KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
36. JANGAN JADI PENGECUT!


__ADS_3

Wajah Langit secerah mentari pagi.


Dia berjalan di loby kantor dengan tas bekal di tangan kirinya. Sebenarnya dia malu tapi demi maaf, dia membuang rasa malunya.


Satu jam lalu ketika sarapan:


"Mama ngapain masak sebanyak ini?"


"Karena mama senang, anak mama pulang. Mama mau mikat kamu lewat makanan. Tadi sambil memasak, mama berdoa semoga kamu rindu terus rasa masakan mama, jadi sehari-hari pulang kesini."


"Lang pengen mandiri, Ma."


"Hmm, kamu pikir mama percaya alasan kamu? Kalau kamu bilang biar bebas bawa cewek, baru mama percaya."


Uhuk...uhuk..uhuk...


Langit tersedak parah,


"Mama jangan asal ngomong, mana ada Lang bawa cewek."


"Hmm, anggap mama percaya."


Sarapan pagi yang biasanya dengan menu roti atau nasi goreng, kini berubah menjadi berbagai olahan seafood.


Langit penggila seafood sangat menikmati menu kali ini.


Kalau begini terus, bisa-bisa harapan mamanya terkabul. Langit akan sering-sering datang.


"Abang, Tunggu!" Langkah Langit terhenti.


"Bawain ini buat Nara. Kalau dia udah sarapan. Buat makan siang juga nggak papa!" Nyonya Melinda menyodorkan tas bekal ke arah Langit.


Sejenak Langit terdiam, maukah Nara menerimanya?


Tapi tiba-tiba dia tersenyum senang. "Aku bisa mulai dengan ini untuk minta maaf'" batinnya.


*******


"Pagi Na--" Sapaannya terpotong karena tidak ada orang yang hendak disapa.


Jantung Langit mulai deg-degan, apalagi setelah dia melirik jam tangannya. Seharusnya jam segini Nara sudah berada di kantor.


Langit berjalan ke arah meja Nara. Sebelum langkahnya mencapai sisi meja, firasatnya sudah tidak enak.


Ruangan ini terlalu hening. Bahkan jika Nara sedang di toilet, tidak akan sehening ini.


Lutut Langit langsung lemas begitu kakinya berdiri di sisi meja kerja Nara. Komputernya bahkan belum menyala. Apa Nara benar-benar tidak datang?


Langit merogoh saku celana bagian kanannya. Mengambil ponsel dan mendial nomor Nara. Tidak aktif?


Mencoba sekali lagi. Sama.


"Jangan bikin aku mati jantungan dong, Nar!" gumamnya seraya mengetik pesan.


Centang satu.


Telepon pake nomor biasa.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."


"Mas Andy. Ya, Mas Andy. Telepon Andy Lang!" titahnya pada diri sendiri. Tas bekal yang di tangan kirinya tadi di letakkan di meja Nara.


Tuuuut...


"Hal--"


"Mas, Nara nggak datang." Suara Langit menggema di campur kepanikan.


"Maksud kamu?"


"Nggak datang, Mas. Dia nggak ada di kantor. Gimana ini?"


"Coba telepon dia, siapa tau terlambat. Mungkin dia naik angkutan umum. Mobil udah di kembalikan semalam, kan?"

__ADS_1


"Udah, Mas. Tapi nomernya nggak aktif. Tolongin Lang, Mas!"


"Emang kamu kenapa? Aku udah di jalan, bentar lagi sampai."


"Aku nggak papa tadinya, tapi sekarang jantung Langit hampir stop karena nggak ada Nara, Mas.  Lang belum siap di tendang papa dari kartu keluarga!"


Langit benar-benar merengek seperti seorang bocah pada abangnya.


Kalaupun sedang di angkutan umum, nggak mungkin ponsel di matikan. Kalau paket data yang di matikan, masih masuk akal. Masa telepon biasa juga mati?


"Bentar, coba aku telepon!"


Klik


Panggilan terputus oleh Andy.


Langit mondar-mandir di ruangan itu. Dia bahkan belum masuk ke kantornya. Masih berdiri di dekat meja Nara.


"Mejanya benar-benar bersih dari barang pribadinya. Apa dia serius mau resign?" gumam Langit. Dia ingat di meja Nara dulu ada poto keluarga. Sekarang sudah tidak ada.


"Kamu memang bodoh Langit!" lanjutnya seraya memukul kepala sendiri.


Tring


Mas Andy:


Voice Note: Nomornya nggak aktif. tapi tadi malam tengah malam dia ada kirim pesan. Dia nggak masuk kerja lagi.


Kaki Langit benar-benar tak bertulang sekarang. Dia terduduk lemas di lantai. Tanpa menghiraukan celananya kotor atau tidak.


"Kelakuanmu yang buruk benar-benar bikin kamu kena karma Lang,  Mulutmu yang tanpa rem sekarang menghukummu."


******


Sementara itu di rumah,


"Tumben loe nggak kerja, aku lihat hari ini tanggal hitam."


Rindu yang hendak menuang air, melirik Nara yang sedang sarapan dengan pakaian santai dan sudah di pastikan belum mandi.


"Kamprett! Emang ada kerja yang nggak capek?"


"Malas!"


"Ooo, kalau ini gue percaya. Gue juga kadang gitu walaupun gue kerja nggak kayak loe yang berkutat dengan kertas-kertas dan berpikir keras. Ya udah kita di rumah aja hari ini, karena loe malas, aku malas juga."


Nara hanya mengangguk membalas gurauan temannya itu.


Seharian ini kedua sahabat itu menghabiskan waktu di rumah. Ponsel Nara sengaja di matikan untuk menghindari panggilan yang akan masuk.


Nara yang bersenang-senang di rumah tidak tahu bahwa ada yang hampir pingsan di kantor karena tidak kehadirannya.


******


Ting nong


Bel rumah Nara berbunyi ketika jam sudah menunjukkan angka tujuh.


Nara yang sendirian di rumah setelah di tinggal Rindu ke cafe.


"Sebentar!" sahut Nara.


Ceklek


"...!!!" Nara kaget melihat orang di depan rumahnya. Tampilannya aut-autan. Rambut dan bajunya seperti baru saja di remas oleh massa.


"Silahkan masuk!"


Nara mempersilahkan dua orang itu duduk di sofa dan dia ke dapur mengambil minuman kaleng untuk di suguhkan.


"Rumahmu bagus juga!"


"Ada apa?" Nara tidak menanggapi pujian yang baru saja terlontar itu.

__ADS_1


Keheningan tiba-tiba menyelimuti mereka.


"Nih!" pria aut-autan yang adalah Langit itu menyodorkan tas bekal.


"Titipan mama tadi pagi!"


Nara menerimanya. Membuka dan melihat udang goreng dan cumi krispi yang tidak krispi lagi. Ada juga kotak sambal dan kotak nasi.


"Kenapa dia antar kemari? kenapa nggak di makan aja siang tadi. Ini sudah lembek, nasinya jug udah basi."


"Nar, maafin aku tentang yang kemarin. Aku akui aku salah dan aku emosi saat mengatakan akan memecatmu." Langit langsung bicara tanpa membahas bekal titipan mamanya lagi.


"Aku janji aku akan berubah dan tidak akan melakukan itu di kantor lagi, tapi aku mohon kamu kembali ke kantor. Lagian surat resign kamu semalam udah di koyak mas Andy tanpa di tandatangan. Jadi kamu masih sah sekretarisku. Besok masuk, ya!"


Saat bicara Langit bangkit dan duduk di dekat Nara. Mengambil tangannya seraya memelas.


Nara hendak menarik tangannya tapi di tahan oleh Langit. Janji dulu besok kamu bakal masuk kantor lagi."


"Hmm,"


"Terimakasih Nara. Bonusku satu bulan akan ku transfer nanti."


Sebuah janji dn hadiah yang besar yang tentu saja tidak akan di tolak oleh Nara.


"Hmm, transfer sekarang biar aku percaya."


Langit "...!!!"


"Tapi bonusku bulan depan belum keluar."


"Emangnya saya minta bonus bulan depan. Bonus bulan ini juga kan bisa."


"ph..ph..ph..." Andy menahan tawa melihat wajah nelangsa Langit yang merogoh ponsel dan merelakan uang bonusnya di miliki oleh Nara.


Nara mendengus melihat bukti transfer yang ditunjukkan oleh Langit.


"Beginilah kami para kacung itu pak Langit. Ketika di sogot dengan jumlah yang tidak sedikit, mood kami akan berubah dan kami lupa segala hal yang menyebabkan mood kaki jelek."


Tiga orang dalam rungan itu terdiam. Langit dan Andy tidak menyangka Nara akan berucap seperti itu.


"Nar, tolong jangan salah paham. Aku memberikan ini bukan untuk tutup mulut. Tapi untuk permintaan maafku. Tolong jangan salah paham ya, Nar."


Lagi lagi aku salah. Dia menjebak ku dengan permintaannya tadi.


Nara, kau kejam.


"Aku tahu aku keterlaluan kemarin sama kamu, aku marah karena aku malu. Emosi menguasai pikiranku.


Tak sedikitpun di pikiranku untuk menyogok kamu, Nar. Maaf karena aku kurang peka tadi."


Langit gelagapan karena ekspresi Nara belum berubah. Dia menoleh pada Andy. Dan meminta tolong tanpa suara.


Andy hanya menggeleng kemudian sibuk dengan ponselnya.


"Nar, pikiran kamu kejauhan. Aku ulangi, aku nggak niat nyogok kamu," ujar Langit menggebu, tidak terima dengan ucapan Nara.


"Kalau kamu bilang kacung, aku juga kacung papa, kan? Kita berdua sama-sama kacung papa ku."


Langit meraih tangan Nara.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku janji aku akan berubah lebih baik. Tolong bantu aku ya, Nar. Besok masuk ngantor, ya!"


"Aku minta ijin, aku masuk senin. Gak papa kalau mau di potong gaji, toh aku udah dapat banyak bonus hari ini."


Langit melepaskan tangan Nara karena di tarik paksa. Sejenak dia memikirkan permintaan Nara untuk libur. Besok sudah Jumat. Tidak apa-apa, batinnya.


"Baiklah, kamu bisa cuti besok, tapi Senin masuk, ya. Hari ini kamu membuatku spot jantung dan hampir mati lemas karena ponsel kamu mati."


Nara mengangguk. Kemudian menyuruh kedu orang itu untuk pergi dari rumahnya.


"Pak Langit!" panggil Nara saat mereka sudah ada di luar. Nara berdiri di ambang pintu melepas kepergian tamunya.


"Jadilah pria sejati. Anda sudah punya segalanya kecuali pemikiran matang ke depannya. Mengenai kekasih anda. Jika anda memang mencintainya, pertahankan lah dengan baik dan jangan mempermainkan wanita lain. Asal anda tahu, sesekali Dewi mengirim pesan padaku menanyakan tentang anda."

__ADS_1


Langit terdiam, apa sampai sejauh itu Dewi bertindak? Bahkan sudah berani menghubungi Nara yang notabene tidak ada hubungan kekeluargaan dengannya.


"Jika anda tidak serius pada Dewi, jujur saja pada pak Anwar dan bu Melinda. Anda harus punya pendirian dan keberanian jika anda tidak mau dikontrol selamanya. Jangan menyesal dan menjadikan diri anda korban suatu hari nanti."


__ADS_2