KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
53. TEMUI DIA DAN TUNJUKKAN KESUNGGUHANMU!


__ADS_3

Bukan Delia yang kaget, tetapi Nathan. Saat Nathan melihat respon Delia yang tersenyum saat dia mengatakan bahwa kekasihnya adalah Ynara. Respon apa itu? Apa Delia sudah tahu? pikir  Nathan.


"Apa kamu tahu? Sejak kapan?" Nathan


menegakkan punggungnya. Apa Delia sudah mengetahuinya lama?


"Sama seperti kamu, baru beberapa hari lalu.


Aku akan jujur padamu, Jo." Delia juga memperbaiki posisi duduknya dan


berdehem sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Pertama-tama, maafkan aku karena sudah lancang masuk ke kamarmu."


"Kam--"


Telapak tangan kiri Delia yang terangkat dan


mengarah ke Nathan menghentikan kata yang hendak keluar dari mulut Nathan.


"Aku tidak sengaja, saat itu aku pulang larut


dan hendak turun lagi mau ambil minum. Tapi aku mendengar kamu mengigau tak


jelas. Aku menoleh dan melihat pintu kamarmu terbuka. Aku memutuskan masuk saat melihat kamu terbaring di lantai." Delia berhenti sejenak dan menunduk.


Dia takut Nathan marah karena sudah lancang.


"Makanya aku minta maaf tadi karena sudah


masuk. Tapi sebenarnya itu bukan salahku, kan? Siapa suruh nggak tutup pintu


seperti biasa?"


Delia melanjutkan kalimatnya setelah melihat


Jonathan mengangguk.


"Aku melihat poto kalian di kamarmu termasuk poto yang kamu peluk saat itu dan juga poto di meja kerjamu." Delia mendengus


seperti orang marah.


"Dasar Ynara, sudah tahu siapa aku sebenarnya tapi dia malah biasa saja padaku saat aku datang mengunjungi Langit. Seharusnya dia merongrong aku, kan? Menamparku karena sudah menjadi wanita yang tidak benar."


Kalau ingat saat Nara memergoki mereka sedang bersenang-senang, Delia sebenarnya masih sangat malu. Sempat sampe dua minggu lebih tidak berkunjung ke kantor Langit semi mengumpulkan rasa malu yang sudah berserakan dimana-mana.


"Dia bukan orang seperti itu, dia bahkan


mengusirku agar aku memperbaiki hubungan denganmu. Aku bahkan mengusulkan akan mengajakmu bertemu dengannya agar kamu menjelaskan hubungan kita, tapi dia seolah-olah tidak mengenalmu."


Delia tersenyum melihat raut Nathan yang seperti kesal tapi tidak tau harus melakukan apa.


Delia jadi kepikiran, jika Nara sudah tahu kenapa dia bersikeras untuk berpisah? Dia tau betul sejauh apa aku dan Langit, bukan kah seharusnya ini mempermudah langkah mereka?


"Jo, apa Ynara tidak pernah bilang bahwa dia mengenal aku? Atau cerita-cerita tentang aku?"


Jonathan menggeleng. "Dia tidak pernah cerita seputaran kantor. Dia hanya pernah bilang bahwa bos nya sudah punya pacar, itu karena aku terus merasa terancam oleh Langit. Apalagi orang tua Langit sangat baik padanya, aku takut mereka meminta supaya Nara mau di jodohkan dengan Langit."

__ADS_1


"Kamu sampai berpikir seperti itu?"


"Wajar, kan? Ynara itu limited edition."


Raut Nathan berbinar saat berbicara mengenai Nara.


"Kamu terlihat sangat mencintainya."


"Maaf kan aku," jawab Nathan sambil terkekeh.


"Tapi kamu benar, aku benar-benar tergila-gila padanya. Saat mengejar cintanya kamu tidak tau saja bagaimana susahnya. Aku bahkan jadi spy dadakan biar tau dimana rumahnya. Kamu pasti tidak percaya, aku bisa di kalahkan oleh teman-temannya hanya untuk menonton drama korea. Aku di tolak hanya karena mereka ingin menonton bersama."


"Saranku, sebaiknya kamu temui dia lagi, Jo. Bisa saja dia ingin melihat kesungguhanmu makanya dia mengusirmu. Dia mungkim ini melihat sebesar apa cintamu," saran Delia.


"Aku takut dia trauma. Seingatku dia pernah bilang bahwa dulu dia pernah gagal." Saat Ynara cerita, entah Nathan yang kurang fokus mendengar atau Nara yang tidak menceritakan secara detail.


"Pergi temui dia, dan minta kesempatan lagi, bilang aja, kita sedang proses perceraian. Jika dia oke, baru kita bicara dengan para tetua."


Walau sudah sore Nathan tetap pergi ke kantor. Saat di perjalan dia merenungi kata-kata Delia. Benar, dia harus menemui Ynara.


******


Nathan bimbang, haruskah dia masuk? Rumah Ynara masih terang, itu artinya dia belum tidur. Bahkan lampu kamarnya juga masih menyala.


Dengan sisa keberanian, dia keluar dari mobil dan berjalan dengan sedikit tergesa.


"Ngapain lagi loe kesini? Belum puas loe bohongin temen gue? Mau nipu apa lagi loe, brengsek?"


Kalimat sambutan yang sangat 'ramah' dari Rindu kala pintu terbuka.


"Nggak bisa! Loe pulang aja sana, penipu!"


Kalimat Rindu itu sangat menyakitkan bagi Nathan tapi memang itu lah yang sedang terjadi.


"Maaf, aku punya alasan!"


"Gue juga punya alasan untuk ngusir loe sekarang, pergi!"


Sementara dua orang itu berdebat, Ynara sedang tertawa riang di kamarnya. Di depannya ada ponsel yang sedang tersambung dengan keluarganya di kampung.


Kaka iparnya baru saja melahirkan anak kedua, ada anggota keluarga baru lagi yang bertambah. Masih terlihat jelas bayi pipi gembul itu memerah.


"Nara jadi pengen pulang kan jadinya. Kalian seru bangat disana rame-rame."


"Cuti aja ka. Pulang kampung bentar. Jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak. Baju bekas juga boleh" Ririn adik Nara menyahut. Tak lama setelah itu, sebuah pukulan mendarat di punggungnya dan di respon dengan cengiran.


"Minta baju bekas. Mana bisa baju kakakmu untukmu lagi. Lihat badanmu!"


Ibunya mengingatkan hal pantang bagi perempuan.


"Ibuuuu," Ririn merengek karena secara tidak langsung ibunya sudah mengatainya gendut.


Nara hanya tertawa melihat ibu dan adiknya yang seperti berdebat.


"Jangan kerja terus, ingat umur dek,


teman-teman seumuranmu di kampung udah rata-rata punya anak, masa kamu pacar

__ADS_1


aja gak punya, katanya di kota, banyak laki-laki, kan?" tiba-tiba abang Nara berseloroh setelah mengambil ponsel dari tangan Ririn.


"Jelas lah Bang banyak sampe  Nara kebingungan mau pilih yang mana," balas Nara dengan cengiran.


"Banyak gaya! Mantanmu aja udah mau tiga anaknya, yang besar udah mau masuk TK, masa kamu kalah ama dia, Dek" ledek abangnya. Kenapa sekarang baru bilang gitu? Udh dari dulu kan Nara kalah? Sejak putus dan Leo menikah, sejak saat itu Nara sudah kalah.


Nara hanya tersenyum merespon info dari abangnya, selamat deh buat Leonard, udah


mau punya buntut tiga.


"Semua ada waktunya Bang, ada yang duluan ada yang belakangan. Kalo aku yang belakangan ini berarti  ada yang kutunggu, sabar aja, nanti aku bawa


adik iparmu kalo udah pas waktunya.


Tunjukin ponakanku lagi," ujar Nara sekalian mengalihkan topik.


"Apa Mawar nggak cemburu sekarang ada saingan ya?" Tanya Nara lagi mengingat keponakannya yang pertama.


"Sekarang belum. Mudah-mudahan lah nggak. Malah dia pengen terus dekat-dekat adeknya, mau elus-elus, mau pangku."


Keluarga besar itu membicarakan banyak hal walau secara online. Mereka tertawa sepuasnya.


Setelah panggilan terputus, Nara terbaring terlentang di kasurnya. Akhir-akhir ini dia sangat sensitif jika ada topik mengenai laki-laki dan jodoh. Dia akan teringat dengan pria brengsek yang sudah menipunya selama dua tahun itu. Kadang dia juga teringat dengan kisahnya bersama Leonard.


"Nar, Loe ada tamu tuh di depan." Rindu membuka pintu setelah mengetuk sebentar. Kepalanya menyembul tapi tubuh lainnya di luar.


"Siapa?" tanya Nara setelah menoleh ke arah temannya itu. Sekarang kamar itu bukan lagi area terlarang bagi Rindu.


Nara berdecak usai memahami jawaban Rindu. Rindu hanya menunjuk sebuah bingkai besar dengan dagunya. Kalian pasti paham kan di bingkai itu ada siapa aja?"


"Turun sanah, temui dulu. Gue udah usir tadi tapi di ngotot nungguin kamu. Udah, kalian bicara dulu baik-baik. Gimana ke depannya."


Rindu memberikan sedikit nasihat pada Nara.


"Kedepannya apaan, udah putus Rindu!"


"Putus putus putus pantatku. Lihat itu!" tunjuk Rindu pada bingkai itu. "Kalau udah putus yah buang dong, masa tetap di pajang. Gimana mau lupa loe sama dia, saban hari lihat poto orangnya yang segede gaban. Aneh loe!"


Aku melihat bingkai itu, benar juga apa kata Rindu. Bodohnya aku, tapi aku masih belum rela membuangnya. Gimana dong?


"Bicara baik-baik, dengarkan dulu apa katanya," titah Rindu kemudian menghilang dari pintuku.


Dengan malas Nara melangkah ke ruang tamu. Pria itu duduk sambil menopang tubuh di paha dengan kedua tangannya.


"Ehm" Nara berdehem seraya duduk.


Nathan menoleh dan tersenyum.


'Ya Tuhan, senyumnya masih sama hanya saja tidak ada binar di wajahnya. Tatapannya sendu penuh kerinduan,' batin Nara. Itu pendapat Nara pas liat Nathan begitu yah, gak tau benar ato gak atau mungkin hanya perasaannya aja.


"Hai..." sapa Nathan dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Ingin sekali dia mendekat pada Nara dan memeluknya. Tapi dia menahan diri demi bisa melihat gadisnya lebih lama.


Nara hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi sapaannya, dia masih fokus


pada tampilan Nathan.


"Lihat  tampilan pria itu, dimana Nathanku yang ganteng dan berkarisma?"

__ADS_1


__ADS_2