KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
13. BUKAN SEBAGAI REKAN BUT ...


__ADS_3

            Kerjasama yang terjalin dengan PT. Sagara Makmur membuat kami lebih sering mengadakan pertemuan dan perusahaan itu selalu diwakili oleh Pak Jonathan selaku  Direktur. Pertemuannya kadang dilakukan diluar kantor ataupun di kantor kami.


            Diluar pertemuan, Pak Jonathan masih sering mengirimkan chat atau sesekali calling gak


jelas. Dan motifnya jelas, ingin kenal secara personal. Hadeh, ini human sebiji


udah di cuekin tetap ngotot sih. Dia paham ato gak sih penolakan aku selama


ini.


"Sabtu weekend nanti kamu ada acara, gak?"


tanyanya tiba-tiba ketika kami berjalan di koridor menuju ruang meeting. Saat


ini hanya ada kami bertiga. Aku, pak Jonathan dan asistennya.


"Sorry?" Aku gak salah dengar, kan? Aku


memastikan ajakannya sambil menoleh pada asistennya. Dia sengaja ajakin aku di


depan asistennya biar gak ditolak?


"Saya mau ajak kamu makan malam weekend nanti,


mau ya?" ajaknya tanpa menghiraukan ada orang lain ato gak diantara kami.


"Hmm nanti saya  kabarin bapak bisa atau nggak nya ya, Pak," jawabku menolak, semoga


dia mengerti.


"Gak pa-pa kalo langsung ditolak, udah paham


saya." Dan dengusan mengejek terdengar dari sang asisten. Tuh kan, dia


paham kalo selama ini ditolak, tapi kok ngeyel sih, pake acara ajak di depan


orang lain. Apa nggak malu kalo di tolak kayak sekarang?


"Maaf, Pak." Tak enak hati juga jadinya.


Dan dia hanya balas dengan menaikkan bahunya.


Tidak ada pembicaraan lagi sampai kami tiba di ruang


meeting. Sebenarnya aku jadi merasa sedikit risih jika sudah begini, mana ada


yang dengar lagi. Hadeh, kalo dia gak tau malu, aku masih punya.


Dan aku juga gak tega sih sebenarnya, tapi ingatanku


masih sangat jelas kemasa laluku, bahwa tidak ada cinta yang bertahan di dalam


kasta yang berbeda. Aku berusaha sangat keras agar aku tidak terjatuh ke lubang


yang sama.  Aku tidak mau termakan


janji-janji yang sangat meyakinkan tapi ujung-ujungnya harus berakhir seperti


layaknya aku dan pria dimasa lalu itu.


Dan aku juga tidak terburu-buru untuk hal-hal berbau


romansa seperti itu. Tujuanku masih sangat jelas. Bekerja, bekerja dan bekerja,


karena hanya dengan itu aku bisa membeli rumah, mengirimi orangtuaku, membeli

__ADS_1


tanah di kampung dan membeli baju-baju bagus dan makanan enak untukku dan


keluargaku. Sedalam itu dendamku pemirsah.


-------------------------


"Nara, dalam waktu dekat ini, saya akan


istirahat dan kantor ini akan di pimpin oleh anak saya nanti," kata Pak


Anwar sambil menandatangani hasil rapat yang sudah aku ringkas.


"Bukan Angkasa, tapi anak saya yang satunya


lagi, Langit namanya, sebentar lagi dia akan tiba disini"


"Saya ingin kamu dan Andy membantunya nanti ya, Nar, dia tidak tau banyak tentang kerja, taunya hanya menghabiskan,"


lanjutnya lagi.


Aku hanya merespon seperti biasa, menyanggupi apa


yang di titahkan oleh orang baik ini, semoga anaknya yang menggantikan nanti


bisa seperti papanya. Baik, ramah dan bijaksana.


Tak berselang lama, aku melihat Pak Andy berjalan keluar dari lift di ikuti oleh seorang pemuda  yang aku perkirakan adalah  pria bernama Langit yang baru saja dibicarakan oleh pak boss.


Turut berduka bagi para fashion designer yang udah susah payah memikirkan model - model pakaian  sampai rambutnya rontok tapi lihat lah pria ini. Urakan sekali. Atau


apakah aku yang tak ngerti tentang fashion? Aku melihat diriku sekali lagi, penampilan


formal seperti biasa.


"Bapak lagi sibuk, Nar?" Tanya Mas Andy -


"Tidak Mas, silahkan," jawabku sambil


mempersilahkan mereka untuk menuju ruangan  boss layaknya penerima tamu. Tak perlu ku wakilkan mengetuk pintu,


biasanya langsung Mas Andy yang melakukannya. "Saya saja, lanjutkan


kerjaanmu," itu katanya dulu  dan


aku ingat sampai sekarang.


Cukup lama mereka didalam, aku tidak atau mereka membicarakan apa. Aku menyibukkan diriku dengan beberapa pekerjaan  penting yang menyangkut kerjasama dengan beberapa perusahaan  dan juga beberapa laporan dari divisi-divisi di kantor kami masih bertengger cantik di depanku sambil memandangiku. Aku pastikan dengan beberapa dokumen ini, aku akan melupakan apapun yang terjadi di sekitarku untuk beberapa hari ke depan.


-------------------------


Aku sedang bebersih sepulang kerja dan ini sudah pukul sembilan malam. Ya, beberapa hari ini aku selalu pulang larut karena aku


harus menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat. Aku  tidak pernah membawa pekerjaan kerumah. Jadi,  aku selalu tinggal lebih lama di kantor dari pada waktu berpelukan dengan gulingku terganggu.


Samar-samar aku mendengar ponselku bernyanyi.  Aku menyelesaikan ritual mandiku segera  karena aku pikir itu pasti keluargaku. Gegas aku berlari dan meraih ponsel yang terletak di atas tempat tidurku.


Haduh, human satu ini lagi ternyata. Aku mendesaah kesal melihat nama yang tertera diponselku.


"Iya, halo, Pak." Kujawab juga


panggilannya walau sedikit kesal karena keuletannya.


Aku rasa jika dia peka, dia bisa tau aku lagi kesal begitu mendengar sapaanku yang sangat datar dan formal.


"Hallo, jangan terlalu formal gitulah, Yn!"

__ADS_1


Sumpah suaranya halus pisan euyy.


Panggilannya padaku sudah berubah seolah-olah kami teman dekat. Seingatku, hanya orang itu dulu yang panggil aku begitu. (Yn dibaca Yin) Sementara si Melda dan teman-teman lain kadang panggil Yna (Ina).


Pria ini seperti sengaja mau mengingatkan aku pada masa lalu saja.


"Heheheh, udah terbiasa, Pak." Aku


terkekeh kikuk, menggaruk kepalaku yang tidak gatal, jujur aku gak tau harus


ngomong apa lagi. Kan gak mungkin aku jawab, 'iya, gimana, Jo?' kita tidak


sedekat itu bos.


"Weekend ini jadi ya, aku jemput jam tujuh


malam, ya!"  Aku, aku, aku, sok


akrab lo.


"Saya udah ada janji Pak bareng teman-teman


saya," tolakku lagi, tapi kali ini  emang benar. Girls squat yang penghuninya gadis-gadis


kimprit udah ngancam aku kalo aku nolak lagi, kali ini mereka tidak akan segan


katanya untuk nyeret aku, dan terpaksa aku iya kan daripada di seret kayak


kerbau. Katanya kami akan menghabiskan waktu nonton maraton dari pagi sampe


pagi. Dasar gila, untuk apa diancam akan diseret kalo ujung-ujungnya cuma stay


at home. Aku bego juga langsung iya kan, karena takut di seret-seret ke bar. Benar-benar


kumpulan orang kurang waras.


"Keduluan temanmu lagi, ya," Sepertinya


dia kecewa, ya tapi, gak mungkinkan aku batalin ke teman-temanku lagi.


"Next time saja pak, gak bisa saya cancel


soalnya yang bareng teman-teman, ini udah rutinitas," jawabku memberi


harapan, padahal tujuanku supaya dia gak ngotot-ngotot amat. Rutinitas apaan,


pemaksaan iya.


"Keep your promise, next weekend aku gak terima penolakan lagi, teman-teman atau apapun itu gak jadi alasan."


Alamakjang,,, tepok jidat akunya. Benar-benar ngotot, kirain bakal let it go


aja, gak akan ada next-nextnya.


Sedikit  percakapan dengan beberapa topik sampe akhirnya kami memutuskan panggilan.



Aku hanya berharap pada diriku sendiri dan bertekad supaya apa yang sudah ku tekatkan sebelumnya tetap bisa aku jaga. Tembok tebal yang ku bangun untuk membatasi diriku sendiri tidak kurobohkan.



Dari awal basa-basi ini, aku sudah tau maksud dan tujuannya  dan  human satu itu juga udah pernah terus terang


bahwa dia ingin mengenalku lebih jauh secara personal.

__ADS_1


Dan dari beberapa  human yang pernah berkata demikian hanya dia


seorang yang bertahan setelah aku tolak secara halus atau terang-terangan. Bagaimana ini pemirsah? Haruskah diberikan kesempatan? Aku dilema.


__ADS_2