
Mendengar teriakan Langit, darah di ubun-ubun Nara mendidih seketika.
"Sopan santun, ya? Hehehe." Nara terkekeh tapi wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Sebelum anda menyuruh guru itu untuk mengajari saya tentang sopan santun, saya sarankan anda harus belajar terlebih dahulu apa itu sopan santun, Pak," katanya dengan teramat datar. Tidak ada raut kemarahan di wajahnya. Andy bahkan Sisca yang tengah menatap Nara tidak dapat menemukan ekspresi di wajahnya.
"Anda mengomentari sopan santun saya, sementara anda lupa berkaca bagaimana sopan santun anda sendiri." Nara mendengus pelan usai berucap.
" ... Benar kata orang-orang, gajah di depan mata tak akan terlihat tapi upil dihidung orang lain akan terlihat sangat jelas," lanjutnya lagi usai terdiam sejenak.
Semua orang dalam ruangan itu juga terdiam. Bahkan Langit yang tadinya marah tiba-tiba diam dan tidak bisa mendebat Nara.
"Saya tidak kentuk pintu? Tidak mengetuknya dengan keras? Hahaha." Nara tertawa lagi dengan hambar.
"Aku tidak tahu anda berdua tiba-tiba tuli atau bagiamana?"
"Suara ponsel anda dan telepon di meja anda berdering, bahkan saya bisa mendengarnya dari luar. Itu panggilan dari saya. Anda bisa cek ponsel anda untuk membuktikan. Bahkan karena saya sangat tidak ingin mengganggu anda berdua disini, saya mengirimkan pesan juga untuk memberi tahu bahwa meeting akan segera di mulai. Apa sekarang saya yang masih tidak sopan atau anda yang tidak peduli?"
Ruangan itu masih mencekam karena kemarahan seseorang. Untung saja tidak ada karyawan lainnya yang berada di lantai itu.
"Lalu meeting yang sebentar lagi, apa akan terlewat saja hanya karena nafsu kalian yang tidak tertahan? Tidak tahu kah anda seberapa penting meeting hari ini? Jika anda pikir saya membual mengatakan ini sangatlah penting, anda bisa bertanya pada pak Andy. Beliau dan pak Anwar sangat berjuang untuk bisa join kerja sama dengan Salim Jaya."
Semua orang di ruangan itu terdiam, tidak ada yang membantah. Namun dasar otak dan pikiran yang sudah berada di tempat lain, Langit malah menjawab dan menyulut api yang sedari tadi menyala.
"Lalu apa pedulimu kalau aku tidak ikut rapat? Ini kantorku, terserahku mau apa di kantorku, aku mau menghancurkan kantor ini juga itu terserahku, apa masalahmu dengan itu?" Suara Langit menggema di dalam ruangan itu. Sisca yang duduk di sofa berjengit kaget karena baru pertama kali melihat langit marah dan mendengar suaranya selantang itu.
"Bahkan jika aku memecatmu hari ini juga aku bisa dan berhak," lanjutnya tanpa pikir panjang. Rasa malu karena di gerebek sedang senang-senang membuatnya marah dan ingin melampiaskannya.
Nara terbahak-bahak mendengar muntahan kalimat dari mulut Langit.
"Anda ingin memecatku hari ini?" tanya nya masih sambil terkekeh tapi percayalah wajah itu terlalu datar.
"Silahkan saja! Saya bisa terima pemecatan, bahkan di pecat sekarang juga saya terima," lanjut Nara.
__ADS_1
"Oo, atau bagaimana kalau saya mengirimkan surat pengunduran diri saja. Dengan begitu anda bisa selamat dari kejadian hari ini. Untuk hadiah terakhir saya, alasan pengunduran diri saya akan saya buatkan bahwa saya akan pulang kampung segera hari ini. Saya tidak akan menyinggung apa yang saya lihat barusan." Usai berkata begitu, Nara keluar ruangan tanpa menoleh pada siapapun.
Nara langsung sibuk di komputernya dan tidak lama terdengar suara printer yang sedang mencetak dokumen. Nara membubuhkan tanda tangan dan segera kembali ke kantor Langit.
Kondisi kantor masih sama, bahkan posisi ketiga orang itu juga sama.
"Surat pengunduran diri saya, Ini kunci mobil yang biasa saya pakai dan ini kartu debit perusahaan yang saya pegang. Ini jadwal anda untuk dua minggu ke depan." Nara meletakkan secarik kertas, kunci mobil, kartu debit dan
juga tablet yang dia gunakan sebagai catatan.
"Terima kaksih karena sudah mempekerjakan saya selama ini. Maaf bila saya tidak sopan dan juga kurang kompeten." Nara sedikit membungkuk pada Langit yang tetap berdiri dan menatap semua yang baru saja di letakkan di mejanya.
Langit menatap Nara dan juga benda-benda yang di letakkan di atas meja. Kenapa jadi begini? Kenapa mengundurkan diri? Aku hanya sedang emosi, pikirnya. Tetapi dia tidak berani atau lebih tepatnya tidak tau bagaimana cara untuk menghentikan gadis itu.
"Nar, kok jadi begini?" Andy bergegas mengikuti Nara.
"Nara juga udah capek, Mas. Butuh istirahat. Thanks ya, Mas. Udah banyak bantu Nara selama Nara kerja disini. Tolong di bantu pak Langit untuk meeting hari ini ya, Mas. Filenya di meja."
Kring ... kring ... kring ...
Saat kakinya hendak melangkah, telepon di mejanya berdering.
"Selamat Siang, dengan Ynara bisa di bantu?"
"...."
"Ok Jane, thanks."
"Mas, itu orang Salim udah di arahkan ke ruang meeting." Nara berucap usai meletakkan gagang telepon kembali.
"Nar, jangan bercanda! Kamu mau kemana?" Andy berteriak pada Nara yang sudah melangkah keluar ruangan. Andy mengejar langkah Nara.
"Surat pengunduran dirimu di tolak. Aku menolak! Sekarang pergi ke ruang meeting dan mulai meetingnya. Tidak ada penolakan!" Andy mengambil paper bag dan tas Nara. Lalu berlari ke ruangan Langit secepat yang dia bisa.
__ADS_1
Meninggalkan Nara yang menghela pelan.
"Udah puas?" tanya Andy seraya mengambil berkas meeting. Tas dan paper bag Nara ada di tangannya.
"Biar Nara yang handle meeting!" ujarnya seraya berlalu.
*****
Usai kepergian Andy, gadis yang tadi duduk dengan angkuhnya di sofa di ruangan itu mulai gelisah. Hal ini terjadi tentunya karena dia juga. Karena dia yang menggoda Langit. Memancing-mancing Langit dan membuat
Langit mengabaikan pekerjaannya.
Dering telepon di meja kerja Langit, juga getaran ponsel Langit di atas meja bahkan ketukan dan suara Nara dari luar, sebenarnya semuanya terdengar. Tapi karena kesenangan, dia mengabaikan semua itu.
"Beb! Ak--aku ---"
"Ssstttt, tolong diam! Aku lagi pusing."
Usai berkata begitu, pintu ruangan kembali terbuka dan menampakkan tubuh Andy yang masuk tanpa ada ekspresi.
Langit tau, sebentar lagi dia akan mendengar ceramah atau setidaknya mendapatkan satu bogem dari sepupunya itu.
"Apa kau pikir kau punya hak memecat Nara? Apa kau pikir karena kedudukanmu jadi kau berhak? ck ... ck... ck..." Andy menggeleng seraya menatap Langit.
"Kau tidak berhak Lang! Nara bekerja disini bukan untukmu tapi untuk ayahmu. Jadi, satu-satunya yang berhak memecatnya hanya ayahmu. Jika kau benar-benar ingin dia tidak bekerja disini lagi karena seperti katamu dia tidak sopan, sekarang juga, telepon ayahmu dan katakan supaya mulai besok, Nara tidak perlu lagi datang ke kantor ini."
Andy meraih surat pengunduran diri Nara dan merobeknya di depan mata Langit. Lalu dengan santainya dia berbalik hendak keluar dari ruangan Langit.
"Oh, jangan lupa, katakan pada om Anwar, kau ingin Nara di pecat karena dia mengganggu kesenanganmu hari ini. Dia tidak sopan karena sudah lelah mengetuk pintumu dan akhirnya mendobraknya. Aku saksinya. Aku melihat usaha Nara mengingatkanmu."
Andy berlalu usai berucap begitu. Tak lama, dia kembali masuk lagi.
"Seharusnya anda mendukungnya, Nona. Bukan malah berbuat sesuka hati di jam kerja seperti ini, saya harap kedepannya anda lebih mengerti dan berhati-hati. Ini kantor nona Adelia Fransisca."
__ADS_1