KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
59. AKU JUGA INGIN BAHAGIA!


__ADS_3

Nathan yang sedang berdiskusi dengan keluarga Delia dan pengacaranya untuk menyelesaikan hubungan pernikahan mereka, tiba-tiba terdiam saat ponsel di meja bergetar dan menampilkan nama 'Ynaraku' sebagai pemanggil.


Karena keluarga Delia sudah tahu duduk permasalahan antara Delia dan calon mantan menantunya itu. Mereka diam saja saat Nathan ijin untuk mengangkat telepon.


"Hal--"


"....."


Wajah Nathan langsung mengetat saat mendengar suara di seberang sana yang sangat santai tapi penuh misteri.


Ponsel masih melekat di telinga Nathan walau sudah hening tidak ada lagi yang berbicara di seberang sana. Panggilan itu di tutup oleh Ynara bahkan tanpa mendengar sepatah katapun dari Nathan.


Nathan menurunkan ponsel dan menatapnya.


"Cek? Dua ratus juta? Dari mana? Imbalan sebagai simpanan? Astaga!" Nathan menjambak rambutnya frustasi. Sedikitnya dia sudah bisa menduga apa yang sedang terjadi pada gadisnya.


"Ada apa, Jo?"  Delia menepuk bahu Nathan pelan karena melihat perubahan pada raut Nathan. Apa terjadi sesuatu di rumah Sagara?


Tuan Darius, papa Delia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan melipat tangan di dada. Sepertinya calon mantan besannya yang merupakan teman baiknya sedang beraksi disana. Apa sudah bergerak ke arah kekasih Nathan? Tak mungkin Nathan akan syok begitu jika hanya mendengar berita dari rumah Robert.


"Jo?" Delia kembali menepuk pundak Jonathan yang masih saja bengong.


"Pah, Del. Bisakah aku pergi duluan? Bang Ronny tolong selesaikan ini untukku. Aku ada yang mendesak." Tanpa mendengar jawaban orang-orang itu, Nathan langsung pergi dan bergegas menuju mobilnya. Tujuannya adalah rumah orang tuanya. Siapa lagi yang berani memberikn cek sebagai imbalan untuk meninggalkan Jonathan selain keluarga Sagara?


Delia bengong melihat apa yang barusan terjadi.


"Siapa yang menelponnya? Mungkinkah penyakit papa Robert kambuh, Dad?"


Hanya itu kemungkinan yang terpikirkan oleh Delia saat ini apalagi dia sudah jelas tahu bahwa mertuanya itu sudah sering mengalami serangan jantung ringan.


"Apa papa masih kepikiran kelakuan Jojo beberapa hari lalu?" gumamnya menduga-duga.


Mendengar gumaman putrinya, Darius jadi penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa dia sudah melewatkan banyak hal sebagai dampak dari pernikahan Delia dan Jonathan?


Darius menegakkan punggungnya.


"Pak Ronny, maaf. Tapi bisakah anda meluangkan waktu anda besok atau lusa untuk menyelesaikan ini? Saya ada keperluan mendadak."


Otak cerdas pengacara Jonathan langsung bekerja dan menangkap ada sesuatu yang tidak beres pada kliennya.


"Hubungi saya jika keadaannya sudah stabil pak Darius. Saya punya banyak waktu," jawabnya seraya merapikan berkas-berkas yang sebenarnya hanya tinggal di tanda tangani oleh pasangan yang hendak berpisah itu.


Darius mengantarkan tamu-tamunya hingga ke depan rumahnya bahkan hingga mobil-mobil itu hilang dari pandangan matanya.


"Dad?" panggil Delia ingin mempertanyakan keadaan darurat apa yang sedang terjadi.


Delia mengikuti langkah papanya yang menuju ruang kerjanya.


"Dad?" sekali lagi Delia memanggil dan hanya di tatap oleh ayahnya dengan alis terangkat.


"Menurut Daddy, apa yang sedang terjadi. Mungkinkah penyakit papa kambuh?"

__ADS_1


Darius melanjutkan langkahnya. Putrinya ternyata belum bisa memahami Jonathan.


"Pilihan untuk bercerai dengan Jojo adalah pilihan yang tepat. Dua tahun menjadi istrinya ternyata kamu masih belum bisa menebak apa yang membuatnya panik."


Ucapan Darius membuat Delia menaikkan alisnya karena tidak mengerti.


Kenapa harus memberikan kalimat rumit jika ada yang mudah? Tidak semua orang bisa mencapai level otak Daddy, batinnya.


"Last chance, menurutmu karena apa?" tanya Darius pada putrinya dan hanya di jawab dengan gelengan setelah beberapa saat berpikir. Sebelum Darius duduk di sofa ruang kerjanya, dia menyentil kening putrinya.


"Selama Daddy kenal Jonathan. Dia belum pernah panik bahkan saat mendengar penyakit Robert kumat. Kepeduliannya pada keluarga itu hilang seiring berjalannya waktu karena dia semakin memahami suatu hal."


Delia benar-benar tidak bisa menangkap apa maksud Daddynya. Otaknya benar-benar stuck.


"Semua itu karena terjadi sesuatu pada kekasihnya. Itu menurut Daddy."


"Ynara?" gumam Delia. Dia benar-benar tidak terpikir pada Nara. Dia pikir, mengenai Nara pasti akan di kesampingkan karena gadis itu sudah memilih mundur bahkan ketika Nathan memohon dan mengatakan akan bercerai dengan Delia.


"Apa maksud Daddy keluarga Sagara mendatanginya?"


Darius memandang anaknya dengan alis terangkat. Kenapa putrinya ini mendadak oon? Kemana otak cerdasnya? Apakah stuck karena terbelenggu selama dua tahun?


"Lupakan soal itu. Ceritakan ke papa apa yang terjadi di keluarga Sagara," titah Darius yang memang sangat penasaran.


"Jangan menutupi apapun dari Daddy atau daddy batalkan persetujuan ceraimu!" ancam Darius kala melihat gelagat putrinya yang sedang memutar otak mencari jawaban untuk berbohong.


Oo Ayolah. Dia sudah menjadi ayah selama tiga puluh tahun. Dia pasti tahu gelagat putri satu-satunya itu.


"Aunty mana?" tanyanya berusaha peruntungan untuk mengalihkan topik.


"Tidak ada hubungannya dengan Auntymu, Delia. Cepat, Daddy bosanan orangnya."


Mau tidak mau Delia menceritakan apa yang terjadi saat makan malam di rumah mertuanya.


"Daddy tau Mama Marta bukan mamanya Jonathan?" Tanya Delia saat melihat respon dari papanya yang tidak ada raut terkejut saat mendengar cerita Delia.


"Robert kan teman lama Daddy. Ya tentu tau dong!"


"Daddy kenal sama mama kandungnya Jonathan?"


Darius menggeleng. "No! Mereka dulu tinggal di luar kota. Hanya setelah Jojo berusia tiga tahun baru ketahuan bahwa Robert punya istri kedua dan sudah anak. Bahkan Daddy ingat, dulu istri keduanya itu sedang hamil."


Mata Delia membola bahkan hampir bergelinding dari tempatnya. Satu pemikiran lagi masuk ke otaknya.


"Jadi, Sarah?"


"Bukan, Daddy dengar wanita itu keguguran


Setelah mengetahui bahwa Robert sudah punya istri dan dia adalah istri kedua. Wanita itu katanya depresi dan di rawat di rsj. Saat Jonathan sudah beranjak dewasa, ibunya meninggal."


Delia terdiam. Kira-kira siapa yang di cintai mertuanya waktu itu? Sama-sama bisa memberikan anak. Apa lagi yang kurang?

__ADS_1


"Apa papa Robert dan Mama Marta di jodohkan?" tanya Delia.


"Nggak juga. Marta cinta matinya Robert. Seperti kamu, kamu bucin ke pacar kamu si Langit itu, kan? Makanya sampai selingkuh."


"Daaaaddd!" Delia memasang raut cemberut.


"Hampir saja Nathan mengulang sejarah jika dia sampai berhasil menikahi gadis itu atau membuatnya hamil." Darius mengucapnya dengan datar dan bersyukur anak gadisnya tidak memilih untuk stuck dalam pernikahan itu.


Beberapa minggu lalu, saat Delia jujur mengenai rumah tangganya. Sebenarnya dia marah dan malu pada Robert. Bahkan sampai hari ini belum berani menemui Robert padahal sudah mengurus perceraian anak-anak mereka.


Darius membulatkan tekat dan mengijinkan putrinya bercerai setelah mengetahui kacaunya rumah tangga itu.


"Del bisa saja menerima pernikahan ini asal Jojo juga mau. Del bisa saja bertahan asal ada usaha Jojo mempertahankan rumah tangga kami. Tapi, dia benar-benar tidak ada niatan untuk itu, Dad. Dan maaf, aku sudah dewasa. Aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku menjadi istri yang tak di inginkan yang selalu menunggu suami pulang. Dan berharap cinta dari suami. Aku juga ingin bahagia, Dad," ucap Delia saat itu, saat mengakui semua hubungannya dengan Langit.


Pengakuan 'aku juga ingin bahagia, Dad' dari Delia membuat Darius teringat janjinya pada almarhum istrinya, yang berjanji akan melakukan apa saja demi kebahagiaan putri mereka.


"Sebenarnya Daddy pernah melihatmu sedang bersama pria itu. Saat itu Daddy mencari tahu dan mengetahui fakta bahwa dia adalah kekasihmu. Daddy ingin marah dan menghukum kamu, tapi Daddy teringat Mommy mu. Mommymu akan marah jika Daddy menghukum kamu. Karena itu, Daddy sudah menunggu saat ini sangat lama."


Delia menangis dan menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan daddynya. Bersyukur karena Daddynya sangat pengertian.


"Bicarakan lah dengan Jojo. Apapun keputusan kalian, jika itu membuat kalian bahagia, Daddy akan dukung. Daddy akan berusaha membicarakan ini juga pada Robert." Darius mengusap rambut putrinya yang masih sesenggukan di dadanya.


"Maafkan Daddy karena sempat melupakan perasaan dan keinginanmu. Mulai saat ini, nomor satu Daddy adalah kebahagiaanmu."


Dengan begitu, ketika Jonathan datang padanya dan minta maaf karena tidak becus menjadi menantu, Darius tidak marah, justru meminta maaf karena sudah memaksa Jojo menikahi putrinya di imbalan karena sudah menyelamatkan perusahaan Robert.


"Huh, seandainya keluarga Sagara tidak merecoki kekasih Jojo itu, malam ini kamu resmi menjadi janda," canda Darius setelah pikirannya kembali ke situasi sekarang.


Delia hanya mendelik karena sebutan janda yang memang akan melekat pada dirinya. Dan perkataan daddy nya benar.


Ya, perceraian ini mudah, tidak perlu ke pengadilan. Karena Nathan tidak pernah mendaftarkan pernikahan secara hukum. Mereka hanya mengandalkan surat pemberkatan dari gereja. Tidak ada dokumen lain yang menyatakan bahwa mereka sudah menikah. Pada perceraian ini tidak ada perebutan harta gono-gini. Delia berkata selama dua tahun menikah dia bahkan tidak pernah berperan sebagai istri pun dengan Jonathan yang tidak berperan sebagai suami sebagaimana mestinya.


*****


Gadis pirang itu mengemudi dengan gelisah. Apa yang akan terjadi setelah ini? batinnya. Dia menoleh pada mamanya yang juga terlihat gelisah.


"Padahal Mama tadi ngajaknya hanya menyapa saja, kok tiba-tiba ngasih cek? Apa mama udah ngerencanain ini?" tanya Sarah pada mamanya.


Dalam hati dia menyesal karena menunjukkan Nara yang berjalan masuk ke mini market tadi pada mamanya.


"Mana dia nelpon Jojo lagi, pasti Jojo ngamuk ini."


Baru tiga hari lalu terjadi perang mulut di rumah hingga terbongkarnya rahasia besar keluarga itu yang bahkan baru di ketahui oleh Sarah. Dia sampai kaget kala mendengar fakta itu yang secara tidak langsung mengatakan bahwa dia dan Jonathan hanya saudara tiri. Bukan sekandung.


Benar saja, apa yang Sarah takutkan sepertinya akan terjadi dalam beberapa detik ke depan.


Mobil Nathan menerobos masuk gerbang bahkan satpam sampai melompat demi menghindari mobil yang sepertinya tidak terkendali.


Nathan keluar bahkan mesin mobilnya masih menyala dan pintunya di biarkan terbuka.


Dengan langkahnya yang panjang dan tergesa, Jonathan segera menghampiri daun pintu dan berteriak kencang,

__ADS_1


"Tuan Sagara!"


__ADS_2