
"Tolong jangan bilang siapa-siapa. Aku akan cari tahu dulu mereka udah sampai mana dan udah berapa lama. Aku juga berharap papa tidak mengetahui ini. Aku takut akan ada kekacauan."
Gadis bernama Glo itu menangguk mengerti kekhawatiran sahabatnya. Lalu tiba-tiba sebuah ide muncul di dalam pikirannya. Walau sedikit kurang yakin, dia tetap memberi tahukan ide itu.
"Gimana kalau kita pantau saja malam ini. Mas Jonathan datang atau tidak berkunjung."
"Caranya?" tanya gadis pirang itu. Sedikitnya dia setuju dengan ide itu.
"Kita tunggu di lobi atau dekat-dekat lobi. Kamu kenal mobil Jojo, kan?
Gadis pirang itu mengangguk mengenai mobil yang biasa di gunakan oleh Nathan. Mobil kesayangan yang dia beli sendiri setelah bekerja. Dia lebih senang menggunakan itu dari pada deretan mobil terbaru yang ada di garasi.
"Tapi, aku takut kalau Jojo melihat kita pas menunggu di lobi."
Benar juga, bisa jadi misi gagal karena Nathan udah melihat mereka duluan.
"Kita pantau dari pintu aja, gimana? Biasanya Jojo jam berapa pulang kerja?"
"Hmm. Kita coba. Pulangnya nggak beraturan."
Akhirnya dua gadis itu berdiri dan mondar-mandir di sekitaran pintu. Sesekali mengintip dari peephole di pintu.
"Aku masih penasaran, kenapa Jojo--" Ucapan Glo terputus oleh instruksi dari gadis pirang yang sedang menempelkan mata pada peephole.
"Jojo!" terdengar suaranya sangat lirih.
"Gantian!" Glo menggeser gadis itu dan bergantian menempelkan mata. Mengintip apa yang ada di depan unitnya. Glo berharap bisa melihat wajah perempuan itu. Dia penasaran apa yang membuat Jonathan tertarik.
Glo bisa melihat, pria yang sudah di kenalnya lama, yang biasa dia panggil Mas Jonathan itu membuka sendiri pintu setelah menekan beberapa pin.
"Kamu benar, itu Mas Jonathan. Dia bahkan masuk sendiri dengan menekan pin sendiri. Padahal aku penasaran sama ceweknya." Glo berucap dengan lirih juga membenarkan apa yang di lihat oleh temannya itu tadi.
"Cantik!" Gadis pirang itu menjawab pelan.
Aku sudah melihatnya dengan jelas waktu itu. Aku bahkan mengikuti mereka kemana saja mereka pergi, dan aku juga menginap di samping kamar mereka"
Pengakuan gadis pirang itu mengejutkan Glo.
"Kapan kamu ngikutin mereka?"
"Bulan lalu. Mereka ke Paris."
Glo memikirkan apa yang barusan dia dengar. Kabar mengejutkan ini. Sungguh tidak menyangka Jonathan yang dia kenal bisa senekat itu.
"Ini... kenapa bisa seperti itu?"
*****
Sementara itu di dapur apartemen Nathan.
__ADS_1
Nara dengan celemek navy yang melekat di tubuhnya sedang sibuk dengan wajan di tangannya. Mondar-mandir di sekitar dapur dengan gesit.
Ya, dia sedang menyiapkan makan malam sementara prianya sedang bebersih. Hanya tinggal menunggu sebentar lagi maka hidangan siap. Kepiting bukanlah makanan yang memerlukan waktu lama untuk proses memasaknya. Bahkan mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memakannya.
"Udah?" Nathan tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya dan kemudian memeluknya.
"Two minutes," jawabnya tanpa terganggu dengan tangan di perut dan kepala di pundak. Wangi sabun menguar dari pria itu dan rambut di pundaknya masih meneteskan sisa-sisa air. Nara hanya berdecak dengan kebiasaan pria itu. Rambutnya tak pernah dikeringkan dengan benar.
"Hmm ... kamu wangi," ujar pria itu dengan suara teredam di pundak Nara. Detik berikutnya dia berusaha menggoda Nara dengan mulai menggesek-gesekkan hidungnya di pundak kekasihnya yang sedang
sibuk mengaduk aduk kepiting di wajan.
"Wangi dapur?" balas Nara sambil terkekeh. "Lepasin dulu, udah ini!" ujarnya kemudian.
"Hmm, biar begini bentar! Aku kangen tau, dua minggu gak ketemu," jawabnya sesekali melabuhkan ciuman di pipi, di leher dan di pundak. Abg lebay mode on!
Nara mematikan kompor dan membiarkan masakannya di atas wajan, tangannya memeluk tangan Nathan yang melingkar di perutnya lalu menyandarkan kepala di dada Nathan . Posisi ini nyaman. Badan keduanya berayun ke kanan dan ke kiri dengan mata terpejam. Keduanya menikmati beberapa waktu dalam hening. Ntah angin apa dan dari mana, Nara memiringkan kepala menatap pria itu lalu tersenyum dan berkata,
"I feel i'm home. Love you, Sayang." Tidak canggung lagi seperti yang sudah-sudah. Seolah-olah sudah sering mengucapkan kata cinta padahal masih bisa di hitung jari.
"Hehehe, this is the first time you call me 'sayang'," ucap Nathan kegirangan setelah sekian purnama baru bisa mendengar sebutan sayang dari kekasihnya.
"Masa? Kayaknya udah pernah sebelum ini," sangkal Nara sambil mengingat-ingat.
"Nggak! Baru kali ini." Nathan dengan yakin mengatakannya. "Oh, iya. Tadi di pesan kamu, kamu tulis sayang, berarti ini yang kedua," lanjut Nathan.
Nara tidak menanggapinya.
Dansa tanpa musik itu berlanjut dan entah dimulai oleh siapa, kini kedua wajah itu sudah menempel dan bibir itu saling menyesap, di bawah cahaya lampu terang di dapur, sejoli itu melampiaskan kerinduan dengan
ciuman dalam.
"Aku lapar, stop it!" seraya mendorong dada Nathan Nara berucap pelan nyaris berbisik, matanya masih terpejam dan sedang
berusaha menetralkan deru napasnya.
"Ck... gantung!" balas Nathan sambil
mengangkat pinggang gadis itu dan mendudukkan di meja makan. Kedua tangannya bertumpu pada
meja mengukung tubuh gadis itu. Wajah keduanya berhadapan saling menatap,
nyaris bersentuhan saking dekatnya. Tangan Nara terangkat dan merapikan rambut
Nathan.
"Seharusnya rambutnya di keringkan, biar gak
masuk angin. Kamu kebiasaan deh, emang gak pusing?" ucapnya seraya
__ADS_1
merapikan rambut basah itu.
"Nanti basah lagi," jawabnya tak nyambung
dan tetap mempertahankan posisi dan mulai memejamkan mata menikmati sapuan jari
Nara yang menjalar lembut di pipinya.
Nara berdecak dan mencebikkan bibirnya mendengar
jawaban Nathan. Dasar pria!
Nara mengelus mata yang terpejam itu kemudian
mencium keduanya, lalu turun ke hidungnya lalu kedua pipi. Terakhir Nara
melabuhkan kecupan di bibir Nathan.
"Semua yang aku tandai barusan, milikku, jangan sekali-kali membaginya dengan perempuan lain! Kalau sampai ..." Berhenti untuk meminta atensi Nathan. Nathan membuka mata menunggu kelanjutan ancaman kekasihnya.
"Kamu aku gorok ..." ucap Nara dengan
mimik seram yang dibuat-buat sambil menggerakkan tangan di leher seperti
memotong.
Nathan merapatkan tubuhnya dan mengulangi semua perbuatan Nara.
"Udah aku tandai juga, jangan sampai ada yang menimpa tandaku, apalagi bossmu itu!" ancamnya yang selalu berpikir
negatif pada Langit.
"Ck, kamu ini, kreatif napa, malah ngulang,"
decak Nara singkat tanpa membahas tentang Langit yang selalu dicurigai.
"Tadinya mau menandai yang lain, tapi takut
digorok beneran."
Plak.. Plak .. Plak
"Dasar omes!" Nara menampar pelan kening
Nathan tiga kali.
"Semua yang ada di aku, semua milik kamu. Dan kamu juga, semua milik aku. Jangan coba-coba berpaling dari aku atau tergoda
dengan partner yang selalu godain kamu,
__ADS_1
ajakin kamu makan malam, terutama itu boss kamu," ucap Nathan serius seraya
membingkai wajah kekasihnya.