
"Kamu masih nggak nyaman? Atau kita pindah hotel?" tanya Nathan usai menarik diri. Tangan kanannya menangkup sebelah pipi Nara, sementara tangan kirinya menggenggam salah satu tangan Nara.
"Tarik napas dan buang pelan-pelan!" titahnya dan Nara mengikuti arahannya, mengulangnya beberapa kali.
"Udah tenang? Nggak takut lagi?" Nathan memastikan dan Nara hanya mengangguk pelan.
"Dengar, Yang, kita disini untuk liburan, bukan mau yang lain. Aku gak mau kamu tertekan karena kita nginap satu kamar, kalo kamu emang nggak nyaman, kita bisa pindah hotel dan pesan dua kamar, atau kamu disini aku
pindah hotel, gimana?" ujarnya pelan, walau dalam hatinya dia berharap gadis itu oke menginap bersama. Bukan berniat buruk, dia hanya ingin memeluk gadis itu sepanjang malam.
"Sorry, aku kekanakan, kita disini aja, ak--ak-- aku. ... Ini pertama kali berbagi kamar dengan p--pria, So, aku harap kamu mengerti," ujarnya terbata dan berusaha untuk tenang tetapi tidak dengan semburat merah yang mulai menjalar di pipi hingga telinganya. Membayangkan dia akan tidur dalam satu ranjang dengan seorang pria membuatnya salah tingkah dan malu.
Nathan mengangguk dan terlihat sedang menahan senyum. Sisi bibirnya berkedut.
"Benar nggak papa?" Nathan memastikan sekali lagi. Walau dia sangat ingin, tapi dia tidak mau membuat gadisnya tertekan dan merasa takut dan terpaksa, yang akhirnya membuat liburan singkat ini tidak berarti.
"Hmm... nggak papa, kita disini aja. Aku percaya sama kamu," jawab Nara sambil tersenyum menenangkan. Dia sadar dia terlalu kolot dan kekanakan. Hanya karena menginap satu kamar dengan kekasihnya, bisa-bisanya dia sesak napas. Dasar.
Nathan terkekeh, tangannya berpindah ke kepala gadis itu, mengusapnya pelan.
"Aku tagih jawaban kamu," ucapnya dan itu membingungkan bagi Nara, jawaban apa?
Nara hanya menaikkan alisnya seolah bertanya jawaban apa?
"Ck... dasar pelupa," decak Nathan seolah-olah dia marah dan kesal. Dia memalingkan wajahnya untuk mendukung aktingnya.
"Emang kamu tanya aku apa lagi? Aku kan udah jawab nggak papa, sorry, tadi aku kekanakan dan kuno bangat, tapi benaran gak papa," jawab Nara sambil menarik tangan Nathan yang sudah bersiap melangkah.
__ADS_1
Tiba-tiba Nara berdecak lalu menghempaskan tangan Nathan yang di genggamannya tadi. Dia baru sadar sekarang apa maksud Nathan. Ini bukan kali pertama Nathan bersikap seperti itu. Emangnya ungkapan cinta harus selalu di ucapkan? Kayak cewek aja yang selalu minta kepastian dengan kata-kata.
Nara tidak menjawab apa-apa tapi dia berdiri dan berjinjit, memberi ciuman dipipi Nathan sebagai jawaban. Nathan berpura-pura tidak terpengaruh seperti biasa, dia hanya menatap datar pada Nara yang berdiri di hadapannya dan sekarang berpengangan pada lengan Nathan. Respon yang tidak biasa itu membuat Nara salah tingkah dan kesel sendiri pada situasi mereka, biasanya Nathan akan tersenyum setelah mendapat imbalan ciuman atas uangkapan cintanya. Tanpa sadar Nara mencebikkan bibirnya dan hendak mengomel. Tapi, sebelum kata pertama meluncur dari mulutnya, tubuhnya tiba-tiba ditarik oleh Nathan dan segera mencium bibirnya yang maju beberapa senti itu dengan gemes.
Nathan melepaskan bibirnya dengan mata yang masih terpejam, tetapi tangannya tetap menopang leher belakang Nara. Nara mendongak sambil memejamkan mata seolah belum sadar dari ciuman yang baru saja terjadi dan sudah terlepas.
"I love you Ynara! I love you to the moon and back!" Ungkapan cinta yang dalam dari Nathan dan Nara dapat
merasakannya. Ungkapan yang sangat tulus. Nara memanjangkan tangan dan melingkarkan di pinggang Nathan lalu menjawab, "Love you too, Jonathan Sagara!" sambil menatap Nathan.
Ini ungkapan pertama dari Nara, tujuh bulan berpacaran, ini pertama kalinya gadis itu membalas ungkapan cinta dari prianya dengan ucapan, selama ini dia akan membalasnya dengan senyuman atau seperti barusan menjawab dengan ciuman dipipi. Perasaan pria itu membuncah, dia bahagia, ungkapan cinta gadis inilah semangatnya, inilah yang dicarinya, kenyamanan ini, dia merasa damai bersama gadis ini, bersama cintanya.
Seraya tersenyum Nathan mendekatkan wajahnya lagi dan Nara tidak menghindar seolah pasrah dengan serangan yang akan di terimanya. Keduanya berciuman dengan mesra, ciuman yang dalam penuh cinta. Saling membalas.
"I love you!" Sekali lagi Nathan mengungkapkan cinta sambil menyatukan kening mereka berdua.
Gadis itu hanya mengangguk membalas Nathan. "Apa pun yang terjadi setelah ini, kamu harus percaya, bahwa aku benar-benar cinta sama kamu, serius sama kamu, aku bisa gila tanpa kamu, bahkan mungkin aku bisa mati, ak-aku ..." lanjutnya menegaskan dan terpotong oleh ucapan Nara.
"Love you too, aku percaya sama kamu!" balas gadis itu memutus ungkapan yang sudah keman-mana. Kemudian dia mendaratkan satu kecupan singkat pada prianya. Sekilas, Nara bisa menangkap kepanikan pada kalimat Nathan.
Setelah memberi kecupan itu, dia tersipu. Ini adalah pertama kali baginya memberikan ciuman pada pria terlebih dahulu. Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah dan terasa menguarkan uap panas didada pria itu. Nathan lalu tersenyum kesenangan dengan inisiatif gadisnya.
"More!" pinta Nathan.
"Hm?" Si gadis yang masih tersipu mendongak bingung.
"More!" Sekali lagi pintanya sambil mengetuk bibirnya sendiri.
__ADS_1
Nara salah tingkah, dan berusaha menyingkir namun terlambat, Nathan menahannya dan mendorongnya ke sofa, memeluk pinggangnya dan menuntut kecupan yang barusan untuk di ulang.
"Lepasin dulu!" Nara berusaha melepas belitan tangan prianya. "Gerah, ini mau bersih-bersih," ucapnya
sambil berusaha menyingkirkan tubuh pria diatasnya.
"Makanya ini dulu!" Nathan ngotot sambil manyun -manyun bibir.
Muuach
Satu kecupan mendarat dan Nara langsung menutup mata karena malu.
Gadis desa yang sudah beberapa tahun tinggal di ibu kota itu tetap berpikiran kolot.
Seperti tidak pernah berpacaran saja, atau sudah lupa karena saking lamanya menjomblo setelah di tinggal nikah?
"Gak terasa, lagi!"
Nara mendelik dan Nathan tetap membelitkan tangannya sambil memanyunkan bibirnya. Tidak ada kebebasan sebelum memberikan apa yang aku mau, batin Nathan.
Muaach
Satu kecupan lagi dan kali ini bukan kecupan mesra tapi kecupan kesal.
"Harder!" pinta Nathan makin keterlaluan.
"Ngelunjak!" balas Nara namun memberikan kecupan keras dan di akhiri dengan gigitan gemas di bibir Nathan.
__ADS_1
Pria itu tertawa puas kemudian membalas kecupan kekasihnya dengan ciuman dalam yang singkat.