KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
12. BOLEH KENALAN?


__ADS_3

            Kerjasama dengan PT. Sagara Makmur berjalan lancar. Proposal yang dikirimkan  disetujui oleh direksi perusahaan kami setelah penjelasan dan rincian perkiraan keuntungan yang di dapat. Kontrak kerja sama  sudah dibuat dan hari ini acara penandatangan kontrak dikantor kami.


            Sama seperti sebelumnya, yang menghadiri penandatanganan ini adalah Pak Jonathan dan sekretaris yang bernama  Arthur. Sepanjang acara yang saya lihat, Arthur ini bukan hanya sekedar sekretaris.  Mereka terlihat akrab dan Pak Arthur ini tidak segan-segan mengingatkan  boss nya jika ada sesuatu yang missing.


            Tidak ada hal yang  aneh atau di luar dugaan sepanjang acara ini sama seperti acara penandatanganan kontrak dengan pihak-pihak lain yang sering kami lakukan. Namun tiba-tiba diluar dugaan Pak Jonathan mengulurkan kartu namanya padaku. Dan sebagai sekretaris aku menerimanya saja seperti biasa.


"Bisa barter dengan kontak mu?" tanya nya dengan senyum tipis di bibirnya.


"....."


"Heheheh" Dia terkekeh pemirsah. Aku terlihat seperti orang bego saja.


"Basa-basiku ternyata ngawur. Boleh saya save nomor hape mu, Nona? lanjutnya.


Garing sekali, hanya untuk minta nomor ponsel saja harus begitu.


Seperti biasa, aku menyerahkan kartu namaku.


            Aku tidak bermaksud pamer, tapi beberapa dari rekan kerja sama kami sering meminta nomor kontakku. Tidak apa-apa aku berikan saja. Jika nanti mereka calling atau chat masih ku ladeni selama itu sopan dan bertanya mengenai kerjasama yang berlangsung. Jika sudah mengarah ke hal-hal romansa aku ahli dalam hal


mengalihkan ini ke topik lain.


            Dan percaya pemirsah, sampai hari ini mereka-mereka yang chat ingin mengenal lebih jauh secara personal tidak kuat nyali saat pertama kali kutolak.  Bisa di tebak bukan? They are just a player.


-------------------


Rindu:


[Sabtu besok lu ke cafe, nyanyi]


[vocalist band gue  cuti, urgent, lu gantiin ye]


Siapa Lo?


Hadeh, minta tolongnya ramah BGT yah, rendah hati sekali.


Me:


[Sorry, gak bisa, gue ada date]


Rindu:


[ D.A.T.E my ***]


[ Besok jam 7 teng ya. TITIK]


Apa aku terlihat bodoh? Bisa di suruh-suruh seenaknya?


Apa jiwa babu yang dari kampung terbawa-bawa sampai disini?


Rindu:


[ Kasih alasan logis gobl*k]


[ date gak ada di kamus lo ]


[ Lupa or amnesia lo?]


            Apa dia tau sejauh itu?


            Jelas, sekarang dia bahkan jadi sohibku, dia bahkan lebih sering kerumahku daripada pulang ke rumahnya


sendiri. Alasannya, tinggal bersama orang pendiam seperti aku menyenangkan, hening dan gak banyak tanya ini itu.


            Jika tiba-tiba ada masalah dengan band di cafenya dia gak perlu pusing, kalo dari pengunjung gak ada yang niat tampil, dia punya solusinya. Ynara solusinya. Makanya sekarang aku tambah kaya pemirsah, selain gaji dan bonusku dari kantor  aku dapat gaji dari Rindu cafe. Aku tidak dapat transferan tapi setidaknya isi kulkasku selalu terisi penuh walaupun gadis ganteng itu yang lebih ganas mengurasnya kembali.


------------------


            Sabtu Malam di Rindu Cafe


            Ramai dan ini sudah jadi pemandangan yang biasa, sebelum berangkat tadi gadis-gadis


kimprit  -Melda cs- datang kerumah menjemput ku dan katanya akan touring ke Bogor. Jujurly pengen sih ikutan, tapi aku langsung tolak begitu tau para pria mereka juga ikutan. No lah. Aku masih belum berminat dengan pria-pria macho pemilik roti sobek seperti mereka.

__ADS_1


            "Sorry say, aku udah janji sama Rindu. Next time aja, ya!" ucapku menolak ajakan mereka. Jadi, mau tidak mau, aku harus ke cafe untuk membuktikan kebenaran dari penolakanku.


            Malam ini aku membawakan beberapa lagu dan para pengunjung menikmatinya. Fyi, Aku memang penyanyi kamar mandi yang handal, dan itu terbukti dari jasaku yang selalu di pake di situasi darurat di cafe ini. Bahkan sekali-sekali walaupun situasi aman terkendali aku sering bernyanyi disini. Selain pamer, aku juga ingin melampiaskan apa yang ada didalam pikiranku melalui lagu yang kubawakan. And to be honest pemirsah, It's working .


"Lo gak belok kan?" Ini pertanyaan ke seribu satu kali dari Rindu. Selain di cafe dia juga sering nanyain ini ke aku.


Dan aku gak perlu jawab, aku hanya menggulirkan bola mataku malas.


"Liat nih!" Rindu menyodorkan hpnya padaku dan kulihat si kimprit Melda pelukan sama cowo di Puncak dan pengikutnya juga begitu. Gadis-gadis itu menghabiskan weekend ini bersama pasangan masing-masing


dengan mesra. Sungguh beruntung.


Aku mengendikkan bahu, cuek do au disi cess -bahasa temanku dari sumatera-.


"Gak iri liat yang beginian? Gak pengen lo?" Kayak polisi aja banyak tanya. Malas.


"Udah pernah," jawabku cuek.


"Pacaran gak bikin kaya, bikin tekanan batin, iya," lanjutku.


Tak seorang pun di antara teman-temanku yang tau bagaimana kisahku, sosmed ku yang dulu udah ku nonaktikan untuk menghilangkan jejak.


"Lo pernah pacaran?" tanyanya ingin tau dan aku kesel liat mimik mukanya yang ahh sudahlah. Pengen tabok jadinya.


"Iya, makanya gak penasaran lagi akunya," jawabku cuek.


"Mau gue kenalin?"


"Boleh, tapi harus banyak duitnya," jawabku asal.


"Oke!" Ternyata dia serius pemirsah.


Ada yang mau ?


*****


            Aku pulang bersama Rindu, seperti biasa, rumahku udah seperti rumah miliknya sendiri. Masuk duluan dan langsung ngacir ke kamar yang udah dianggap jadi kamarnya sendiri.


+62 819 44xx xxx


[Hai...]


+62 819 44xx xxx


[Hai...]


+62 819 44xx xxx


[Hai ,, what are u doing]


+62 819 44xx xxx


[I'm Jonathan, Remember?]


+62 819 44xx xxx


[Sorry, saya ganggu?]


2 miss called


(+62 819 44xx xxx )


Apaan sih ini, Jonathan? Siapa?


Tring... lampu menyala di kepalaku saat aku ingat siapa Jonathan ini, ternyata oh ternyata.


Ini weekend bosskiu, libur kerja.


Me:


[ Malam Pak, ada yang bisa saya bantu?]


            Formal seformal-formalnya. Aku gak bodoh ya pemirsah, dari cara Pak Jonathan chatting, aku tau maksud dan tujuannya, tapi kalian masih ingatkan, gimana aku? Tapi demi kesopanan dan keramahtamahan aku membalas sapaannya.

__ADS_1


Tidak ada jawaban lagi, ya jelas, ini udah tengah malam.


Tring...


Salah pemirsah, ternyata masih berbalas.


Pak Jonathan PT. Sagara:


[ Hai... All is well, sedang apa?]


Aduh,  tengah malam gini ditanya sedang apa, waras lo?


Me:


[ Ready to sleep]


Aduh, itu jawabanku  gimana gitu yah, masih bisa delete gak sih? Udah keburu di baca anjirrr.


Pak Jonathan PT. Sagara:


[ Sorry ya udah ganggu, sleep tight then]


Tak perlu kubalas, karena kalo dibalas pasti ada lanjutannya.


Tringg


Pak Jonathan PT. Sagara:


[ May I call you next time?]


Waduh,  jawab apa ya? Diamin aja lah, aku harap dia mengerti arti diamku.


----------------------


Pak Jonathan PT. Sagara calling...


Tidurku yang damai terganggu oleh suara berisik hpku yang dari tadi nyanyi gak henti-henti. Siapa sih yang udah nelpon pagi-pagi begini, weekend lagi.  Dengan malas-malasan dan dengan mata tertutup aku meraba-raba keberadaan ponselku dan langsung kugeser tombol menerima panggilan tanpa melihat siapa yang memanggil.


"Hallo,'' sapaku dengan suara serak khas bangun tidur, mataku masih tertutup dan ponsel kuletakkan begitu saja ditelinga.


Kekehan garing terdengar dari ujung sana, siapa sih kok suaranya renyah bangat.


"Hai ... morning," sapanya kemudian sok akrab, aku penasaran ini siapa dan ...


"Morning Pak, ada yang bisa saya bantu?" jawabku formal setelah mengintip nama penelepon. Demi neptunus di awang-awang, ini klien penting loh. Aku gak bisa bersikap kurang ajar atau ogah-ogahan. Aku segera duduk bersila di tempat tidurku, membuka mata lebar-lebar. Sumpah kantukku langsung otw entah kemana.


Dia terkekeh pemirsah, Apa yang salah coba?


"Gak usah formal-formallah, ini di luar jam kantor, kan?" Situ tau luar jam kantor, napa nelpon  dan ini masih pagi buta, bambang...


Aku jawab dengan kekehan garing.


"Saya ganggu kamu, ya?" Udah tau malah nanya. Aku misuh-misuh tanpa suara mengulang pertanyaannya dengan muka kesal.


"Maaf ya, saya lagi jogging ini, tadi niatnya mau ajakin tapi kayaknya kamu gak bisa ..." ujarnya.


 Kok langsung tau jawabanku, situ cenayang?


            Aku terkekeh lagi, fyi, dari dulu aku gak pernah sengaja olahraga kecuali saat jaman sekolah.  Buat apa jogging - jogging ria kalo dirumah aku bisa bakar kalori lebih dari jogging. You know lah gaiss maksud  ai.


Cara nolaknya gimana yah?


"Mmmm ...Emmm..Emm, aduh gimana yah pak, saya... saya..."


"Gak pa-pa kalo gak bisa, next time i hope you can join me, okey!" OKEY!


"Baik, Pak," jawabku cepat agar sesi nelpon pagi-pagi ini segera berakhir.


"So, saya tutup ya, have a nice day," tutupnya.


Aku melemparkan ponselku asal ke kasur dan menghempaskan tubuhku lagi.


Hahh,, gara-gara bujangan satu itu, terpaksa aku harus menyudahi pelukanku dengan gulingku yang wangi. Dasar...

__ADS_1


__ADS_2