KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
40. DAN TAK MUNGKIN by AGNES MO


__ADS_3

Drrrttt


Drrrttt


Kurasakan getaran ponsel di saku blezerku. Aku tidak berniat mengambilnya untuk melihat siapa yang menghubungiku begitu intens. Sudah pasti dia alaha Nathan yang sedang sibuk dengan ponselnya di seberangku.


Matanya sesekali menatap ke arahku dan ponselnya sesekali menempel di telinga setelah mengetikkan pesan.


Aku tau pria itu sedang mengirimiku pesan, entah apa yang akan di tulisnya di pesan tapi apa pun itu aku tidak akan percaya lagi karena semua sudah jelas tepat di depan mataku.


"Nar, itu cewek seksi yang sering ke kantor, kan?" Melda berbisik setelah aku mendekatkan telingaku ke arahnya. Aku mengangguk tanpa ekspresi.


"Wow, daebak!" ucapnya dengan gaya syok menutup mulut sambil mengarahkan pandangan pada dua orang itu.


"Laki-laki itu juga kayak pernah lihat!" lanjutnya lagi.


"Itu rekan kerja sama perusahaan kita, makanya si Nara tadi kaget." Jane yang bertugas di depan langsung mengenali Nathan karena sudah beberapa kali ke kantor.


"Double Daebak! Beruntung bangat tuh cewek, suami di rumah sultan, selingkuhan juga sultan. Itunya sultanan yang mana, ya?"


"Otakmu Melda!" Sari menyikut Melda karena bicaranya udah mulai ngawur.


"Hahahaha, perlu berguru juga sama tuh cewek, selingkuh sama orang yang saling kenal." Melda menggeleng-geleng. Bagaimana reaksinya jika aku kasih tahu kalau aku pernah melihat Langit dan Sisca sedang itu?


"Udahlah, yang kayak gitu nggak usah di tiru. Aneh kamu Mel, malah mau jadikan dia perguruanmu." Dina ikut mengomentari.


"Mau apa pun yang mereka perbuat, nggak ada ruginya sama kita. Jadi kita pura-pura tidak tahu aja. Keculia kita di rugikan, ayo kita hajar rame-rame," lanjutnya dan di angguki oleh yang lain.


"Bagaimana jika kalian tahu bahwa pria itu adalah kekasihku? Apa kalian akan menghajarnya untukku? Atau kalian akan membenciku karena aku pacaran dengan suami orang?" batinku.


Pandangannya masih saja mengarah padaku sampai seseorang menepuk bahu Nathan seolah menyadarkannya. Mereka berbicara sebentar lalu Nathan dan Sisca berdiri mengikuti seseorang itu. Mereka berjalan ke arah meja


sang nenek dan disana sudah ada dua kue ulang tahun.


Kue ulang tahun sang nenek dan juga kue ulang tahun pernikahan Nathan.


Pasangan suami-istri itu meniup lilin bersama-sama di iringi tepuk tangan meriah. Beberapa wanita paruh baya mencium Sisca dan berharap segera di beri keturunan di usia pernikahan yang kedua tahun ini.

__ADS_1


"Mama harap segera menimang cucu, udah dua tahun mama nunggu, jangan di tunda lagi!"


Sisca mengangguk seraya tersenyum manis. Sungguh sangat tulus. Apakah dia tidak merasa bersalah sekarang? Apalagi ada orang yang pernah melihatnya sedang itu disini.


Selanjutnya acara tiup lilin sang nenek. Semua pengunjung berdiri dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang di iringi oleh band dan tepuk tangan meriah. Aku juga sama. Aku berdiri seperti yang orang lain lakukan.


Sesekali mataku saling menatap dengan Nathan. Aku membalasnya dengan tatapan datar. Apa yang terjadi padaku malam ini tidak ada yang mengetahuinya selain Rindu. Jadi aku berusaha terlihat biasa aja di depan teman-temanku.


"Baiklah, terima kasih untuk teman semua, doa dari kalian akan memperpanjang umur nenek kami. Dan untuk malam ini, semua tagihan di cafe ini akan di bayarkan oleh kakakku yang yang sedang berbahagia juga," tunjuknya pada Nathan yang hanya bisa mengangguk kaku.


Berbahagia? Selamat berbahagia Nathan.


Pengunjung bersorak ria karena sudha di jamin gratis bill malam ini dan beberapa mengucapkan selamat ulang tahun secara lantang.


Keriuhan berlanjut di cafe, pengunjung yang patentengan menunjukkan bakat - bakat terpendam -yang sebaiknya memang di pendam saja- menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan lagu-lagu lawas di atas panggung secara bergantian maupun ramai-ramai.


"Baiklah, teman-teman yang sudah akrab dengan cafe ini, kita sambut teman kita Nara untuk tampil." Boy vocalis band cafe memanggilku dan aku melotot padanya. Ini kebiasaannya jika melihatku ada di cafe. Aku melambaikan tangan dan menggelengkan kepala tanda menolak.


"Sorry, aku lagi kurang sehat. Tenggorokanku sakit."


"Jangan beralasan Ynara. Tamu kehormatan kita juga perlu mendengarkan setidaknya satu lagu yang bisa mengembalikan kewarasan telinga setelah di suguhkan dengan teriakan sedari tadi." Boy menyindir lagu


"Aman bosku!" teriak mereka membalas dengan jempol teracung juga.


Dasar kurang ajar si Boy.


Dengan hati yang tak karuan aku melangkah ke panggung.


"Terima kasih mas Boy, jangan lupa transferannya, kali ini harus dobel!" candaku memulai dan dia hanya


mengacungkan jempolnya padaku dengan senyum pepsodent memukaunya.


"Baiklah teman-teman semua, pengunjung yang kami hormati dan sayangi, tolong jangan kaget jika mendengar suaraku yang sangat 'memukau' ini nantinya, karena kalian tau aku berdiri atas paksaan." Aku mengarahkan mataku pada vocalis tak tau diri itu. Dan pengunjung hanya bersorak huuu dan ada yang sambil bertepuk tangan.


"Selamat ulang tahun untuk nyonya yang sedang ulang tahun, dan selamat ulang tahun pernikahan untuk pasangan berbahagia," ucapku menatap rombongan itu tanpa menampilkan sedikit pun kesedihanku.


"Anda sangat beruntung nyonya, pada hari berbahagia anda, banyak keluarga yang mendampingi."

__ADS_1


Yang berulang tahun mengangguk sambil tersenyum.


"Saya jadi iri sekaligus sedih, baru-baru ini ibu saya juga ulang tahun tapi kami tidak bisa berkumpul bersama. Untungnya sekarang jaman sudah canggih ya teman-teman, jadi saya dan mungkin ada beberapa orang


yang jauh dari orang tua bisa merayakan secara online, tiup lilin online bahkan makan kue online juga."


Sebagian pengunjung bersorak mengiyakan sambil bertepuk tangan.


Mengingat apa yang barusan ku ucapkan, aku jadi terpikirkan untuk ulang tahunku nanti, apakah ada  yang menemaniku meniup lilin?


Berdiri disini adalah hal yang biasa buatku, menyanyikan beberapa lagu disini dan diiringi sorak sorai pengunjung juga hal yang biasa dan aku sangat terhibur. Tapi malam ini situasinya berbeda.


Aku menyanyikan lagu singkat "Selamat ulang tahun" untuk memberi selamat pada yang ulang tahun. Tanpa kusadari air mataku menetes.


Aku menunduk dan menghapus pipiku. Bodoh! Bukankah ini sudah pernah terjadi? Berpisah dengan orang yang kamu cintai karena pernikahan? Tapi,


Ini berbeda, dia menipuku. Berbohong padaku. Apa tujuannya? Untuk mempermainkanku?


"Maaf, malam ini aku terlalu sentimen, kalian anak rantau pasti bisa merasakannya," ucapku mencoba tersenyum mencari alibi seraya menghapus pipiku yang basah. Please, mataku berhentilah menangis! Beruntung sekali


bajingan itu bisa melihatku menangis.


Aku menjernihkan pikiranku, lalu seperti biasa membawakan lagu - lagu lama pilihan pengunjung dan tamu kehormatan kami.


Di akhir pertunjukan, aku membawakan lagu "Dan Tak Mungkin by Agnes Mo"


"Dan tak mungkin untukku


Untuk gapai cintamu


Walau rasa di hati


*Ingin memilikimu


Cinta harus berkorban*


Walau harus menunggu selamanya

__ADS_1


Aku tahu kau bukan untukku"


__ADS_2