KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
43. TERIMA KASIH, JO.


__ADS_3

Tepuk tangan dan sorak sorai huuu mengiringi langkah Nara saat turun dari panggung. Dia tidak kembali ke kursinya tetapi mendatangi Rindu dan meminta di ambilkan tas dari depan. Nara pulang dengan alasan pekerjaan urgent pada teman-temannya.


Mata Nathan melihat Rindu yang menenteng tas Nara. Dan melihat kekasihnya itu berjalan cepat keluar dari cafe setelah menerima tas dari Rindu. Nathan hendak mengejarnya tetapi di tahan oleh Arthur.


"Jangan buat keadaan semakin kacau! Kau sudah ketahuan sekarang, maka sebaiknya akhiri dengan gadis itu lalu perbaiki hubunganmu dengan Delia. Kali ini, tolong dengarkan aku, Jo!" Arthur berbicara pelan sambil memegang pundak Nathan untuk menahannya agar tidak berdiri dan berlari mengejar Nara.


"Sekarang bukan waktu yang tepat. Tunggulah sampai acara ini selesai," lanjut Arthur semakin menekan bahu itu agar duduk seperti semula.


"Ada apa?" Delia yang baru saja kembali dari kumpulan para orang tua bertanya. Melihat raut Nathan yang mengetat dia bisa menyimpulkan sepertinya sudah terjadi sesuatu.


"Tidak apa-apa. Aku hanya menahan suamimu untuk bertahan sedikit lebih lama disini, jangan sampai membuat nenek sedih," jawab Arthur berbohong.


"Sebentar lagi saja Jo. Oo iya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Jo. Nanti kamu ada waktu, kan? Sebentar saja." pinta Delia. Nathan ingin sekali menolak karena ingin menemui Nara setelah ini. Tapi,


"Ya, bisa!" jawabnya pelan.


"Thanks," ucapnya sumringah. Hanya meminta waktu bicara saja bisa sesenang itu?


"Oo iya, Jo. Kamu kenal Ynara?" Tanya Delia.


"Yang barusan nyanyi, bagus juga suaranya, aku kira dia gadis kutu buku si gila kerja," lanjut Delia tanpa sadar. Detik berikutnya, Delia memukul mulutnya sendiri karena sudah bicara panjang, berharap Nathan yang di sampingnya tidak mendengarnya.


"Ynara?" tanya Nathan ragu. Sebenarnya dia was-was, apakah hubungannya dengan Ynara di ketahui oleh Delia? Apalagi dari gumaman Delia barusan, terdengar jelas bahwa Delia seperti sangat mengenal Nara.


Arthur dan Sarah juga berusaha mencuri dengar pembicaraan itu. Namun berpura-pura tidak peduli supaya tidak menimbulkan kecurigaan.


"Gak papa," jawab Delia. Sepertinya dia berusaha untuk menghilangkan apa saja yang barusan di ucapkan. Dalam hati dia berdoa semoga tadi Jonathan tidak mendengar ucapannya.


"Dia sekretaris Langit, perusahaan kami sedang bekerja sama, tentu aku kenal karena dia selalu mendampingi Langit saat ada pertemuan," jawab Nathan pada akhirnya. Nathan berusaha untuk terlihat biasa saja saat mengatakannya.


Terlihat Delia hanya menganggukkan kepala.


"Aku tak menyangka juga dia bisa bernyanyi bagus seperti itu," lanjut Nathan.


*****


Setelah larut malam, ratu yang sedang berulang tahun minta diantarkan pulang. Para orang tua juga bergegas pulang, hanya ada beberapa muda-mudi dari keluarga itu yang memilih pulang lebih lama dengan alasan ingin menikmati uang Jonathan lebih banyak lagi.


"Kapan lagi di bayari sama eksekutif muda. Kami mau kuras dia malam ini selagi ada kesempatan." Salah seorang sepupu Jonathan menyeringai saat mengatakannya. Yang lain mengikuti dengan bertepuk tangan bahkan menepuk-nepuk meja. Nathan dan Arthur berjalan kearah kasir. Di dinding belakang kasir tertulis nama cafe ini,

__ADS_1


'Rindu Cafe'. Sudah dapat di pastikan bahwa gadis tomboy teman serumah Nara adalah pemiliknya.


"Selamat Pak Jonathan,ternyata sudah dua tahun pernikahan, ya." Nathan di sambut dengan ucapan menyindir dari seorang gadis tomboy yang barusan mendekat ke arah kasir. Nathan hanya terdiam dan tidak merespon ucapan itu.


"Sungguh gadis yang malang, bisa-bisanya tertipu olehmu," lanjut Rindu seraya berlalu.


Sekali lagi, Nathan mengabaikan Rindu.


"Tolong kirimkan bill malam ini ke kontak ini." Nathan menyerahkan kartu namanya pada kasir.


*****


Nathan bergegas mengantarkan Adelia pulang kerumah mereka. Rumah yang di berikan oleh orang tua Nathan sebagai hadiah pernikahan dua tahun lalu. Rumah mewah yang tidak pernah memberi rasa nyaman pada Nathan maupun Delia.


Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara, bahkan saling mengucapkan happy anniversary juga tidak. Keduanya melewati dua tahun pernikahan seperti orang asing. Hanya bertegur sapa jika ada sesuatu yang perlu atau ada pesan dari keluarga. Keduanya bebas melakukan apa saja asal tidak sampai ketahuan orang tua masing-masing. Mereka sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing.


"Kita memang menikah, tapi tak satupun dari kita yang menyetujui pernikahan ini. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini. Tolong jangan sampai orang luar tahu hubungan kita. Mengenai surat menyurat, aku minta maaf Delia. Aku belum bisa mengurusnya saat ini," ucap Nathan waktu itu saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah mereka.


Padahal, tanpa sepengetahuan Nathan, Delia sudah menerima pernikahan ini. Walau belum mencintai Nathan, tapi Delia yakin, seiring berjalannya waktu, cinta akan tumbuh.


Sebulan pernikahan, Nathan tetap datar bahkan berbulan-bulan setelahnya. Membuat Delia merasa sia-sia menunggu cinta pria itu. Saat itu juga Delia berubah dan mulai mencari kesenangan di luar. Hingga bertemu


"Maaf Jo, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku juga butuh perhatian dan butuh di cintai."


Pada akhirnya, jalur pernikahan mereka semakin menyimpang. Nathan pulang saat tengah malam dan tidur di kamar yang sekalian menjadi ruang kerjanya. Sementara Delia menempati kamar utama.


*****


Nathan berkendara sedikit lebih kencang dari biasanya. Delia yang duduk disampingnya merasa tidak nyaman, terlihat dia memegang hand grip dan wajahnya memucat.


"Aku ada urusan, maaf membuatmu tidak nyaman," ucap Nathan saat menyadari keadaan Delia.


Jika saja tidak bersama para orang tua tadi, Nathan hendak menyuruh Arthur mengantarkan Deli pulang.


"Apa sangat urgent? Ini sudah sangat larut." Delia menanggapi alasan Nathan mengebut seperti orang gila.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan juga, about us," lanjutnya mengingatkan Nathan atas permintaan waktu Delia tadi.


Apakah itu? Apa ada hubungannya dengan Nara? batin Nathan.

__ADS_1


"Sekarang saja!" Jawab Nathan mendesak, karena dia juga sangat penasaran.


"Bisa slower bawa mobilnya? Aku tidak fokus bicara jika sedang ngebut gini!"


Nathan terpaksa mengurangi kecepatan.


"Go ahead!" ujarnya tanpa melihat Delia.


"Ehem, Sebenarnya ..." Delia sedikit terbata, dia bingung, apakah harus mengatakan ini pada Nathan atau tidak.


"Jo, sebenarnya pernikahan kita ini mau di bawa kemana? Sudah dua tahun, aku juga butuh kejelasan."


Jonathan terdiam, tidak bisa memberi kepastian. Jika ditanya jawaban pribadinya, dia pasti akan mengatakan bahwa sebaiknya di hentikan saat ini juga. Tapi, keputusan rumah tangganya bukanlah keputusannya sendiri. Orang tua merekalah yang lebih berhak.


"Aku tidak tahu! Sampai saat ini, aku belum punya waktu yang tepat untuk membicarakan ini dengan papa."


Usai jawaban terucap dari mulutnya, Jonathan bungkam sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Hingga tak terasa, mereka sudah berada di komplek perumahan mewah.


"Turunlah, jangan terlalu di pikirkan. Segera aku akan bicara dengan papa. Maaf, malam ini aku tidak pulang. Aku ada urusan."


Delia terkesiap usai mendengar kalimat Jonathan. Selama ini, mau pulang atau tidak, Jonathan tidak pernah izin. Kenapa tiba-tiba dia izin?


Delia bertahan sebentar, dia ingin mengatakan sesuatu tapi seperti ragu. Mulutnya terbuka lalu mengatup lagi.


Terdengar helaan napas kasar dari Jonathan. Dia sedang terburu-buru tetapi Delia tidak turun juga.


"Aku punya pacar." Delia menunduk sambil menutup mata.  Apa yang di harapkannya? Apa dia berharap Nathan marah sehingga dia tutup mata? Justru ini berita bagus buat Nathan, kan?


"Selamat, kamu memang berhak bahagia Delia. Tolong bersabar sedikit lagi, ya. Aku sedang berusaha mencapai target di perusahaan, sabar sebentar lagi aku akan segera mengurus perceraian kita," ucap Nathan sedikit senang dan semakin bertekad menyelesaikannya secepatnya.


Delia tercengang menatap Nathan. Apa ini bukan jawaban yang dia inginkan?


Akhirnya Delia hanya mengangguk dan keluar dari mobil tanpa kata.


"Ter----"


Saat Delia berbalik ingin mengatakan sesuatu, Nathan sudah langsung pergi.


"Hufff, Terima kasih Jo, hati-hati!"

__ADS_1


__ADS_2