sarah seraya menggoyangkan kepala ke kiri dan kanan mungkin mengikuti alunan musik di headphone.
Kira-kira apa tujuan Delia dengan usul ini? Apakah ini jebakan? Atau untuk memuluskan rencana sendiri?
Hal-hal di luar dugaan seperti ini patut untuk di pertimbangkan. Di situasi sekarang ini bnyak serigala berbulu domba.
"Kalau Nara tidak mau, jagan di paksakan ya, Pa. Menurutnya hal-hal seperti ini tidak perlu. Apalagi orang tuanya masih lengkap. Dan..." Nathan berhenti sejenak. Dia menatap Delia dan Darius bergantian.
__ADS_1
"Mungkin saja dia tidak akan keberatan atau berpikir dua kali jika aku tidak ada hubungan apapun dengan Delia."
****
Sementara itu,
Di kantor, Nara sedang di sibukkan dengan pembaharuan kontrak kerja sama dengan beberapa rekan. Dia dan Andy sedang mengkaji ulang apa saja yang harus di tambah dan di kurangi sesuai keuntungan perusahaan selama kerja sama berlangsung. Bukan hanya keduanya tetapi manajer dari setiap divisi di kantor juga di libatkan terutama sang pimpinan, Langit.
Mereka meeting internal dan meeting ini menyita waktu yang panjang.
Mereka hanya istirahat untuk makan siang setelah itu di lanjutkan lagi.
Saat makan siang, Nara membuka pesan yang masuk ke ponselnya dan dia tersenyum lega sat membacanya.
Nara:
[Its a good news. Pemulihan di rumah juga bisa lebih efektif dari di RS]
[I'm on meeting. Maybe for along day. Be care full and get well soon, Sayang]
Nara menyematkan beberapa icon love. Tapi wajahnya tidak memancarkan aura yang dia tuliskan di pesan. Karena apa?
Dia berpikir, tadi malam adalah pertemuan terakhirnya dengan Nathan sebelum pria itu sembuh total dan bisa keluar rumah untuk mereka bisa bertemu.
*****
"Nih, gue butuh tanda tangan loe, secepatnya!" Delia melemparkan satu map ke pangkuan Nathan yang sedang duduk di atas ranjang.
Nathan mengambilnya dna membuka isi map itu. Dia tidka perlu kaget karena dia sudah membahas itu sebelumnya. Hanya terhalang beberapa masalah saat akan menandatangani.
"Pengacara gue dan pengacara elo ada di cafetaria. Kalau loe udah selesai baca, gue akan panggil mereka sebagai saksi. Kalo bisa sekarang aja yah, takut orang tua loe keburu datang. Papa kan belum setuju kita cere."
Delia seperti mendesak Nathan yang sedang membaca ulang point-point perceraian mereka.
"Panggil sekarang aja, aku udah selesai. Tinggal tanda tangan."
Darius mengamati dua orang itu. Sepasang suami istri yang di terpaksa mengikuti kemauan orang tua. Dan hari ini mereka akan mengakhiri hubungan terpaksa itu demi kebahagiaan masing-masing.
"Mi, semoga keputusan Daddy untuk setujui perceraian ini adalah keputusan yang baik bagi keduanya terutama putri kita. Daddy ingin dia bahagia dengan apa yang di pilihnya. Daddy janji akan mengawasinya lebih baik lagi," gumam Darius dalam hati.
tak menunggu lama, dua pengacara itu hadir dan langsung menyaksikan Nathan mencoret tanda tangan di atas materai. Mereka juga menanda tanganinya sebagai saksi.
Karena alasan sibuk, kedua pengacara itu memilih undur diri.
__ADS_1
*****
"Finally!" seru Delia girang.
Sekarang dia sudah bisa pamer pacar di depan umum terutama di depan keluarga besarnya.
"Apa segitu senangnya jadi Janda? Orang-orang malah malu jadi janda, kok kamu beda?" cibir Darius pada putrinya. Namun melihat keceriaan di wajah putrinya, dia tersenyum dan merasa berhasil menjadi ayah.
"Lihat jandanya dulu dong, Dad. Ini janda berkualitas sempurna. Grade A plus," balas Delia.
Nathan hanya menatap sambil menggeleng melihat tingkah Delia.
"Setelah ini, aku harap kamu selalu di dampingi kebahagian di setiap langkahmu. Semoga hubungan kamu dan Langit berjalan lancar," ujar Nathan dengan tulus.
"Sejujurnya, aku iri padamu."
"Karena apa?" tanya Delia menurunkan ponsel nya dan menatap Nathan yang duduk di ranjang.
"Cintamu tidak di larang oleh papa. Sementara aku, aku sudah berjuang keras tapi tidak di restui juga. Bahkan kekasihku hendak di disingkirkan seperti kucing malang hanya karena berasal dari kampung dan hanya seorang pegawai di sebuah kantor," ucap Nathan sendu mengingat cerita dan kemungkinan yang di katakan oleh Sarah.
"Jangan salah paham, papa kamu bilang Sarah salah paham. Memang ada suruh Dito kesana, tapi bukan untuk menyingkirkan Nara, Jo."
"Papa eh Om," Nathan meralat panggilan mantan mertuanya yang merupakan sahabat kental papanya juga.
"Om kayak nggak tau papa aja. Kalau sampai pak Dito bertindak turun lapangan berarti itu sudah sangat serius dan harus di waspadai."
Darius diam sementara Delia tidak mau ikut campur cerita itu. Dia memilih undur diri dari ruangan itu.
"Loh, Pa! Del kaget!" ucap Delia mengelus dada setelah membuka pintu dan melihat ada Robert dan istrinya disana.
"Pa, Ma. Del pamit duluan ya. Ada Daddy di dalam," ucapnya seraya salim.
Robert masuk dan di sambut dengan tatapan tidak suka dari Nathan.
"Kenapa Del langsung pulang?" tanya nyonya sagara.
"Ada urusan katanya," jawab Darius tak enak mengatakan 'ingin berjumpa dengan kekasihnya.'
Nyonya itu hanya mengangguk saja dan mendekat ke arah Nathan.
"Bagaimana keadaan kamu, Jo? Udah ingat Mama?"
"Udah. Oh ya, Jojo mau bilang. Jojo udah resmi cerai dari Delia. Ini surat Cerainya."
__ADS_1