KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
38. NATHAN & SISCA


__ADS_3

Selama sebulan ini Langit bekerja keras dan  sudah bertekat akan meningkatkan pengetahuan mengelola perusahaan dan itu terbukti. Dia tidak malu bertanya pada Andy dan sesekali meminta pendapat pada Nara. Ketiganya juga sering duduk bersama berdiskusi langkah apa saja yang bisa di ambil untuk kemajuan perusahaan,


siapa-siapa aja yang pantas untuk di ajak kerja sama dan sesekali membahas pasar dan perkembangannya.


Tuan Anwar mengangguk puas melihat perkembangan sang anak dan memujinya. Jika di ingat-ingat ini baru pertama kalinya bagi Langit mendengar pujian orangtuanya. Dia senang dan semangatnya semakin terbakar.


My Baby Luv:


[ Malam ini  batal,  auk ada acara honey]


[ Besok kita ketemu ]


Langit:


[Padahal aku kangen, pengen meluk kamu semalaman]


My Baby Luv:


[Don't worry, besok double]


[kisss]


Langit


[U owe me then, muahh]


Pertemuan Langit dan Sisca di jam kantor sudah di kurangi. Perempuan sexy itu sudah sangat jarang berkunjung.


Tapi di luar itu, jangan ditanya. Bahkan dia bisa saja tidak pulang ke rumah karena keasikan bersenang-senang, tetapi mengingat siapa dirinya, dia memaksakan untuk pulang ke rumah walau sudah tengah malam.


------------------


Di tempat lain,

__ADS_1


"Malam ini nenek  adain syukuran ulang tahun, katanya mau nostalgia ke jaman muda, jadi pilih lokasi yang memang lebih banyak di kunjungi anak muda sekarang ini," lapor Arthur sambil terkekeh menginggat nenek tua itu merengek ingin merayakan ulang tahun di tempat hits jaman now yang lebih banyak di huni para remaja dan anak-anak muda.


"Sewa satu tempat lagi?" tanya pria itu teringat pada acara yang sama tahun lalu yang menyewa satu restoran mewah.


"Nenekmu gaul juga," lanjutnya  kemudian menggeleng sambil terkekeh.


Wanita lansia yang akan merayakan ulang tahun ke sembilan puluh itu adalah nenek Jonathan dari pihak ayah. Nenek satu-satunya yang tersisa. Semakin tua, semakin banyak permintaan. Dan kali ini, sungguh keiginan tidka terduga.


"Saya mau pesta di tempat ramai anak muda. Jaman saya muda, tidak pernah ada perayaan pesta ulang tahun di cafe karena memang belum ada seperti sekarang. Dulu ada tapi namanya bukan cafe tapi kedai. Yang di jual juga hanya kopi hitam dan teh. Nenek mau di tempat seperti di tipi-tipi."


Karena sang nenek sangat di sayangi oleh semua anak dan cucunya, makan permintaan itu di kabulkan dengan menyewa beberapa meja saja di sebuah cafe.


Bunyi bib pada ponsel membuat Nathan mengurungkan niat untuk bertanya lagi mengenai acara ulang tahun neneknya itu. Biarlah neneknya melakukan apa yang dia suka dimasa tuanya ini selagi itu masih ada dibatas


kewajaran.


Kemudian terdengar helaan napas kasar dari mulutnya setelah membaca pesan yang baru di terimanya.


*****


"Melda mau lembur, gak bisa foya-foya malam ini," jawabnya santai lalu berujar lagi, "atau tanpa Melda aja?" seraya menatap jahil gadis yang bernama Melda itu.


"Kamu kalo ngasih deadline kira-kira dong Nar, itu laporan bukan selembar dua lembar coy!" keluh Melda dengan wajah lesu.


"Tiap kirim laporan perasaan kamu salah mulu dah, Mel, otakmu kayaknya perlu di reparasi," kekeh Nara dan menambah kesal diwajah Melda. Jika sampai malam ini dia tidak ikut karena laporan itu, dia berjanji gak akan ...no no.. gak bisa janji-janji, nanti malah kemakan janji sendiri, batinnya sambil menggeleng. Tapi sumpah demi apapun dia sedang kesal dengan perintah atasannya yang harus deadline hari ini dan semua itu karena Nara.


"Mangkanya jangan kebanyakan orga*me loe, Mel. Miringkan otak loe jadinya," canda  Sari tak tau tempat.


Nara yang mendengar itu tiba-tiba tersedak, karena entah kenapa bulu kuduknya merinding mengingat hal yang beberapa bulan lalu saat di Paris.


"Orang kuno emang begini nih, dengar yang sedap dikit langsung gini," sindir Melda membalas.


Para gadis itu melanjutkan makan siang sambil tertawa dan saling ejek. Dan pada akhirnya sepakat untuk hang out nanti malam.

__ADS_1


******


Nara:


[ Ntar malem aku mau keluar sama teman, cari angin]


Nathan:


[ Hmm, jangan kemaleman pulangnya, i'll call u later]


Chat pasangan yang sangat kaku tapi mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Bagi mereka yang penting masih ada komunikasi dan saling jujur jika sedang tidak bisa bersama.


Ini memang bukan akhir pekan, tapi mereka sudah tidak ketemu selama dua minggu. Tadinya Nara berharap Nathan melarangnya dan mengatakan bahwa malam ini dia akan datang karena baru pulang dari luar kota kemarin.


Balasan Nathan itu sedikit membuatnya kecewa.


****


Malam hari di Rindu Cafe,


Riuh tawa para muda - mudi dan juga band yang sedang tampil tidak menyurutkan keinginan seorang nenek untuk merayakan ulang tahunnya di tempat ini, justru semakin membakar semangatnya karena ini yang di inginkannya, ingin kembali ke masa muda dulu. Keluarga besar dan kerabat dekat sudah hadir dan sudah menikmati hidangan yang cenderung  lebih bersahabat dengan lidah muda mudi.


Pengunjung yang bergantian dengan pemain band seperti kebiasaan di cafe ini, menyanyikan lagu-lagu masa kini dan beberapa pecinta lagu lawas juga membawakan lagu lawas. Tak terkecuali para gadis di meja sudut  dekat dengan panggung itu, posisi yang langsung berhadapan dengan pintu masuk. Gadis - gadis yang jauh dari kata kalem dan jaga image itu melambaikan tangan sambil sesekali mengikuti syair lagu walau suara-suaranya sangat tidak enak di dengar.


Saat mereka masuk tadi, mereka menanyakan tentang pengunjung di sisi kanan cafe. Dan mereka mengetahui bahwa ada acara ulang tahun tapi tidak booking seluruh tempat.


"Wow, nenek itu keren juga. Biar udah tuir gitu tetap semangat." Melda berseru pada teman-temannya setelah melihat seorang nenek yang mengenakan selempang tulisan 'Birthday Girl" dan topi kertas kas ulang tahun.


Semuna pengunjung bersorak riuh menyambut sang nenek yang sudah berdiri dan berpindah dua meter dari kursinya di iringi oleh beberapa anak muda yang kemungkinan cucunya.


Semantara para paruh baya, hanya duduk sambil bertepuk tangan.


Namun keriuhan ini tidak dirasakan oleh seorang gadis yang sedang menatap ke arah pintu masuk, disana dia bisa melihat seorang gadis yang di kenalnya masuk dengan anggun lalu di ikuti oleh seorang pria yang  berjalan dengan tenang. Keduanya berjalan mendekati meja rombongan itu dan melihat ke arah sang nenek yang sedang berpesta dengan beberapa pengunjung tepat di tengah ruangan.

__ADS_1


Keduanya lalu duduk di antara rombongan itu, sebelum duduk, dia melihat gadis itu mencium pipi para paruh baya itu. Dan Nara mengenal salah satu dari mereka, dia adalah tuan Robert Sagara. Ayah dari pria yang di kencaninya. Dan pria itu ada di depannya bersama perempuan yang sering berkunjung ke kantornya - Sisca-.


Ada hubungan apa kedua orang tersebut?


__ADS_2