KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
18. NEW BOSS part 2


__ADS_3

Sambil meneliti dokumen dan meminta pihak rekanan memperbaiki kontrak dan mengirimkan kembali, Nara menantikan kelanjutan cerita bossnya yang ternyata menyedihkan.


"Aku cemburu ketika Asa -panggilan Angkasa- bisa mendapatkan apa yang di inginkan, sementara aku, aku tidak bisa pergi liburan atau sekedar mendaki dengan teman-temanku, bahkan temanku berkurang satu per satu karena aku lebih banyak di 'kurung' di kantor ini atau di ruang kerja papa di rumah." Langit memberi kode dengan jari-jarinya saat mengucapkan kata kurung.


"Papa mamaku bahkan tak segan-segan memuji  prestasi Asa di depanku. Sementara aku, bahkan kata-kata penyemangat pun tidak pernah kudapatkan," lanjut  Langit sambil memainkan pena di tangan. Raut wajahnya murung dan siapapun bisa melihat ada kesedihan dan rasa iri di matanya.


"Mungkin karena Bapak tidak pernah mengutarakan keinginan," balas gadis itu dengan bahasa formal. Jiwa bawahannya sangat melekat, padahal sedari tadi Langit berbicara akrab selayaknya teman.


"Pernah, Nar. Pernah sekali aku mengatakan bahwa aku suka berpetualang, tapi papaku langsung marah saat aku minta izin pergi bersama teman-temanku mendaki gunung. Aku ingat jelas ucapan papa waktu itu 'Pria kuat itu bukan dilihat dari seberapa banyak gunung yang di taklukkan tapi dilihat dari seberapa hebat dia dalam


menaklukkan lawan bisnis, seberapa hebat dia bisa melihat peluang bisnis dan bisa menganalisa keuntungan dari kerjasama yang terjalin, kamu gak akan punya waktu untuk berleha-leha mendaki gunung'.  Dan setelah itu, pamanku setiap hari ke rumah untuk menjadi guruku dalam berbisnis. Padahal, aku tidak mengatakan akan berhenti belajar bisnis, aku hanya minta waktu untuk pergi mendaki gunung. Katakanlah ini semacam libur sekolah."


Ada banyak orang tua seperti itu, orang tua yang penuh ambisi dan tak ingin usahanya redup, sehingga pewarisnya di  didik keras untuk mengikuti apa maunya tanpa peduli apa sebenarnya yang di maui anaknya.


"Aku berusaha belajar dengan baik tapi hati dan pikiranku sudah tidak fokus dan akhirnya ... boommm!" Langit mempraktekkan dengan tangannya seolah-olah sesuatu ada yang meledak.


"Aku berhenti belajar bisnis dan aku menjadi berandalan, saat tiba waktunya kuliah dengan jurusan yang dipilihkan orang tuaku, aku menurutinya tapi  aku tidak serius lagi menjalaninya. Aku memberontak dan inilah hasilnya." katanya seolah-olah bangga tapi dari pancaran wajahnya bisa dilihat bahwasanya ada kesedihan disana.


Akibat terlalu di kekang, sekalinya berontak ya begini.


Bagi keluarga keluarga sultan seperti mereka ini, kadang hanya ada dua pilihan dalam hidup. Hidup dengan menuruti apa kemauan para tetua atau terbuang tanpa mendapat apa-apa. Dalam hal ini Langit masih


sedikit beruntung, karena dana masih mengalir deras ke sakunya walau dia memberontak.


Tanpa disadarinya bahwa kucuran dana yang rutin diterimanya adalah rantai yang akan mengikatnya suatu saat. Dia tidak sadar, saat satu persatu biji rantainya melilit kakinya. Disinilah dia sekarang, dengan rantai yang penuh di kakinya, menjadi anjing untuk papanya sendiri.


"Selain ancaman dari orang tua Bapak, apa alasan lainnya anda berada disini?" tanya Nara yang sebenarnya merasa kasihan tapi bisa melihat  bahwa Langit sangat penurut dan penyayang orang tua walaupun mungkin sudah di kecewakan.


"Sudah terlalu lama aku hidup sesuka hati. Aku juga memikirkan masa depanku. Aku gak punya keahlian kayak si Asa, Nar," jawabnya dan itu sangat masuk akal. Jika kucuran dana berhenti karena terus membangkang, dia mau pakai apa bayar minuman di club? Mau bayar apa buka kamar dengan gadis-gadis ons-nya.

__ADS_1


"Tapi aku sepertinya akan melawan papaku sekali lagi, Nar," katanya misterius.


------------------------


Rindu Cafe


Tempat ini masih menjadi langganan  para muda-mudi untuk menghabiskan waktu bersama kerabat atau teman-teman,  hari ini gadis es batu itu terlihat sedikit ceria bersama  teman-temannya menikmati waktu yang akhir-akhir ini sulit didapatkan. Ya, berkat curhatan bosnya pada waktu itu, dia sedikit simpati dan lebih bersabar dalam menghadapi bos nya.


            "Saya tau bahwa Bapak punya keahlian dalam memimpin, hanya saja keahlian itu sudah terpendam karena lamanya Bapak hidup kesana kemari tanpa tujuan. Bukan saya sok tau segalanya tentang perusahaan ini, tapi jika Bapak memang serius ingin memperbaiki hidup dna ingin mempunyai masa depan cerah. Ayo, kita sama-sama


bekerja dengan baik. Semampu saya, saya akan berusaha membantu Bapak jika ada yang ingin Bapak tanyakan," ucap Nara waktu itu untuk menyemangati bosnya.


Sejak saat itu, Nara dan Andy meluangkan waktu yang lebih banyak untuk bersama bosnya. Bersama-sama berdiskusi mengenai hal-hal yang sedang berjalan di kantor. Mencari solusi dan saling memberi ide.


"Nar, gak manggung loe?" Jane salah satu teman Nara di kantor bertanya dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah. Satu tangannya sibuk otak-atik ponsel dan satunya sibuk mencomot-comot kentang goreng dimeja.


"Kan, dia langganan manggung disini," jawab Jane lagi tak mau kalah.


"Aku cuma bentar, habis ini langsung cabut," jawab Nara sambil menunjuk arah piringnya. Artinya dia akan cabut usai menandaskan isi piringnya.


"Mau kemana? Lembur lagi? Jangan mau disuruh-suruh terus sama pak Langit!" Melda gadis bar-bar itu mengingatkan.


"Elo itu sekretaris bukan aspri," lanjutnya lagi sambil melotot.


Melda kesal, sejak berganti pimpinan di kantor, setiap kali mengajak temannya itu hang out selalu beralasan lembur, sibuk, dikejar deadline. Bahkan hanya sekedar minum kopi bareng di kantin kantor aja pas break time gak sempat. Sekretaris apaan sibuknya melebihi bos, bosnya aja sering keluar makan siang. Balik kantornya juga selalu molor.


"Padahal kalo pak Langit sukses majuin perusahaan kamu kecipratan juga," cibir Nara.


"Udah ah, aku cabut duluan ya, girls. Nanti kapan-kapan aku ikut sama kalian lagi." Nara sambil berdiri dan

__ADS_1


beres-beres tas dan meletakkan  dua lembar seratusan di meja.


"Tolong bayarin nanti, ya!" lanjutnya.


Teman-temannya hanya mengangguk. Sebenarnya ini seperti Nara yang traktir mereka saja. Mereka sudah tahu dengan jelas gimana hubungan Nara dengan pemilik cafe ini. Makan sebanyak apapun sebenarnya dia


nggak perlu bayar.


"Sering-sering ya, Nar! Aku suka yang beginian." Sari mengangkat dua lembar uang yang di letakkan Nara dengan


wajah sumringah. Detik berikutnya, tiga tangan lentik mendarat di kepalanya.


Nara hanya tersenyum melihat kelakuan gadis-gadis itu. Sudah biasa.


Nara melambai pada Rindu dan pamit ke teman-temannya.


Nara:


[ Jadi jemput, kan?]


Nathan:


[ Seberang, Yank ]


Nara celingukan dan akhirnya menemukan  mobil pria itu. Dia menghampiri dan segera masuk setelah mengetuk pintu mobil dua kali.


Ya, Hubungan Nara dan Nathan berjalan lancar dan adem selama tujuh bulan ini . Keduanya saling terima dan setuju saja jika hubungan mereka tidak di umbar-umbar dan diketahui banyak orang. Terlebih saat


ini perusahaan Nathan  masih terlibat kerjasama dengan perusahaan tempat kerja Nara.  Saat ada pertemuan dua perusahaan itu dan memang masih diwakili oleh Nathan, keduanya akan bersikap formal dan seolah-olah tidak ada hubungan romantis diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2