
Nathan kesal tapi tidak bisa menyalurkan kekesalannya lebih tepatnya tidak tau mau kesal pada siapa dan akan melakukan apa untuk mengusir kekesalannya itu. Bagaimana tidak, nomor ponselnya masih di blokir. Notulen yang dia minta untuk di kirimkan ke nomor wawa nya malah di kirim melalui email. Gadis yang kelewat jenius.
Sejak kejadian Nathan di usir oleh kekasihnya itu, banyak cara sudah dia lakukan. Kadang Nathan datang langsung kerumah Nara
dan jelas Nara tidak akan membukakan pintu.
Walau Nathan berdiri hingga larut malam, gadis itu akan memadamkan semua lampu untuk mengusir Nathan.
Sesekali mereka bertemu saat rapat perpanjangan kontrak kerja sama dan Nara
benar-benar menganggap Nathan hanya seorang partner kerja sama. Dia memperlakukan Nathan sama dengan partner - partner yang lainnya. Senyumnya ramah tapi dingin.
"Sayang, apa kemarahan kamu belum padam?" Nathan bergumam sendiri seraya menatap ponsel yang menampilkan foto Nara yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Aku sedang banyak pikiran, aku butuh bahu untuk bersandar. Apakah kamu belum sudi memaafkan aku?" Tanpa terasa ada setitik air mata menetes di pipi Nathan.
Sejak malam itu, Nathan memang mengalami perubahan emosi. Entah kenapa dia sangat sentimen dan sangat sering menangis hanya karena mengingat nasib hubungannya dengan Nara yang sudah kandas karena terbongkarnya rahasia besar yang Nathan tutupi selama ini.
"Please sayang. Jangan hukum aku seberat ini! Aku tidak sanggup!"
*****
Akhir-akhir ini pikiran Nathan semakin kalut, keluarganya kembali mempertanyakan pernikahan yang sudah berjalan dua tahun namun tak kunjung ada penerus. Penerus dari Hongkong? Pasangan suami istri itu bahkan tak pernah berbagi kamar, bagaimana bisa ada penerus?
"Jo, sebaiknya kalian ikut program hamil, mama sudah mulai bosan menunggu proses kalian." Nyonya Marta ibunda Nathan memberikan usul ketika mereka sedang makan bersama di rumah utama.
Hal yang sangat di benci Nathan ketika mereka berkumpul, keluarganya akan selalu meminta apa yang mereka inginkan tanpa pernah bertanya apa yang Nathan inginkan.
"Mam, Jojo sedang tidak ingin membicarakan itu." Nathan langsung menutup pembicaraan tanpa memberikan celah buat mamanya. Delia yang duduk di samping Nathan memegang sendoknya dengan erat.
"Apa sebenarnya yang sedang kamu tunggu, Jo?" Tuan Robert mengambil alih pembicaraan. Tidak mengikuti alur Nathan yang langsung menutup pembicaraan.
__ADS_1
"Maaf, Pa. Jo masih belum siap. Jo masih menyelesaikan proyek. Jo masih fokus disana aja dulu." Walau sangat malas, Nathan tetap meladeni papanya.
"Alasan. Fokus ke proyek nggak ada hubungannya dengan kehamilan Delia." Tuan Robert sudah mulai menunjukkan rasa kesalnya. Proyek di kantor apa hubungannya dengan program hamil? Emangnya Nathan mengerjakan proyek dua puluh empat jam? Program hamil sepuluh menit pun bisa.
Apa perlu papanya menjelaskan cara dan langkah-langkahnya?
"Kamu jangan banyak alasan Jonathan. Dalam tahun ini usahakan udah ada keturunan." Tuan Robert berucap tanpa memandang orang-orang di sekitar meja makan.
Delia menunduk dan mengepalkan tangan melihat raut datar Nathan. Sejujurnya jika saja Nathan setuju, dia bisa meminta berpisah dengan kekasihnya Langit. Tapi sepertinya tidak ada harapan bagi mereka berdua. Nathan sepertinya tidak berminat padanya. Apakah sebegitu tidak menariknya dia dimata Nathan?
*****
Nathan berkendara dalam diam. Sore ini dia memilih untuk menyetir sendiri. Sore ini pertama kalinya dia menyetir sendiri sejak sore itu.
Tujuannya kali ini adalah apartemen. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri dari semua pemikiran rumitnya akhir-akhir ini.
Tidak ada satupun anggota keluarga yang tau hal itu, karena mereka tidak pernah mempedulikan perasaan Nathan. Apa yang mereka inginkan hanyalah kelancaran perusahaan dan uang tetap mengalir dengan lancar. Mereka juga tidak tau bahwa Nathan
"Sayang, aku datang!" Nathan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Dia bisa dengan jelas melihat dirinya dan Nara sedang menari dalam keheningan di dapur. Dia juga bisa melihat dirinya tiduran di paha Nara di ruang tengah. Sesekali mulutnya menganga menerima suapan keripik dari kekasihnya itu.
"Sayang, semuanya masih sangat nyata. Kapa n kemarahan mu akan reda? Aku rindu, Sayang," ucap Nathan pilu.
Setelah beberapa saat berada disana, Nathan akhirnya memilih untuk pergi dari unit itu karena tidak tahan dengan perasaannya yang begitu merindukan Nara.
Saat dia membuka pintu, dia seperti mendengar pintu depan unitnya di tutup terburu-buru setelah terdengar langkah yang seperti terburu-buru juga.
"Apa sudah terisi?" gumam Nathan karena tidak pernah memperhatikannya selama ini.
Dengan mengendikkan bahu tanda tidak peduli Nathan melangkahkan kakinya menjauhi unit itu.
__ADS_1
Sementara di dalam unit, dua gadis mengelus dada.
"Untung saja kita tidak papasan." Glo mulai bicara setelah puas meraup udara.
"Iya, lagian aku nggak menyangka Jojo akan kesini lagi setelah dua bulan." Sarah adik dari Nathan menjawab.
"Aku kasihan padanya, Glo. Jojo dan perempuan bernama Ynara itu."
*****
Malam ini Nathan pergi ke club, dia ingin menjernihkan otaknya yang sudah seperti benang kusut. Ini sudah menjadi kebiasaannya selama dua bulan ini. Nathan menjadikan alkohol pelarian. Saat menyesap gelas alkoholnya matanya terarah pada seseorang yang sedang duduk
di sudut meja.
"Mataku belum rabun atau otakku belum miring karena segelas alkohol, kan?" gumamnya dengan mata tetap terarah ke arah gadis yang sedang duduk dengan santainya sambil bermain ponsel.
"Kenapa dia ada disini?" Nathan bertanya pada angin.
Nathan mengurungkan niatnya yang hendak melangkah ke arah gadis itu karena melihat Langit mendekat dari arah lain. Gadis itu langsung berdiri dan mengemas barang-barangnya dengan bibirnya yang komat-kamit dan wajah juteknya. Tangan kiri Langit terangkat dan mendarat di kepala gadis itu lalu mengelus kepala Nara dan itu membuat darah Nathan mendidih.
"Tidak ada seorang pun yang bisa mengelus kepalanya kecuali aku," gumam Nathan seraya bergegas, tangannya terkepal sudah gatal ingin mematahkan tangan yang singgah di kepala gadisnya.
"Peduli setan dengan semuanya itu, bahkan jika Langit tahu hubungan kami, aku tidak peduli lagi," ucap Nathan dengan gigi gemelatuk.
Belum satu langkah kakinya berpindah tempat, langsung berhenti kala melihat dari arah kiri seseorang yang sangat dia kenal datang dan langsung mencium pipi kiri dan kanan Langit. bergelayut
manja dan di balas Langit dengan ciuman mesra di bibir.
"...!!!" Nathan melongo melihat itu. Bukankah itu Delia?
Niat awalnya ingin melabrak Langit akhirnya Nathan duduk kembali dan mulai memikirkan kejadian dua bulan lalu. Gumaman Delia yang memuji suara Nara dan Nara yang menanyakan nama lengkap Delia. Misteri itu, kini terjawab dan langsung nyata di depan Nathan. Ternyata ...
__ADS_1