
Helena menyerahkan kunci mobilnya dengan sangat berat hati. Dia tak mau mobil itu di ambil kembali oleh Mawar. Teman-temannya sangat memujinya saat dia membawa mobil itu, Helena menjadi semakin percaya diri ketika kumpul bareng mereka.
"memangnya kamu mau kemana sih, pake pinjem mobil ku segala."
"aku mau pulang kerumah ibu, mbak. kalau aku tak bawa mobil ini nanti jadi pertanyaan. Mbak mau ibu dan ayah ku marah nanti saat tahu mbak minta mobil kesayangan ku ini." Ucapan Mawar membuat Helena mendengus kasar.
Kulsum melipat tangannya di dada. Dia perhatikan penampilan Mawar dengan seksama. Mencebik saat di lihatnya Mawar nampak cantik. Sejujurnya Kulsum mengakui kalau menantunya itu sangat cantik, pintar juga pandai mengurus rumah, di tambah lagi masakannya enak seperti makanan restoran bintang lima.
Kulsum memang tak tahu kalau Mawar dulunya seorang koki di sebuah restoran terbesar di kota Bandung. Karena memang Rega maupun Mawar tak pernah mengatakan itu.
"mau kemana istri Rega itu?" Kulsum mendekati Helena. Matanya terus menatap mobil yang dibawa Mawar.
"katanya mau pulang. ck...padahal aku mau pergi kondangan, tapi mobilnya malah di pake." Gerutu Helena kesal.
Mawar sebenarnya tak benar-benar pulang menemui orangtuanya. Dia hanya ingin menyelidiki Rega. Nomor yang di salinnya tadi malam telah dia ketahui siapa pemiliknya. Semua berkat Bagas tentu saja, teman sekantor Rega yang juga merupakan teman Mawar sewaktu di SMP.
Bagas baru setahun ini bekerja sebagai SVP di tempat Rega bekerja, yang artinya dia bawahan Rega. Mawar baru tahu beberapa bulan yang lalu. Maka saat dia ingat tentang Bagas, ia pun segera menghubungi pria itu. Bertanya apa dia kenal nomor itu atau tidak.
Beruntungnya Bagas tahu. Pria itu mengatakan jika nomor itu milik seorang sekertaris cantik di kantornya. Bagas memilki nomornya karena sempat melakukan pendekatan terhadapnya. Tapi, mundur di tengah jalan saat tahu kalau wanita itu sama sekali tak menyukainya.
"untung ada Bagas." Ujar Mawar sambil mencoba menghubungi pria itu. "Bagas, aku sudah di luar kantor. kamu bisa keluar sebentar?"
Mawar melihat sekitar, keadaan tempat kerja Rega nampak riuh karena memang beberapa karyawan telah istirahat. Dengan cepat dia melambaikan tangannya begitu melihat keberadaan Bagas.
"jadi...kamu minta aku buat mata-matai Hani?" Tanya Bagas. "tapi kenapa?"
"pokoknya kamu laporkan semua kegiatan wanita itu padaku termasuk kegiatannya di luar kantor."
Bagas nampak berpikir. Pria itu masih tak mengerti kenapa Mawar memintanya melakukan hal itu.
"katakan dulu, apa alasannya?"
"Tak perlu tahu Gas. aku akan beri kamu upah yang lumayan kalau usaha mu memuaskan."
Bagas yang memang sedang membutuhkan uang untuk mengoperasi ibunya pun hanya bisa setuju tanpa tahu apa alasannya dia harus menyelidiki Hani. Dia setuju dan uang sebesar 30 juta pun langsung masuk ke rekening nya.
Mawar langsung memberikan uang itu karena yakin jika Bagas pasti berhasil melakukannya.
__ADS_1
"aku tunggu kabar baiknya." Ucap Mawar.
"Oke. aku tak tahu apa hubunganmu dengan Hani. tapi...ku harap bukan sesuatu yang buruk."
"justru ini jauh lebih buruk." Mawar mengepalkan tangannya mengingat foto-foto tadi malam yang di kirimkan wanita itu kepada suaminya.
Bagas kembali masuk kekantor dan Mawar pun memutuskan untuk pulang. Dia hanya tinggal menunggu saja kabar yang akan di berikan Bagas.
"Hani..." Bagas berlari mendekati Hani yang sedang berjalan menuju kantin.
Wanita itu mendengus, wajahnya menunjukan ketidaksukaannya kepada Bagas.
"apa sih? kamu itu sudah aku tolak ya." Ketusnya.
Bagas tersenyum. "aku hanya mau..."
"Han, ayo. aku sudah lapar." Rega datang dan menyela. Pria itu melirik Bagas dengan tajam lalu menarik Hani pergi.
Bagas tertegun di tempatnya. Melihat Hani yang pergi menjauh dengan Rega. Dirinya semakin tak yakin saja bisa mendekati Hani. Melihat seorang manager yang menggandeng wanita itu membuat Bagas merasa kalah.
Rega dan Bagas memang tak saling kenal.
Sebenarnya dia penasaran kenapa Mawar ingin tahu perihal Hani. Apa hubungannya dan untuk apa. Tak ingin ambil pusing, Bagas pun mengambil foto keduanya lalu mengirimkannya pada Mawar.
...*************...
"Aku tahu, istri mu itu segalanya bagimu mas. tapi..." Hani cemberut. "aku juga butuh kepastian dengan hubungan ini."
Rega menghela nafas panjang. Dia tak ingin menikah lagi dan membuat Mawar di madu. Tapi, hubungannya dengan Hani pun tak bisa di putuskan begitu saja. Ia terlanjur nyaman dan merasakan kebahagiaan ketika bersamanya. Hani mampu memuaskan kebutuhannya sebagai seorang lelaki. Mawar mungkin merupakan cinta dan hidupnya tapi wanita itu tak bisa memuaskan kebutuhannya.
Mawar terlalu monoton setiap di ajak berhubungan. Lebih banyak menerima dan diam saja, hanya menikmati tanpa mencoba untuk memuaskannya.
"mas..." Hani mengelus punggung tangan Rega.
"jangan bahas ini di kantor. kita bisa membicarakan ini saat di luar pekerjaan."
"baiklah. kalau begitu kita makan saja." Hani pun menyerah. Dia pun memakan makan siangnya dengan kesal.
__ADS_1
Hatinya sudah tak bisa lagi menahan segalanya. Ia rela menjadi madu bahkan di jadikan istri ke sekian, asalkan Rega mau menikahinya.
Mawar menggenggam erat ponselnya. Foto yang baru di kirimkan Bagas sungguh membuat pikirannya kacau. Airmatanya menetes tanpa bisa ditahan lagi.
Dadanya sesak menahan rasa sakit yang begitu menyiksa. Pernikahannya baru saja berjalan dan Rega sudah berani menodainya.
"kenapa mas?" Isaknya.
Dengan cepat menghapus airmatanya. Dia tak boleh lemah seperti ini. Dengan emosi yang begitu besar dia melajukan mobilnya, menerobos jalanan dengan kecepatan penuh. Ia akan pulang dan memberitahu hal ini kepada orangtuanya.
Empat jam berlalu, akhirnya Mawar pun tiba di kediaman orangtuanya. Dengan cepat dia keluar dari mobil, berlari masuk menuju kedalam.
"ibu..." Panggilnya, suaranya tercekat saat melihat ibu dan ayahnya tengah tertawa bahagia di ruang tengah.
Keduanya nampak sangat bahagia.
"Mas, kita akan kerumah mertua Mawar besok. jangan beri tahu Mawar, buat kejutan untuknya."
"benar Bu. ayah rasanya masih tak percaya kalau putri kita sekarang sudah menjadi seorang istri. mungkin sebentar lagi akan menjadi ibu."
Mawar menelan ludahnya. Ibu dan ayahnya begitu banyak berharap dengan dirinya.
"non mawar?" Bu Sarmi terkejut melihat keberadaan Mawar.
Ibu dan ayahnya pun langsung berbalik. Keduanya sama-sama terkejut.
"loh, sayang? kamu disini? kenapa tak bilang mau datang. padahal ibu berencana menjengukmu besok."
"ibu, Mawar kangen." Mawar langsung memeluk sang ibu erat. Tangisnya tumpah begitu saja.
Niatnya untuk memberi tahu soal perselingkuhan Rega pun di urungkannya. Dia tak ingin kebahagiaan orangtuanya hilang untuk saat ini. Biarkan saja Rega melakukan apa yang di inginkan, Mawar akan membalasnya dengan caranya sendiri.
"loh...loh, cengeng nya putri ayah." Ayah Mawar mengelus kepalanya. "apa begitu rindu dengan kami?"
Mawar mengangguk. Ia akhirnya berbohong dan menutupi kesedihannya.
Bagas mengeryitkan keningnya saat hanya sebuah jempol saja yang dikirim Mawar padanya. Dia ingin mengetik pesan balasan, bertanya sebenarnya kenapa Mawar ingin mengetahui keseharian Hani. Tapi, lagi-lagi dia mengurungkan itu. Itu tak penting baginya yang terpenting uang dari Mawar, itu saja.
__ADS_1
Jika saja Bagas tahu kalau Rega, sang manager adalah suami dari temannya itu. Maka apa reaksinya dan bagaimana sikapnya terhadap Hani nanti. Apa masih menyimpan cintanya untuk wanita itu atau malah merasa ilfill.
...*************...