
"Langit pacaran sama Nara, Tan?" Bisik Risa kepada nyonya Melinda.
"Maunya Tante gitu sih, tapi kayaknya gak, deh," jawab nyonya Melinda balas berbisik tetapi pandangannya mengarah pada Nara.
"Cocok kayaknya, Tan. Langit kan pecicilan, cocok sama yang kalem begini, Tante jodohin aja!" lanjut Risa mengompori.
Dan percakapan yang seperti berbisik ini bisa di dengar oleh semua orang yang ada di sekitar meja makan, tak kecuali Nara yang menjadi korban ghibah. Seolah tidak mendengar apa-apa, Nara dan yang lainnya sibuk dengan urusan masing-masing.
"Tante sebenarnya oke, tapi sayang bangat, Langit sepertinya bukan tipenya Nara deh Ris," lanjut nyonya Melinda. Seperti sengaja mengeraskan suaranya agar mendapat intensi dari salah satu orang yang sedang dibicarakan, tapi naas, yang di singgung seolah-olah tuli.
Risa menatap Nara yang begitu cuek dan sangat santai walaupun sedang di ghibahin. Risa jadi gemes. Masa tidak ada salting-saltingnya.
"Chan, nanti minggu depan acara yang di rumah bude, kamu ajak Nara lah, sambil ..." Risa kedip-kedip gak jelas ke Chandra yang notabene adik iparnya. Risa ingin melihat respon Nara.
Nara yang mendengar itu hanya menghela napas pelan saja dan tidak menanggapi. Hal-hal seperti ini yang di hindari olehnya jika di undang ke acara-acara keluarga bossnya. Dijodohin kesana kemari seperti gadis jomblo akut menyedihkan saja. Padahal, belum tentu pria yang di tawari berminat pada Nara.
Chandra belum sempat jawab ketika suara bass berwibawa itu terdengar. Dan Chandra sangat bersyukur karena terbebas dari serangan kakak iparnya yang sempat menciptakan situasi akward.
"Langit belum sampai?" tanya pak Anwar yang baru memasuki ruang makan dan bersiap duduk di kursi paling ujung diikuti nyonya Melinda duduk di sebelah kirinya.
"Paling juga bentar lagi, Pa. Kita tunggu aja, ini juga Asa lagi siapin satu hidangan lagi," jawab nyonya Melinda kemudian mempersilahkan yang lainnya duduk walaupun sudah terlambat karena sejak tadi sudah duduk dan bahkan sedang sibuk dengan ponsel.
Nara tidak menyuarakan apa yang ada dipikirannya. Sebenarnya, seharusnya Langit sudah sampai, kan? Apa mampir atau gak jadi kesini? Tapi ya sudahlah, itu bukan urusannya. Jangan terlalu banyak terlibat dengan urusan keluarga bosnya. Nanti di kira sok akrab. Paling parah, gimana kalau di kira nyodorin diri sendiri supaya bisa masuk di lingkungan keluarga itu? Oh No. Lebih baik diam saja.
Tidak lama berselang, hidangan yang terakhir mendarat di meja, dan Asa juga duduk berhadapan dengan ibunya dan di sampingnya ada kursi kosong -mungkin untuk Langit- diikuti Andy dan Risa. Sementara Chandra dan Nara sejajar dengan nyonya Melinda.
"Tamu Mama jadi datang?" Tuan Anwar bertanya sambil mengangkat gelas berisi air putih yang baru di tuang oleh istrinya.
__ADS_1
"Jadi," jawabnya santai sambil mengisi piring suaminya.
'Tamu? Ada tamu yang lain? Siapakah?' batin Nara.
Jika ada tamu lain, Nara merasa akan sangat sungkan. Karena hanya dia seorang yang bukan kalangan keluarga. "Kenapa harus undang aku sih, kalo emang mereka punya tamu?" kesalnya dalam hati.
Langit masuk tak berselang lama, sambil bersiul riang dan langsung duduk tanpa ada rasa bersalah karena sudah di tunggu. Lalu menyapa orang tuanya sebelum mencomot satu ekor udang dari hidangan di atas meja. Ckckck tidak ada sopan santun.
"Malam Pa, Ma. Sorry telat. Wah, Kamu makin jago Sa, enak bangat," ujarnya usai mengunyah udang itu.
"Ck, kamu ini. Belum mulai udah comot-comot," nyonya Melinda melotot dan bicara geram.
"Oh, belum, ya? Lang kita, Lang udah telat. Kirain ini sisa-sisa."
Nyonya Melinda hanya berdecak saja.
Dasar! Sisa-sisa apanya, piring masing-masing aja masih terbalik kecuali tuan Anwar.
Sepasang paruh baya dan seorang gadis cantik. Para paruh baya itu terlihat akrab. Mungkinkah teman lama?
"Lang, masih ingat Om Rapi dan tante Rosa, kan?" tanya nyonya Melinda pada Langit yang duduk di samping Asa.
"Masih lah, Ma. Yang periklanan, kan?" jawab Langit santai.
"Hallo Om, Tante, apa kabar? Makin muda aja kelihatannya," sapanya langsung berdiri dan menyalami tamu paruh baya itu dengan gaya sok akrab.
"Ini Dewi, masih ingat juga?" lanjut Bu Melinda menunjukkan gadis cantik di antara mereka. Wajahnya sangat berseri saat menunjuk gadis pirang itu.
__ADS_1
"Hai Dewi. Sorry! Udah sedikit lupa," jawabnya jujur dengan gaya tengil melambaikan tangan.
"Malam Om, Tante," Asa juga berdiri dan menyalami paruh baya itu.
"Hai Dew, sehat?" tanya Asa dan menyalami gadis itu di ikuti oleh Andy, Chandra dan Risa yang sudah berdiri.
'Sepertinya mereka ini saling kenal, nyesal jadi kambing congek di acara orang-orang kaya' batin Nara dan sudah seperti bisa menyimpulkan makna makan malam ini.
"Hallo Pak, Bu." Sapa Nara ramah sambil membungkukkan kepala sedikit "Hallo Mbak" lanjutnya pada gadis
pirang dengan mekap tebal itu.
Yang disapa hanya diam dan menatap nyonya Melinda seolah bertanya 'Siapa?'
"Nara, sekretaris Langit di kantor," jawabnya santai seraya mempersilahkan tamu untuk duduk dan di jawab anggukan oleh para tamu.
Nara yang tahu diri, menyingkir dari barisan nyonya Melinda di ikuti Chandra, mereka duduk di sejajar dengan Risa.
Makan malam di mulai, hidangan di meja penuh dengan pujian dan membuat Asa menjadi bintang di acara ini karena kepiawainnya dalam memasak. 'Jelaslah piawai, namanya juga chef, sekolah mahal-mahal ke luar negeri,' batin Nara sambil menyuapkan makan malamnya.
Tidak banyak kata yang terucap dari Nara, sesekali akan menjawab jika Chandra -yang kebetulan disampingnya- bertanya. Nara bisa menyimpulkan bahwa gadis bernama Dewi itu sedang di promosikan pada Langit. Kebiasaan orang kaya, cari jodoh untuk anak seolah-olah anaknya udah nggak sanggup cari pasangan ideal. Lalu tiba-tiba dia teringat dengan Nathan, apakah dia juga sedang dicarikan jodoh?
"Sekali-kali ajak Dewi jalan Lang, kamu kan udah kenal dia dari dulu, cuma lupa aja karna udah jarang ketemu," saran nyonya Melinda dan di angguki Langit. Tidak ada bantahan dari Langit, sepertinya sudah pasrah, lalu bagaimana dengan gadis yang diciumnya tadi di mobil?
Sepertinya sampai akhir hidupnya akan berada di kendali orangtuanya. Nara ingin sekali menatap Langit dan melihat bagaimana raut itu. Dalam hati Nara merasa kasihan dan tidak membenarkan cara tuan Anwar dan nyonya Melinda yang terlalu mengendalikankan hidup Langit. Poor Langit.
Apa Leonard dulu juga seperti ini? Bahkan untuk mengucapkan kata 'tidak' juga tidak berhak. Lalu apakah gadis di mobil tadi akan bernasib sama dengan ku? batin Nara.
__ADS_1
Tanpa sadar Nara meremas sendok ditangannya dengan sangat erat kala memikirkan situasi dirinya sendiri sekarang ini.
Apakah seseorang disana juga tidak berhak berkata tidak jika disodorkan yang seperti ini?