
Hari ini adalah hari pernikahan pria yang aku pacari selama tiga tahun.
Cinta kami kandas karena perbedaan kasta. Janji-janji manis yang pernah terucap dari mulutnya hilang begitu saja.
Aku bertekad dalam hati bahwa aku tidak akan mengingat-ingat apa yang pernah kami jalani.
Pikiranku sedikit terbagi, wajar lah ya. Beberapa kali aku seperti orang linglung dan harus meminta penjelasan ulang pada atasanku.
"Nar, you oke? Saya perhatikan dari tadi fokus kamu hilang! Hey... fokus! fokus!"
mbak Nana mengetuk-ngetuk jarinya di meja ku.
"Sorry, Mbak. I have a little problem," jawabku dengan raut bersalah. Sungguh, aku benar-benar tak bisa profesional kali ini. Aku terlalu larut dalam kesedihan yang tidak ada faedahnya.
"Cerita! Jangan di pendam! Anggap aku sebagai kakak kamu," ucapnya dengan tegas. Dia berkata begitu karena tahu aku berasal dari kampung dan hidup seorang diri di sini.
"Personal issue, Mbak. Hehehe."
Walau aku terkekeh, tapi aku merasa hambar. Bisa aku tebak bahwa wajahku juga pasti datar.
Mbak Nana membuang kasar napasnya. Aku merasa sedikit bersalah jadinya. Jika ingin menjadi sukses, tak seharusnya aku membawa masalah pribadi ke pekerjaan.
"Maaf ya, Mbak. Aku akan fokus!" ucapku tegas seraya membuka file yang baru saja di minta untuk di perbaiki.
Mungkin karena kesal, mbak Nana berlalu begitu saja ke ruangannya.
******
Sepulang kerja, usai makan malam, aku berbaring di kasurku dan log in ke akun sosial mediaku. Aku penasaran juga melihat pria tampan itu hari ini. Apakah dia semakin tampan jas pengantinnya?
Hubungan kami yang
tidak singkat tentunya diketahui banyak orang, teman-teman sejawat Leonard
mengetahuinya dan bahkan pernah beberapa kali aku diajak nongkrong. Aku mengenal beberapa temannya walau tidak akrab.
Hari ini, di hari pernikahan Leonard, banyak teman-teman yang memposting ucapan selamat kepadanya disosial media. Beberapa dari mereka bertanya-tanya tentang pengantin
wanitanya. Bahkan ada yang mention akunku.
Aku berusaha mengabaikannya.
Beberapa teman sebayaku yang merupakan sohibnya Sovia juga muncul, memention
akunku dan mengata-ngatai aku yang pernah berkhayal ketinggian.
Mereka seperti orang-orang yang kurang kerjaan saja. Aku tetap mengabaikannya. Sudah cukup aku kena tegur hari ini karena kegalauanku yang membuat konsentrasiku pudar. Tak ingin membuang energi lagi karena harus meladeni mereka yang sengaja ingin mengolok-olokku di keramaian dunia maya ini.
Sebelum aku log out, aku ingin melihat sekali lagi pria itu. Aku zoom poto itu dan melihatnya dengan seksama dan mengelus wajah tampannya.
Ntah aku yang terlalu pede atau apa, aku bisa melihat tatapannya yang sendu. Dia seperti
orang yang terpaksa. Aku sedih melihatnya seperti itu.
Untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku berniat membungkam mulut semua orang dan ingin mematahkan jari-jarinya yang masih mengetik nama akunku. Setelah kupikir pikir sebaiknya aku mengucapkan selamat juga.
"Happy Wedding to
Leonard & Sovia, semoga bahagia dan langgeng selamanya.
To everyone yang tau tentang kami, stop bertanya-tanya kenapa yang ini bukan yang
itu, 'we are done before this wedding party' gays. So, Jika kalian ingin tau gimana
__ADS_1
perasaanku, jujurly aku sedih, sedih
bukan karena dia menikah tapi sedih karena takdir kami tidak seperti yang kami
mau. So gaiss ucapkan selamat padanya tanpa bawa-bawa namaku ya. Again Happy
Wedding to both of you. Leonard and Sovia."
Updated
-----------------------------------
Pagi ini hitler masa kini sudah menunjukkan taringnya bahkan sebelum aku duduk di kursiku.
"You late five minits!" Lima jari kirinya di angkat dan wajahnya datar sekali.
"Maaf, Mbak!"
Baru kali inipun, dumelku dalam hati saat aku menunduk dengan menunjukkan raut bersalahku.
"Kamu habis menangis?" tanyanya tiba-tiba.
Kamu cenayang mbak?
tanyaku dalam hati, aku buru-buru membuka tas dan mengambil cermin kecil dari
dalam tasku. What the hell! Tadi pagi nggak gini-gini amat nih mata perasaan,
kok sekarang kayak habis di gebukin sepuluh orang.
"Sedikit, Mbak," jawabku sambil pamer gigi.
"Putus?" tebaknya
jawabku enteng dan sesembak langsung
terbahak-bahak. Ada yang lucu? Aku sedang tidak melawak loh mbak.
"Kerja yang benar, jadi orang dulu baru nanti pacaran lagi!" katanya sambil berlalu.
Maksudnya apa sih? Jadi orang dulu? Emangnya aku yang sekarang ini gak orang? Monyet?
"Saya ini kan orang mbak bukan monyet!" seruku padanya yang hampir menghilang di telan pintu ruangannya.
"Kerja sana!" katanya lagi mengibaskan tangannya lalu menutup pintu rapat, dasar hitler.
******
Disisa waktu mbak Nana
yang tinggal dikit, aku diajarin banyak hal termasuk menyetir, dan hari ini hari ketiga kami belajar. Aku belajar di jam makan siangku. Dan, here i am, aku udah bisa nyetir sendiri walau masih sangat lambat. Benar-benar luar biasa Mbak Nana, bisa semua coyy. Pokok e aku harus seperti dia
bahkan jika bisa harus melebihi dia. Semangat...
------------------
Aku hanya memandangi ponselku
yang sedang berdering. Membaca sekali lagi nama yang sedang memanggilku. Mataku
belum belo, kan?
Ragu, akhirnya aku menjawab panggilannya.
__ADS_1
"Hallo ..."
"....."
"Hallo..." ucapku sekali lagi.
"...."
"Kalo nggak mau ngomong, aku tutup yah, aku lagi kerja."
Ini jam empat sore, memang aku sedikit senggang karena pekerjaanku udah beres.
"Dek ..." Suara sendu terdengar ketika aku berniat memutus panggilan. Aku akhirnya terdiam sejenak untuk menenangkan detak jantungku.
"....Iya " jawabku pelan setelah diam beberapa saat. Jujurly aku rindu suaranya apalagi orangnya, tapi aku sadar tidak pantas bagiku
merindui lelaki orang lain.
"Abang minta maaf." Hadeh bambang, belum lebaran ini minta maaf mulu.
"Lebaran masih lama," candaku garing. Berniat menghilangkan kecanggungan, malah hambar.
"Abang,,, Abang gak bisa lupain kamu, Dek." sibambang ngelunjak.
"Ya jelas la nggak bisa, wong sekampung, nanti juga kalo aku balik bakalan ketemu,kan?" jawabku cuek. Dalam hati aku menjawab, "Aku juga belum bisa."
Aktingku yang pura-pura santai dan tegar ini bagus, kan? Apa sudah bisa ikut casting?
"Maksud abang--"
"Itu nggak baik Bang, nggak adil sama istrimu," potongku tegas. Tak baik meladeni kegalauan laki orang.
"Kita udah selesai dengan baik-baik, jadi kamu juga harus mulai hidupmu dengan baik, rumah tanggamu
yang baru aja kamu mulai ini harus kamu sterilkan dari kenangan-kenanganmu sama
aku dulu, kasian binimu ntar!" jawabku sok bijak padahal aku juga hampir
menangis mendengar suara sendunya. Dia seperti orang tertekan.
"Apa kamu udah lupain Abang?" Bertanya Seperti orang kehilangan harapan saja.
"Aku gak lupa, gimanapun abang pacar pertamaku, lelaki yang ajarin aku banyak hal, dukung aku biar bisa sukses, jadi aku gak akan lupa Bang, tapi aku gak mau berada di dalam rumah tanggamu, jadi aku akan singkirin perasaan kita yang dulu, Abang juga harus gitu!"
Hening, tidak ada jawaban dari seberang.
"Makasih Abang udah support aku, makasih udah terima aku apa adanya kemarin, makasih karna kamu gak malu pamerin aku ke teman-temanmu waktu itu, tapi kita gak berjodoh. Sekarang aku juga minta sama abang doakan aku supaya aku bisa sukses. Supaya aku ingat terus support abang," lanjutku memecah keheningan.
"Nanti, suatu hari kalo aku pulang kampung, jangan sungkan untuk nyapa, kita jangan berubah jadi orang asing, ayo kita temanan selayaknya orang sekampung tanpa ada embel embel perasaan cinta," lanjutku lagi. Aku mendominasi percakapan kami kali ini.
"Tapi abang gak bisa!"
"Harus bisa, pelan-pelan saja!" (Auto pengen nyanyi lagunya mbak Tantri)
"Abang--"
Belum selesai ngomong,
tiba-tiba ada suara perempuan samar-samar, bininya pasti.
"Yna tutup yah, Bang! Sekali lagi selamat berbahagia."
Aku memutus panggilan segera. Aku tidak mau disalah pahami oleh bininya. Dan aku
__ADS_1
gak mau di tuduh pelakor nantinya.