KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
21. I'M HOME


__ADS_3

Berkeliling sepanjang hari sambil bergandengan tangan, menikmati berbagai kuliner dan juga shopping barang-barang menggemaskan. Mendatangi banyak tempat  dan mengabadikan kebersamaan  dengan orang terkasih adalah impian banyak orang.


Tak kecuali sejoli yang sedang liburan bersama itu.


Aura bahagia memancar dari wajah keduanya. Binar matanya turut mengatakan hal yang sama.


Padahal, pagi ini pasangan itu sempat di landa kecanggungan saat mereka baru saja bangun tidur dan mendapati bahwa guling pemisah yang di buat tadi malam sudah pindah tempat dan membuat tubuh keduanya menempel dan saling memeluk dengan erat.


"Maaf, aku pasti tidak sadar dan mengira kamu guling," ucap Nathan kikuk dan melepaskan belitan tangannya dengan sangat tidak iklas.


"Aku juga," jawab gadis itu hendak bangun dan wajahnya memerah.


"Aku mandi duluan," ucapnya yang kemudian membuat pipinya semakin memerah karena pikirannya sendiri.


Hingga selesai sarapan dan memutuskan hendak kemana hari ini, mereka masih merasa canggung. Tapi, begitu keluar dari hotel dan berjalan sebentar, Nathan langsung meraih tangan kekasihnya dan menggenggamnya seraya berjalan.


"Biar kamu nggak hilang," candanya saat mata keduanya bertemu.


Kehangatan yang di alirkan dari genggaman itu, mencairkan kecanggungan secara perlahan hingga mereka lupa.


Selayaknya para gadis, Nara juga sangat menikmati kegiatan berbelanja, walaupun lebih sering hanya melihat-lihat tanpa membeli, dan percayalah itu menyenangkan.


Nara juga menyukai  pakaian - pakaian bagus dan mahal, tergila-gila dengan tas dan sepatu tetapi kegilaan masih bisa di batasi. Dia sadar diri, bahwa ada yang lebih penting dari sekedar sepasang baju jutaan rupiah.


Hari ini, saat bersama Nathan, dia juga tidak membeli banyak barang. Seadanya saja, bahkan Nathan menawari ini itu namun di tolak oleh Nara. Dia tidak boleh jadi orang serakah. Bukannya tidak suka, dia sangat suka hanya saja mengontrol diri.


"Yang ini atau ini?" tanya Nara pada Nathan. Di kedua tangannya tergantung masing-masing satu pasang pakaian formal untuk bekerja. Modelnya hampir sama, hanya di bedakan oleh warna dan sedikit aksen di bagian bis nya.


"Dua-duanya cantik. Kalau kamu yang pakai, pasti makin cantik." Tidak ada solusi dari jawaban Nathan.


"Pilih salah satu!" pinta gadis itu dengan bibir maju beberapa senti.

__ADS_1


"Ambil keduanya, Yang. Kan beda model dan warna." Memutus kegalauan Nara.


Melihat sekali lagi dua pasang baju di tangannya. Nara mengangguk dan memutuskan untuk mengambil salah satunya saja.


"Ck, aku kan bilang ambil keduanya saja, kenapa cuma pilih satu?" tanya Nathan saat mereka keluar dari toko itu.


"Aku baru ingat, bulan lalu baru beli baju kerja warna coklat. Modelnya hampir mirip juga. Jadi kita cari yang lain aja


lah!" jawabnya berdusta. Itu hanya alasan.


Sepasang baju dengan harga puluhan juta, kalau ambil dua mau bayar berapa Nathan hanya untuk dua pasang baju. Lain lagi jika nanti di ajak ke toko yang lain. 'Aku harus bisa menahan diri nanti malah jadi kebiasaan', batin Nara.


Jika selama ini dia selalu menuruti kemauan hati, mungkin dia tidak akan bisa membeli rumah sendiri dan juga membangun ulang rumah untuk orang tuanya. Jika matanya jelalatan terus melihat kilau perhiasan yang selalu melambai-lambai memanggil dompetnya dan dia melemah dengan itu, dia tidak akan bisa membelikan perhiasan untuk ibunya dan ayahnya. Tidak akan bisa membelikan tanah di kampung sana untuk dikelola orang tuanya.


Dia akan menjadi gadis hedon yang ketergantungan dengan barang-barang mewah, barang-barang branded dan akan melupakan jati diri karena harus melakukan apa saja untuk dapat memenuhi gaya hidup hedonnya.


Karena itu, sebelum dia terjangkit virus hedon, dia menahan diri, mengontrol keinginan hati.


Jika ingin menjadi gadis hedon, dia bisa saja membeli banyak hari ini, Nathan pasti tidak keberatan menggesekkan kartu hitamnya untuk Nara. Namun kembali lagi, Nara tidak ingin diperbudak oleh nafsu branded yang kemudian hari bisa mencekik lehernya sendiri.


------Nathan POV


Setelah tujuh bulan menjalin hubungan dengan Nara, aku benar-benar bahagia dan kali ini bahagiaku berlipat ganda, aku bisa menggenggam tangan kekasihku sepanjang jalan di tempat umum dan sepanjang hari.


Sesekali aku mengelus tangannya menyalurkan rasa bahagiaku.


Aku ingin selamanya begini. Aku ingin menggenggam tangan ini selamanya tanpa ada batasan dan tidak sembunyi - sembunyi seperti yang selama ini kami lakukan. Selama ini, aku hanya bisa menggenggam tangannya hanya jika sedang berduaan di dalam mobil, atau saat kami makan di vip room yang selalu ku pesan setiap kali kami makan di luar.


Sebenarnya Nara bukan gadis yang tergila-gila makan di restoran mahal ataupun harus VIP, pernah beberapa kali aku mengajaknya makan di restoran pinggir jalan  dia oke-oke saja dan terlihat sangat menikmati.


"Kebanyakan, warung pinggir jalan itu lebih enak dari makanan di restoran. Hanya saja, mungkin di restoran lebih higienis,"ucapnya kala itu.

__ADS_1


"Selain itu, bahan-bahannya mungkin rata-rata premium. Tapi--" ucapannya terpotong saat dia memasukkan tulang ayam ke dalam mulutnya dan menggigitnya bahkan seperti menyesapnya.


"Ayam penyet pecel lele di pinggir jalan selalu lebih enak." Dia mengemut jarinya yang penuh dengan sambal pedas gila. Tapi karena suatu hal, aku tidak berani membawanya keluar bersama di depan umum terlalu sering.


Aku akan memeluknya  saat dia sedang memasak di apartemenku,  aku akan  berbaring berbantalkan pahanya saat kami sedang menonton di apartemenku. Sesekali aku juga melakukan hal itu di rumahnya jika temannya yang bernama Rindu itu tidak ada di rumah.


Tidak ada orang yang tahu hubungan kami, selain Rindu dan Arthur asistenku. Aku memberi alasan kepadanya untuk menutup hubungan ini karena kerjasama perusahaanku dan tempatnya bekerja. Dia gadis yang pintar dan mengerti tentang hal itu dan setuju dengan ideku untuk tidak mengumbar hubungan kami.


"Aku khawatir orang akan berpikiran buruk tentangmu," ucapku waktu itu sebagai alasan.


Beberapa kali Arthur menasehatiku, tapi aku menulikan telingaku. Aku ingin lebih lama dan jika bisa selamanya bersama gadisku. Aku merasa bahagia, aku merasa seperti di rumah yang nyaman  saat bersamanya. Salahkah aku jika ingin memperjuangkannya?


Hari ini, kebahagiaanku berlipat, saat aku berhasil mengajaknya liburan berdua. Aku bisa pamer ke orang-orang di sekitar bahwa gadis cantik ini adalah kekasihku, milikku, walau aku tidak mengenal mereka.


"Itu saja?" tanyaku padanya, kami sedang berada di salah satu toko ternama di pusat perbelanjaan terbesar di Singapore dan dia hanya memilih sepasang sepatu. Cantik sekali, pilihannya sangat bagus. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum, dia bahagia sekali. Aku menawarinya  yang lain seperti tas atau perhiasan dan semua di tolak. Dia hanya memilih satu stel pakaian kantor walau aku melihat dia sangat menyukai keduanya. Ya, itulah gadisku.  Gadis desaku yang polos dan selalu ingat darimana asalnya. Aku tahu dia suka dengan barang-barang branded, tapi dia menahannya  tidak memaksakan diri.


'Aku tidak mau ketergantungan dan serakah, nanti kamu kewalahan,' itu jawabannya setiap kali aku tawarkan. Padahal aku tidak keberatan jika harus menuruti setiap permintaannya atau membelikannya setiap ada keluaran terbaru.


"Aku nggak langsung bangkrut dan jatuh miskin kalau belikan semua ini buat kamu, Yang," jawabku ketika dia menolak.


"Aku tahu, tapi aku tidak suka membeli banyak tapi nggak kepake. Buat apa jadi pajangan di rumah," jawabnya.


Aku menggenggam tangannya erat dan  berdoa dalam hati semoga Tuhan mempersatukan kami, memberi kesempatan untuk bersama selamanya. Tuhan aku ingin lebih lama lagi bersamanya.


POV end----------


Kedua sejoli yang terlihat bahagia itu berjalan keluar dari pusat perbelanjaan. Tangan masih tetap terbelit erat, dan pancaran kebahagiaan jelas terlihat dari wajah keduanya.


Si pria sesekali membawa tangan itu ke bibirnya dan melabuhkan ciuman  mesra. Mereka berjalan sambil mengayun-ayunkan tangan yang terbelit  dan itu semua tak lepas dari pandangan seseorang di ujung sana.


Seseorang yang mengenakan pakaian modis dan menjinjing tas belanjaan brand ternama tetap mengikuti arah sejoli yang sedang dimabuk cinta itu. Dia melihat dengan jelas, bagaimana si pria tertawa lepas penuh bahagia dan pancaran matanya yang bersinar karena cinta.

__ADS_1


__ADS_2