KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
28. SALING CINTA SAJA TIDAK CUKUP


__ADS_3

(Sedikit Mature ya teman-teman. Adek-adek -18 bisa skip!)


*******


Kata-kata maaf menenangkan hati gadis yang sedang bergejolak itu.  Sekarang dia sadar bahwa sampai kapanpun persoalan harkat, martabat, tahta, kasta akan selalu menjadi hal yang terdepan dalam menjalin hubungan. Kemana gadis keras kepala ini saat pertama kali mendengar kata cinta dari Nathan? Kenapa dengan mudahnya terbawa suasana saat Nathan mengungkapkan perasaannya? Setahun menjalin kasih, semua berjalan baik tetapi ternyata dia melupakan satu hal, keluarga Nathan.


Mereka masih berpelukan ketika Nathan bersuara.


"Maafkan aku yang tidak berpikir sejauh itu. Kamu benar, ternyata kita saling mencintai saja tidak cukup selama kita


memiliki keluarga utuh." Nathan mencium ubun-ubun Nara untuk menyalurkan permohonan maaf.


Setelah dia sadari, ternyata dia egois, dia tidak memikirkan posisi gadis ini jika seandainya dia menikahi gadis ini tanpa persetujuan orang tua bahkan tanpa pengetahuan mereka. Nara bukan gadis yang bisa di bodohi dengan membawa orang tua bohongan seperti yang sempat singgah di pikirannya. Nara jelas tahu, siapa Nathan.


"Tapi, aku serius Ynara. Aku ingin menikahimu. Baiklah, dalam waktu dekat aku akan membawamu pada orang tuaku, aku akan membereskan beberapa hal sebelum membawamu, tunggu aku. oke!" pintanya seraya berjanji.


'Tuhan, tolong beri petunjuk untuk menyelesaikannya,' pintanya dalam hati.


Nara hanya mengangguk di dada pria itu. Mengeratkan pelukan dan berharap semua baik-baik saja. Berharap semoga keberuntungan kali ini berdampingan dengannya. Dia sungguh tidak ingin jatuh ke lubang yang sama.


"Aku tunggu," jawabnya pelan memberi dukungan pada Nathan. Sebenarnya dia ingin bertanya hal apa yang perlu di bereskan. Tapi, dia belum siap jika hal yang di maksud Nathan itu adalah suatu yang bisa menghambat hubungan mereka. Biarlah jika hal itu memang bukan sesuatu yang baik, biarkan Nathan menyelesaikannya sendiri tanpa sepngetahuan Nara. Nara tidak mau menambah beban pikiran jika itu hal yang buruk.


Nathan merogoh sesuatu dari kantong celana, mengambil tangan Nara dan langsung menyematkannya di jari Nara tanpa bertanya. Nara hendak protes tapi di potong oleh Nathan.


"Pengikat. Aku tidak mau kamu berpaling saat aku sedang berusaha." Nara mendengus pada akhirnya setelah mendengar alasan Nathan.


"Aku cewek setia tau!" ujarnya pura-pura kesal. Dia mengangkat jarinya yang berisi cincin pemberian Nathan hingga melewati kepalanya. Dia mendongak melihat kilau yang di pancarkan permata dalam cincin itu.

__ADS_1


"Aku tahu dan aku percaya, hanya saja, aku ingin kita terikat. Ingat ini, dan berjanjilah padaku bahwa kamu akan bersamaku apapun yang terjadi." Nathan berucap dengan sangat serius dan itu semakin menimbulkan kecurigaan di dalam pikiran Nara.


"Nathan, bisakah kamu jujur padaku, apa yang sedang kita hadapi?" tanya Nara dengan dahi berkerut. Dari ucapan Nathan, ini tidak sesederhana masalah orang tua yang tidak memberi restu.


Jermarinya yang lain mengelus cincin di jari manisnya dan sesekali memutarnya.


"Aku sudah pernah berada pada posisi seperti ini dulu, jadi aku sudah sedikit tahu. Tapi, aku merasa ini tidak seperti yang aku hadapi dulu. Sepertinya ini lebih rumit," ucap Nara lagi.


"Stttt!" Nathan menempelkan jarinya di bibir Nara.


"Jangan berprasangka buruk. Aku bisa menghendelnya. Kamu hanya perlu berjanji untuk tetap setia menungguku dan mendampingiku apapun yang terjadi. Janji?" Nathan menempelkan keningnya di kening Nara dan menggenggam tangan Nara. Nara mengangguk samar. Walau dalam hati masih bertanya-tanya.


"So, Ynara Ramsey. Maukah kau menikah denganku? Tidak apa-apa jika tidak sekarang, tapi aku butuh jawabanmu."


"Ck, aku kan udah bilang tadi, aku jawab iya dengan cepat, asal ada restu orang tuamu. Kenapa ditanya lagi? Lagian ini cincin lamaran dari kamu udah  ada di jari aku," jawab Nara pura-pura kesal.


Hmmmpppp


Ungkapan protes dari Nara terpotong dengan aksi Nathan yang menciumnya. Ciuman dalam yang melebihi kata romantis. Nara mengimbangi Nathan. Oo come on, ini bukan yang pertama, dia sudah berpengalaman.


Dan yang sedang bersamanya adalah gurunya.


Kepala miring kiri miring kanan tidak ada yang mau mengalah. Tangan Nathan yang berada di punggung kini mengelus-elus pelan memberi sensasi dan semakin menaikkan hawa panas  tubuh. Ciuman terlepas dan keduanya menghirup udara dengan tergesa.


Seakan tidak rela berhenti, Nathan melabuhkan bibirnya kembali dan di sambut oleh Nara yang seolah-olah sangat mendamba, udara dingin di sekitar mereka menghangat dan sesuatu akan terjadi jika saja ponsel di kamar sejoli ini tidak berdering.


"Biarkan saja!" Nathan tak menghiraukan ponselnya yang berdering  dan menampilkan nama  Sarah sebagai pemanggil.

__ADS_1


Tak ingin mendengar protes yang akan dimuntahkan gadis itu, Nathan segera membungkam  kembali bibir yang sudah menjadi candunya itu dengan lebih keras dan menuntut. Tangannya meraih kedua tangan Nara dan mengalungkannya di  pundaknya.


"Siapa tau itu penting," ucap Nara di sela ciumannya.


"I don't care!" jawab Nathan seraya menggeleng. Tidak menghiraukan protes gadis itu yang ingin menyudahi sesi


ciuman mereka. Sesaat pikiran jahat merasuki Nathan.


Nara tidak akan menolaknya lagi nanti dengan alasan apapun jika dia berhasil menghamili gadis itu. Iblis di pikirannya berseru, "Hamili saja! Hamili saja!"


Suasa malam yang syahdu dan dingin berubah menjadi panas  oleh gaairah yang diciptakan sejoli itu. Ada sesuatu yang menuntut untuk di tuntaskan. Tangan Nathan semakin aktif , satu tangannya menahan tengkuk gadis itu dan satunya lagi mulai bergerak halus mengelus-elus punggungnya dan perlahan-lahan mengarah ke lengan.


Nara yang terbuai tiba-tiba tersadar, dia mendorong tubuh Nathan pelan untuk melepas tautan mereka.


"Stop! Enough! Kita sudah terlalu jauh." Napasnya terengah dan kepalanya menunduk. Thanks God, aku sadar sebelum hal buruk menerpaku, batinnya.


Nathan yang sebenarnya ingin melanjutkan, mengurungkan niatnya dan segera mengusir roh jahat dari pikirannya.


"Sorry, aku kelepasan!" ucapnya seraya menarik kimono satin Nara yang sempat dia turunkan dari pundak gadis itu.


"Aku nggak akan ulangi lagi, aku terbawa suasana. Maaf ya, Sayang!" ucapnya lagi.


"Hmm, bukan salah kamu, aku juga terbuai. Thanks udah ngerti dan nggak maksa lanjutin," balas Nara seraya mengeratkan kimononya.


Tak terbayang akan seperti apa reaksinya jika mereka tidak bisa menahan nafsuu mereka. Semua akan berubah dan Nara yakin, hal itu akan membawa nasib buruk baginya untuk ke depan.


Bagaimana jika dia tadi tidak sadar, bagaimana jika dia hamil? Astaga! bunuh diri adalah solusi jika itu sudah terjadi.

__ADS_1


Sementara itu, di balkon sebelah. Seseorang menghembuskan napas lega ketika melihat aksi sejoli di balkon sebelahnya berhenti. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok balkon dan menjatuhkan tangannya yang menegang ke sisi tubuhnya membuat ponsel di tangannya nyaris terjatuh. 'Lovely Jojo' adalah nama paling atas di daftar panggilan keluar.


__ADS_2