KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
54. BUKAN HASIL YANG POSITIF


__ADS_3

Setelah Delia dan Nathan sepakat cerai, Nathan mengunjungi Nara sesuai saran dari Delia. Dia berharap kali ini Nara tidak menolaknya.


Dan disini lah dia sekarang, duduk berhadapan dengan kekasihnya yang sepertinya masih marah padanya.


"Hai Sayang, apa kabar?"


Walau kesal karena Nathan masih saja memanggilnya 'sayang' padahal udah di larang. Tapi jauh di dalam hati Nara, dia benar-benar merindukan panggilan itu.


"Hai, aku baik tapi sekarang nggak lagi karena dengar panggilanmu itu." Nara mengucapkannya dengan wajah kesal juga.


"Apa itu salah?"


Nara semakin kesal karena kalimat Nathan dan raut innosen Nathan.


"Of Course Jonathan. Kenapa harus di tanya lagi? Aku sudah bilang ist--"


"Delia sudah tahu hubungan kita. Dan dia suruh aku kesini buat perbaiki hubungan sama kamu. Ini lucu sekali, kan? Kamu nyuruh aku perbaiki hubunganku dengan Delia, Delia suruh aku perbaiki hubungan dengan kamu. Menurutmu, yang mana yang harus ku dengar? Tentunya Delia dong!" Nathan tersenyum saat mengatakannya.


Nara tak ambil hati apa yang barusan di katakan oleh Nathan.


Bukan itu yang menyita perhatiannya tetapi bagian 'Delia sudah tahu'.


"How did she know it?"


"Tak sengaja melihat poto kita, aku ada pajang di kamar."


"Ck, your crazy Nathan. Bagaimana bisa kamu pajang foto kamu bersama selingkuhanmu di rumah yang kamu tempati bersama istri sah kamu?"


Nara menggeleng-geleng mengetahui kebodohan Nathan. Sekarang Delia sudah tahu, berarti bisa saja Delia menganggapnya pelakor. Lalu, bagaimana nanti jika mereka bertemu? Apakah Delia akan mencemoohnya karena kepincut laki orang?


Oalah, sungguh berita yang tak ingin di dengar.


"Aku dan Delia sepakat untuk tidak ikut campur urusan masing-masing. Artinya kamar kami juga berbeda.


Aku tidak pernah masuk ke kamarnya dia juga begitu. Hanya saja, malam itu aku mabuk dan lupa mengunci pintu. Delia masuk dan melihat poto kita yang aku gantung di dinding dan ada juga di meja kerjaku."


Bukankah masih baru-baru ini Delia dari kantor Langit?


"Apa waktu itu dia sudah tahu?" gumam Nara pelan.


"Kapan kamu mabuk?" Ada nada marah, Nara sungguh tidak suka dengan pria yang suka minum hingga mabuk. Di keluarganya tidak ada yang seperti itu.


Minum boleh, tapi harus di batasi. Satu dua gelas mungkin belum mabuk. Itu kalau di kampung ya, karena minuman di sana paling bir dan wiski. Lain kalau di club, banyak jenis alkohol. Bahkan ada anggur.


"Maaf, Sayang. Tapi aku tidak bisa mengatasi mumetnya pikiranku setelah malam itu." Nara bisa menyimpulkan, bahwa Nathan sudah sering mabuk dari dua bulan lalu.


"Enak? Masalah kamu selesai kalau mabuk?"


Nathan menggeleng. Masalahku makin banyak, batinnya.


"Sayang, aku dan Delia akan membicarakan perceraian kami pada orang tua. Bisakah aku kembali padamu setelah itu? Aku janji akan segera membawamu pada orang tua ku."


Bukan tak percaya pada Nathan dan usahanya untuk bisa kembali dengan Nara. Tapi Nara lebih tak yakin untuk hasil akhirnya nanti.


Dari pada  kena untuk kesekian kalinya


lebih baik sekarang lebih membatasi diri. Sesekali penyesalan datang padanya, Nara sering bertanya pada diri sendiri, "kenapa

__ADS_1


dulu aku mau?"


Nara diam, tak menjawab apa-apa. Ada kebimbangan dalam hatinya. Jika dia mengatakan ya, bagaimana jika hasil akhirnya bertolak belakang? Dilema!


Satu hal yang Nara lupakan selama dua tahun ini, dia tak pernah kepikiran


tentang keluarga Nathan.  Apakah dia di


terima? Apakah pekerjaannya kategori bagus atau apakah  keluarganya dipermasalahkan nantinya? Nara benar-benar melupakan semua itu. Harusnya sebelum menerima Nathan waktu itu, dia harusnya mengingat kisah masa lalunya.


Akhir-akhir ini Nara juga baru menyadari, selama dua tahun bersama, banyak hal yang janggal. Memang, pada


awalnya mereka sepakat agar hubungan mereka tidak di publikasikan tapi jika


di ingat-ingat lagi, semua terlalu privasi bahkan hanya untuk makan bersama saja


Nathan harus reservasi vip room.


"Nathan aku tidak bisa berjanji untuk menerimamu kembali. Selama dua tahun kamu menipuku tentu saja sampai sekarang aku masih sangat sakit hati. Dan aku yakin, kedepannya kamu juga akan melakukan hal itu lagi untuk kasus yang berbeda. Aku tidak mau di bohongi lagi Nathan."


"Sayang, aku janji--"


"Stop Nathan, jangan pernah berjanji untuk suatu hal yang tidak pasti. Pulanglah!"


Nara bangkit dan meninggalkan Nathan di ruang tamu.


Sudah waktunya kembali pada tujuan awal. "Hidupku adalah pekerjaanku." Nara


mulai mensugesti dirinya untuk mengingat tujuan awal datang ke kota ini. Walau sekarang keluarganya sudah tidak kekurangan lagi berkat pekerjaannya yang bagus. Bukan berarti bisa berleha-leha dan terlarut dalam masa percintaan.


Kejadian buruk sampai dua kali oleh pria yang dicintainya membuat Nara berpikir bahwa pria memang dibutuhkan tapi tidak secara personal. Selagi masih mampu memberi diri sendiri makan maka semua akan baik-baik saja.


kabar sama sekali padahal blokirnya sudah dibuka. Tuh, kan? Semua hanya omong


kosong saja.


****


Di lain tempat


Gadis itu menunduk, meremas jemarinya yang terjalin.


Dia tidak menyangka kesialan akan menimpanya hari ini. Selama dua tahun lebih


dia bisa bebas bepergian berduaan dengan lelakinya tanpa takut ketahuan


orang tuanya. Tapi malam ini kebebasannya membuahkan hasil. Tak tanggung-tanggung hasilnya luar biasa buruk. Jika selama ini dia tidak peduli siapa yang melihatnya berduaan dengan laki-laki lain sementara statusnya sudah menjadi istri, dia bisa tutup mata dan telinga namun kali ini tidak. Yang


berdiri di hadapannya ini adalah tantenya yang entah kenapa bisa berada di


tempat seperti ini, di club malam.


"Dimana Jojo?" tanya wanita  itu sambil bersedekap. Di pandanginya keponakannya dan lelaki yang bukan Nathan itu. Seingatnya Jonathan suami keponakannya itu bukan lah pria yang di hadapannya ini, dia ingat betul


perawakannya kendati bertemu hanya pada hari pernikahan saja. Lalu siapa pria


ini? Dan apa hubungannya dengan Delia?

__ADS_1


"Di rumah, aunty ada yang aunty gak tau, nanti


aku jelasin yang penting aunty jangan bilang-bilang daddy, ya," pintanya


merengek kas anak manja yang sedang ketahuan salah.


"Siapa, Beb?" tanya Langit berbisik.


"Adiknya bokap," balasnya berbisik juga.


Langit mengangguk dan tidak gentar sama sekali.


"Namanya Langit aunty, dia pacarku,"


ucap Delia takut-takut.


Ketiganya kini berada di ruangan vip yang sangat hening, jauh dari hiruk pikuk kebisingan diluar sana.


Wanita di depannya memang duduk tenang tapi tatapan dan rautnya sangat mengintimidasi.


"Pernikahanku dan Jojo bukan mauku aunty, kami gak saling cinta, aku punya pacar Jojo juga punya aunty," lanjutnya masih


takut-takut.


Wanita itu hanya mengangguk.


"Sejak kapan?"


"Apanya?"


"Sejak kapan kalian punya pasangan


masing-masing?" ulang sang tante.


Dia ingin memastikan sesuatu sebelum menyalahkan salah satu dari kedua orang itu.


"Aku sejak belum menikah udah dekat dengan Langit, kalau Jona aku tidak tau tapi sepertinya udah lama, aku baru tau


baru-baru ini aja."


Sang tante mengangguk lagi,


"Cepat selesaikan kalian berdua, talk to your


Daddy, kasian Langit dan gadis itu di gantung kalian berdua!"


Tadinya wanita itu datang ingin menanyakan keadaan pernikahan ponakannya pada sang kakak. Dia mengira Jonathan mengkhianati


ponakannya sampai-sampai berlibur berdua dengan gadis lain ke luar negeri. Tapi


ternyata tidak seperti dugaannya. Malam ini dia ingin bersenang-senang dan


akhirnya ke club. Belum  tiga puluh


menit, dia melihat keponakannya bergelayut manja pada seorang pria yang bukan


suaminya kemudian tanpa segan-segan keduanya berciuman dalam tanpa peduli

__ADS_1


orang-orang di sekitar.


"Tante harap Daddymu bisa mengerti perasaanmu, Delia."


__ADS_2