KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
49. TERNYATA DIA! part 2


__ADS_3

Tatapan mata Nathan belum teralihkan dari tiga orang itu. Nathan masih syok dengan fakta terbaru yang baru dia ketahui ini.


Tidak masalah jika Delia punya pacar, Nathan senang jika Delia bisa mendapatkan kasih sayang dari seseorang. Yang tidak habis pikir adalah, Delia dan Langit?


Kenapa Nara tidak memberitahukan Nathan soal ini malam itu? Kenapa Nara masih bersikukuh untuk berpisah padahal jelas-jelas tahu bahwa Delia yang merupakan istri Nathan adalah pacar bosnya?


"Apa kamu benar-benar mencintai aku, Ynara?" Sebuah pemikiran muncul tiba-tiba di kepala Nathan. "Apakah ini hanya alasan agar berpisah dariku?"


Tatapannya menyendu, "Seharusnya tidak apa-apa jika kita meneruskan hubungan kita, toh juga Delia sudah bahagia dengan pacarnya. Bahkan ternyata kamu tahu."


Karena terlalu larut dengan pikirannya, Nathan tidak memperhatikan ada dua orang pria yang mendekat ke arah meja Langit. Nara sudah duduk kembali karena di tahan oleh Langit.


"Hai!" sapa satu dari dua orang itu sambil menyalami Nara lalu melakukan sapaan ala pria pada Langit di lanjutkan dengan pelukan singkat pada Delia.


Pria satu lagi juga melakukan yang sama lalu keduanya duduk di kursi kosong di samping Nara.


"Gue Basten," ucap pria pertama pada Nara.


"Heru," lanjut yang satunya lagi.


Mau tidak mau Nara tersenyum seraya memperkenalkan diri, "Ynara."


"Nar, mereka ini teman-teman aku, kalau mau jadi teman kamu juga boleh," ujar Langit seraya tersenyum pada Ynara. Senyum yang memiliki maksud lain. Delia juga melakukan hal yang sama pada Ynara.


"Bro, dia cewek yang gue ceritain ke loe, gimana? Cantik, nggak?" bisik Langit pada pria bernama Basten.


Setelah melirik sekilas pada Ynara, Basten menjawab dengan senyuman dang anggukan,


"Loe punya permata gini kenapa lama banget kenalin ke gue. Tapi, kayaknya dia pure banget, ya?" balasnya berbisik dan sedikit terkekeh saat mendeskripsikan Nara.


Basten bisa melihat, ketidaknyamanan Nara di tempat ini, dan juga dari tampilannya, sungguh salah tempat. Bagaimana bisa seseorang datang ke club dengan pakaian seresmi itu? Bahkan dia bisa melihat tablet dan beberapa kertas putih di tas Nara yang di letakkan di sofa di sampingnya. Apa dia mau meeting?


"You're right! This is the first time for her to be here!" balas Langit dengan senyum.


Mata Basten membelalak, apa? Pertama kali ke club? Jaman apa ini?


"Gue bohong padanya, gue bilang mau meeting dadakan sekalian makan malam, gue kirimkan maps, tau-taunya kesini, dia syok tadi dan ingin pulang, tapi gue tahan. Loe, kalo emang cocok sama dia, Loe bisa deketin dia, tapi ingat jangan sampai merusaknya. Gue hajar loe."


Para pria itu masih asyik berbisik sementara Delia sudah mulai minum dan menggoyang-goyangkan badannya mengikuti alunan musik yang menggema. Nara bersandar dan melipat tangan di dada melihat ketiga pria yang seperti berunding itu.


"Huh, mau apa dia ajak aku ke tempat ini? Kurang ajar!" gumamnya seraya menatap tajam pada Langit.


Saat Langit menoleh ke arah Nara, dia bisa merasakan laser mata Nara tapi berusaha dia abaikan.


"Udah, kita jangan bisik-bisik gini, ntar teman loe curiga lagi. Dari tadi kayaknya dia natap kesini terus." Heru mengingatkan dua orang itu. Dia juga memuji kecantikan Nara di dalam hatinya, dan berharap Nara tidak sampai terpengaruh pada ucapan Basten nantinya. Heru tidak yakin Basten bisa kalem. Karena Heru tau jelas sifat temannya itu.


"Udah meetingnya?" tanya Nara ke arah Langit.


"Hehehe, Nar, jangan gitu, ini bisnis para pria. Kami----"


"Apa kita bisa mulai meetingnya, pak Bos?" Suara Nara sangat datar dan itu artinya dia sedang kesal.


"Di hold sebentar ya, Nar. Kita minum dulu!"


"Sorry, saya nggak minum. Silahkan di lanjutkan. Jika tetap anda meminta saya menunggu kalian minum baru meeting. Sorry to say, better for me to quit. Malam." Nara berdiri dan meraih tasnya lalu pergi. Langit berdiri dan mengejar Nara.

__ADS_1


Terjadi perdebatan antara dua orang itu dan Nathan melihat semua itu. Nathan bisa melihat telunjuk Nara yang mengacung pada Langit.


"Heh, kamu mau ajarkan gadisku dunia malam seperti ini. Kurang ajar juga kamu." Nathan mendengus pelan pada sikap Langit.


"Aku tidak tau tujuan kamu apa. Maaf pak Bos, aku tidak bisa ngikutin gaya kerja seperti ini. Jika kamu ingin bersenang-senang. Silahkan," ucap Nara pada Langit.


"Chill Nara, calm down. Aku memang bohong soal meeting. Aku mau kenalin kamu sama teman aku. Aku ingin kamu menikmati hidupmu juga."


"Tau apa kamu soal hidupku?" Suara Nara meninggi.


Akhir-akhir ini kamu makin serem, Nar. Aku pikir kamu perlu hiburan seperti ini sesekali." Langit dengan segala pemikirannya mencoba mempengaruhi Nara.


"Aku yang tahu apa yang aku butuhkan. Not you. Jangan sekali-sekali kamu menyamakan aku dengan kamu. Selamat malam!"


Nara meninggalkan Langit yang masih tetap berusaha menahannya.


Semua kejadian itu disaksikan oleh seseorang di sudut. Nathan berdiri dan bergegas keluar mengikuti Nara. Nathan melihat Nara berjalan ke arah mobil terparkir. Itu adalah mobil yang di belikan oleh Nathan. Nara membelokkan mobilnya ke salah satu outlet fast food dan membeli makanan lewat drive thru. Dia berhenti di pinggir jalan yang ramai dan mulai menikmati  sayap ayam yang jadi kesukaannya sebelum melempem. Semua itu di saksikan oleh Nathan dan Nathan bisa membayangkan bagaimana raut wajah gadis itu saat berhasil meremukkan tulang ayam itu dengan giginya.


"Selamat makan, Sayang!" ucap Nathan dengan mata terarah ke mobil itu.


Sementara Nara di dalam mobil,


Dia bersandar dan menghembuskan napasnya pelan. Kekesalan masih saja meliputi kepalanya dan dia sangat ingin menguarkannya kepada Langit.


"Harusnya aku tampar saja dia tadi. Atau aku tendang saja itunya biar dia jera," gumamnya lalu menarik napas dan membuangnya dengan keras. Tangannya yang memegang sayap ayam yang barusan di beli berhenti tepat di depan mulutnya.


"Kenapa lagi orang itu mengikuti aku? Kurang kerjaan bangat."


Jelas dia tau siapa itu. Dia mengenali mobil itu. Dia sering duduk di dalamnya beberapa waktu lalu.


****


Apakah Langit adalah pacar yang di akui Delia waktu itu?


Apakah Langit mengetahui status Delia yang seorang istri?


Tanpa sadar, arah yang di ambil Nathan adalah menuju ke apartemen dan begitu dia sadar, dia sudah berada di basement.


"Aku sepertinya butuh ketenangan. Aku akan menginap disini."


Keputusan 'menginap disini' yang sangat di sesali oleh Nathan, karena untuk kesekian kalinya, begitu dia masuk yang dia lihat adalah Nara yang berkeliaran di setiap ruangan menata ini itu sambil bertanya, "Gimana? Bagus nggak? Kamu suka nggak?"


Karena tidak tahan, Nathan keluar lagi dan berjalan meninggalkan unit dengan ponsel menempel di telinga.


"Ayo minum. Aku tunggu!"


*****


Nathan pulang  ke rumah sudah tengah malam dan di antar oleh Arthur yang kondisinya lebih baik dari Nathan.


"Aku baik-baik saja, kamu pulang lah!" titahnya pada Arthur yang hendak memapahnya ke dalam.


Sebelum Arthur pergi, mobil Nathan masuk ke halaman rumah itu dn di kendarai oleh kenalan Arthur.


"Thanks udah mau menemaniku hari ini dan mengantarku pulang Padahal aku masih sanggup menyetir," ujar Nathan setengah mabuk.

__ADS_1


Sanggup menyetir apanya? Sebelum masuk mobil udah muntah, di jalan juga muntah. Untung Arthur sigap mendorong kepala Nathan ke luar dari kaca yang memang sudah di turunkan.


"Ayo, aku antar sampai ke kamar!" Arthur bergegas handak memapah Nathan.


"I'm oke Thur. Hanya berjalan ke kamar tidak perlu di papah. Kamu pulang saja!"


Arthur melihat ke sekeliling rumah itu. Sepi! Padahal dalam hati Arthur berharap Delia keluar dan memapah Nathan. Semoga malam ini menjadi awal yang bagus bagi keduanya. Walau dia sebenarnya tidak terlalu suka pada Delia. Tapi keluarga Delia sudah sangat banyak membantu bisnis tuan Robert.


Setidaknya, Nathan bisa membayar kebaikan mereka itu dengan hidup bahagia bersama Delia.


"Hush... pulang sanah!" usir Nathan dan segera berbalik. Membuka pintu dengan sidik jarinya dan langsung menutup pintu. Dengan terseok-seok Nathan merangkak ke lantai dua dan lalu masuk ke kamarnya.


"Sayang, kamu disini? Thanks God. Kamu kembali" Nathan berlari menggapai bayangan Nara, memeluk dan membaringkan Nara bersamanya. Nathan tertidur dengan nyaman di sampingnya.


*****


"Tumben dia pulang cepat," gumam Delia saat mobilnya memasuki halaman rumah. Dia melihat mobil Nathan terparkir disana


Delia masuk ke dalam rumah dan langsung menaiki tangga dengan setengah berlari. Badannya lengket dan ingin segera mandi untuk menghilangkan sisa keringat dan bau percintaan yang baru selesai dia lakukan sejam lalu.


Dia pulang sendiri dengan menyetir mobilnya yang selalu dia tinggalkan di apartemen Langit. Dia menolak di antar oleh Langit karena pria itu setengah mabuk.


"Nara...Nara... Dasar gadis kolot. Ke club pake blazer. Kamu kira itu gereja? Hahahah"


Delia menertawakan penampilan Nara tadi. Gaun formal selutut dan di balut lagi dengan blazer. Sungguh gadis yang sangat suci.


"Basten pasti cocok untukmu, Nar. Dia bisa mengajarkanmu banyak hal. Hahahah"


Apa dia bermaksud mengajak Nara untuk hidup seperti dirinya?


****


Tak  butuh waktu lama untuk mandi karena sudah tengah malam. Dengan piyama tidur dan rambut yang masih di gelung handuk Delia keluar dari kamar dan bermaksud ke dapur untuk mengambil air minum.


Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamarnya karena dia mendengar suara mengigau dari kamar ujung. Itu adalah kamar Nathan.


"Tumben nggak di kunci," gumamnya seraya mendekat ke arah pintu yang sedikit terbuka itu. Padahal selama ini, siapapun tidak boleh masuk ke kamar itu bahkan Bi Narti art di rumah itu. Pintunya selalu terkunci. Apapun yang ada di dalam hanya Nathan yang tahu. Delia hanya mengira bahwa itu ruang kerja sekalian kamar Nathan.


"Hah... ternyata dia pulang dalam keadaan mabuk lagi." Delia menggerutu. Di melihat Nathan berbaring di lantai lengkap dengan baju kerja dan sepatu.


Dua bulan ini Nathan sering mabuk dan selalu uring-uringan. Raut wajahnya tidak pernah ceria.


"Apa permintaan orang tua mu sungguh menjadi beban untukmu?" tanya Delia pada Nathan dari ujung pintu.


"Jika kamu tidak mau, kenapa tidak jujur saja pada mereka. Aku sudah bilang kan, bahwa aku sudah punya pacar. Aku juga ingin bebas Nathan. Aku tidak mau terikat denganmu yang tidak pernah menginginkan aku."


Delia hendak memutar tubuhnya pergi dari sana, dia mau kena marah karena lancang masuk ke dalam kamar itu. Tapi, apa yang sedang di peluk oleh Nathan membuatnya penasaran. Dengan pertimbangan yang singkat, Delia melepas sandal rumahannya dan berjalan berjinjit ke arah Nathan.


"Apa itu poto cinta pertamamu?" tanyanya pelan dan penasaran ingin melihat wajah di bingkai yang sedang di peluk oleh Nathan.


"Huff, dia memeluknya dengan erat sekali!" gumamnya karena tidak bisa melihat wajah di bingkai itu. Saat berbalik dan hendak keluar, Delia menutup mulutnya dan matanya terbelalak.


"...!!!"


Delia mendekat ingin melihat lebih jelas.

__ADS_1


"Kalian?"


__ADS_2