KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
9. LIFE START HERE


__ADS_3

Setahun sudah aku menjadi sekretaris Pak Anwar. Mbak Nana resmi keluar dan katanya mau healing


keliling dunia sampe tabungannya habis.


"Mbak mau habiskan tabungan dulu, mau senang-senang, beli ini beli itu, habis itu Mbak kerja lagi nanti, cari duit lagi yang banyak," katanya waktu itu sambil beres - beres barang-barang di kantornya. Aku yang ikutan membantu memasukkan beberapa barang ke dalam dus  hanya mengangguk dan mendoakan apa yang terbaik buat mbak Nana. Tak lupa menyematkan namaku dalam doa ku agar aku bisa seperti mbak Nana.


Enak ya yang punya duit banyak, pengen deh kayak gitu. Liburan, shopping - shopping tanpa intip label


terlebih dulu. Wahhh kapan ya...


"Pak Anwar boss yang baik, kalo kamu kerja bener, kamu nanti pasti dikasih bonus, jangan aneh-aneh sama beliau, gak akan mempan!" nasehatnya padaku. Matanya melotot saat mengucapkannya. Dasar, aneh-aneh apa maksudnya? Genitin pak Anwar?


Astaga! Walau aku jomblo, aku nggak berniat gaet kakek-kakek. Aku nggak seputus asa itu walau di tinggal kawin, mbak!


"Iyaaaa, Mbak. Macam  aku gadis kegatelan aja," jawabku sewot.


Sebelum mbak Nana  resign, beliau juga kasih tau ke aku bahwasanya Pak Anwar punya tiga orang anak, dan aku udah ketemu sama dua orang, yang waktu itu Mas Angkasa dan satu lagi anaknya yang cewek namanya Sinar. Untuk yang satunya, aku tidak tahu bagaimana rupanya. Belum pernah ketemu. Tapi kata mbak Nana, si Sulung itu seorang casanova. "Kamu harus hati-hati ya, Nar. Jangan mudah masuk rayuannya. Dia ahlinya!" katanya waktu itu.


    Mbak Sinar ini kayaknya seumuranku gitu dan masih kuliah di luar negeri. Anaknya supel bangat kayak mamanya -Bu bos-, elegan dan modis. Kadang aku menjadikan mbak Sinar jadi panutanku dalam berpakaian. Aku sering melihat gaya modisnya yang  sangat oke memadupadankan warna-warna pakaiannya. Mau warna yang tabrak lari aja pun kelihatan cocok aja gitu sama dia.


Tapi, dasarnya aku orang udik dari kampung - kampung tetap aja aku nggak pede dan bahkan mengatakan padu padan yang sudah aku create itu norak. Aku merasa kayak ondel-ondel bahkan orang-orangan sawah saat aku menirunya. Untuk mensiasati, jadi aku mengambil garis tengah, menggunakan warna-warna soft.


Seperti hari ini, aku memakai  celana biru cerah dan kemeja putih, awalnya aku nggak pede tapi aku beranikan untuk mencoba. Dan wow, setiap aku melihat diriku di cermin aku seperti orang berbeda, aku terlihat lebih


cerah dan lebih muda dari biasanya, yang mana aku terbiasa memakai pakaian formal dengan warna gelap dibagian bawah dan warna lain di bagian atas.


    Aku orang udik ini selalu berpikir bahwa celana atau rok hitam adalah warna yang pas untuk dipakai kerja sehari-hari. Warna yang monoton itu membuat tampilan ku kadang-kadang suram dan gelap dan seperti ketuaan. Tapi berkat keberanianku hari ini aku seperti gadis cen - cen yang sedang puber dan sedang panas-panasnya mencari perhatian.


"Kamu kelihatan lebih fresh, Nar, " Puji bu boss -Bu Melinda- saat aku menyambut pasangan itu di depan ruangan Pak Anwar. Fyi, Ruangan Mbak Nana yang digadang-gadang jadi ruangku  tidak jadi kutempati pemirsa,  aku tetap di meja kerjaku yang dulu hanya saja ada sedikit renovasinya jadi seperti kubikel. Ruangan  Mbak Nana jadi ruangan wakil Pak Anwar yang di jabat oleh keponakannya. Namanya Andy Pramudya.


    Niatku dulu yang ingin pamer di sosmed jadi gagal. Memang ya, sesuatu yang mau di sombongkan itu hasil akhirnya akan selalu mengenaskan.


"Terimakasih, Bu," jawabku santun dengan senyum andalanku.


"Kamu harus sering-sering berpakain seperti ini, yang penting harus tetap sopan! Kamu kelihatan jadi lebih muda, Nar," lanjut beliau.


"Baik, Bu," jawabku lagi.


Seandainya beliau tahu siapa yang menjadi panutanku dalam berpakaian hari ini, pasti beliau makin senang dan bangga.


Bu Melinda masuk keruangan pak Anwar dan aku melanjutkan pekerjaanku.


Pak Andy yang menjabat sebagai wakil itu sebenarnya bertindak selayaknya asisten dan dengar-dengar  akan menjadi penerus perusahaan ini karena anak anak Pak Anwar tidak bersedia dan ingin berkarir sendiri.

__ADS_1


Hebat ya! Walau sumber uang sudah di depan mata dan tak perlu merintis dari nol lagi, tapi tetap ingin memulai dari nol.


Walaupun Pak Andy bertindak sebagai asisten, tetapi jika ada pertemuan diluar,  aku tetap diikutsertakan.


Selama setahun jabatanku ini, aku menjadi sekretasi kesayangan pak Boss. Eitchh stop negative thinking. Kesayangan maksudku disini adalah diperlakukan seperti anak sendiri, tidak hanya oleh Pak Anwar, Bu Melinda pun seperti itu. Jika kerjaanku tidak banyak atau Pak Anwar cukup hanya didampingi oleh Pak Andy. Kadang Bu Melinda mengajakku menemaninya shopping atau kesalon atau menemaninya mengikuti kegiatan-kegiatan amal bahkan kearisan sosialitanya. Aku di perkenalkan sebagai asistennya dan aku senang. Karena dari hal-hal ini aku mendapat banyak pengalaman, pengajaran hidup dan  kenalan yang walau hanya kenal begitu saja. Saya tau batasan pemirsah..


    Kadang Bu Melinda juga membelanjaiku, membelikanku pakaian-pakaian bagus yang bisa kugunakan saat bekerja. Aku menikmatinya dan berterimakasih tapi aku tetap tidak lupa daratan, aku tetap ingat darimana asal usulku .


Minggu depan aku akan pulang kekampung halaman dan cutiku sudah di approve. Aku akan pulang kerumah


dimana aku dibesarkan, aku akan pulang ke keluarga dan makan bersama.  Aku sangat merindukan Ayah Ibu dan


saudara-saudariku. Ibu, Ayah tunggu aku pulang.


------------------


"Makan yang banyak, badanmu kurus begitu, apa kamu benar-benar makan dengan baik selama ini?" ayahku yang pendiam itu bertanya. Aku tersenyum dan memakan daging yang di sodorkan ayah ke piringku


"Makanku baik, Yah,  Nara kurus tapi sehat ini," kataku memuji diri. Ya benar, aku menjaga pola makan supaya badanku tetap ideal dengan jabatan kerjaanku. Gak mungkinkan aku bisa selincah ini jika timbanganku


mencapai  enam puluh? Aku pernah dengar beberapa gadis yang berprofesi sama sepertiku bergosip di toilet saat ada pertemuan para pengusaha. Salah satu dari mereka bilang, kalau profesi kami, selain pengetahuan yang


utama itu adalah penampilan.


Kepulanganku hari ini karena kakakku akhirnya akan menikah . Pernikahannya sempat tertunda karena harus membantuku  dalam merenovasi rumah kami. Ya, rumah kami yang bahkan dulunya tidak di cat kini sudah diperbaiki, itu bukan renovasi tapi bangun ulang, karena dari bangunan lama tidak ada yang layak dipertahankan.


Rumah beton , keramik yang bagus jendela kaca yang bagus dan perabot-perabot yang bagus, aku menghabiskan gajiku setahun ini untuk pembangunan rumah ini. Walau tidak sebesar rumah pak RT tapi rumah ini sudah tergolong rumah mewah di kampung kami. Terimakasih Tuhan, semoga rejeki kami lancar. Terimakasih Mbak Nana yang udah didik aku jadi pekerja yang baik. Terimakasih Pak Anwar karena kasih gaji dan bonus yang besar.


Besok pesta pernikahan kakakku dan  persiapan sudah oke semua, ini bukan pesta besar, ini hanya acara kecil di depan rumah saja. Semoga lancar dan selamat berbahagia untuk kakak dan kakak iparku.


Resepsi pernikahan kakakku berjalan lancar dan satu persatu undangan  pulang kerumah masing-masing.  Saat aku akan masuk kerumah aku melihat seorang wanita buncit menghampiri pengantin. Dia terlihat elegan dengan perutnya yang buncit. Aku mengurungkan  niat untuk masuk kedalam. Tak ingin dipikirkan menghindar dari wanita hamil ini.


"Hai Ynara, apa kabar?" sapanya sok akrab. Padahal selama kami di kampung ini, aku tidak pernah begitu ramah padanya pun sebaliknya. Kami hidup sekampung tapi seperti orang asing.


"Hai Sov, aku baik, kamu gimana?" balasku juga dengan ramah.


"Aku sangat baik dan bahagia," ucapnya sambil mengusap-usap perut buncit nya. Apa dia pamer karena sudah hamil? Dasar! Norak tau, macam aku nggak bisa move on aja.


Tapi aku bisa melihat tatapan matanya yang memancarkan kesedihan. Ada apa?


"Selamat yah, udah berapa bulan?" tanyaku berusaha akrab dan tidak mempedulikan


kesenduan dimatanya. Untuk apa aku peduli. Itu bukan urusanku, kan? Aku tidak ingin di cap sok dekat dan di katain kepo. Ujung-ujungnya di bilang belum move on dan mencari-cari letak ketidak bahagiaan mereka.

__ADS_1


"Masuk lima," jawabnya singkat sambil mengangkat lima jarinya.


"Kayaknya kamu udah sukses ya di Jakarta?" dia bertanya seraya mengedarkan mata ke seluruh penjuru rumah.


"Terimakasih dan semoga!" Aku turut mengamini pertanyaannya.


"Ya sudah, aku duluan yah, Nar," katanya sambil berlalu. Aku hanya mengangguk mengiyakan.


Terasa canggung memang pertemuan kami ini, walau dia seumuranku dan kami pernah satu sekolah, kami


tidak terlalu akrab bahkan bisa dihitung jari berapa kali kami bicara disekolah. Dia sibuk dengan teman-temannya pun aku.


Selama  tiga hari aku  di kampung, tak sekalipun aku melihat wajah pria itu, apa dia tidak  pulang dari kota? Tapi, apa peduliku?


--------------------------


"Jangan bekerja terlalu keras, ingat untuk istirahat, tak guna uang banyak tapi sakit-sakitan," wejangan Ibu. Ibu kalo aku gak kerja keras kapan kita bisa kaya?


"Biar cepat kaya, Bu!" selorohku.


"Kaya tapi sakit-sakitan, trus uangmu habis untuk berobat, kan miskin lagi," jawabnya garang.


Aku hanya terkekeh dan memeluk lengan ibuku. Aku masih kangen dan masih pengen peluk ibu lebih lama,


tapi karna cutiku udah habis terpaksa aku harus balik ke Jakarta lagi dan romusa lagi.


Dan saat ini ibu sedang menemaniku packing baju-baju yang tidak seberapa. Ibu memasakkan beberapa lauk


untuk kubawa. Lumayan mungkin bisa untuk satu minggu kedepan.


--------------------------


Aku melambaikan tanganku ke arah keluargaku. Selamat  tinggal orang-orang terkasihku.  Aku melihat Ibuku menahan tangis, aku tersenyum supaya ibuku tidak menangis. Jangan tanya ayahku. Dari dulu sangat pendiam seperti orang tidak peduli. Tapi, kami anak-anaknya dan orang terdekatnya lah yang tahu bagaimana pedulinya pada kami. Seperti saat ini, saat ibu hampir menangis kejer karena aku akan berangkat lagi, Ayah malah dengan santainya melambaikan tangan. Jauh didalam hatiku, aku ingin menangis dan berlari ke arah mereka dan ingin memeluk mereka lagi.


    Tanpa sengaja pandanganku menangkap sosok di ujung  sana. Pria itu menatapku dalam diam. Aku berusaha mengabaikannya dan berpura-pura tidak melihatnya.


Sejak pertunangannya dulu, aku sudah bertekat tidak akan kembali padanya, tidak akan menyimpan rasa


cintaku padanya lagi. Aku akan membuktikan pada orang tuanya bahwa aku Ynara sigadis miskin yang pernah dipacari anaknya ini, suatu saat akan berhasil dan sukses. Suatu hari nanti akan punya uang yang banyak, rumah yang bagus dan mobil yang bagus. Jadi bekerja keraslah!


Sekali lagi aku menoleh, mencuri-curi pandang dan perpura-pura melihat arah lain. Aku melihat pria itu menyapukan tangan di mata sambil tersenyum. Dia melambaikan tangan ke arahku. What? Dia tau aku melihatnya? Aku melihat ke belakang dan sekitarku barangkali dia dada-dada ke orang lain kan? Bisa gawat kalo aku merasa itu untukku padahal tidak. Tidak ada dan aku memandangnya lagi, dia melambai lagi  sambil tersenyum. Ohh Priaku yang ... sudah lah.


    Aku balas lambain tangannya sambil tersenyum juga. Jangan salah paham pemirsah,  aku tersenyum bukan karena perasaan cintaku tapi aku ingin membalas senyumnya saja dan menunjukkan bahwa aku baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2