KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
6. MASIH SERING LUPA


__ADS_3

    Belum genap dua bulan pelatihanku dengan mbak Nana, hari ini mbak Nana sudah mulai mengikut sertakan aku dalam meeting-meeting yang diadakan didalam kantor maupun diluar kantor.


            Aku benar-benar udik, bagaimana bisa aku pusing dan hampir mabuk perjalanan dari kantor ke lokasi meeting hanya karena pewangi mobil mewah ini? Astaga,  ini memalukan!


Aku komat kamit dalam hari 'jangan sampai - jangan sampai', maksudku jangan sampai muntah. Dan thanks to God, I'm Oke walau sedikit pusing.


            Aku mengikuti meeting ini dengan sangat baik dan menjadi notulen di meeting ini.


"Buat kesimpulan dari meeting hari ini dan antar keruanganku secepatnya!" titah yang mulia Ratu mbak Nana begitu kami menginjakkan kaki dipelataran kantor.


"Baik yang  mulia," ehhh keceplosan pemirsah. Aku menutup mulutku dengan tangan  kiri  yang sedang memeluk beberapa dokumen meeting kami tadi sementara tangan kanan menjinjing tas laptop.


"Kamu bilang apa?" tanya mbak Nana, aku menggeleng tak jelas, jangan sampai dia dengar apa panggilannya tadi.


"Saya dengar!" tegasnya sambil merapatkan gigi, belum sempat kujawab karena tiba-tiba kami mendengar pak Anwar -Boss Besar- kami terkikik.


"Itu cocok untukmu Nana," katanya dengan kekehan geli sambil melanjutkan langkah memasuki lift menuju lantai tempat kami bekerja.


Aku mengikuti keduanya dan masuk kedalam lift yang kemudian bergerak mengangkat kami ke lantai tujuh.


            Sesampainya di meja kerjaku yang terdapat di luar ruangan tepat di depan ruangan mbak Nana,


aku membuat ringkasan  dan inti  sari pertemuan kami tadi bersama partner kami. Aku menyelesaikannya dengan cepat dan mengantarkan ke dalam ruangan mbak Nana.


Mbak Nana memuji kinerjaku, kata beliau aku meningkat tujuh puluh persen dari bulan lalu.


Senangnya..


            Hari-hari berlalu, aku bekerja dengan baik, mbak Nana memberiku tugas tugas yang ringan


dan berat dan aku berhasil. Aku sering di puji akhir - akhir ini dan itu membuatku senang dan semakin membakar semangatku. Untung aku tidak lupa diri dan melayang karena pujian itu, Karena jika sampai itu terjadi, aku pasti di

__ADS_1


tendang dengan keras dari jabatanku ini.


            Hari ini, karena salah satu partner kami mendadak mengubah pertemuan dengan alasan  tertentu, sementara pak Anwar sudah memiliki jadwal. Akhirnya mbak Nana akan berangkat sendiri dan aku yang


akan mendampingi Boss besar-Pak Anwar-.


            Masih sedikit kurang percaya diri, karena ini kali pertama aku pergi tanpa mbak Nana.


Aku khawatir, aku membuat kesalahan. Aku sedikit gugup saat berada di dalam mobil dalam perjalanan kami. Mungkin pak Anwar melihatku sedang gelisah makan beliau bertanya,


"You oke, Nar?" tanya pak Anwar dari kursi penumpang di tengah. Mungkin beliau melihatku seperti cacing kepanasan yang tidak bisa diam. Atau mungkin mendengar helaan nafasku yang keras beberapa kali.


"Saya oke, Pak, hanya ... sedikit gugup. Ini pertama kalinya saya tanpa mbak Nana." Aku jujur. Semoga beliau mengerti.


"Ooo... Biasa aja, jangan gugup. Kali ini yang akan kita jumpai orang muda seperti kamu, jadi santai aja!" Beliau mengatakan dengan sedikit kekehan.


Biar orang muda, tapi kan pengusaha pak, nggak mungkin aku ajak santai.


Mungkin maksud pak Anwar, karena masih muda, pemikiran kami masih sama. No! Pak. Orang muda jaman sekarang banyak yang cerdas, kadang karena kecerdasannya, kita bahkan tidak nyambung saat bicara.


--------------------------------


"Kerja bagus, Nara!" puji bos ku - Pak Anwar-


"Terimakasih, Pak," jawabku membalas pujiannya, dalam hati aku sudah jingkrak-jingkrak.


Sekretaris bos pasti di tangan ini pikirku. 'Jangan sombong' kata batinku menegur.


"Masih muda, kan?" tanyanya lagi.


"Iya, Pak. Tapi dari cara bicaranya sepertinya sudah sangat berpengalaman," jawabku sedikit lebih panjang.

__ADS_1


"Oya jelas, papanya pengusaha terkenal, dan sepertinya dia ikutin jejak papanya."


Biasa, para pengusaha kan begitu. Bahkan anak masih di bawah umur udah di private kan mengenai bisnis.


Gak heran sih, kekayaannya turun temurun bahkan makin kaya.


Orang yang tadi meeting bersama kami, katanya sudah menjabat direktur. Tapi masih sangat muda. Bahkan aku rasa belum sampai di tiga puluh. Tapi, weh... hebat puuuol...


            Kami kembali kekantor dan membuat ringkasan seperti biasa yang nantinya akan di tanda tangani oleh pak Anwar, tapi terlebih dahulu harus melewati mbak Nana, beliau akan memastikan tidak ada yang salah pada laporan sebelum di sahkan oleh pak Anwar.


-----------------


"Bu selamat ulang tahun, Ibu harus sehat-sehat sebentar lagi Ryan lulus kuliah, Ibu harus lebih semangat!" ucapku di telpon pada wanita cantik diseberang sana.


"Iya, Nak, Ibu pasti akan lebih sehat." Aku bisa mendengar ibu menahan tangis, dan aku tahu itu tangis bahagia.


"Pasti, apalagi sebentar lagi ibu akan punya menantu, putri ibu tambah satu lagi," kataku mengingat kakakku yang akan menikah sebentar lagi. Ibuku hanya terkekeh senang dan berkata,


"Kalau ibu sudah punya menantu, terus punya cucu, kasih sayang ibu banyakan ke cucu dari pada sama kamu." Astaga Ibu, belum punya aja udah ada rencana apalagi kalo udah punya.


"Nanti aku menghilang dan gak pulang-pulang lagi," balasku tak mau kalah.


"Huss,  ndak baik ngomong begitu," nasihat ibu buru-buru.


"Hahaha Nara cuma bercanda ibu, sejauh apapun Nara merantau Nara akan tetap ingat jalan pulang," jawabku sok bijak.


            Banyak hal yang kami bicarakan , kami bergosip ria seperti kebiasaan kami di rumah.


Aku jadi rindu rumah. tapi 'pantang pulang sebelum berhasil' tekatku lagi.


            Abangku, akhirnya akan melepas masa lajangnya. Sudah sepantasnya sih, umur sudah hampir tiga puluh. Di kampung kami, untuk orang yang tinggal disana, itu sudah termasuk tua. Beda hal, kalau merantau. Tiga puluh masih muda dan perlu bekerja keras untuk mendongkrak ekonomi keluarga. 'Untuk apa di lama-lama kan, toh

__ADS_1


tinggal di kampung juga, ujung-ujungnya pasti menikah dengan orang sini-sini juga.'Begitu kira-kira prinsip kolot orang-orang di kampungku. Apalagi kalau perempuan, mau dia kerja bertani atau buruh atau PNS sekalipun, umur dua lima wajib menikah. Kalau tidak, di katain perawan tua. Dan orang tuanya pasti akan sibuk cari jodoh untuk anak-anak. 'Eh, kamu ada kenalan nggak yang kira-kira cocok dengan anak gadisku ini, udah dua puluh empat masih aja belum kawin-kawin. Mau jadi apa dia nanti kalau kawin ketuaan.'


            Aku mengakhiri sesi telponan dengan Ibuku, lalu tiduran di ranjang kostku yang nyaman ini, aku membuka akun media sosialku, hanya scrol-scrol saja, karena aku tipe human yang malas menuliskan komentar di update-an teman-teman sosmed ku. Kadang aku tertawa melihat poto-poto dan video-video teman-teman sekolahku, kadang aku mencibir tak jelas juga kala membaca status status alay. Sampai tiba-tiba ...


__ADS_2