KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
14. BUKAN SEBAGAI REKAN BUT... (2)


__ADS_3

            Aku benar-benar percaya sekarang, apa yang akan terjadi jika para gadis satu server berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. Satu hari seperti satu jam saja.


Memang para bestieku ini bukan pertama kali mengajakku untuk berkumpul dan


melakukan hal tidak penting, tapi aku lebih banyak menolak dengan berbagai


alasan.


            Kadang aku tolak karena aku ingin istirahat karena lembur sebelumnya, kadang aku tolak karena aku harus lembur juga -jika itu urgent aku masuk kerja di hari Sabtu,


walaupun sebenarnya kantorku libur-, kadang aku ikut mereka tapi hanya sampai  setengah waktu, dan mereka bisa mengerti


-terpaksa mengerti-.


Hidupku yang monoton dan kaku, pemikiranku yang kuno


dan sifatku yang lebih tertutup daripada mereka ini mendukungku untuk selalu


merasa lebih menyenangkan jika tidur sendirian di kamarku dalam hening, ataupun


menonton drama sendirian, menangis sendirian dan tertawa sendirian.


"Kali ini, lo nggak bakal nyesel udah ngumpul


sama kami. Lo pasti ketagihan."


Walau kadang ada Rindu di rumah, tapi sohibku yang satu itu seolah sudah sangat mengerti tentang diriku sepenuhnya, dia hanya membiarkanku melakukan apa yang kusuka jika kami berada dirumah. Dan sering


ketika dia akan berangkat ke cafe, dia hanya mengirimkan aku pesan bahwa dia


sudah berangkat  atau kadang menuliskan


note di tempat-tempat yang mungkin akan ku lihat.


            "Gua berangkat, gua kunci dari luar. Jangan lupa makan, gua udah masakin."


Aku tidak apa-apa tentang itu, tapi ada saat-saat tertentu bagi kami berdua untuk duduk bercerita hal-hal menyenangkan,


menjengkelkan atau hal-hal kotor yang seolah-olah menjadi bahan candaan. Hanya


saja dia paham, dia tidak akan pernah menanyakan alasan apa yang membuatku


selalu menutup diri dari para  kaum yang


berjenis pria.


Pernah satu kali dia  bertanya tentang itu dan aku hanya memberi gambaran sekilas, dia


mengerti bahwa itu bukan hal yang harus di ungkit-ungkit. Beberapa kali dia


berusaha mendekatkanku dengan teman-teman prianya namun mungkin dia bisa melihat respon ku jadi dia berhenti melakukan itu.


"Gua udahan dah bantuin loe dapetin pacar. Pacar buat loe tapi gua yang lebih heboh dan lebih semangat, kesel gua," ucapnya waktu itu karena lagi-lagi aku menolak.


*****


Sekarang aku bersama para bestieku ini, gadis-gadis kimprit yang mempunyai motto hidup,


 'Selagi masih bisa kenapa tidak?'


'Hidup hanya sekali, jadi nikmatilah'


Dan ada beberapa kalimat yang sering di serukan mengenai kesenangan dan kebebasan.


            Mereka ini kemungkinan tidak pernah berada di titik yang pernah kulalui. Tidak pernah memakai pakaian bekas orang lain, tidak pernah pakai pakaian yang lusuh, koyak


dan bertempel kain perca beda warna. Tidak pernah menahan lapar, tidak pernah


mengurungkan keinginan akan suatu hal atau suatu benda. Itu sebabnya mereka


bisa mengucapkan kata-kata dengan begitu entengnya.


            "Kalian sangat beruntung karena tidak mengalami hidup seperti yang ku alami,"


batinku.


Aku menatap mereka yang bercanda begitu seru, suara tawa menggelegar. Sungguh aku menikmati kebersamaan hari ini, dan aku berjanji pada diriku, akan lebih sering menikmati waktu seperti ini ke depannya.


---------------------


Hari ini tiba juga, dari semalam human itu sudah mengingatkanku untuk tidak menerima  ajakan atau membuat janji dengan teman-temanku.


Pak Jonathan PT. Sagara:


[Jangan lupa besok, ya! Bareng teman di cancel atau d hold dulu, mereka pasti ngerti]


Aku penasaran gimana


reaksinya kalau aku tolak lagi. Benar-benar menyerah atau masih ngotot. Gimana


kalo kita coba sekali lagi, di tolak.

__ADS_1


"Kira-kira, alasan apa yang cocok untuk


menolaknya, ya? Atau aku pura-pura sakit saja? Tidak-tidak, bisa jadi kenyataan


kalau itu. Lembur dadakan?"


Aku sibuk dengan pikiranku kira-kira apa yang bisa kujadikan alasan untuk kali ini, lalu tiba-tiba terlintas dipikiranku gambaran


wajahnya yang kecewa karena ditolak lagi, ahh tidak tega.


Tring


Pak Jonathan PT. Sagara


[ Aku di depan rumahmu]


What?? Depan rumahku?? Aku belum amnesia, seingatku


aku belum ada shareloc rumah ku. How come? Apa dia memata-matai ku,


sampai-sampai tau dimana rumahku? Repleks aku melihat sekelilingku, memastikan


tidak ada cctv tersembunyi. -Korban drakor-


Hahh, pikiranku terlalu canggih untuk hal-hal buruk.


Aku  segera memakai


pakaian rumahku dan memastikan tidak ada yang salah sebelum aku keluar dan


membukakan pagar rumah. Dan benar saja pemirsah, human sebiji yang hari ini


kelihatan lebih ganteng dari kemarin sudah berdiri sambil bersandar di mobilnya


di depan rumahku.


"Masuk dulu, Pak," ajakku setelah buka


pagar. Dan what's wrong? Dia menatapku seolah-olah aku daging panggang yang


ready to eat.


"Aku mau ajak kamu keluar, loh!" tegasnya.  Emang aku bilang gak?


"Iya, Bapak tunggu bentaran ya, katanya jam


tujuh, ini baru jam enam lewat dikit," jawabku sambil mengangkat ujung


Dia tersenyum dan berjalan kearahku, tanpa basa basi menyentuh jariku yang masih terangkat.


"Posisinya salah, harusnya begini!"


ujarnya sambil memperbaiki kedua jariku menjadi simbol yang ntah, aku tidak tau


maksudnya. Aku hanya terpaku saja dan melihat sekali lagi bentuk jariku. Bukankah


ini simbol para k-popers? Brengggss... sttttt gak boleh ngumpat.


Aku persilahkan dia duduk di kursi teras dan aku ijin masuk untuk siap-siap tapi matanya itu loh, kok gak berhenti mandangin aku gitu.


Kenapa? Mau dikasih simbol lope benaran? Gak ada yang salah dari pakaianku, kan? Aku lihat lagi dan benar saja tidak ada yang salah. Baju rumahan ini menempel


cantik dibadan aku, ya emang sih udah keliatan buluk tapi kan gak sobek-sobek.


Rambut juga aku cepol  jadi gak


berantakan kayak singa bangun tidur.  Masa bodo, ahh.


Aku bukan tipe gadis-gadis yang kalo persiapan pergi itu lama, aku gak perlu dandan berjam-jam hanya untuk pergi makan malam dengan seorang pria, kan? Cukup sapukan sedikit mekap dan sisir rapi rambutku. Aku termasuk gadis beruntung yang di anugerahi alis tebal dan mata bulat besar jadi aku tidak perlu waktu untuk corat-coret alis dan bumbui mulu mataku. Cukup hanya bedak tipis-tipis di bantu lipstik atau lipgloss aku udah keliatan cantik


-kata aku sih gitu-.


Aku mengenakan pakaian kasual karena aku liat Pak Jonathan juga berpakaian kasual, rok denim di bawah lutut di padankan dengan kaos v-neck sepertinya bagus, jika kutambahkan cardingan rajutku gak pa-pa kali yah. Aku memutar diriku sendiri sekali lagi didepan cermin, perfect. Aku juga tidak


terlalu minat dengan high heels jadi aku hanya pake flat shoes, dan ta-da ... aku


seperti remaja-remaja tanggung yang sedang puber. Aku mencium diriku sendiri di cermin,


"Kau benar-benar cantik, Ynara," ucapku pada diri sendiri,


kemudian melenggang dengan senyum lebar.


Aku keluar rumah dan langsung mengunci pintu rumahku sambil berbicara dengan pria yang memandangiku lekat-lekat. Dia gak ada niatan jahat, kan? Ibu tolonggg,  apa  pria ini berniat menculikku?


"Ready to go?" tanyanya basa-basi tapi


matanya itu loh, tolong dikondisikan, gua colok baru tau rasa dah lo.


"Yes, please," jawabku masih formal


seperti biasa jika bertemu pria ini.

__ADS_1


Sebenarnya cangguh sih, selama ini kami tidak pernah bicara akrab secara langsung. Hanya beberapa kali melalui telepon dan itu


didominasi olehnya. Aku tidak seperti kebanyakan gadis yang mudah bergaul dan


mudah mengikuti arus yang sedang berlangsung. Ohh,,, betapa beruntungnya kalian ladies. Aku iri.


Dia cukup gentle, membukakan pintu untukku dan meletakkan tangannya diatas kepalaku.  Hadeh modusnya, emangnya dia pikir aku ini gak tau cara masuk mobil yang


benar? Aku juga pasti bakal malu kalo sampe kepala ini kejedot mobilmu.


"Ada resto rekomendasi kamu? Atau... ada usul mau makan apa?" tanyanya memecah keheningan di dalam mobil.


"Saya ikut bapak saja, saya pemakan segalanya," balasku.


"..... Okelah, aku harap kamu suka pilihanku kali ini, next time kamu yang pilih, ya!"


Hahaha, aku harap ini terakhir untuk kita makan berdua, tuan, batinku.


Aku tidak tau dia akan membawaku kemana dan akan makan apa, aku percaya aja. Gak mau mikirin yang buruk-buruk tentangnya.


Semakin berpikir buruk, semakin canggung dan gelisah sendiri. Ingat gais, ucapan


adalah doa. Biarpun aku tidak langsung berucap hal buruk, tapi pikiranku udah


berucap. Pelan-pelan aku sugesti diri sendiri, 'dia orang baik--dia orang


baik'.


Kami memasuki restoran seafood yang terkenal dengan kepiting saos padangnya. Bagus juga seleranya. Tak mau berpikiran buruk lagi, aku mengikutinya saja masuk ke salah satu ruangan di resto ini.  Ternyata dia pesan ruangan vip. Berasa kayak di drama-drama romantis pemirsah. Sayangnya kita gak bisa beradengan romantis


selayaknya di drama-drama itu gais. Kapan ya? Ehhh...🤭🤭


Makan malam berjalan dengan baik dan sesekali dia bertanya tentangku, darimana aku berasal, berapa bersaudara, kesukaanku apa, dan banyak hal tentang diriku dan semua kujawab seadanya saja. Garis-garis


besarnya saja, tidak perlu sampe kedalam-dalamnya. Kita tidak sedekat itu


brotha..


Sampai tiba-tiba.....


"Aku bukan remaja yang sedang dalam masa puber dan sedang mengikrarkan  kata-kata


rayuan," ucapnya tiba-tiba, dan lalu melanjutkannya lagi sebelum aku


memberi respon atas ucapannya.


"Aku yakin kamu pasti paham maksud dan tujuan aku selama ini dan sekarang ajak kamu makan malam."


"...."


"Aku ingin kenal kamu lebih jauh dan aku ingin kamu kenal aku lebih dari sekedar rekan di perusahaan tempat kamu kerja,"


lanjutnya lagi.


Dan tiba-tiba mengulurkan tangan membuat aku bingung, aku liat sekeliling barang kali ada orang lain yang tiba-tiba nongol


dan bertindak sebagai penghulu, kan bisa gawat kalo sampe terjadi. Dia


mengendikkan bahu  dan mendelikkan


matanya ke arah tangannya yang terulur di hadapanku. Dan akhirnya aku menyambut


uluran tangannya dengan raut bingung yang sangat kentara. Ini mau jabat tangan


untuk apa, sih? Serah terima atau apa?


"Aku Jonathan Sagara, tiga puluh satu tahun,


single, normal dan punya penghasilan tetap." Memperkenalkan diri selayaknya pria yang sedang meyakinkan calon mertua.


Aku terkekeh dengan aksinya, " Ynara Ramsey, dua puluh tujuh tahun." Hanya itu yang ku ucapkan, karena sudah jelas


mengenai pekerjaan kan? kalo tiba-tiba besok di pecat gak ada penghasilan


tetap. Ehh amit-amit, ucapanmu doamu Nara....


Dia mengangguk dan tersenyum sambil melepaskan tanganku -kok di lepas sih- Eh..


"Baiklah, Ynara, kedepannya apapun usahaku


tolong di pertimbangkan, ya!" ucapnya lagi.


Aku tak menjawab, aku bahkan tidak tau harus menjawab apa. Kok aku seperti ingin mengangguk. Entah kenapa kepalaku terasa


ringan dan ingin selalu mengangguk dihadapan pria ini. Tapi...


Bukankah aku sudah bangun tembok raksasa untuk diriku sendiri? Tetapi, melihat


kesungguhannya yang berbeda dari beberapa pria sebelumnya sepertinya tembokku


mulai rapuh.

__ADS_1


Haruskah aku membuka hati lagi? Bagaimana jika hal yang dulu terulang kembali?


__ADS_2