
Saat pasangan kekasih itu menikmati masakan yang sederhana dengan begitu nikmatnya dan sesekali mengobrol masalah ringan. Saat itu juga, ada satu orang wanita yang gelisah di dalam kamarnya. Kamar mewah dengan segala perabotan mahal itu tidak memberikan kenyamanan untuknya saat ini.
Otaknya masih saja betah memutar memori siang tadi saat nama lengkapnya di sebutkan. Jika nama lengkap saja mereka sudah tau, apalagi hal yang lainnya?
Tok...Tok... Tok...
"Bu, makan malam sudah siap. Mau di bawa ke kamar?" tanya seorang art dari luar kamar.
"Iya, Mbak. Tolong, ya!"
Sang art hanya mengangguk lalu pergi ke ruang makan. Sudah tidak heran dengan tingkah majikannya yang selalu meminta makan malam di antar ke kamar. Padahal, rumah ini sangat besar dan ada ruang makan yang nyaman. Kenapa coba memilih makan di dalam ruangan sempit yang di huni sepanjang waktu. Apa tidak bosan?
Tak berselang lama, sang art datang dengan nampan berisi makan malam untuk majikannya.
"Terimakasih! Nanti saya letakkan piringnya di luar jika sudah selesai.
Artnya hanya mengangguk saja. Sudah biasa. Dulu tuan majikannya pernah melihat hal ini terjadi. Sekali dua kali di biarkan saja. Namun karena terus berulang, sang tuan sudah memperingati nyonya rumah. tapi tetap di lakukan juga.
*****
"Aku akan coba bertanya pada resepsionis di bawah, siapa nama penghuni unit di depanku," ujar gadis bernama Glo itu. Kedua sahabat itu masih duduk di dekat pintu seolah-olah sedang menunggu seseorang.
"Tidak usah, Glo. Nanti juga kita bisa tau. Kamu kalau mau ngerjakan sesuatu, silahkan saja. Biar aku yang menunggu Jojo."
Ternyata benar, mereka sedang menunggu seseorang. Seseorang yang akan keluar dari unit depan. Apakah akan pulang atau akan menginap.
Lama menunggu bahkan sampai larut, mereka mendengar pintu terbuka. Keduanya langsung berdiri dan mengintip dari peephole.
"Coba kamu lihat ini, deh. Kayaknya ada yang aneh!" Glo menarik tangan sahabatnya untuk gantian mengintip.
Dari lubang kecil itu, mereka dapat melihat Nara dan Nathan yang keluar dari unit. Nathan dengan pakaian santainya, sementara Nara dengan pakaian kantor.
Keduanya saling bertatapan. Satu kalimat dalam pikiran mereka. Unit itu milik Jonathan. Tidak mungkin jika cewek itu pemiliknya. Jelas-jelas saat datang tadi memakai pakaiannya yang sekarang. Tidak ada yang berubah. Bahkan sepatunya juga itu.
"Ceweknya cantik, ya. Manis." Glo berkomentar usai mereka duduk di ruang tengah.
"Iya, pertama kali aku lihat mereka di Singapore. Waktu itu nggak sengaja. Kami ada di toko yang sama. Karena aku yang duluan lihat Jojo, aku berusaha keluar tanpa ketahuan. Selanjutnya aku ikutin mereka."
"Hebat juga Jonathan, udah bawa ceweknya liburan bareng. Kira-kira masih ceweknya atau udah nikah siri?"
"Hush, nggak mungkin!" Gadis pirang itu menggeleng.
"Aku lihat jelas waktu di Paris. Dia yang menghentikan Jojo. Aku rasa jika mereka sudah menikah. Cewek itu pasti tidak akan menolak Jojo. Aku juga masih punya keyakinan, dia bukan cewek gampangan yang bisa menyerahkan diri pada pria."
__ADS_1
"Aku aja sebagai cewek, muji dia cantik dan manis. Apalagi Jonathan yang seorang pria."
"Aku takut Glo, ini akan berujung panjang. Kamu tahu watak papaku, kan?"
"Aku juga takut, Jojo menipu cewek itu."
*****
Sudah sangat larut ketika Nathan mengantarkan Nara. Walau tadi Nathan mencoba untuk menahan gadis itu tapi alasan "Aku tidak punya baju ke kantor besok " langsung meluncur dari mulutnya dengan cepat. Padahal itu bukan perkara yang sulit. Berangkat lebih pagi dari unit, singgah untuk ganti baju dan lanjut ke kantor. Problem solved.
"Aku langsung pulang ya, Yang. Takutnya kalau singgah jadi pengen nginap karena udah kemaleman." Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Nara.
"Hmm, hati-hati nyetirnya," balas Nara seraya bersiapa untuk turun.
"Yang!" Panggil Nathan pelan.
Ada sesuatu yang belum terucap dari gadis itu. Dan Nathan menunggunya. Nara mengurungkan niat untuk keluar dari mobil.
"Masih belum mau ngomong?"
"Aku berantem sama bos. Aku resign!"
"Karena?"
"Aku resign ya karena berantem, gimana, sih!" ujarnya kesal seperti tidak ingin memberitahukan alasan berantemnya apa. Mengingatnya saja sudah membuat Nara mual panas dingin. Apalagi Sisca tadi tanpa segan-segan duduk ngangkang diatas Langit dengan rok yang ... sudahlah
"Alasan kamu berantem, Sayang! I know well, kamu tidak akan resign begitu cepat hanya karena kesal dan beda pendapat dengan bosmu."
"Ini memalukan!" ujar Nara pelan seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Tingkah Nara yang seperti itu memunculkan dugaan negatif di otak Nathan.
"Apa bos kamu melecehkan kamu, Yang?" tanyanya cepat. Jika itu benar-benar terjadi, malam ini juga dia akan mencari Langit dan membalasnya. Dia akan menghabisinya dengan tangannya sendiri
Nara menggeleng.
"Bukan aku. Dan bukan pelecehan. Tapi sama-sama suka."
"Yang jelas Yang ceritanya. Aku mikir yang nggak-nggak ini." Nathan sudah mengubah posisi duduk. Separuh badan menghadap Nara.
"Dia lagi itu sama ceweknya di depan mata aku.Lebih tepatnya aku gerebek. Dia marah dan mecat aku. Jadi aku marah juga dan langsung print surat resign."
"Huff... Syukurlah bukan kamu. Kalau sempat dia lecehin kamu. Sumpah! Aku akan memotong tangannya."
__ADS_1
"Ck! Emangnya aku bodoh, mau di lecehin? Sama kamu aja aku nggak mau padahal aku cinta sama kamu."
"Beda, Yang. Kamu nggak mau, aku juga kan nggak mau. Kalau pelecehan itu beda. Itu pemaksaan."
"Berarti boss mu udah punya pacar?" tanya Nathan lagi.
"Hmm, udah beberapa kali ke kantor 'berkunjung'." Nara memberi tanda dengan jarinya saat dia mengucapkan kata
berkunjung.
"Cantik dan seksi. Sesuai selera Langit yang badung. Pasangan itu pasti satu server, buktinya sama-sama mau aja," ujar Nara.
"Jadi kamu lihat sendiri?" tanya Nathan dengan usilnya. Senyumnya sangat misterius.
"Hmm, dan aku menyesal udah gerebek. Mataku ternoda," jawab Nara sambil menutup wajahnya lagi.
"Gi--"
"Stop! Jangan tanya-tanya soal itu lagi. Kamu jangan mancing-mancing aku terus buat cerita hal mesum, ya!" Nara melotot pada Nathan dan mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Nathan.
"Aku, kan penasaran, Yang!"
"Ck! Udahlah. Aku masuk. Kamu hati-hati pulangnya." Nara mendekat dan mengecup pipi Nathan singkat sebelum keluar dari mobil.
*****
Glo mengguncang-guncang lengan temannya yang tertidur di sofa.
"Apa?" tanya gadis pirang itu.
"Jonathan pulang. Baru masuk ke unit."
"Ooo, ya sudah. Berarti dia cuma ngantar aja tadi."
"Kamu nggak penasaran dia pulang kesini? Kenapa nggak kerumah?"
Saat itu juga, gadis pirang itu tersadar siapa Jonathan dan dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Mengintip dari lubang itu dan menunggu beberapa saat.
Di pintu depan, terlihat jelas, Jonathan yang sudah berganti pakaian. Dari pakaian santai saat bersama Nara tadi, di ganti kembali ke pakaian yang di pakai ngantor hari ini. Dia menutup pintu dan berlalu dengan
kunci mobilnya.
"Kamu sudah terlalu jauh, Jo. Kamu menyakiti banyak hati."
__ADS_1