
Raut-raut terkejut itu masih saja menatap tajam ke arah sepasang suami istri itu. Apa yang salah? Nathan hanya menyampaikan apa yang ada di hatinya dan sudah kesepakatan mereka berdua juga.
Malam ini pasangan itu sengaja makan malam di rumah besar tuan Robert demi misi yang sudah di susun beberapa minggu terakhir.
"Ulangi, Jo!" perintah kaisar rumah -tuan Robert- dengan datar.
"Kami ingin bercerai," ulang Nathan lugas.
"Kami? Delia?" Nyonya Marta menaikkan suaranya dan mengarahkan pandangan pada menantunya.
"Iya, Ma. Kami sudah sepakat," jawab Delia pelan lalu menunduk.
Nyonya Marta langsung menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi begitu mendengar jawaban dari menantunya itu. Bukankah baru bulan lalu dia keluar bersama menantunya dan Nathan dan semua terlihat biasa aja? Nyonya Marta memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing.
"Dengar kalian berdua, kata-kata ku belum berubah. Tahun ini harus ada keturunanku dari kalia." Tangan tuan Robert menunjuk Nathan dan Deli bergantian.
"Buatkan janji dengan dokter Marita, secepatnya!" titahnya pada sang istri.
"Tidak akan ada anak diantara aku dan Delia karena kami akan bercerai, tolong mengerti kondisi kami, Pa." Nathan berucap untuk menghentikan langkah papanya yang hendak meninggalkan meja makan.
"Berikan papa alasan kenapa kamu ingin bercerai," Tuan Robert berkata datar dan akhirnya memilih untuk duduk kembali.
Sambil menunggu jawaban Nathan, beliau duduk tegak dengan dua telapak tangan terjalin dan di angkat sebatas dagu dengan siku bertumpu di meja.
"Kami tidak cocok dan kami tidak bahagia, Pa. Selama dua tahun ini, kami tida--"
"Itu karena kamu gak niat, Jo. Apa yang kurang dari Delia?" potong tuan Robert. Delia adalah pasangan yang ideal untuk Nathan.
"Cantik, berpendidikan, ada usaha, orang tua jelas dan kaya dan terpandang, bibit bebet bobotnya jelas.
Kalau tidak cinta dan tidak bahagia selama dua tahun, berarti tidak ada usaha kamu, Jonathan." Gigi tuan Robet merapat dan suaranya sanga datar dan penuh tekanan saat mengucapkan nama Jonathan.
Semua itu kelebihan yang selalu di agungkan keluarga Sagara tanpa bertanya pada Nathan apakah suka atau tidak.
__ADS_1
"Tidak ada yang kurang dari Delia, seperti yang papa sebutkan, semua dia punya itu. Dia sempurna. Tapi kami memang tidak cocok.
Kami sudah bicarakan ini dan kami sudah sepakat untuk bercerai baik-ba--"
"Tidak akan ada perceraian sampai kapanpun," potong tuan Robert tegas. Tangannya memukul meja dengan tiba-tiba dan membuat hidangan di atas meja berguncang dan tumpah. Nyonya Marta sampai berjengit karena kaget. Begitu juga Sarah dan neneknya.
Mereka hanya sebagai pendengar sedari tadi. Tatapan mereka mengarah pada Nathan dan Delia dengan arti masing-masing. Jika nenek sangat menyayangkan keputusan pasangan itu, berbeda dengan Sarah, Sarah ingin melihat kedua orang itu bahagia dengan pilihan masing-masing. Selama ini, walau Delia adalah iparnya, dia tidak terlalu suka. Karena gaya hidup Delia yang memilih lebih bebas.
Melihat Nara bersama Nathan hari itu, dia jelas memilih Nara karena tampak kakaknya Jonathan sangat mencintai gadis itu.
"Ma, hubungi dokter Marita sekarang dan buatkan janji untuk pemeriksaan besok!"
Tuan Robert menoleh pada istrinya yang duduk lunglai di kursinya. Sesekali terlihat memijit keningnya.
"Pergi dan periksa apa yang salah sampai dua tahun tidak hamil. Kalo perlu ikut program bayi tabung!" lanjutnya pada pasangan muda itu sambil berdiri.
"Apa aku tidak berhak atas diriku sendiri?"
tanya Nathan pada akhirnya. Suaranya sangat datar dan tanpa memandang papanya sama sekali.
Tuan Robert berhenti, tidak jadi melangkah. 'Bagus sebaiknya aku keluarkan semua uneg-unegku selama ini,' batin Nathan.
"Apa aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri atas hidupku? Apa semua harus sesuai keinginan Papa? Aku sudah tiga puluh empat dan aku tidak bisa memutuskan akan jadi apa aku? Hidup dengan siapa? Aku sudah korbankan semua.
Sejak kecil aku sudah ikutin semua kemauan kalian, sekolah disini, kuliah disini,
kamu harus jadi ini, semua aku turuti. Apa kali ini aku gak bisa nentuin pilihan hidupku sendiri?"
Sarah menangis, saudaranya yang selama ini hidup tenang ternyata menyimpan beban berat. Nyonya Marta juga menangis, mendengar semua apa yang di tuturkan Nathan. Tidak ada yang salah, Nathan memang melakukan semua itu.
"Setuju tidak setuju, aku dan Delia akan bercerai. Jangan ada pertanyaan kapan punya anak karena itu tidak akan pernah ada."
Nathan langsung pergi setelah mengatakan semua uneg-uneg yang bersarang dan mungkin sudah berakar di otaknya. Nathan memilih pergi karena takut jika tetap disana dia tidak bisa menahan emosi karena tidak bisa mengungkapkan segala apa yang sedang ada di pikirannya. Lebih baik menyendiri dulu. Membiarkan keluarganya memikirkan kata-kata yang barusan dia semburkan dari mulutnya.
__ADS_1
Nathan berdiri di tepi kolam melihat bayangan dirinya sendiri di air.
"Kau, boneka kendali keluarga ini, sekarang tali pengikatmu sudah terlepas satu," gumamnya pada bayangan itu.
******
Sisca berjalan pelan ke arah Nathan. Dia juga meninggalkan mertuanya di ruang makan dalam keadaan kacau. Tuan Robert tadi sangat ingin berlari ke arah Nathan tetapi di halangi oleh Nenek.
"Biarkan dia tenang dulu! Jangan terlalu memaksakannya, Robert!" ucap sang Nenek.
"Akhirnya kamu berhasil juga mengalahkan dirimu sendiri," puji Delia pada Nathan. Keduanya berdiri bersisian di tepi kolam.
"Terima kasih karena sudah berani mengatakan keinginan kita. Maaf, aku terlalu pengecut tadi. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membantumu. Seharusnya aku juga mengatakan bahwa kita tidak cocok walau sudah berusaha selama dua tahun."
Nathan masih bergeming, hanya bertindak sebagai pendengar. Dia juga barusan memuji dirinya dan euforia kemenangannya melawan diri sendiri dan menantang orang tua untuk kali pertama dalam hidupnya masih terasa.
"Aku berharap, apapun yang kita harapkan malam ini, bisa sesuai hasil yang kita inginkan," lanjut Delia.
Nathan hanya mengangguk dan berkata dalam hati bahwa dia juga punya harapan yang sama.
Perpisahan adalah jalan terbaik bagi merek berdua. Jika tidak, mereka akan terjebak dalam mahligai rumah tangga yang tidak ada arah dan tujuan. Tidak ada pondasi. Bagaimana bisa bertahan? Suatu hari juga pasti akan roboh. Sebelum menjadi penyesalan, lebih baik di putuskan secepat mungkin.
Dua tahun hidup seatap tapi tak pernah sekamar dan akhir-akhir ini selalu di buru dengan pertanyaan mengenai anak, Anak darimana?
Keluarga besar mereka tidak tau saja, bahkan mengetuk pintu kamar masing-masing pun keduanya tidak mau. Dua tahun menikah tapi mereka tidak pernah bersikap selayaknya suami istri.
Sesekali bertemu di meja makan saat sarapan. Sarapan pun dalam diam. Jangankan makan siang, makan malam bersama saja mereka tidak pernah. Delia lebih sering bersama Langit. Nathan lebih sering menjadi budak orang tuanya sampai malam.
Seandainya tidak ada Langit, mungkin
Delia akan semakin kesepian. Akan terjebak semakin lama bersama Nathan dalam ikatan pernikahan. Jika suatu saat bercerai akan jadi pertanyaan juga, janda tapi perawan.
"Untuk urusan keluargaku, tenang saja. Daddy pasti sudah tau apa yang kulakukan diluar
__ADS_1
sana. Bahkan siapa yang dekat denganku, papa pasti sudah tahu. Aku berani taruhan, Jo." Delia menatap Jonathan yang juga menoleh padanya karena penasaran dengan kalimat yang baru saja terucap.
"Kamu dan Nara juga pasti tidak luput dari pantauan Daddy. Serapat apapun kamu menyimpannya, jika ada celah sedikit saja. Pasti akan di buka oleh Daddy."