KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
29. ADU MULUT


__ADS_3

Tok... tok... tok...


Tidak ada sahutan.


Ketukan kedua, masih sama, mungkin gak dengar.


Ketukan ketiga, lebih keras namun tetap nihil -tidak ada jawaban-


Nara kembali ke mejanya dan mengambil ponsel, mendial nomor bossnya yang tidak kunjung menyahut kala pintu di ketuk. 'Dia lagi apa, sih?' batin nya.


Panggilan tidak dijawab juga.


Nara tak habis akal, dia mengangkat gagang telepon di atas mejanya dan mendial tombol kantor bossnya. Menunggu hingga beberapa saat namun tak ada jawaban.


"Lagi ngapain, sih?" monolognya seperti bergumam.


Ingin rasanya langsung buka pintu dan masuk saja, tapi demi rasa kesopanan yang dijunjung tinggi dan Nara tidak ingin menjadi saksi atas apa yang terjadi diruangan bossnya, maka dia menahan tangannya yang hendak mendorong daun pintu.


Lalu gegas dia kembali ke mejanya dan meraih ponselnya, menari-narikan jemarinya dengan lancar.


Nara:


[ Pak, 30 menit lagi ada meeting, tim Pak Salim dari Salim Jaya udah otw, saya mau kasih bahan meeting]


Send


Sambil menunggu, Nara yang membaca ulang pesan yang di terimanya dari Sekretaris Pak Salim -rekan kerjasama mereka- bahwa  timnya sudah dalam perjalanan.


"Please lah pak boss, tolong jangan aneh-aneh di kantor. Mana situ belum pernah ikut meeting bareng mereka. Mas Andy mana, sih?" ucapnya pada diri sendiri.Matanya di edarkan ke arah pintu masuk ruangan.


Sedikit banyak, dia sudah bisa menduga apa yang sedang terjadi di dalam sana. Siapa yang tidak bisa menebaknya. Gadis bernama Sisca itu datang tiga puluh menit lalu dengan pakaian nyaris tidak ada karena


kurang bahan di segala sisi.


Atasan berbentuk kemben dengan bagian belakang nyaris putus karena hanya di  sambungkan dengan segaris kain. Bawahan rok yang nyaris menampakkan dalaman saking pendeknya. Astaga! Haruskah aset tubuh jadi bahan pameran?


Nara mengetuk-ngetuk mejanya. Pikirannya tidak tenang dan tidak fokus.


Sekali lagi dia meraih gagang telepon dan dial nomor kantor bossnya. Nihil juga.


Tidak sabar karena tidak ada jawaban, Nara bergegas lagi menuju pintu ruangan Langit.


"Ketuk lebih kuat!" perintahnya pada diri sendiri.


Tangan yang hendak mengetuk menggantung di udara sebelum menyentuh pintu. Nara menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk karena mendengar langkah kaki yang mendekat. Nara mendapati Andy yang sedang berjalan tergesa sambil membuka-buka file di tangannya. Merasa sedang ada yang melihatnya, Andy mengangkat kepala dan memandang Nara dengan alis terangkat.

__ADS_1


"Tolongin Mas," ujar Nara dengan wajah pias.


Andy menurunkan file di tangannya dan mengangkat alisnya lagi hingga dahinya berkerut.


"Tolongin apa?"


"Pak Langit tiba-tiba tuli, nggak denger ketukan, nggak denger telepon. Ponselnya juga nggak di jawab Mas. Itu tim Salim Jaya udah o.t.w, hampir tiba disini," wajahnya sangat memelas, berharap Andy mau membuka pintu itu dengan paksa.


"Mas Andy kan saudara sepupunya Langit, jadi nggak mungkin di pecat kalo dobrak, beda kalau aku, Mas," ucapnya lagi dengan kaki di ketuk-ketukkan ke lantai.


"Hehehe, kamu ngomong apa, sih? Ketuk lagi. Dia lagi ngerjain kamu tuh seperti biasa. Mau bikin kamu panik," ujar Andy tanpa berpindah dari posisinya.


"Udah dari sepuluh menitan di ketok gak nyaut-nyaut, Mas, udah tak telpon juga chat gak ada yang di respon, lagi colaps atau kenapa sih, meeting bentar lagi gak sampe setengah jam lagi, Jangan iseng bikin aku panik, pak Langit belum pernah ikut meeting ini, bahannya ini, mau aku kasih," keluhnya sambil mengarahkan tangan ke pintu dan mengetok sekali lagi.


"Ketok lebih keras siapa tau ketiduran!" Andy mulai bergegas ke arah Nara. Dia juga tak habis pikir pada pola pikir Langit. Saat genting seperti ini jangan main-main. Salim Jaya itu perusahaan yang bonafit. Sulit sekali menjalin kerja sama dengan mereka. Dulu pak Anwar sangat berusaha keras bersama Andy supaya bisa join. Jangan sia-sia dan kerja sama terputus hanya karena keisengan.


Tok ... tok ... tok ...


"Pak, saya boleh masuk?" tanyanya seraya mendekatkan wajah ke pintu seolah-olah menguping.


"Nih berdua pada ngapain sampe budek gitu, sih?" rungutnya pelan namun terdengar oleh Andy.


"Berdua?" Alis Andy menyatu. "Sama siapa?" lanjutnya dengan datar tapi mulai emosi. Jika Langit ternyata


"Hm, ceweknya datang tadi," Jawaban Nara yang singkat sudah menjawab semuanya.


 "Mana bajunya bolong sana bolong sini lagi," lanjutnya mengingat-ingat tampilan  Sisca yang semakin hari semakin


menyedihkan menurut Nara.


Okelah tidak munafik, Nara juga senang dengan pakaian-pakaian minim dan sedikit terbuka tapi Nara tau tempat dimana harus mengenakannya. Sisca ini udah keterlaluan, dia sudah tahu tempat ini adalah perusahaan. Apa pantas dia pakai baju seperti itu saat berkunjung?


"Masuk aja, grebek!" titah Andy namun Nara tak setuju, nggak mau jadi saksi pertama.


"Gak ah, Mas! Takut saya. Mas aja, deh!" tolaknya halus sambil melambai-lambaikan tangan di depan daada.


Dalam pikirannya hal-hal kotor sudah berlarian, pasti orang berdua didalem sedang  anu-anu sampe lupa waktu.


"Mau tunggu sampe kapan? Sekali-sekali harus dikagetin itu orang," ujar Andy sambil berlalu cepat menuju ruangannya. Dia sebenarnya sedang buru-buru. Dokumen yang di pegangnya harus segera di scan dan di kirim melalui email. Seharusnya Nara yang akan melakukannya, tetapi karean sibuk, tidak apa-apa jika dia yang lakukan.


"Dobrak aja, Nar. Hidupnya udah terlalu santai," lanjutnya sedikit mengeraskan suara dari depan pintu ruangannya


agar terdengar oleh Nara dan mudah-mudahan bisa di dengar oleh Langit.


Dengan berat hati, Nara menempelkan tangan ke handle pintu dan berkomat-kamit.

__ADS_1


"Pak, maaf saya masuk. Urgent!" ucapnya seraya mendorong pintu.


"Anji*g\, m*nyet\, lutun*\, b**i amit-amit\, amit-amit!" makinya cepat sambil ketuk ketuk kepala dan daun pintu yang


terbuka bergantian.


Cuih cuih cuih, dia bahkan meludah dan mulutnya tetap menyumpah serapahi dua orang yang kaget juga melihat kearah pintu yang terbuka. Nara bergegas keluar dan menutup pintu dengan keras sampai terdengar


suara gedebum. Apa yang ada dipikirannya benar-benar terjadi.


Nara masih komat-kamit mengabsen nama-nama binatang yang ada di safari sambil bersandar di mejanya. Matanya menatap tajam dua daun pintu yang sudah tertutup. Di dalam sana, ada dua orang sedang bergumul ria di


atas sofa di ruangan itu. Jas, kemeja dan dasi berserakan,  sementara Siska berada di atas tubuh Langit


dengan rok tertarik ke atas.


"Gila! Gila! Bajingan gila! Gak tau diri, gak tau tempat, brengseeekkk!" Nara berteriak sambil memukul mejanya dan tak lupa kakinya juga menendang kursinya.


"Gila.. gila.. gila dasar b**i gak punya otak, gak punya malu!"


"Apa?" Andy yang ikutan terkejut mendengar suara pintu dan juga samar-samar suara Nara yang tidak henti-hentinya mengumpat dan akhirnya keluar dari ruangannya. Andy penasaran melihat Nara yang


ngos-ngosan di dekat mejanya. Berdiri sambil mengelus-elus daada dan melakukan


tehnik tarik dan buang napas dengan pelan dan berulang-ulang.


"Gila! Bos kamu gila, Mas. Udah gila dia itu," katanya masih ngos-ngosan dan mengarahkan telunjuknya ke arah


ruangan  Langit. Andy yang sudah paham langsung berjalan cepat dan membuka pintu dengan keras dan mendapati sepasang manusia yang sedang merapikan diri. Dari situasi yang di depan mata ini Andy


sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi dan apa yang sudah dilihat oleh gadis itu. Andy hanya menggeleng dan berdecak. Tak habis pikir dengan tingkah sepupunya ini.


Nara masuk sambil memeluk dokumen yang akan jadi bahan meeting sebentar lagi, tanpa bicara apa-apa dia hanya meletakkan dokumen tersebut di meja Langit.


"Sekitar sepuluh menit lagi tim pak Salim tiba di ruang meeting. Yang di meja Bapak, itu bahan meeting, permisi," katanya sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu untuk keluar. Dia juga perlu menjernihkan pikiran. Basuh wajah dengan air dingin sepertinya solusi yang bagus.


"Dasar tak sopan! Apa kamu nggak diajari sopan santun? Sebelum masuk, ketuk pintu dulu, baru  masuk setelah di sahutin." Tiba-tiba wanita yang sudah duduk di sofa sambil mengangkat  sebelah kaki bersuara dan Nara tidak terima dengan kata 'tak sopan' yang keluar dari mulut wanita itu. Disini siapa sebenarnya yang tidak sopan? Mulutnya gatal ingin menjawab tapi di urungkannya, anggap saja dia kurang otak batinnya.


Tak ingin ribut dan cari perkara Nara hanya menjawab.


"Maaf Mbak, sudah saya ketuk dan saya telepon juga tidak ada jawaban, karena ini urgent say-- "


"Seurgent-urgentnya itu, apa kamu tidak bisa berteriak lebih kencang? Mengetuk lebih keras? Haa?" Perkataan Nara terpotong oleh Langit yang berteriak sambil bertolak pinggang dan membelakangi Nara. Kepalang malu, untuk penutupi rasa malu, dia alihkan jadi amarah.


"Apa kamu  sebegitu inginnya melihat kami berdua sedang apa makanya kamu masuk begitu saja? Dimana sopan santunmu? Apa kamu tidak di ajari tata krama? Apa perlu aku carikan guru untuk mengajarimu?" lanjut Langit dan sudah berbalik. Entah  apa yang merasukinya bisa semarah itu, apa karena sesuatu yang belum tertuntaskan?

__ADS_1


__ADS_2