
Kenyamanan,
Benar-benar kurasakan ketika bersama Pak Jonathan -yang sekarang ku panggil Nathan-. Perhatian-perhatian kecil yang diberikannya
padaku membuatku lupa diri dan tembok yang dulu sengaja ku bangun kini mulai
terkikis. Dia benar-benar pria yang sayang untuk di tolak. Walaupun sampai saat
ini aku belum benar-benar menerimanya menjadi priaku. Tapi aku tahu bahwa semua
tindakan dan kata-katanya serta perhatiannya mengarah kearah itu.
Sesekali dia datang kerumah hanya untuk menghabiskan waktu senggangnya. Duduk bercerita segala hal di depan rumahku. Rindu juga sudah mengetahui apa maksudnya karena aku menceritakan semuanya kepada Rindu. Dia hanya memberi dukungan padaku dan selalu menasehati ku jika tak semua pria seperti pria yang pernah ada di masa laluku.
Dia tidak tahu yang membuatku trauma sebenarnya bukan prianya, tapi keluarganya.
"Elo harus mengobati pikiran loe sendiri. Loe harus bisa mensugesti bahwa tidak semua pria seperti masa lalu loe," ucapnya kala itu.
Saat aku mengatakan, aku masih tidak yakin jika suatu saat Nathan mengatakan keseriusannya padaku.
Bagaimana jika orang tua Nathan sama seperti orang tua Leonard yang selalu
memandang dari segi harkat, martabat, kasta dan bibit, bebet bobot keluarga?
Jika itu yang terjadi apa aku ini tidak lebih bodoh dari keledai?
Jatuh pada hal yang sama untuk kali kedua.
Sore ini aku termenung di teras belakang rumah, mataku tertuju ke arah taman kecil yang asri tetapi pikiranku entah dimana. Besok adalah hari yang sudah kami tentukan. Besok mungkin akan menjadi penentuan masa depan hidupku. Ya, sekitar dua minggu lalu Nathan mengungkapkan isi hati yang
sebenarnya sudah bisa ku tebak dan memintaku memberi jawaban besok.
Dua minggu yang lalu.
Kami sedang makan malam, seperti biasa kami berada di ruangan vip. Tidak tau kenapa, tapi dia selalu reservasi
vip room jika sedang makan di restoran seperti ini. Sebenarnya aku nyaman
dengan itu, tapi terlalu berlebihan menurutku, takut ketagihan, hahaha. Ruangan
terbuka sebenarnya tidak masalah buatku, toh makanan bisa sama. Bahkan jika ingin
makan pecel lele atau ayam penyet pinggir jalan juga, ayo. Itu mungkin lebih
enak rasane. Lebih gurih dn lebih terasa minyaknya.
"Aku tahu bahwa kamu paham apa tujuanku selama beberapa bulan ini dekat dengan kamu," ujarnya tiba-tiba sambil
menggenggam jari-jari tanganku di atas meja.
"Aku bukan ABG yang sedang tebar-tebar pesona, dan jujur saja aku lelah jika harus pencitraan lebih lama lagi ke kamu," katanya
__ADS_1
kemudian dan aku mendengus geli mendengar kata pencitraan yang dia ucapkan.
Apa-apaan dah, emang mau jadi caleg makanya pencitraan?
" Ynara, aku serius padamu. Maukah kau menjadi teman hidupku?" to the point sekali dan tampak tenang walau aku tahu dia pasti
gugup dan baru saja aku hendak buka mulut untuk menjawab tapi langsung
terpotong oleh perkataannya kemudian.
"Ssssttt, i don't in a hurry.
Pikirkan saja dulu tapi aku harap jawabanmu tidak mengecewakan," pemaksaankan?
"Besok aku akan ke Surabaya, aku ada kerjaan dikit disana, mungkin selama dua minggu atau mungkin bisa lebih cepat," lanjutnya sambil mengelus-elus punggung tanganku
dengan ibu jarinya. Aku masih betah
menutup mulut, membiarkan lelaki ini mengucapkan apapun. Tapi diamku bukan
sembarang diam, pikiranku sudah jauh melanglang buana dan dipenuhi dengan hal-hal negatif yang akan terjadi kemudian hari jika seandainya aku jawab yes. Bagaimana jika keluarganya menolak ku? Bagaimana jika orang-orang di sekitarnya menilaiku hanya mengincar uangnya? Dan banyak bagaimana
jika lainnya bertengger cantik di kepalaku. Aku menggeleng samar untuk
mengenyahkan suara-suara yang berlomba-lomba ingin keluar dari mulutku.
"Aku akan menjemputmu nanti saat aku sudah kembali dan kita akan berada disini lagi. So, you have two weeks to think about
it," lanjutnya masih tetap mengelus punggung jariku. Aku menatap tanganku
apakah akhirnya akan sama juga?
Aku bahkan belum
mengucapkan sepatah katapun, tapi langsung disuruh diam dan menjawabnya dua minggu lagi. Aku kan udah punya jawaban sekarang, kenapa mesti menunggu dua minggu lagi? Buang-buang waktu tau gak...
---------
"Gimana perasaan loe pas bareng doi?" Rindu bertanya seraya bersiap duduk di sampingku. Kapan gadis ganteng satu ini disini? Bukankah tadi katanya akan berangkat ke cafe?
Aku menatapnya tanpa
menjawab pertanyaannya. Memutar ulang beberapa kali pertemuan kami.
Mencari tau dan memastikan kehadiran Nathan selama beberapa waktu ini di sampingku.
"Nyaman?" tanyanya karena tak kunjung mendengar jawabanku.
Aku mengangguk lambat penuh keraguan. Astaga ekspresi ini kayak aku ini abg labil yang sedang baper-bapernya.
"Feeling safe?"
__ADS_1
Aku mengangguk lagi.
"Ekspresif?"
Ragu aku mengangguk lagi. Tidak begitu ekspresif sebenarnya hanya saja, lebih terlihat beberapa ekspresi dari biasanya.
"So, kenapa ragu?" Seakan bisa melihat keraguan dan dilemaku.
"Gue gak tau seberat apa masalah loe sama mantan loe itu sampe-sampe loe nutup diri serapat ini."
"....."
"Bukannya sok tau, tapi dari kacamata batin gue, Nathan itu tulus sama loe, gue bisa liat dari caranya dia mandang loe, cara ngomongnya yang luwes ke loe seakan-akan gak ada batasan, cara dia treat le gentle banget, so, ragu di mana lagi?"
"Banyak," jawabku singkat. Di pikiranku sedang berlarian gambaran orang tua yang menolak.
"Besok, dia nagih jawabanku, kemaren sebelum ke Surabaya dia nembak aku," kataku pada akhirnya.
Nembak? Bahasaku kayak abg aja anjirr.
"Aku nyaman pas bareng dia, I feel safe dan dia orangnya open minded."
"But?" Seakan tau keraguanku lagi Rindu bertanya penasaran.
"You know kan aku ini bukan remaja yang lagi cinta-cinta monyet, aku udah tua dan udah waktunya berpikir serius, aku---"
"Panjang amat pembukaan loe, intinya aja gua mau otw nih," potongnya gak sabaran
pemirsah, gak tau dia aku ini lagi galau, monyet.
"Aku takut orang
tua dan keluarganya gak terima seperti dulu," kataku pada akhirnya sekaligus ngasih tau dia masalahku sebelumnya. Kalo dia ngudeng , yah.
"Yang mau sama loe kan dia bukan keluarganya, ribet amat otak loe, kalo gak di restuin, sono aja kawin lari, trus balik ntar
bawa buntut, jamin seribu persen bakal di terima dan direstui," katanya dengan begitu entengnya.
"Enteng bangat yah pemikiran loe?" sahutku sok galak.
"Loe ribet dah, yang itu-itu ntar aja di pikirin, sekarang yang musti loe pikirin, yang bisa bikin loe heppi. Heppi-heppi
aja dulu, ntar kalo sakitnya datang itu urusan nanti. Udah ahhh gue cabut, gak
mutu bangat galau loe. Udah di kasih yang perfect juga masih mikir lama. Tinggal
say yes aja susah amat." Mengomel sambil
berdiri dan langsung pergi. Dasar.
Kalo mau nurutin
__ADS_1
apa kata dia emang gampang bangat jangan pikirin yang nanti-nanti. Astaga Rindu
keputusan sekarangkan untuk nanti-nanti juga.