
Satu rahasia keluarga itu terbongkar sekarang di hadapan orang asing. Selama ini, semua keluarga Sagara tidak pernah menyinggung itu. Bahkan mungkin sudah lupa.
Sepeninggal Jonathan, Delia juga pergi dengan mobilnya sendiri. Berusaha mengejar Nathan yang mengendarai mobilnya seperti pembalap f1.
"Untung ini udah malam, jalanan nggak terlalu macet," Delia menggerutu dan tetap mengikuti Nathan.
"Berarti Nathan anak angkat atau anak tiri?" Sambil berkendara dia memikirkan fakta yang baru saja terungkap belum genap sejam lalu.
"Oo My God! apakah itu ibunya?" Tiba-tiba dia berjengit sendiri kala mengingat bingkai di meja kerja Nathan.
Poto itu poto waktu Nathan masih kecil. Hanya ada Nathan dan wanita itu di dalam foto.
"Huff, aku tak menyangka malam ini aku menjadi saksi terbongkarnya rahasiamu, Jo!"
Sementara Nathan di dalam mobilnya, dia terus berteriak dan mengumpat dan sesekali meminta maaf pada ibunya. Ada bekas air mata di wajahnya.
"Maaf, Bu. Bukan bermaksud membongkar rahasia Jojo. Tapi Jojo sudah tidak sanggup lagi. Jojo hanya ingin berada di dekat orang-orang yang Jojo cintai. Maafkan Jojo, Bu karena ingkar!" Kecepatan mobilnya berkurang. Dia berbelok ke arah yang sudah familiar buatnya tapi tidak dengan Delia.
"Ini mau kemana?" tanyanya karena sadar ini bukan arah ke rumah.
Jonathan berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang lampunya sudah redup.
Hanya lampu di lantai dua yang masih menyala terang. Terlihat dari jendela kacanya.
Delia berhenti agak jauh dari Nathan. Dia tak melihat Nathan keluar dari mobilnya.
"Rumah siapa ini?" batin Delia.
Tak berselang lama. Nathan keluar dan berjalan ke arah gerbang. Menyentuh gembok gerbang lalu membukanya sendiri.
"Rumah Nathan? Dia bisa buka gerbangnya," Delia memperhatikan dari Jauh. Walau gelap dan kurang jelas, tapi dia masih bis melihat Nathan menyentuh gerbang lalu membukanya. Terlihat Nathan menarik napas terlebih dahulu sebelum berjalan ke dalam.
Karena penasaran, Delia turun dari mobilnya. Di pikirannya ada dua opsi. Ini rumah ibunya Nathan atau rumah Nathan sendiri.
Nathan berdiri di depan pintu dan menekan bel. Menunggu beberapa saat, Delia terbelalak kala melihat siapa yang keluar dari dalam rumah setelah pintu di buka.
Nathan menjatuhkan kepalanya di bahu gadis itu.
"Sayang, jika aku memilih untuk mengakhiri hidupku malam ini, apakah Tuhan akan menyambut ku?"
Nathan berucap pelan dan menangis. Terasa piyama satin Nara mendingin karena air mata Nathan.
"Aku tidak sanggup lagi menjadi boneka hidup. Aku lelah!" lanjut Nathan.
__ADS_1
Nara membiarkan saja posisi. Membiarkan Nathan mengeluarkan semua yang membuat dia berantakan malam ini.
Saat Nara membuka pintu, dia melihat tampilan Nathan yang kacau, wajah memerah dan bekas air mata yang belum kering. Rambutnya berantakan dan kemejanya kusut.
"Aku ingin mati saja dan menyusul ibuku. Aku ingin bersama ibuku karena hanya dia yang mencintaiku," ujar Nathan dan terdengar isakan.
Tangan Nara yang tadinya jatuh lurus di sisi tubuhnya kini di angkat dan dia memeluk Nathan. Satu tangannya mengelus punggung Nathan dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Oo, ini rumah Ynara. Ya sudah, aku rasa kamu udah aman. Aku pulang, Jo!" ucap Delia lalu berbalik dan kembali ke mobilnya. Sebelum dia pergi, dia melihat sekilas rumah Nara.
*******
Tuan Robert berjalan pelan ke ruang kerjanya. Setelah masuk, dia mengunci pintunya dari dalam. Mendengar suara kunci di putar menghentikan langkah nyonya Marta. Untuk Sesaat, Nyonya Marta berdiri di depan pintu ruang kerja itu.
Tuan Robert duduk diam di kursi kerjanya. Di tariknya salah satu laci meja itu dan di ambilnya selembar poto usang. Dalam poto itu hanya ada seorang wanita dan anak berusia tiga tahun.
"Selama tiga puluh tahun ini diam dan menurut semua perkataanku. Dia menepati janjinya padamu. Tapi kali ini dia lepas kendali. Aku tidak tau apa pemicunya," ucap tuan Robert pada lembaran poto itu.
Di usapnya wajah wanita yang pernah dia nikahi. Pikirannya melayang pada kejadian tiga pukuh enam tahun lalu.
Saat itu, Robert dn Marta belum di karuniai anak walau pernikahan mereka sudah memasuki tahun ke empat. Padahal usia mereka menikah masih sangat muda dan termasuk sangat produktif.
Karena persaingan keluarga dalam perebutan hak warisan, muncul ide bagi pasangan itu untuk mendapatkan anak.
"Kita bisa sewa ibu pengganti, aku mau anak kita, walaupun tidak terlahir dari rahimku tetapi tetap mengalir darahmu di tubuhnya. Maka dengan itu, mereka tidak mempertanyakan keabsahan keturunan kita," Marta memberi pendapat.
Selama ini, Robert hanya menjawab, "nanti saja, kita hanya perlu memulai hidup sehat, berusaha dan bersabar."
Tetapi walau sudah berusaha tetap tidak ada tanda-tanda kehamilan.
Suatu hari Robert bertugas meninjau lapangan di kota x. Disana dia bertemu dengan seorang gadis polos yang bijak sana. Berkat tampang dan kepiawaiannya, Robert berhasil mengelabui gadis bernama Hanna itu.
Tiga bulan usai perkenalan, keduanya menikah secara sederhana dan tak lama Hanna mengandung. Hanna merasa rumah tangganya bahagia walau suaminya jarang di rumah karena bekerja di luar kota.
Kehamilan berjalan lancar hingga persalinan. Lahirlah seorang putra yang tampan dan di beri nama Jonathan Marroan Sagara.
Keluarga itu sangat harmonis karena Robert berhasil menutupi kebohongannya pada Hanna. Di dukung oleh Marta yang bisa mengontrol diri agar tidak menghubungi suaminya ketika sedang bersama Hanna.
Saat Jonathan berusia tiga tahun, Hanna kembali hamil. Dan kehamilan kedua ini sangat berbeda dengan yang pertama, jika yabg pertama dia tidak apa-apa sendirian karena suaminya kerja, yang kedua ini dia selalu merasa ingin dekat dan selalu was-was pada suaminya yang bekerja di luar kota.
"Aku kan kerja, Han. Kantor pusat di kota. Disini hanya cabang. Aku tidak bisa meminta atasan untuk menempatkan aku disini. Aku juga sedang meniti karir. Semua ini demi keluarga kita."
Akhirnya Hanna menahan kesepiannya jika suaminya bertugas di luar kota.
__ADS_1
Malam itu, ketika Robert sedang mandi, ponselnya bergetar. Hanna mendekat dan melihat ada pesan masuk.
Ingin memastikan itu pesan dari siapa, akhirnya dia membuka pesan itu dan itulah awal petaka dalam rumah tangganya.
Nama pengirim pesan tertulis 'Marta Istriku'
"Gimana, Mas? Anak kedua kita sehat? Aku harap itu perempuan. Agar sepasang. Habis itu, kamu ceraikan saja Hanna. Kita bisa mengambil hak asuh anak-anak dan pasti terkabul. Karena kita punya segalanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anak."
Hanna menutup mulut dan membuka satu per satu pesan dari orang 'Marta Istriku' itu.
Semua pesan itu menunjukkan bahwa Marta itu mengetahui kehamilannya dan beberapa rencana mereka untuk merebut anak-anak.
Saat dirinya sedang membaca pesan itu, Robert keluar dari kamar mandi dan mendapati ponselnya di tangan Hanna.
"Hanna, apa yang kau lakukan dengan ponselku?"
"Aku tahu, kenapa selama ini kaku bersikap hanya mementingkan anak-anak. Sekarang aku tahu tujuanmu dan istrimu apa."
Hanna melemparkan ponsel itu tepat mengenai dada Robert.
"Pergi kamu!" usirnya pada suaminya
"Pergi pada istrimu dan mari kita bercerai. Aku bisa menuntut kalian berdua dengan penipuan dan hak asuh anak-anak akan ada padaku. Pergi!" teriak Hanna.
"Hanna, aku bisa jelaskan, kamu salah paham." Robert kebingungan akan menjelaskan apa.
"Pergi, kau dan istrimu penipu. Aku tidak akan menyerahkan anak-anakku!"
Karena terlalu emosi, Hanna merasa tidak bertenaga dan kemudian terjatuh hingga membentur lantai dan pingsan. Melihat Hanna yang tergeletak di lantai, Robert segera membawa Hanna ke puskesmas karena khawatir kondisinya yang sedang hamil.
Robert menghubungi Marta dan menjelaskan semuanya. Malam itu juga, Marta datang.
Keesokan paginya saat Hanna sadar. Sudah ada wanita cantik yang elegan duduk di kursi samping bed nya.
"Hai, aku Marta. Istri Robert. Gimana keadaan kamu? Apa ada yang sakit?"
Hatiku yang sakit, jawab Hanna.
Sejak saat itu Marta lebih sering datang untuk merawat Hanna. Tanpa mereka ketahui bahwa keberadaan Marta membuat Hanna makin tertekan.
Para warga disana juga kasihan melihat Hanna setelah mengetahui bahwa Robert yang terlihat baik itu ternyata sudah menikah.
Fakta bahwa dia adalah istri kedua dan di jadikan sebagi mesin anak membuat Hanna makin depresi. Kandungannya yang menginjak usia lima bulan terpaksa di kuret karena tidak mengalami perkembangan.
__ADS_1
Kondisinya semakin memprihatinkan setelah itu di tambah lagi Jonathan putranya di bawa oleh Marta dengan alasan, akan membantu Hanna merawat Jonathan sampai Hanna sembuh.
"Aku tahu itu hanya alasanmu. Kamu sedang berusaha membunuhku dengan cara berpura -pura baik."