KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
11. RUMAH BARU


__ADS_3

Setahun - Dua Tahun - Tiga Tahun -


            Genap tiga tahun menjadi sekretaris Pak Anwar dan selama ini berjalan lancar. Dan aku semakin dingin terhadap kehidupan romansa-romansa. Hidupku adalah pekerjaanku.


            Adikku Ryan juga lulus dan sudah bekerja sesuai cita-citanya -guru- dan dia langsung mengikrarkan janji bahwa adiknya Ririn akan menjadi tanggungjawabnya.


"Ririn akan menjadi tanggunganku, Kak. Kakak sudah membiayaiku dan sekarang waktunya kakak menabung atau menyenangkan diri sendiri." Bijak sekali, sepertinya dia membaca banyak buku selama ini.


            Dan aku setuju dengan itu, walaupun aku selalu sisihkan untuk jaga-jaga ketika dia kekurangan nanti. Aku ingin membakar semangatnya, jika kutolak,dia akan berpikir bahwa dia diremehkan karena tidak sanggup.


            Bonus dan gajiku melimpah, tabunganku banyak dan aku sangat bersyukur.


            Hari ini, keluargaku datang mengunjungiku ke kota, kami akan mengadakan syukuran kecil-kecilan atas rumah baru yang kumiliki. Bukan rumah besar seperti di tipi-tipi. Ini rumah sederhana tapi sangat homey, kami sekeluarga sangat bersyukur.


            "Ingat, semua ini hanya titipan semata untuk kamu, jangan jadi sombong karena sudah bisa beli rumah. Syukuri agar jadi berkah untukmu ke depan!" Nasihat bapak saat syukuran sudah selesai.


            Selepas acara aku mengajak keluargaku jalan-jalan. Kami pergi ke banyak tempat dengan mengendarai mobil yang ku setir sendiri. Gais, aku belum kaya-kaya kali ya sampe sanggup beli rumah dan beli mobil, ini mobil dari kantor tapi bisa kubawa pulang kerumah.


            "Kakak keren, udah bisa nyetir. Ririn juga mau," puji adikku.


            "Nanti kakak ajarin. Ririn juga pasti bisa."


            "Kalau Ririn udah bisa nanti, beliin Ririn mobil ya ka, biar bisa pamer di kampung."


Detik berikutnya teriakan Ririn yang terdengar karena jitakan ibu.


            "Pamerin, apa untungnya pamer-pamer. Nggak boleh sombong kalau kita punya sesuatu yang


orang lain belum punya, Neng!" Aku terkekeh saja melihat Ririn yang meringis.


            "Enak aja, mau di beliin mobil, kakak saja belum sanggup beli untuk kakak. Ini mobil


kantor tau, bukan punya kakak sendiri."


            "Tapi, udah di kasih buat kakak, kan?"


            "Nggak, di pinjami aja, kalau ada yang lain yang mau make, ya harus kakak kasih lah."


            "Yahhhhh... Ririn kira punya kakak."


            Aku membeli pakaian bagus, sepatu bagus untuk keluargaku. Aku tanya apa yang mereka suka dan inginkan, selagi uangku masih cukup, akan aku belikan.

__ADS_1


"Sudah cukup, Nar. Ini sudah banyak. Jangan terlalu menghambur-hamburkan uang. Uang itu sulit di cari," kata ibu


menolak ajakanku untuk membeli pakaian lagi.


            Kami makan makanan enak di tempat bagus yang hanya bisa di lihat di tipi oleh ayah


dan ibu. Mereka senang, aku juga. Aku bahagia bisa membuat dan melihat mereka tertawa senang seperti ini.


            "Ayo pesan yang mana lagi? Mumpung masih di kota, di kampung nanti gak ada yang jual seperti ini," ucapku sambil melihat-lihat buku menu lagi.


            "Jangan kemaruk, Nar. Apa perutmu belum kenyang udah makan sebanyak ini, tapi mau pesan


lagi?" tanya ibu sambil menunjuk piring-piring kosong di meja.


Sebenarnya aku sudah kenyang, hanya saja, aku ingin mereka mencoba yang lain.


            "Kalau saja kalian mau tinggal lebih lama lagi, nanti kita bisa coba makan yang lain."


            "Kapan-kapan lagi ya, Nak. Kakak iparmu udah hamil besar, kasihan dia ngerjain semua di rumah sendirian," jawab ibu.


-------------------------


Aku langsung ambil tablet dan buka tabel jadwal Pak Anwar yang sudah kususun rapi.


"Tapi Pak, dijadwal, pertemuannya besok jam dua siang dan belum ada pemberitahuan dari mereka mengenai perubahan jadwal," jawabku panjang  dan sambil mengingat keras bahwa aku belum ada terima telpon pemberitahuan ini. Aku belum amnesiakan?


"Iya, saya baru saja di telpon langsung oleh Pak Robert," jawab pak Anwar sambil berlalu.


Belum sempat kujawab dan Pak Anwar hampir masuk ke ruangannya beliau berbalik lagi.


"Jam sebelas Nar, coba konfirmasi lokasinya dimana ya!" perintahnya sambil memberitahu dan langsung masuk ke


ruangannya tanpa menunggu jawaban dariku.


            Aku melakukan perintah beliau dan konfirmasi ke PT. Sagara Makmur.


            Mereka ini adalah partner lama kami. Aku sudah pernah ikut meeting dengan mereka. Dulu waktu masih ada mbak Nana dan juga setelah mbak Nana keluar.


--------------


Sufi's Cafe and Resto

__ADS_1


            Disinilah kami dengan partner kami yang bernama Jonathan Sagara. Kelihatannya sih masih


muda dan menjabat sebagai Direktur. Bukannya biasanya dengan Pak Robert ya? Pria tua yang punya tampilan wajah datar dan bagiku itu seperti menakutkan.


"Hallo Pak Anwar, apa kabar?" sapa Pak Jonathan sambil mengulurkan tangan  dan boss ku menyambut uluran tangan sambil menjawab  sapaannya. Aku juga menyambut uluran tangannya sambil  menganggukkan kepala, tidak lupa dengan senyum pesonaku sebagai ramah tamah sekretaris. Maaf saja, aku tidak mau di cap si es batu juga oleh partner layaknya si Melda cs dan penghuni kantor.


Panjang lebar penjelasannya dan aku mencatatnya dengan baik, dari pembicaraan ini aku tau bahwa Pak Jonathan ini anak dari Pak Robert yang kebetulan akhir-akhir ini kurang sehat dan mengutus sang anak untuk handle segala hal di perusahaannya.


"Baiklah, kirimkan draft proposalnya ke sekretaris kami dan kami akan kirimkan draft perjanjiannya nanti," kata


Pak Anwar mengakhiri meeting hari ini.


Pertemuan di akhiri dengan acara makan siang bersama. Dan ini keuntunganku salah satunya gais, aku bisa makan enak yang jika aku sendiri yang bayar  aku akan berpikir sepuluh kali.


----------


"Kamu jadi beli rumah, Nar?" tanya Bu Melinda, sore ini aku yang jemput beliau dan bertugas mengantarkan ke rumah saudaranya. Pak Anwar menyusul bersama Pak Andy.


"Jadi bu, udah di resmikan malahan," jawabku. "Maaf ya, Bu, acara syukurannya kemarin acara kecil-kecilan saja,


cuma sama anggota keluarga," lanjutku penuh maaf.


"Orang tuamu datang?" tanyanya penasaran.


"Iya, Bu," jawabku singkat.


"Gak pa-pa," katanya lagi, dan di lanjut dengan wejangan sepanjang jalan, seperti biasa, wejangannya yaitu harus tetap hormat ke orang tua, jangan lupa asal usul dan banyak hal yang  intinya harus bersyukur dan jangan lupa


daratan. Dan aku berterimakasih atas nesehat-nasehatnya. Bersyukur masih ada yang mengingatkan, bertindak seperti orang tua sendiri.


"Itukan kamu udah punya rumah, selanjutnya tabung uang kamu dikit-dikit, nanti bisa beli yang lain lagi. Mobil misalnya," katanya memberi saran.


"... tapi kayaknya mobil nggak usah deh, kan dari kantor udah ada. Sayang uangnya," lanjutnya sambil terkekeh. Ibu tau saja deh, aku suka yang gratisan.


"Tapi punya rumah lebih dari satu juga nggak papa Nar, hitung-hitung investasi, kan bisa di sewakan, cari rumah sederhana di tempat ramai dan strategis. Biar cepat laku kalau mau di sewakan." Nah kan, beliau kayak ibu sendiri, kan?


"Iya, Bu. Nanti Nara ikutin saran ibu."


            Rumah yang barusan kubeli adalah rumah dari teman arisan bu boss, katanya dulu rumah


itu disediakan untuk anaknya, tapi anaknya lebih suka di apartemen, Dari pada kosong dan jadinya rusak, mending di jual saja, dan karena koneksi dengan bu Melinda, aku bisa mendapatkan harga miring.

__ADS_1


__ADS_2