
"Nathan, aku harus realistis, aku tidak bisa mengatakan ya padamu, karena aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri. Aku tidak tau permasalahan rumah tangga mu, apa kalian di jodohkan atau bukan. Yang jelas, kamu sudah menikah dan itu artinya aku tidak bisa berada di antara kamu dan istrimu. Sorry Nathan, jangan minta aku untuk berjanji dan menunggumu." Kewarasan ternyata masih milik Ynara.
"Aku salah, aku udah nyakitin kamu, aku nggak lagi bela diri, aku jujur sejujurnya, aku sama Delia hanya menikah secara kertas, hanya itu. Kami sama-sama tidak bisa menolak orang tua kami, tunggu aku sebentar lagi, aku akan selesaikan secepatnya." Dengan keras kepalanya Nathan tetap meminta kesempatan dan berusaha meyakinkan Nara. Tapi Nara yang sudah terlanjur sakit itu sungguh sangat sulit untuk di sembuhkan.
"Nathan dengar! Benar hatiku merasakan kenyamanan saat aku bersama kamu. Benar bahwa aku mencintai kamu. Tapi dengan fakta yang baru aku ketahui malam ini, aku masih punya logika. Aku harus memikirkan jauh kedepannya sebelum aku membuat keputusan. Apakah orang tuamu setuju jika anak- anak mereka bercerai? Delia istri yang pilih oleh orang tuamu kan? Pasti mereka tak pernah mengharapkan perpisahan kalian." Nara menggeleng menolak semua permintaan Nathan.
"Nathan, aku tidak percaya bahwa masih ada jalan bagi kita kedepannya. Jika pun ada, pasti itu sangat sulit. Aku tidak mau menyakiti siapa pun dan aku tidak mau menjadi seseorang yang dibenci dan tak diinginkan karena harus mempertahankan hubungan ini."
"Trust me, please!" Nathan dengan wajah putus asanya menggenggam erat tangan Nara. Matanya memerah karena menahan tangis.
"Aku janji, Ynara. Aku Janj--"
"Jangan!" Nara memotong ucapan Nathan dengan cepat. "Jangan pernah berjanji!" lanjutnya lagi.
Nara sudah pernah dijanjikan oleh seseorang dulu tapi pada akhirnya janji hanya tinggal janji saja. Untuk kali ini, Nara tidak mau mendengar janji seseorang lagi apalagi sampai termakan oleh janjinya. Cukup! jangan sampai terjatuh semakin dalam.
Nara menarik tangannya dari genggaman Nathan.
"Keputusanku bulat, jangan pernah menemui ku lagi, jika suatu saat kita bertemu anggap saja kita hanya sebagai partner yang sedang bekerja sama!" Nara menatap Nathan saat mengucapkannya. Nathan yang malang! Gelengan kepalanya tanda penolakan terhadap semua kata-kata Nara tidak di hiraukan oleh gadis itu. Nara berpura-pura tidak melihatnya.
Jika menuruti kata hati, sepertinya Nara tidak masalah jadi pelakor karena cintanya sangat besar pada Nathan dan juga informasi dari Nathan bahwa hubungannya dengan Delia tidak seperti suami istri lain, tapi otak Nara belum bergeser. Kejadian malam ini di cafe jelas sekali bahwa seluruh keluarga besar Nathan sangat mendukung Delia. Dari wajah mereka yang berbinar juga terlihat sangat tulus menyayangi Delia.
"Sekarang pulanglah! Kita selesai dis---hmmpppphhh"
Nathan, yang kata Nara adalah pria bajingan, brengsek tak tau malu, malah menarik kepala Nara dan menciumnya saat Nara mengusirnya lagi. Terlihat Nara menolak tindakan Nathan, dia berusaha menarik kepalanya dan mendorong bahu Nathan tapi tangan Nathan menahan tengkuk Nara dengan kuat. Nathan mencium sedikit kasar dan mendorong tubuh Nara hingga bersandar pada pegangan tangga. Sayangnya ciuman kasar itu sangat disukai oleh Nara. Dia terbuai dan malah membalas ciuman Nathan. Keduanya saling menyesap, menempel satu sama lain seolah tak ingin berpisah. Ada sedikit rasa asin, mungkin dari air mata yang ada di pipi masing-masing.
"Enough! This is the last time!" Nara mendorong Nathan lalu mengusap bibir dan wajahnya yang basah.
"Please go out!
"Sayang--"
"Go out!" Nara mengangkat telapak
tangannya ke arah Nathan untuk memutus kalimat yang akan menyembur dari mulut
Nathan. Nara sangat lelah. Lelah batin dan raganya.
"Sayang please--!"
"GO-OUT- NOW!"
******
Satu minggu berlalu dengan cepat, setiap hari Nathan rutin mengirimkan pesan pada Ynara dan sayangnya semua hanya di read tanpa
membalasnya selayaknya koran. Kata cinta dan permohonan maaf selalu tersemat
dalam pesan Nathan.
Tanpa ada yang mengetahui penyebabnya, Nara kini berubah menjadi lebih pendiam dan lebih murung. Wajahnya kembali mengetat dan emosinya tidak terkontrol. Bahkan teman-temannya bisa menjadi sasarannya juga.
__ADS_1
"Are you oke, Ynara?" Sari dan Dina
memandang Ynara yang menurut mereka kini semakin tirus dan auranya seperti menggelap.
"Ya, don't worry! aku oke!" Nara tersenyum
tapi itu bukan senyum yang menarik lagi seperti biasanya. Itu hanya senyum
penenang dan sekaligus menjadi senyum peringatan agar tidak menanyakan banyak
hal padanya.
"Tapi menurut gue, loe nggak oke! Kamu sedikit pucat dan murung akhir-akhir ini." Dina bersikeras menanyakan keadaan Nara.
"Beneran Din, i'm oke! Mungkin karena aku
kelelahan makanya pucat." Kelelahan apanya? Bahkan satu minggu ini dia selalu pulang saat jam kerja kantor selesai. Kebiasaan Nara yang selalu pulang lewat dari
jam kantor atau bahkan lembur karena tidak ingin membawa pekerjaan ke rumah
tiba-tiba berubah menjadi orang yang pertama kali pulang saat sudah tiba jam
pulang. Kadang dokumen yang perlu di periksa juga di abaikan untuk besoknya
karena alasan tidak sempat lagi, sudah mau pulang.
"Jika kamu perlu teman cerita, kita-kita ad
---"
suara sendok yang di banting di atas meja. Sari dan Dina menatap heran Ynara
karena tindakannya itu. Sungguh, ini bukan Ynara yang mereka kenal.
"I said i'm oke. Aku tidak butuh teman untuk
bercerita, tapi kenapa kamu selalu mendesak? Apa segitu perlunya curhatan
dariku untukmu?" Dengan sangat datar Nara bertanya pada Dina dan tatapan matanya sangat kejam.
"Selera makanku jadi hilang!" Usai
mengatakan itu. Nara bergegas berdiri dan meninggalkan kantin dengan iringan
tatapan penuh pertanyaan penghuni kantin. Lepas itu, suasana menjadi ricuh karena membicarakan perubahan itu.
"Apa aku salah bertanya? Aku hanya bermaksud membantunya!" Dina berbicara pada Sari dan air matanya menetes. Sari di
sampingnya hanya bisa mengelus lengan Dina. Keduanya tidak menyangka, Ynara
gadis lugu dan ramah itu bisa marah tanpa mereka ketahui apa penyebabnya.
__ADS_1
"Ada apa? Kok semua bisik-bisik."
Melda yang baru saja masuk ke kantin dan duduk di depan Sari bertanya. Dia melihat ada piring makan siang yang tersisa
masih lebih dari setengah porsi.
"Nara mana?" tanyanya kembali seraya
mencomot satu bonggol sayur dari piring Nara.
"Woy!" Melda mengibaskan tangan di depan
wajah teman-temannya karena dia di hiraukan. "Kalian kenapa, sih? Kok
mukanya pada gitu? Nara mana? Aku mau protes, masa aku harus menghabiskan waktu
makan siangku yang berharga hanya untuk revisi laporan. Ck! Malas bangat sama
dia sekarang. Ngamok terus perasaan."
"Ynara pergi karena marah. Makanya mereka
bisik-bisik. Nara membentak Dina tadi. Lihat! Dina sampai gemetaran."
"Masa, sih?"
"Tanya aja orang-orang disini."
Hingga Jane juga datang dan mendengar cerita dari teman-temannya. Empat gadis itu membicarakan Nara dan menyimpulkan mungkin masalah keluarga.
*****
Tanpa mengedipkan mata, Nara melihat wanita itu berjalan anggun ke arahnya. Wanita bergelar istri itu tersenyum lalu menanyakan
keberadaan Langit.
"Langit ada, kan?" Walau dia tersenyum,
senyum itu terasa canggung. Sudah lama sekali rasanya wanita itu tidak berkunjung.
"Ada, silahkan masuk saja, Mbak!" Nara
juga berusaha senyum walau dalam hati dia mengatai bahkan mengumpati wanita
itu. 'Dasar perempuan. Apa dia tidak ada rasa malunya? Jelas-jelas aku tau dia
siapa, malah tidak ada canggungnya datang kesini.'
Nara menggeleng dan menarik napas lalu membuangnya dengan
cepat. "Bukan urusanmu, Nar!" Dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak mempedulikan wanita itu. 'Siapa dia dan bagaimana dia dengan orang
__ADS_1
lain itu bukan urusanmu, Nar. Bagaimana hubungannya dengan Nathan juga bukan
urusanmu kini.'