
Kerjasama yang terjalin dengan PT. Sagara Makmur membuat kami lebih sering mengadakan pertemuan dan perusahaan itu selalu diwakili oleh Pak Jonathan selaku Direktur. Pertemuannya kadang dilakukan diluar kantor ataupun di kantor kami.
Diluar pertemuan, Pak Jonathan masih sering mengirimkan chat atau sesekali calling gak
jelas. Dan motifnya jelas, ingin kenal secara personal. Hadeh, ini human sebiji
udah di cuekin tetap ngotot sih. Dia paham ato gak sih penolakan aku selama
ini.
"Sabtu weekend nanti kamu ada acara, gak?"
tanyanya tiba-tiba ketika kami berjalan di koridor menuju ruang meeting. Saat
ini hanya ada kami bertiga. Aku, pak Jonathan dan asistennya.
"Sorry?" Aku gak salah dengar, kan? Aku
memastikan ajakannya sambil menoleh pada asistennya. Dia sengaja ajakin aku di
depan asistennya biar gak ditolak?
"Saya mau ajak kamu makan malam weekend nanti,
mau ya?" ajaknya tanpa menghiraukan ada orang lain ato gak diantara kami.
"Hmm nanti saya kabarin bapak bisa atau nggak nya ya, Pak," jawabku menolak, semoga
dia mengerti.
"Gak pa-pa kalo langsung ditolak, udah paham
saya." Dan dengusan mengejek terdengar dari sang asisten. Tuh kan, dia
paham kalo selama ini ditolak, tapi kok ngeyel sih, pake acara ajak di depan
orang lain. Apa nggak malu kalo di tolak kayak sekarang?
"Maaf, Pak." Tak enak hati juga jadinya.
Dan dia hanya balas dengan menaikkan bahunya.
Tidak ada pembicaraan lagi sampai kami tiba di ruang
meeting. Sebenarnya aku jadi merasa sedikit risih jika sudah begini, mana ada
yang dengar lagi. Hadeh, kalo dia gak tau malu, aku masih punya.
Dan aku juga gak tega sih sebenarnya, tapi ingatanku
masih sangat jelas kemasa laluku, bahwa tidak ada cinta yang bertahan di dalam
kasta yang berbeda. Aku berusaha sangat keras agar aku tidak terjatuh ke lubang
yang sama. Aku tidak mau termakan
janji-janji yang sangat meyakinkan tapi ujung-ujungnya harus berakhir seperti
layaknya aku dan pria dimasa lalu itu.
Dan aku juga tidak terburu-buru untuk hal-hal berbau
romansa seperti itu. Tujuanku masih sangat jelas. Bekerja, bekerja dan bekerja,
karena hanya dengan itu aku bisa membeli rumah, mengirimi orangtuaku, membeli
__ADS_1
tanah di kampung dan membeli baju-baju bagus dan makanan enak untukku dan
keluargaku. Sedalam itu dendamku pemirsah.
-------------------------
"Nara, dalam waktu dekat ini, saya akan
istirahat dan kantor ini akan di pimpin oleh anak saya nanti," kata Pak
Anwar sambil menandatangani hasil rapat yang sudah aku ringkas.
"Bukan Angkasa, tapi anak saya yang satunya
lagi, Langit namanya, sebentar lagi dia akan tiba disini"
"Saya ingin kamu dan Andy membantunya nanti ya, Nar, dia tidak tau banyak tentang kerja, taunya hanya menghabiskan,"
lanjutnya lagi.
Aku hanya merespon seperti biasa, menyanggupi apa
yang di titahkan oleh orang baik ini, semoga anaknya yang menggantikan nanti
bisa seperti papanya. Baik, ramah dan bijaksana.
Tak berselang lama, aku melihat Pak Andy berjalan keluar dari lift di ikuti oleh seorang pemuda yang aku perkirakan adalah pria bernama Langit yang baru saja dibicarakan oleh pak boss.
Turut berduka bagi para fashion designer yang udah susah payah memikirkan model - model pakaian sampai rambutnya rontok tapi lihat lah pria ini. Urakan sekali. Atau
apakah aku yang tak ngerti tentang fashion? Aku melihat diriku sekali lagi, penampilan
formal seperti biasa.
"Bapak lagi sibuk, Nar?" Tanya Mas Andy -
"Tidak Mas, silahkan," jawabku sambil
mempersilahkan mereka untuk menuju ruangan boss layaknya penerima tamu. Tak perlu ku wakilkan mengetuk pintu,
biasanya langsung Mas Andy yang melakukannya. "Saya saja, lanjutkan
kerjaanmu," itu katanya dulu dan
aku ingat sampai sekarang.
Cukup lama mereka didalam, aku tidak atau mereka membicarakan apa. Aku menyibukkan diriku dengan beberapa pekerjaan penting yang menyangkut kerjasama dengan beberapa perusahaan dan juga beberapa laporan dari divisi-divisi di kantor kami masih bertengger cantik di depanku sambil memandangiku. Aku pastikan dengan beberapa dokumen ini, aku akan melupakan apapun yang terjadi di sekitarku untuk beberapa hari ke depan.
-------------------------
Aku sedang bebersih sepulang kerja dan ini sudah pukul sembilan malam. Ya, beberapa hari ini aku selalu pulang larut karena aku
harus menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat. Aku tidak pernah membawa pekerjaan kerumah. Jadi, aku selalu tinggal lebih lama di kantor dari pada waktu berpelukan dengan gulingku terganggu.
Samar-samar aku mendengar ponselku bernyanyi. Aku menyelesaikan ritual mandiku segera karena aku pikir itu pasti keluargaku. Gegas aku berlari dan meraih ponsel yang terletak di atas tempat tidurku.
Haduh, human satu ini lagi ternyata. Aku mendesaah kesal melihat nama yang tertera diponselku.
"Iya, halo, Pak." Kujawab juga
panggilannya walau sedikit kesal karena keuletannya.
Aku rasa jika dia peka, dia bisa tau aku lagi kesal begitu mendengar sapaanku yang sangat datar dan formal.
"Hallo, jangan terlalu formal gitulah, Yn!"
__ADS_1
Sumpah suaranya halus pisan euyy.
Panggilannya padaku sudah berubah seolah-olah kami teman dekat. Seingatku, hanya orang itu dulu yang panggil aku begitu. (Yn dibaca Yin) Sementara si Melda dan teman-teman lain kadang panggil Yna (Ina).
Pria ini seperti sengaja mau mengingatkan aku pada masa lalu saja.
"Heheheh, udah terbiasa, Pak." Aku
terkekeh kikuk, menggaruk kepalaku yang tidak gatal, jujur aku gak tau harus
ngomong apa lagi. Kan gak mungkin aku jawab, 'iya, gimana, Jo?' kita tidak
sedekat itu bos.
"Weekend ini jadi ya, aku jemput jam tujuh
malam, ya!" Aku, aku, aku, sok
akrab lo.
"Saya udah ada janji Pak bareng teman-teman
saya," tolakku lagi, tapi kali ini emang benar. Girls squat yang penghuninya gadis-gadis
kimprit udah ngancam aku kalo aku nolak lagi, kali ini mereka tidak akan segan
katanya untuk nyeret aku, dan terpaksa aku iya kan daripada di seret kayak
kerbau. Katanya kami akan menghabiskan waktu nonton maraton dari pagi sampe
pagi. Dasar gila, untuk apa diancam akan diseret kalo ujung-ujungnya cuma stay
at home. Aku bego juga langsung iya kan, karena takut di seret-seret ke bar. Benar-benar
kumpulan orang kurang waras.
"Keduluan temanmu lagi, ya," Sepertinya
dia kecewa, ya tapi, gak mungkinkan aku batalin ke teman-temanku lagi.
"Next time saja pak, gak bisa saya cancel
soalnya yang bareng teman-teman, ini udah rutinitas," jawabku memberi
harapan, padahal tujuanku supaya dia gak ngotot-ngotot amat. Rutinitas apaan,
pemaksaan iya.
"Keep your promise, next weekend aku gak terima penolakan lagi, teman-teman atau apapun itu gak jadi alasan."
Alamakjang,,, tepok jidat akunya. Benar-benar ngotot, kirain bakal let it go
aja, gak akan ada next-nextnya.
Sedikit percakapan dengan beberapa topik sampe akhirnya kami memutuskan panggilan.
Aku hanya berharap pada diriku sendiri dan bertekad supaya apa yang sudah ku tekatkan sebelumnya tetap bisa aku jaga. Tembok tebal yang ku bangun untuk membatasi diriku sendiri tidak kurobohkan.
Dari awal basa-basi ini, aku sudah tau maksud dan tujuannya dan human satu itu juga udah pernah terus terang
bahwa dia ingin mengenalku lebih jauh secara personal.
__ADS_1
Dan dari beberapa human yang pernah berkata demikian hanya dia
seorang yang bertahan setelah aku tolak secara halus atau terang-terangan. Bagaimana ini pemirsah? Haruskah diberikan kesempatan? Aku dilema.