
Nara tidak bisa menolak undangan tuan Anwar dan istrinya -Nyonya Melinda- untuk makan malam yang katanya dimasak oleh Angkasa - anaknya yang berprofesi sebagai chef-.
Malam ini dia hanya mengenakan dres hitam selutut lengan panjang yang sukses membentuk lekuk tubuhnya yang ramping. Rambut hitam bergelombangnya yang lebih sering di gulung rapi kini dibiarkan terurai dan sedikit messy. Dia terlihat semakin cantik dengan sentuhan mekap tipisnya.
Dia menyetir sendiri -mobil perusahaan yang diberikan padanya- dan berkendara dengan santai. Saat berkendara, sekilas dia melihat mobil bossnya di depan sana. Dia tetap mempertahankan laju mobilnya dan tetap berada di belakang bossnya. Saat dilampu merah mobil bossnya tepat berada di samping dan dia dapat melihat
pemandangan luar biasa.
"Astaga! boss gila, bahkan saat mobil di keramaian seperti ini, orang - orang bisa melihat isi mobilnya berani-beraninya dia berciuman dengan begitu menggebu." Nara merutuki perbuatan gila bossnya sambil geleng kepala dan mulutnya berdecak beberapa kali.
Nara teringat bahwa dia juga sering berciuman di mobil bersama Nathan. Tapi, sumpah demi apapun mereka tidak pernah melakukannya saat di lampu merah seperti ini.
Dia melajukan mobilnya mendahului pasangan itu saat lampu berubah hijau.
"Semoga saja pasangan itu tidak lupa waktu dan tidak berakhir dengan bunyi klakson yang riuh," batinnya.
Ponselnya berdering...
Nathan calling...
"Hmmm," sapanya setelah menggeser tombol hijau diponselnya. Ponselnya di letakkan di atas paha dengan pengeras suara yang sudah aktif.
"Sedang apa? Apa kamu lembur lagi?" tanya seseorang di seberang dengan suara lembut mendayu, membuat yang mendengar merasa nyaman.
"Sedang nyetir, mau makan malam ke rumah boss, di undang bu Melinda," jawabnya memberitahu. Sambil melihat kebelakang melalui spion dalam, memastikan mobil yang dibelakangnya adalah mobil bossnya atau bukan. Dan ternyata bukan.
"Ada acara?" tanyanya penasaran. "Siapa aja yang di undang?" lanjutnya lagi.
"I dont know, cuma kemarin pak Anwar ke kantor, aku dan Mas Andy di undang titah dari Bu Melinda katanya. Terus, tadi bu Melinda nelpon lagi, ngingatin. Padahal mau kutolak tadinya, tapi jadi nggak enak karena udah di telpon lagi."
"Boss urakanmu ikut juga?" tanya Nathan penasaran. Dia was-was bisa-bisa nyonya Melinda melakukan sesuatu kan? Dia tahu nyonya Melinda sangat menyukai Nara.'Jangan sampai' batinnya di ujung sana.
"Ikut kayaknya, barusan aku liat mobilnya pas aku lewat," katanya enteng karena tidak ada sedikit pun di pikirannya mengenai apa yang dipikirkan Nathan saat ini.
__ADS_1
"Hmm, listen! jika nanti nyonya Melinda minta kamu dan bossmu ..." Tidak tahan memendam sendirian akhirnya diungkapkan juga apa yang menjadi kegelisahan hatinya setelah mendengar kemana kekasihnya malam ini.
Tapi, dia berhenti sejenak memikirkan kata yang pas agar tidak membuat kekasihnya tersinggung dan marah.
"Don't worry, bossku bawa ceweknya, kok. Aku lihat tadi ada cewek cakep di mobilnya," potong Nara yang sudah tau arah pembicaraan Nathan.
Dia hanya menggulirkan bola matanya malas, selalu begini, jika berhubungan dengan bossnya, Nathan selalu curiga berlebihan. Dia tidak pernah melihat bossnya seperti yang selalu diutarakan Nathan. Memang sesekali Langit berusaha sok akrab dengannya tapi bukan berarti karena menyukainya seperti dugaan Nathan, kan?
Beberapa kali Nathan menyuarakan kekhawatirannya mengenai kedekatan Nara dengan nyonya Melinda. Dan Nara membantah jika nyonya Melinda ada niatan seperti yang di suarakan Nathan. Tetapi tetap saja, pria itu merasa was-was. Pemikiran ini yang biasanya berakhir menjadi perdebatan tak berarti bagi keduanya.
"Aku udah sampe, aku tutup dulu, nggak enak kalo mereka nungguinnya lama," lanjut Nara sambil bersiap untuk parkir di halaman luas rumah besar itu. Nara menurunkan kaca mobil kala satpam mendekat untuk membantunya memarkirkan mobil.
"Mmm, aku juga sedang di rumah orang tuaku, makan malam keluarga dan mungkin akan menginap disini," ujar Nathan sekaligus memberitahu bahwa malam ini dia tidak akan berkunjung.
Sungguh aneh, pasangan kekasih biasanya akan menghabiskan waktu bersama di malam minggu. Namun
lihatlah sejoli ini, malah akan makan malam resmi dengan keluarga maupun boss.
basa-basi namun syukurlah dia tersadar saat kalimat itu belum keluar dari mulutnya.
"Salam buat keluarga kamu," ucapnya pelan sambil menatap ponsel yang layarnya sudah menghitam. Pasangan pada umumnya akan berucap begitu, kan? Apalagi hubungan mereka sudah berjalan hampir setahun. Tidak sedikit juga mereka yang sudah berjalan selama itu akan diperkenalkan pada keluarga masing-masing. Namun lihatlah sejoli ini, bahkan pada teman sendiri saja masih tertutup. Hubungan macam apa itu?
Sejujurnya Nathan sudah ada niatan bertemu Nara malam ini, tapi dibatalkan karena perintah ayahnya untuk datang ke rumah utama. Dan Nara juga tidak keberatan karena dia diundang juga oleh boss besarnya.
---------------------
Nara sudah berada di rumah tuan Anwar dan tidak segan-segan membantu nyonya Melinda menyiapkan makan malam ini. Nara membantu para asisten rumah tangga untuk mengantarkan dan menyusun menu yang sudah dimasakkan oleh chef Asa.
"Duduk saja Nar, biar ibu dan Imah saja!" larang nyonya Melinda saat Nara mengangkat mangkok sup.
"Gak pa-pa bu, lebih banyak yang kerja lebih cepat selesai, kan?" tolaknya dengan senyuman menghiasi wajahnya. Bagaimana mungkin dia duduk anteng sementara pemilik rumah mondar mandir dapur - ruang makan sambil mengangkat peralatan makan dan mangkok-mangkok berisi hidangan. Sungguh, akan viral sejagat raya jika
sampai masuk story seseorang.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar teriakan riang dari arah depan menuju ruang makan, wanita buncit berperawakan mungil datang sambil berlari kecil dan kemudian diikuti dua orang pria berperwakan tinggi .
"Hai tantee ..." sapanya riang sambil cipika - cipiki dengan nyonya Melinda dan mengangguk samar pada Nara. Nara balas mengangguk sambil tersenyum ramah.
"Siapa tante?" bisik wanita itu, namun bisa di dengar oleh Nara. Tipe-tipe tukang sindir sepertinya. Berbisik tapi sengaja agar di dengar oleh korbannya.
"Nara, kenalin, ini Risa istrinya Andy. Nara ini sekretarisnya si Langit Ris." Nyonya Melinda memperkenalkan seraya begantian menatap Nara dan risa.
"Hallo, Mbak," sapa Nara sopan dan di balas Risa dengan aggukan sopan.
"Berapa bulan, Mbak?" Nara berbasa-basi sambil mengarahkan pandangan ke bagian perut Risa.
"Masuk delapan," jawabnya riang sambil elus-elus perut buncitnya.
"Iri liat kamu Nar, nanti kira-kira aku bisa selangsing kamu lagi gak yah abis lahiran," ujar Risa seperti merajuk. Bibirnya dimajukan tapi tangannya tetap setia mengelus perut buncitnya.
"Bisa, Mbak. Apa yang nggak bisa kalau kita usahain?" jawab Nara. Konyol amat dah ini bumil, lagi hamil tujuh bulanan aja dia kecil gitu, apalagi kalo anaknya udah keluar. Bisa-bisa dia ngalahin artis Sandra Dewi. Hamil dan nggak hamil sama aja. Tetap langsing.
"Hai Nar, udah lama?" tanya Andy basa - basi sambil duduk di salah satu kursi dan diikuti pria satunya lagi. Tidak
terlalu ambil pusing pada aksi istrinya yang sudah ratusan kali dikeluhkan. Makin ditanggapi makin jadi ntar, mending didiamkan saja.
"Baru, Mas," jawabnya santai masih menata hidangan di atas meja.
Seperti biasa, Andy yang pembawaannya kalem, hanya mengangguk tanpa basa-basi lainnya. Tangannya merogoh kantong celana dan setelah itu sibuk dengan ponselnya.
"Oh iya Nar, ini Chandra adiknya Andy, masih single loh! " nyonya Melinda memperkenalkan pria satunya sambil promosi seperti marketing. Wajahnya di hiasi senyum jenaka penuh maksud saat mengatakan 'masih single loh'.
"Hallo, Mas," sapa Nara ramah.
Tiingkah nyonya Melinda tidak akan mempan untuknya. Sudah biasa. Saat arisan juga seperti itu, kadang mempromosikan dirinya pada teman-teman arisannya dan mengatakan 'Nara ini menantuable loh, baik, sopan dan bla bla.'
"Hai," jawab pria bernama Chandra itu sambil melambaikan tangan dengan senyum merekah. Matanya menyipit saat dia tersenyum dan ada lesung pipinya disebelah kiri. Sungguh sifat yang bertolak belakang dengan abangnya.
__ADS_1