KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
35. LANGIT PELINDUNG


__ADS_3

Langit hari ini sengaja pulang ke rumah orang tuanya. Jika nanti dia menerima amukan papanya. Berarti Nara atau Andy sudah melaporkan kejadian tadi siang. Atau, bagaimana jika papanya punya cctv tersembunyi di ruangan itu? Memikirkan itu, Langit merinding. Mengingat selama ini dia banyak melakukan sesuatu hal yang tidak pantas untuk di lihat oleh orang lain.


"Aku pasti akan segera di tendang dari keluarga jika sampai ketahuan," gumamnya sambil berkendara.


"Huuufff, aku merinding memikirkan nasibku ke depan," lanjutnya lagi. "Nar, maafin aku, ya. Tolong jangan melapor.


Dan datanglah besok. Besok kamu jadi penentu masa depanku. Jadi tolong datang, agar aku yakin aku masih bisa menikmati semua ini sampai seratus tahun lagi, Hehehehe."


Langit terkekeh konyol karena barusan merasa sudah menggantungkan nasibnya di pundak Nara.


Tring


My Baby Luv:


[Udah pulang, Beb?]


[ Aku kepikiran  kata-kata sepupumu tadi, dia tau nama lengkap ku, apa dia tau identitasku?]


[ Dia gak lagi selidikin aku kan, Beb?]


Langit:


[Maksud kamu?]


My Baby Luv:


[Kamu nggak dengar dia tadi ngomong apa?]


Langit:


[Tidak terlalu fokus.  Emang dia bilang apa?]


My Baby Luv:


[Hanya ingatin aku buat dukung kamu aja, terus dia sebut nama lengkap aku]


[Aku bisa dengar dengan jelas, dia  kayak sengaja menekankan suaranya saat dia sebut namaku]


Sungguh informasi baru buat Langit. Dia tidak sefokus itu tadi mendengarkan Andy. Dia tahu Andy ada mengatakan sesuatu pada Sisca, tapi apa itu dia tidak tahu.


Langit:


[Aku tadi udah ketemu Mas Andy, dia tidak bilang apa-apa]


[ Chill Baby, nobody know who you are]


Pesan terkirim.


Sekarang beban pikiran Langit bertambah karena pesan yang di kirimkan kekasihnya. Apa dugaan Sisca itu benar? Apa ayahnya menugaskan Andy utuk menyelidiki Sisca? Bisa gawat jika ketahuan.


*****

__ADS_1


Kehebohan terjadi di kediaman tuan Anwar. Kepulangan si sulung ke rumah tanpa di undang ataupun di paksa menjadi sebuah kejutan besar bagi nyonya rumah.


"Mama, udah feeling kamu pulang malam ini, tadi siang Mama beresin kamar kamu. Feeling seorang ibu memang selalu benar." Nyonya Melinda menggandeng Langit menuju kamarnya di lantai dua. Wajahnya berbinar bahagia.


"Kamu udah makan, Sayang?"


Langit berhenti setelah mendengar pertanyaan mamanya. Karena Langit berhenti, nyonya Melinda juga berhenti tanpa melepas tangannya dari lengan Langit. Sang mama menatap putranya yang juga menoleh ke arahnya.


"Ma, jangan panggil Langit 'sayang'!" Sang Mama langsung cemberut dan pegangannya mulai


mengendur di lengan Langit. Sepertinya Langit memang tidak sayang padanya, makanya tidak mau di panggil sayang. Wanita berwajah sendu itu hendak berbalik ketika Langit menahannya dengan mengambil kedua tangan mamanya.


"Mama panggil papa kadang-kadang dengan kata sayang, panggil Nara juga begitu, panggil orang lain yang mama kenal juga begitu. Panggil Langit dengan yang lain dong, jangan di samakan sama mereka. Lagian, kalau Lang punya pacar nanti, panggil sayang juga, Lang bisa bingung. Heheheh" Langit terkekeh konyol, wajah mamanya yang cemberut seperti sebuah hiburan untuknya.


"Senyum dong! Wanita cantik nggak boleh cemberut gini, nanti cantiknya hilang," Langit menggoda mamanya sama persis seperti menggoda wanita-wanita targetnya selama ini.


"Kamu ini, bikin mama spot jantung aja!" Mamanya memberikan tabokan pelan di lengan Langit.


"Lang, emangnya kamu udah punya pacar? Terus Dewi gimana?"


"Emangnya Dewi kenapa?" Langit pura-pura tidak mengerti maksud dari mamanya.


"Ck! Kok nanya begitu? Bukannya kamu pacaran sama Dewi?"


"Belum!" Sebuah jawaban yang seperti memberi harapan.


Nyonya Melinda tersenyum dan berjalan cepat seperti menyeret Langit agar segera tiba.


"Mama selalu berharap kamu pulang setiap hari tanpa di paksa, karena itu, Mama selalu memperhatikan kamarmu. Mama khawatir, saat tiba-tiba kamu datang seperti sekarang, kamu nggak senang karena kamarnya bau apek dan pengap."


Langit tersenyum pada mamanya. Dan segera membuka pintu kamar.


Wangi dari pengharum ruangan menguar dan Langit mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Tidak ada yang berubah. Bahkan pajangan dan bingkai - bingkai tua Langit semasa sekolah tetap ada.


Tiba-tiba Langit memeluk mamanya. "Thanks, Mam. Maafin Lang karena membuat Mama terus menunggu."


Langit mencium ubun-ubun mamanya, "I love you, Mam." ucapnya pelan.


Nyonya Melinda mengangguk di dada anaknya dengan perasaan senang dan terharu.


*****


"Sudah, jangan menangis lagi. Mama mau punya mata dan wajah sembab besok pagi?" tuan Anwar sungguh tidak bisa menjadi penghibur buat istrinya sendiri.


Yang bisa dia lakukan hanya mengusap punggung istrinya yang masih terguncang karena masih terharu.


"Anak itu, bisa-bisanya bilang sayang ke mama dengan luwes. Tapi masih tega membiarkan mamanya kesepian di rumah ini."


Lah, kok malah mengomel ke aku, sih? batin tuan Anwar.


"Dia nggak mau di panggil sayang, karena aku panggil papa sayang juga, Angkasa dan Sinar juga mama panggil begitu bahkan Nara juga." Terdengar kesal karena mengingat raut tak terima Langit tadi.

__ADS_1


"Itu karena dia cemburu, Ma."


"Benar begitu?"


"Iya, Nara yang bukan siapa-siapanya mama juga sering mama panggil sayang. Ya Lang cemburu lah."


"Terus mama mau panggil dia apa?"


Nyonya Melinda bertanya pada suaminya. Sungguh topik pillow talk yang tidak begitu menyenangkan.


Bukan karena tidak sayang pada  anaknya, hanya saja panggilan sayang sudah melekat


sejak mereka masih bayi baru lahir sekalipun.


****


Pagi hari di rumah tuan Anwar.


Karena masih ada sisa euforia kedatangan anak sulungnya, nyonya Melinda bangun sangat pagi dan bersiap menyiapkan sarapan.


Berharap sarapan yang akan dia buatkan hari ini berhasil memelet lidah Langit untuk sering-sering pulang ke rumah.


"Papa benar!" ucapnya saat membersihkan wajah di kamar mandi.


Wanita paruh baya itu melihat pantulan dirinya di cermin dan melihat dengan jelas wajah sembab itu. Matanya juga memerah.


Tanpa berlama-lama, dia pergi ke dapur dan tentu saja itu mengagetkan asisten rumah tangga yang juga sudah bangun dan siap memulai pekerjaan.


"Nyonya?"


"Tidak apa-apa. Nggak usah kaget begitu!" jawabnya menyapa keterkejutan pegawainya.


"Apa yang kita punya di kulkas, mbak? Saya mau buat sarapan untuk Langit," ucapnya seraya menarik pintu kulkas dan meneliti isinya.


Karena rasa exited dan semangat memasaknya, akhirnya yang tersaji di meja makan bukan lagi menu sarapan seperti biasa tapi itu adalah berbagai masakan yang biasanya untuk makan siang dan makan malam.


"Wow!" seru Langit saat melihat udang di piring.


"Ada acara apa masak sebanyak ini?" tanyanya pada ruangan kosong.


"Bi!" panggilnya dengan suara sedikit lantang.


Yang datang malah mamanya dengan sepiring cumi krispi di tangannya.


"Suaranya, Bang! Manggilnya kok kayak lagi di hutan!"


Ada yang membuat Langit kaget. "Bang?"


"Katanya nggak mau di panggil sayang. Kamu kan anak sulung mama, abangan di rumah ini. Mama panggil abang la!"


"Yang lain dong. Masa di samain sama abang bakso." Wajahnya cemberut.

__ADS_1


"Gak papa. Itu berarti kalian sama-sama di butuhkan. Abang bakso karena mama lapar dan ingin makan bakso. Abang Langit karena mama ingin di lindungi!"


__ADS_2